MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Kapan Kamu Akan Siap?


__ADS_3

Erlangga mempekerjakan Diah, Atik dan Siti di rumah yang kini ditempati oleh Kayra. Ditambah Koko, supir pribadi yang merupakan Kakak dari Atik. Erlangga benar-benar menyiapkan orang-orang yang dia percaya untuk menjaga rahasia tentang status Kayra dan juga mengurus Kayra dan Ibunya.


Hari sudah semakin gelap, dan waktu pun sudah beranjak malam. Selepas waktu Ashar tadi, Erlangga keluar dari rumah hingga saat ini pria itu belum menampakkan dirinya kembali di rumah itu.


Seandainya dalam posisi normal, tentu sebagai pengantin baru Kayra akan marah ditinggal oleh suaminya. Namun karena pernikahan dirinya dengan Erlangga dia anggap tidak sewajarnya, Kayra justru merasa senang bahkan berharap Erlangga tidak datang ke rumah itu kembali agar dia tidak harus repot menolak jika Erlangga memintanya melayani berhubungan suami istri.


Kayra merasa yakin tujuan Erlangga memperistrinya adalah agar bisa mendapatkan pelayanan biologis darinya yang kini berstatus istri dari Erlangga. Namun sayang harapan Kayra tidaklah menjadi kenyataan, karena tak lama berselang, Erlangga tiba di rumah itu dan masuk ke dalam kamar mereka.


Kayra yang sudah berbaring namun belum memejamkan matanya seketika menegang dengan jantung berdegup kencang. Dia bahkan segera memejamkan matanya agar Erlangga menganggapnya sudah tertidur


Beberapa menit Kayra menunggu reaksi Erlangga hingga dia mulai merasakan gerakan kasur empuk yang dia tiduri bergoyang.


" Saya tahu kamu belum tidur, Kayra!"


Kayra membulatkan matanya saat menyadari ternyata Erlangga mengetahui dirinya saat ini yang pura-pura tertidur. Dan Kayra semakin terperanjat saat tubuh Erlangga kini sudah berada di sampingnya dengan tangan Erlangga memeluk erat tubuhnya, sama seperti yang dilakukan Erlangga di kamar istirahat di ruang kerja kantor Erlangga beberapa hari lalu.


Dan tubuh Kayra seketika membeku saat Erlangga menciumi ceruk leher Kayra dengan penuh ga irah.


" Pak, tolong jangan lakukan sekarang, saya belum siap." Kayra menolak apa yang dilakukan oleh Erlangga kepadanya.


Erlangga mendengus hingga hembusan hangat nafasnya terasa di kulit tengkuk Kayra.


" Tidurlah!" Tak lama Erlangga menyuruh Kayra untuk tidur, namun dia tidak merubah posisi tidurnya. Erlangga tetap melingkarkan tangannya di perut Kayra dan menenggelamkan wajah diceruk leher Kayra.


Kayra menggigit bibirnya dengan jantung berdetak kencang. Sulit baginya memejamkan mata dengan posisi Erlangga memeluknya seperti sekarang ini. Dia takut jika nanti Erlangga akan menyetu buhinya saat dia tertidur. Kayra tahu menolak permintaan suaminya untuk berhubungan in tim adalah dosa, namun apalah daya, dia juga melakukan pernikahan ini karena keterpaksaan dan bukan atas kehendaknya.


Sekitar sejam berlalu, Erlangga masih berposisi sama tak melepas pelukannya dari tubuh Kayra. Sementara rasa kantuk sudah mulai menggelayuti hingga membuat kelopak matanya tak tahan untuk terus terbuka dan membuat dirinya akhirnya terlelap dalam dekapan Erlangga.


Sebelum Shubuh Kayra terbangun, dia merasakan tangan Erlangga masih membelit tubuhnya. Kayra menolehkan pandangannya ke belakang, dia mendapati wajah tampan Erlangga yang masih tertidur. Kayra heran bagaimana mungkin suaminya itu tidur semalaman tanpa merubah posisi tidurnya.


Kayra mencoba memindahkan tangan Erlangga dari tubuhnya karena dia ingin melaksanakan kewajiban dua rakaatnya karena sebentar lagi akan masuk waktu Shubuh.


