MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Apa Kurangnya Menjadi Istri Erlangga?


__ADS_3

Erlangga membuka pintu kamarnya, dia mendapati Kayra yang masih tertidur di atas tempat tidur padahal saat ini waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Dia lalu mendekat dan membaringkan tubuhnya ke arah istrinya lalu memberikan ciuman di pipi Kayra membuat Kayra terkesiap.


" Astaghfirullahal adzim, jam berapa sekarang?" Kayra langsung bangkit dari tidurnya. Karena dini hari tadi dia tidak bisa kembali terlelap sampai masuk waktu Shubuh. Setelah membersihkan tubuhnya dan melaksanakan sholat Shubuh, Kayra baru mencoba berbaring kembali karena tubuhnya memang terasa lelah sampai akhirnya dia terlelap.


" Jam delapan." Erlangga menjawab pertanyaan Kayra.


" Ya Allah, aku kesiangan ...!" Kayra ingin bangkit dan menuju ke arah kamar mandi, dia bahkan seperti tidak menyadari keberadaan Erlangga di sana walaupun tadi Erlangga menjawab pertanyaannya.


" Kamu mau ke mana?" Tangan Erlangga mencekal lengan Kayra hingga menahan langkah wanita itu yang hendak berjalan ke kamar mandi.


" Mau mandi, mau berangkat ke kantor," sahut Kayra padahal sebelum Shubuh tadi dia sudah mandi.


" Jangan terburu-buru. Nanti kamu datang bersama saya sekalian, Jika kamu masih lelah sebaiknya kamu istirahat saja tidak usah berangkat ke kantor," ujar Erlangga menghalangi Kayra yang akan mandi.


" Bapak ada di sini? Bagaimana dengan Ibu Caroline, Pak?" Sepertinya kesadaran Kayra sudah mulai penuh dan menyadari keberadaan Erlangga di sampingnya.


" Dia sudah melewati masa kritis," sahut Erlangga.


" Semua ini karena saya, Pak." Kayra tertunduk dan menggigit bibirnya sementara hawa panas sudah menyerang daerah seputar matanya.


" Karena kamu?" tanya Erlangga bingung.


" Kalau Bapak tidak menikahi saya, Bapak pasti tidak akan menceraikan Ibu Caroline ..." lirih Kayra.


" Hei, ini tidak ada hubungannya denganmu. Hubungan saya dengan Caroline akan berakhir karena sudah tidak ada kecocokan di antara kami berdua, bukan karena saya menikahi kamu, Kayra." Erlangga menepis anggapan Kayra yang menyangka jika Kayra lah yang membuat Erlangga membuat keputusan menceraikan Caroline.


Tangan Erlangga mengusap wajah cantik Kayra lalu mendekatkan wajahnya ke arah wajah Kayra dan memberikan kecupan-kecupan di pipi dan juga bibir Kayra.


" Apa yang terjadi dengan Caroline tidak akan menghalangi langkah saya untuk bercerai. Saya sudah bertekad untuk itu, karena saya sudah menatap masa depan saya bersama kamu, Kayra." Kembali Erlangga membenamkan sebuah kecupan mesra di bibir manis istrinya itu.


" Apa Bapak tidak menyesal menceraikan Ibu Caroline dan justru memilih orang biasa seperti saya?" Kayra sungguh tidak mengerti kenapa Erlangga justru memilih wanita biasa seperti dirinya untuk dijadikan istri.


" Kamu bukan wanita biasa saja di mata saya, Kayra. Kamu sangat spesial untuk saya," ucap Erlangga dengan keningnya mendekat dengan kening Kayra.


" Dulu Bapak juga pasti pernah berkata seperti itu kepada Ibu Caroline. Bukan tidak mungkin saya pun akan bernasib seperti Ibu Caroline apalagi saya hanya orang biasa." Menyadari posisinya bukanlah orang kaya seperti Caroline, Kayra merasa pesimis dia bisa bernasib lebih baik dari Caroline, dan bukan tidak mungkin Erlangga pun akan melepasnya untuk mendapatkan wanita lain seperti yang diinginkan Erlangga.


