MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Penyesalan Helen


__ADS_3

Helen menoleh ke arah pintu kamar saat suaminya masuk ke dalam kamar. Sepertinya suaminya itu baru selesai berbincang dengan Erlangga.


" Habis bicara apa sih, Pa? Kok, sampai malam begini?" Helen melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


" Hanya masalah pekerjaan saja, Ma." sahut Krisna berjalan mendekati tempat tidurnya lalu merebahkan tubuhnya setengah berbaring.


" Apa ada masalah di kantor, Pa?" tanya Helen kembali.


" Tidak ada, Ma." jawab Krisna namun hempasan nafas kasar pria paruh baya itu terdengar jelas oleh Helen.


" Ada masalah ya, Pa?" Helen merasakan ada sesuatu yang tidak ingin diceritakan suaminya terhadap dirinya.


" Tidak ada, Ma." Kembali Krisna menepis dugaan istrinya jika memang ada permasalahan yang sedang dia dan Erlangga pikirkan.


" Kenapa sih, Pa? Papa dan Erlangga selalu merahasiakan sesuatu dari Mama?" Helen merasa jika putranya terlalu pilih kasih terhadap dirinya dan suaminya, karena selalu menceritakan sesuatu kepada Krisna, dan menyembunyikan rahasia dari dirinya.


Krisna menoleh ke arah istrinya yang terlihat kesal karena ucapannya tadi dan berkata, " Kenapa Mama berpikir seperti itu?" tanyanya kemudian.


" Memang kenyataannya seperti itu, kan? Papa tahu lebih dulu soal pernikahan Erlangga dan Kayra. Papa juga tahu lebih dulu soal kepindahan mereka ke rumah ini." Helen memberengut kesal.


" Ya mungkin karena selama ini Mama selalu menentang keputusan Erlangga, makanya Erlangga lebih memilih bercerita kepada Papa daripada Mama." Krisna menerangkan alasan kenapa Erlangga lebih memilih dirinya untuk bertukar pikiran.


" Sekarang Mama 'kan sudah tidak bermusuhan lagi dengan Erlangga, Pa. Apa Erlangga masih tidak percaya kepada Mama?" protes Helen kemudian.


Krisna menatap istrinya yang merajuk. Sebenarnya dia ingin menceritakan soal pertemuannya dengan Arina. Namun, dia khawatir jika istrinya itu tidak dapat menjaga rahasia. Karena dia dan Erlangga tidak ingin Kayra tahu tentang hal ini dalam waktu dekat.


" Apa Mama bisa dipercaya?" tanya Krisna menyangsikan istrinya.


" Papa masih meragukan Mama?" sahut Helen kesal.


" Tapi Mama harus berjanji tidak mengatakan hal ini kepada siapa pun. Cukup Mama saja yang tahu masalah ini. Apa Mama sanggup menjaga rahasia ini?" Krisna memastikan jika istrinya dapat memegang rahasia.


" Iya, memangnya ada rahasia apa sih, Ma?" Helen semakin dibuat penasaran oleh kata-kata Krisna.


" Papa dan Erlangga sudah menemukan keberadaan Arina, Ma." ungkap Krisna, akhirnya menceritakan pertemuannya dengan Arina.


" Arina? Arina Sus Rina maksud Papa?" Keterkejutan nampak di wajah Helen saat suaminya mengatakan bertemu Arina.


" Iya, Ma."


" Di mana Sus Rina sekarang, Pa? Apa Papa juga bertemu dengan anaknya Danny?" Helen nampak antusias mengetahui jika Arina, pengasuh anaknya dulu, dan wanita yang mengandung anak dari adik sepupunya itu sudah ditemukan.


" Papa dan Erlangga bertemu Arina di Bandung. Sekarang ini dia sudah menikah dengan seorang pengusaha kaya raya di sana. Hidup Arina sekarang berbanding seratus delapan puluh derajat dari kehidupannya dulu." Krisna menceritakan bagaimana kehidupan yang dijalani oleh Arina sekarang ini.


" Syukurlah kalau begitu, Pa. Lalu bagaimana anak Sus Rina, Pa? Apa Papa juga bertemu dia?" tanya Helen lagi.


" Anak itu tidak bersama Arina sekarang. Saat melahirkan, Arina menitipkan anak itu ke bidan untuk diserahkan ke panti asuhan tempat Arina dulu dibesarkan." Krisna menceritakan apa yang terjadi dengan Arina dan bayinya.