" Mau ke mana?" Pertanyaan Erlangga membuat Kayra terperanjat karena tidak menduga jika tidur suaminya akan terganggu karena tindakannya.


" Jam berapa sekarang?" Erlangga melirik arloji di tangannya. " Baru jam empat lewat, sebaiknya kamu tidur lagi." Erlangga menyuruh Kayra kembali berbaring.


" Saya mau sholat Shubuh, Pak." Kayra menyebut alasannya kenapa dia ingin bangkit dari tempat tidur.


" Tunggulah sebentar lagi." Erlangga menahan tubuh Kayra yang ingin bangkit dari tempat tidurnya.


" Maaf, Pak. Saya tidak ingin Bapak melarang saya menjalankan kewajiban sholat lima waktu saya," protes Kayra karena Erlangga tidak mengijinkan dirinya melakukan ibadah wajibnya.


" Saya tidak melarang, saya hanya meminta kamu menunda sebentar," sanggah Erlangga menolak dituduh melarang aktivitas ibadah Kayra.


" Saya tidak ingin menunda untuk beribadah, Pak." Kayra menegaskan jika untuk menjalankan kewajiban beribadah lima waktu, dia tidak ingin mengulur waktu.


" Tidak ingin menunda untuk beribadah? Apakah menolak dan mengatakan belum siap melayani suami itu termasuk salah satu sikap menunda melakukan ibadah?"


Pertanyaan Erlangga bernada sindiran terdengar membuat Kayra membulatkan bola matanya. Kayra tidak menyangka suaminya akan menyindirnya seperti itu. Sontak apa yang diucapkan Erlangga itu membuat Kayra salah tingkah, ibarat senjata makan tuan, apa yang dikatakan Kayra langsung dikembalikan lagi oleh Erlangga kepadanya.


" Bapak tahu alasannya kenapa saya menolak, kan? Ini terlalu terburu-buru bagi saya. Pernikahan ini terlalu cepat dan tidak bisa saya tolak." Namun Kayra tidak ingin Erlangga terlalu menyudutkannya hingga dia bisa memberikan alasannya itu.


Erlangga tersenyum tipis lalu melepaskan tubuh Kayra.


" Cepatlah sembahyang nya dan temani saya tidur lagi." Erlangga akhirnya mengijinkan Kayra untuk melaksanakan sholat Shubuh dengan bersyarat.


Kayra mendengus mendengar Erlangga menyuruh dirinya mempercepat menjalankan ibadahnya. Dia kemudian beranjak ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat Shubuh.


Sekitar dua puluh menit Kayra menyelesaikan mandi dan melaksanakan ibadah dua rakaatnya, namun Kayra tidak langsung kembali ke peraduan, karena dia tidak terbiasa kembali tidur setelah Shubuh. Ketika di rumahnya dulu, setelah sholat Shubuh, dia akan berkutat di dapur untuk menyiapkan bekal yang akan dia bawa untuk makan siang di kantor. Namun kali ini dia tidak berkeinginan untuk melakukan aktivitas di dapur, dia justru memilih menghampiri kamar yang dipakai oleh Ibunya.


Tok tok tok


Setelah mengetuk pintu Kayra membuka pintu kamar Ibu Sari. Dia mendapati Ibunya masih duduk bersimpuh mengenakan mukena sedang memanjatkan doa-doa. Kayra menunggu Ibunya itu selesai berdoa, dia pun duduk di tepi tempat tidur.


Setelah Ibu Sari menyelesaikan doanya, Kayra membantu melepas mukena yang dipakai Ibunya itu.

__ADS_1


" Kayra, bagaimana keadaanmu, Nak?" Tentu Ibu Sari merasa khawatir karena semalam adalah malam pertama bagi Kayra setelah pernikahannya dengan Erlangga. Dia takut jika Erlangga akan menyakiti dengan memaksa Kayra untuk melayaninya.


" Seperti yang Ibu lihat." Kayra tidak berani mengatakan jika dia saat ini baik-baik saja karena nyatanya saat ini hatinya tidak dalam keadaan baik.