" Ya ampun, kenapa Arina tega menaruh bayinya di panti asuhan sih, Pa? Kenapa dia memilih kabur dari rumah kita dan menitipkan anaknya di panti asuhan daripada diurus oleh kita?" Helen kecewa dengan keputusan Arina yang menitipkan anaknya di panti asuhan.


" Kita tidak boleh sepenuhnya menyalahkan Arina, Ma. Arina saat itu masih muda dan tidak mempunyai sanak saudara. Saat itu dia sangat kebingungan dan tidak tahu harus ke mana?! Hingga akhirnya memutuskan menitipkan anaknya ke panti asuhan." Krisna bersikap bijak tidak mau menyalahkan Arina, karena bagaimanapun Arina adalah korban tindakan asusi la adik sepupu istrinya.


" Oh ya, Ma. Apa benar saat kita meninggalkan Arina dan Erlangga ke luar kota, Mama menyuruh Danny untuk datang ke rumah?" Krisna teringat akan cerita kedatangan Danny yang kembali memper kosa Arina dalam keadaan Arina hamil tua.


" Hmmm, Mama tidak menyuruh Danny datang ke rumah kok, Pa. Mama hanya bilang kalau akan keluar kota dan meninggalkan Erlangga di rumah. Memangnya kenapa, Pa?" tanya Helen tidak mengetahui ada cerita mengenaskan yang dialami Arina malam itu.


" Malam itu Danny datang ke rumah dan dia kembali memaksa Arina melayani naf su bia dabnya. Hal itulah yang menyebabkan Arina pergi meninggalkan rumah kita." Krisna menjelaskan alasan Arina kabur dari tempat mereka kepada istrinya.


" Ya ampun ..." Helen menutup mulut dengan telapak tangannya. Dia terkejut mendengar fakta atas perlakuan adik sepupunya terhadap pengasuh Erlangga dulu.

__ADS_1


" Sayangnya saat itu tidak ada seorang pun ART kita yang menceritakan hal itu kepada kita," sesal Krisna menyayangi sikap tutup mulut para pekerja di rumahnya.


" ART kita tahu?" Helen kembali terkejut.


" Iya, mereka diminta Arina untuk merahasiakan hal ini dari kita."


" Oh ya, Pa. Kalau anak Sus Rina dititipkan ke panti asuhan, kenapa waktu kita cari ke sana orang panti tidak ada yang memberitahu kita, ya?" tanya Helen.


Setelah Arina kabur dari rumahnya, Krisna memang sempat menghubungi pihak panti, akan tetapi, pihak panti tidak mengetahui soal keberadaan Arina.


" Itu karena anak Arina memang tidak pernah dibawa ke sana," sahut Krisna.


" Maksud Papa apa?" tanya Helen kemudian.


" Kuncinya hanya bidan dan asisten bidannya yang tahu di mana anak Arina berada. Masalahnya, bidan yang membantu Arina melahirkan pindah ke luar pulau dan tidak diketahui keberadaannya. begitupun dengan asisten bidannya, Arina tidak tahu."


" Lalu, anak adik sepupuku itu hilang entah ke mana begitu, Pa?" Helen terlihat kecewa, padahal dia berharap bisa bertemu dengan keturunan dari adik sepupunya tersebut.


" Arina memang tidak mengetahui keberadaan anaknya di mana!? Tapi ...."


" Tapi apa, Pa?" Penasaran karena Krisna menghentikan ucapannya, Helen meminta suaminya itu melanjutkan kalimatnya.


Krisna kembali menatap Helen cukup lama. Dia terlihat berpikir untuk mengatakan kepada Helen soal siapa Kayra yang sebenarnya.


" Pa, tapi apa, Pa?" Helen mendesak agar Krisna cepat bercerita.


" Ada sesuatu hal yang ditemukan oleh Erlangga tentang sosok anak dari Arina itu, Ma."


" Maksud Papa?" Helen masih kurang memahami apa yang diucapkan oleh sang suami.


Akhirnya Krisna menceritakan secara mendetail soal kecurigaan Erlangga yang menduga jika Kayra adalah anak dari Arina. Dari mulai rumah tempat mereka sekarang ini berada, hingga Ibu Sari yang mengatakan jika. bidan tempat dia bekerja dulu pindah keluar kota. Dan juga soal test DNA yang akan dilakukan untuk membuktikan kebenaran soal hubungan Kayra dengan Arina.


" Astaga, Pa ..." Helen tiba-tiba menangis menyadari kesalahannya selama ini terhadap Kayra. " Mama bersalah sekali terhadap Kayra, Pa. Hiks ..." Helen langsung menyibak selimutnya hendak turun dari tempat tidur.