" Kayra, apa semalam Tuan Erlangga memaksamu untuk melayani Tuan Erlangga?" tanya Ibu Sari penasaran.


" Tidak, Bu!" sanggah Kayra.


" Lalu, apa yang kalian lakukan semalam?" tanya Ibu Sari penasaran.


" Tidak ada, Bu. Kami hanya tidur," aku Kayra sejujurnya.


" Benar tidak melakukan apa-apa? Tuan Erlangga tidak meminta kamu untuk melakukan hubungan suami istri?" tanya Ibu Sari heran, karena menurutnya setiap pria yang sudah berumah tangga apalagi memilih mempunyai istri dua kebanyakan akan menuntut untuk dipenuhi kebutuhan biologisnya.


" Kayra bilang jika Kayra belum siap, Bu." jawab Kayra kembali.


" Apa Tuan Erlangga tidak marah dengan tindakanmu itu?" tanya Ibu Sari.


Kayra menggelengkan kepalanya karena dia merasa Erlangga tidak memprotes sikapnya yang menolak keinginan Erlangga untuk melayaninya sebagai pria yang sudah berstatus suami Kayra.


" Ibu harap Tuan Erlangga bisa selalu mengerti kondisi kamu, sebab Ibu khawatir jika kamu terlalu sering menolak berhubungan, kamu akan terkena masalah, Kayra. Lagipula sebenarnya tidak baik menolak melayani suami, itu dosa, tapi mau bagaimana lagi keadaannya seperti ini!? Ibu hanya berharap Tuan Erlangga tidak membuat kamu susah dan menderita di pernikahan kamu ini, Kayra." Ibu Sari mengusap kepala Kayra, sebagai seorang Ibu, dia pasti menginginkan yang terbaik bagi putrinya.


" Aamiin, Bu." Kayra memeluk tubuh Ibu Sari, tak ada sosok yang bisa membuat dirinya tenang selain Ibunya itu.


Tok tok tok


" Kayra, apa kamu ada di dalam?"


Pelukan Kayra kepada Ibunya merenggang saat mendengar suara Erlangga dari luar kamar Ibu Sari. Dia sampai terbelalak saat mengetahui ternyata suaminya menyusulnya sampai ke kamar Ibunya.


" Kayra, Tuan Erlangga ..." Ibu Sari seketika merasa cemas jika Erlangga akan memarahi Kayra apalagi suara Erlangga terdengar sangat kencang.


Kayra segera melangkah ke arah pintu untuk membukakan pintu untuk suaminya.


" Kenapa lama sekali? Saya menyuruhmu kembali ke tempat tidur, bukan keluar kamar !" Wajah Erlangga terlihat kesal.


" Maaf, Tuan. Tadi Kayra membangunkan saya untuk sholat Shubuh." Ibu Sari yang berjalan di belakang Kayra memberikan alasan kenapa Kayra ada di kamarnya. Ibu Sari tidak ingin anaknya disalahkan karena kabur dari kamar.


" Ya sudah, sekarang kamu kembali ke kamar." Setelah mengucapkan kalimat itu Erlangga berjalan meninggalkan Kayra dan Ibu Sari. Tentu saja apa yang dilakukan Erlangga membuat Kayra dan Ibu Sari saling berpandangan melihat sikap Erlangga.


" Sebaiknya kamu cepat kembali ke kamar, Kayra. Daripada nanti Tuan Erlangga semakin marah." Ibu Sari menyuruh Kayra segera menyusul Erlangga daripada Kayra akan mendapat masalah.


" Iya, Bu." Kayra bergegas menyusul langkah Erlangga menuju arah kamarnya.


" Saya sudah bilang kembali tidur, kenapa kamu malah pergi ke luar dari kamar?" Erlangga kembali mempertanyakan alasan Kayra meninggalkan kamar.


" Hmmm, saya hanya membangunkan Ibu supaya tidak telat bangun untuk sholat Shubuh, Pak." Kayra menundukkan kepalanya tak ingin menatap Erlangga agar suaminya itu tidak mengetahui jika dirinya sedang berbohong.


" Besok tidak usah membangunkan Ibumu lagi! Saya akan atur Diah untuk membangunkan Ibu kamu untuk sembahyang." Erlangga tidak ingin aktivitas membangunkan Ibu Sari mengganggu Kayra menemaninya di tempat tidur.


Erlangga lalu naik kembali ke atas tempat tidur karena waktu baru jam lima lewat lima menit, masih panjang waktu untuknya pergi ke kantor.


" Kemarilah ... tidur kembali di sini." Erlangga menepuk sisi tempat tidurnya meminta Kayra membaringkan tubuh di sampingnya.


" Ini sudah pagi, Pak. Saya tidak terbiasa tidur setelah Shubuh." Kayra menolak karena dia memang tidak terbiasa kembali tidur setelah sholat Shubuh.


" Kalau begitu kamu harus membiasakan diri, karena kamu harus menemani saya tidur." Ibarat pepatah 'bos selalu benar' seperti itulah Kayra menganggap Erlangga yang memang berstatus bosnya. Tidak ingin disanggah dan menganggap apa yang dikatakannya selalu benar.


" Tapi ini hari Senin, bukan hari libur, Pak. Saya harus berangkat ke kantor." Kayra kembali menyebutkan alasan agar dia terbebas dari permintaan Erlangga.


" Itu perusahaan saya, dan saya yang menjadi bos di sana. Kamu sekarang istri saya, siapa yang akan berani menegur kamu?" sahut Erlangga enteng.


" Tapi orang kantor hanya tahu Ibu Caroline lah yang menjadi istri Bapak, bukan saya!" Ada rasa sesak di dada Kayra saat mengatakan hal itu. Dia bisa membayangkan bagaimana rekan sekantornya akan mengoloknya seandainya mereka tahu jika saat ini dia berstatus sebagai istri simpanan bos mereka.


" Tidurlah, dan jangan banyak bicara lagi!" ketus Erlangga terlihat tidak menyukai Kayra membahas soal Caroline.

__ADS_1


Kayra yang mendengar nada ketus Erlangga mau tidak mau mengikuti apa yang diperintahkan oleh Erlangga kepadanya.


Kayra membaringkan tubuhnya dengan ragu dengan degup jantung yang masih saja berdetak kencang. Berdekatan sangat in tim dengan Erlangga seperti ini membuat dirinya sulit bernafas dan hatinya berdebar-debar.


" Jangan sebut nama Caroline jika kita sedang bersama." Erlangga berbisik di telinga Kayra kemudian menciumi pipi berkulit halus Kayra membuat Kayra menahan nafasnya dengan memejamkan matanya.


" Apa kita bisa melakukannya sekarang? Masih ada waktu sebelum pergi ke kantor, atau kalau perlu kamu ijin tidak udah masuk kantor hari ini." Erlangga bahkan menggigit leher Kayra meninggalkan noda merah percintaan di leher Kayra.


Kayra mulai merasakan gelenyar aneh saat lidah Erlangga mengabsen pipi dan ceruk lehernya. Bahkan mungkin saja saat ini bulu kuduknya sudah berdiri tegak, membuat pori-pori di tangannya terbuka lebar.


" J-jangan, Pak! Jangan sekarang ..." Kayra memohon agar suaminya itu tidak memintanya untuk melayani Erlangga. Karena demi apapun juga, dirinya tidak akan pernah siap harus melayani bosnya itu.


" Kenapa kamu ketakutan sekali? Saya tidak akan memakanmu. Saya hanya ingin mengajari kamu agar kamu bisa menjadi istri yang baik dan bisa melayani suami." Bahkan tangan Erlangga sudah mulai masuk ke balik pakaian dalam Kayra dan menyentuh kulit perut Kayra dan mulai naik ke atas lalu menyentuh dua aset berharga milik Kayra.


Kayra terkesiap saat bagian sensitifnya tersentuh tangan Erlangga, apalagi bibir Erlangga masih intens menciumi dan membasahi leher Kayra.


" Pak ...!" Kayra mencoba menyingkirkan tangan nakal Erlangga dari dua asetnya. Namun Erlangga tidak menggubris penolakan Kayra. Bahkan dengan gerakan cepat Erlangga sudah membuka kain penutup dua bukit milik Kayra.