" Mau ke mana, Ma?" tanya Krisna melihat sang istri beranjak dari tempat tidur.


" Mama harus minta maaf kepada Kayra, Pa."


" Ma, Mama sudah berjanji untuk tidak memberitahukan hal ini kepada siapa pun juga. Kayra belum tahu soal hal ini, Ma. Dan Erlangga tidak ingin Kayra tahu masalah ini saat ini!"


" Kenapa Kayra tidak boleh tahu, Pa?"


" Apa Mama pikir akan mudah untuk Kayra menerima kenyataan pahit soal masa lalu orang tuanya? Apalagi saat ini ada janin di dalam perut Kayra. Erlangga tidak ingin Kayra menjadi tertekan saat mengetahui, jika dia bukanlah anak kandung Ibu Sari dan suaminya." Krisna menjelaskan kenapa dia melarang Helen menemui Kayra.


" Tapi Mama harus minta maaf kepada Kayra, Pa."


" Untuk menunjukkan jika Mama menyesali perbuatan Mama kepada Kayra, saat ini Mama bisa melakukannya dengan memperlakukan Kayra dengan baik dan penuh kasih sayang. Bukankah kita sejak awal ingin mengangkat anak Arina sebagai anak kita? Selama ini kita tidak diberi kesempatan untuk memberikan kasih sayang itu kepada Kayra. Saat ini adalah saat yang tepat untuk kita melakukannya, Ma." Krisna mengusap pundak istrinya, mencoba menenangkan Helen yang sedang dirundung rasa bersalah karena sikap buruknya terdahulu kepada Kayra.


***


Helen menatap Kayra yang sedang menyantap makanan di hadapannya. Dia menyesal tidak mengenali keponakannya sendiri dan justru membenci Kayra karena menganggap status sosial Kayra tidak sepadan jika harus menjadi menantu keluarga Mahadika Gautama.


" Kayra, kamu makan sayurannya yang banyak. Vitamin yang Mama kasih kemarin sudah mulai kamu makan, kan?" tanya Helen begitu perhatian kepada Kayra.


Semua yang ada di meja makan memusatkan pandangan matanya kepada Helen saat. mendengar Helen berkata kepada Kayra dengan kalimat yang terdengar lembut tidak seperti biasanya.


" Hmmm, sudah, Ma." jawab Kayra yang terkesiap mendengar Mama mertuanya itu bertanya dengan nada bicara yang sangat lembut.


" Jangan sampai terlewat minum vitaminnya. Nanti kalau sudah makan jangan lupa makan buah juga, ya?" tanya Helen kembali.

__ADS_1


" Iya nanti Kayra makan, Ma." jawab Kayra kikuk dengan perhatian Mama mertuanya.


" Kamu mau makan apa lagi? Apa kamu tidak menginginkan sesuatu? Tidak ngidam apa gitu?"


" Hmmm, tidak kok, Ma. Aku tidak ingin sedang ngidam apa-apa." Kayra yang bingung dengan perubahan sikap yang drastis dari Mama mertuanya langsung menoleh ke arah Erlangga yang juga sama bingung dengannya.


Erlangga yang belum mendapatkan informasi dari Papanya pun sebenarnya heran melihat perubahan sikap Mamanya terhadap Kayra. Tapi, tentu saja perhatian Helen kepada Kayra membuat Erlangga senang.


" Kalau kamu ingin sesuatu, kamu bilang saja sama Mama, ya!? Nanti Mama belikan untuk kamu." Helen sudah tidak memikirkan gengsinya lagi setelah mendapat penjelasan dari Krisna tentang siapa Kayra walaupun hasil test DNA belum keluar.


***


" Selamat siang, Tuan."


Erlangga menoleh ke arah pintu masuk ruang kerjanya saat mendengar suara Bondan menyapanya.


Erlangga memang ingin segera melakukan test DNA untuk memastikan apakah benar jika anak perempuan Arina yang hilang dulu adalah Kayra. Banyak kejadian yang membuat Erlangga mengarahkan dugaan jika Kayra adalah adik sepupunya, anak dari Om Danny yang sangat tidak bertanggung jawab, bahkan melakukan hal yang membuat Erlangga sendiri malu saat mengetahuinya.


Walau agak sedikit khawatir dengan sikap sang istri jika mengetahui fakta yang sebenarnya. Namun, Erlangga merasa lega, setidaknya adik sepupunya yang selayaknya sejak kecil mendapatkan kasih sayang dari keluarga Mahadika Gautama, kini sudah berada di tempat yang tepat dan mendapatkan kasih sayang mereka Bahkan, bukan hanya sebagai adik, tetapi sebagai istri dari Erlangga.


" Masuklah, Pak Bondan!" Erlangga mempersilahkan Bondan masuk ke dalam ruangannya dan menyuruh duduk di sofa.


Bondan masuk dan duduk di sofa yang ditunjuk oleh Erlangga. Sebenarnya Bondan sendiri agak heran saat diminta Erlangga datang menemuinya. Karena selama ini, bosnya itu selalu memberi perintah melalui telepon, dan jarang bertatap muka langsung dengannya. Sehingga membuat Bondan menduga jika apa yang ingin disampaikan Erlangga kepadanya adalah sesuatu yang penting.


" Ada apa Tuan memanggil saya untuk datang kemari?" tanya Bondan setelah dia duduk di sofa empuk berharga mahal di ruangan kerja CEO dari perusahaan Mahadika Gautama itu.


Erlangga meletakkan dua buah plastik berisikan sampel rambut yang sudah dia beri label nama Kayra dan Arina di atas meja.


" Tolong Pak Bondan bawa ini untuk ditest DNA," ucap Erlangga kemudian.


Bondan meraih dua plastik berisi sampel rambut yang diserahkan Erlangga kepadanya.


" Apa benar Nyonya Arina adalah Ibu dari Nyonya Kayra, Tuan?" tanya Bondan menatap kedua sampel rambut tersebut.


" Banyak bukti mengarah ke sana. Tapi, saya membutuhkan bukti yang pasti soal ini, agar saya bisa menentukan tindakan yang harus saya ambil. Saya harus memikirkan kondisi psikologi istri saya jika bukti mereka mempunyai hubungan darah. Tidak akan mudah menerima kenyataan jika dia terlahir dari cerita masa lalu yang sangat menyakitkan," tutur Erlangga dengan nada getir saat mengucapkan kalimat terakhir. Dia yang tidak berposisi sebagai Kayra saja merasakan sakit hati dengan perlakuan Om nya sendiri, apalagi Kayra, Untung saja sikap buruk yang dimiliki Danny tidak menular pada diri Kayra. Istrinya itu justru penuh kasih dan berhati lembut.


" Saya bisa mengerti, Tuan. Tapi, apa Anda akan memberitahukan hal ini kepada Nyonya Kayra jika hasil DNA ini membuktikan mereka adalah Ibu dan Anak?" tanya Bondan.


" Kayra harus mengetahui hal ini. Dia berhak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Tapi, mungkin tidak dalam waktu dekat ini. Saya mengkhawatirkan kehamilannya, karena apa yang ingin saya sampaikan tidak semuanya berita bahagia. Selama ini Kayra tahu dia adalah anak kandung dari Ibu Sari dan Pak Ariyanto. Dia tidak tahu jika dia adalah anak yang lahir di luar nikah, dan dia ingin dititipkan ibunya di panti asuhan walau sementara waktu."


" Saya rasa Ibu Arina juga perlu tahu jika putrinya masih hidup dan dirawat dengan baik oleh keluarga angkatnya. Selama ini beliau mencari keberadaan putrinya, sudah saatnya dia mendapatkan kabar bahagia soal putrinya yang hilang dulu," lanjut Erlangga memaparkan apa yang direncanakannya kepada Bondan.


" Bagaimana Anda akan menemui Nyonya Arina, sementara penyamaran Grace terbongkar, Tuan?" tanya Bondan.


" Nanti saya pikirkan lagi. Yang terpenting saat ini mendapatkan hasil dari test DNA terlebih dahulu," ujar Erlangga.


" Baiklah, Tuan. Sebaiknya saya permisi, karena saya ingin menyerahkan sampel ini ke lab." Bondan berpamitan karena dia harus bertindak cepat agar Tuannya itu mendapatkan kepastian soal kebenaran hubungan antara Kayra dan Arina.


" Jika ada dokumen yang dibutuhkan, hubungi saya segera. Saya menunggu kabar secepatnya dari hasil test DNA itu, Pak Bondan," ujar Erlangga.


" Baik, Tuan." Bondan bangkit dari duduknya. " Saya permisi dulu." Setelah berpamitan, Bondan melangkah meninggalkan ruang kerja Erlangga untuk menuju ke rumah sakit ternama. Di mana dia akan melakukan test DNA dari sampel rambut yang diambil dari Kayra dan Arina.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2