" Pak, tolong hentikan!" Gelenyar aneh itu terasa makin kuat saat Erlangga memainkan kedua puncak dua bukit milik Kayra.


" Oouugghh ..." Suara de sahan bahkan sudah keluar dari mulut Kayra karena rasa geli dan suatu rasa yang aneh membuat tubuhnya menggeliat.


Erlangga mengulum senyuman saat melihat Kayra mulai terbawa dengan permainannya, Erlangga kini menempatkan tubuhnya di atas Kayra dan menindih wanita yang berprofesi sebagai sekretarisnya itu.


Erlangga menatap wajah Kayra yang sedang memejamkan matanya dan menggigit bibirnya. Kini tangannya mulai membelai wajah Kayra dan bibirnya mulai menciumi seluruh wajah Kayra penuh has rat. Apalagi saat ini bibirnya menyentuh bibir Kayra yang tertutup rapat.


" Buka mulutmu!" Erlangga menyuruh Kayra untuk membuka bibirnya, Karena dengan bibir tertutup cukup sulit untuknya mengeksplor bibir dan rongga mulut istrinya itu.


Kayra menggelengkan kepalanya, menolak apa yang diperintahkan oleh Erlangga.


" Jangan, Pak! S-saya belum siap ..." Kayra kembali memohon agar Erlangga tidak memaksakan kehendaknya.


" Kapan kamu akan siap melayani saya?" tanya Erlangga.


Kayra diam tak mampu menjawab pertanyaan Erlangga karena dia memang tidak tahu kapan dia akan siap menjalankan kewajibannya sebagai istri bagi Erlangga.


" Kamu belum tahu jawabannya? Saya menikahimu bukan untuk menunggu sesuatu yang tidak pasti!" tegas Erlangga.


" Buka mulutmu!" tangan kanan Erlangga bahkan mencengkram kedua pipi Kayra agar Kayra mau melepaskan bibirnya yang merapat.


Karena paksaan dari Erlangga, Kayra pun akhirnya membuka mulutnya, dan saat itu juga Erlangga langsung melu mat bibir ranum Kayra penuh nafsu, bahkan lidahnya sudah mulai mengeksplor rongga mulut Kayra membuat Kayra kelabakan dan sulit untuk bernafas.


" Bernafaslah!" Erlangga menyuruh Kayra untuk mengambil nafas karena Kayra terlihat seperti orang yang tenggelam hingga kekurangan oksigen.


" Kamu harus membiasakan diri menerima ini." Erlangga kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Kayra. Sepertinya dia tidak merasa puas jika harus sebentar merasakan manisnya bibir ranum Kayra hingga membuatnya ingin kembali menyentuh dan melu mat penuh naf su daging kenyal milik istrinya itu.


Setelah cukup puas menikmati bibir Kayra, Erlangga mulai menjelajah turun ke bawah dengan tangan dia yang mulai membuka satu persatu baju piyama yang dipakai oleh Kayra.


Pandangan mata Erlangga tertegun saat mendapati dua bukit yang menjulang kokoh dengan puncak berwarna pink seolah menggodanya dan menginginkan disentuh olehnya.


" Aaakkhh ...!" Kayra memekik dan seketika menyilangkan kedua tangan untuk menutupi kedua asset kembar yang kini terekspos jelas.


" Pak, tolong jangan dilanjutkan!" Kayra kembali meminta Erlangga untuk menghentikan aksinya. Dan di saat Erlangga sedang tertegun mengagumi keindahan dua bukit miliknya, Kayra segera mendorong secara kasar tubuh Erlangga dengan sekuat tenaga agar menjauh. darinya. Dia pun langsung menendang Erlangga hingga tanpa sengaja mengenai alat tempur suaminya membuat Erlangga meringis kesakitan.


" Aawww ...!" Erlangga menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya memegangi senjatanya yang terasa linu karena tendangan Kayra tadi.


Erlangga langsung menatap Kayra dengan sorot mata tajam dan wajah memerah. Merah menahan emosi dan menahan has rat yang belum sempat tersalurkan.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading♥️


,


__ADS_2