" Yang saya inginkan ada pada diri kamu, Kayra. Saya yakin kamu tidak akan bernasib seperti Caroline, karena saya akan jadikan kamu istri saya satu-satunya untuk sekarang dan selamanya," ucap Erlangga berjanji kepada Kayra jika dia tidak akan melepaskan Kayra. untuk selamanya.


Seandainya pernikahannya bersama Erlangga didasari rasa cinta dan terjadi dengan situasi normal layaknya pasangan pengantin pada umumnya, mungkin dia akan merasa bahagia mendengar janji Erlangga tadi. Namun sayangnya dia tidak bisa sebahagia itu karena pernikahannya dilaksanakan karena paksaan dari Erlangga.


" Jangan pikirkan hal lain, fokus saja dengan tugasmu sebagai istri saya." Melihat Kayra yang termenung, Erlangga meminta agar Kayra tidak memikirkan apa yang terjadi dengan Caroline.


" Kamu pasti belum makan, kan? Saya sudah belikan sarapan untuk kamu. Saya taruh di dapur, sebentar saya ambilkan dulu." Erlangga bangkit ingin keluar kamar mengambil makanan yang dia beli untuk mereka sarapan.


" Biar saja saya yang ambilkan, Pak." Kayra bergegas turun dari tempat tidur untuk mendahului Erlangga yang ingin menyiapkan sarapan untuknya.


" Aaakkhh ...!" Namun tangan Erlangga sudah menghalangi dengan mengangkat tubuh Kayra dengan kedua lengan kokohnya.


" Kamu di sini saja, biar saya melayani kamu." Erlangga kembali menaruh tubuh Kayra di tempat tidur.


" Tapi, Pak ..." Tentu saja Kayra merasa tidak enak hati mendengar Erlangga akan melayaninya.


" Tidak ada tapi, ini perintah!" tegas Erlangga tak ingin dibantah. Kemudian melangkah ke luar dari kamar untuk menyiapkan makanan yang sudah dia beli tadi sebelum pulang.


Hanya membutuhkan waktu lima menit untuk Erlangga menyiapkan makanan, dia sudah kembali ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi dua mangkuk berisi ketupat sayur di tangannya dan dua botol air mineral lalu menaruh di meja sofa yang ada di kamar apartemennya.


" Sekarang waktunya kita sarapan." Erlangga mengajak Kayra untuk segera bersarapan.


" Saya tidak tahu apa ini enak? Saya hanya membeli karena saya lihat banyak orang yang membeli tadi di sana," ucapnya kemudian.


Setelah membaca doa terlebih dahulu akhirnya Kayra dan Erlangga menyantap sarapan pagi bersama. Dan sesudah mereka selesai menyantap makanan, mereka berdua pun bersiap untuk pergi ke kantor.

__ADS_1


***


Erlangga baru memasuki ruang kerjanya setelah dia berbincang dengan Wira soal perusahaan yang dimiliki oleh Rivaldi dan juga soal tindakan Caroline yang hendak mengakhiri hidupnya. Dan tiba-tiba saja ponsel di saku blazzernya berbunyi. Dia segera merogoh saku bagian dalamnya itu untuk mengambil ponselnya.


Nama Mama Ivone yang terlihat di layar ponsel hingga akhirnya Erlangga menjawab panggilan telepon itu.


" Halo bagaimana, Ma?" tanya Erlangga saat panggilan telepon itu tersambung.


" Erlangga, Caroline sudah sadar," sahut Mama Ivone.


" Syukurlah kalau begitu, Ma."


" Tapi dia terus saja mencari kamu, Erlangga. Apa kamu bisa menyempatkan waktu datang ke sini setelah pulang dari kantor nanti?" tanya Mama Ivone berharap.


Erlangga diam tak menjawab permintaan Mama mertuanya itu. Dia berpikir mungkin saja hal ini akan dijadikan senjata untuk Caroline untuk memintanya membatalkan rencana perceraian mereka.


" Mama tahu mungkin kamu masih belum bisa menerima apa yang dilakukan Wisnu terhadap Caroline, tapi saat ini hanya kamu penyemangat hidup untuk Caroline." Mama Ivone berusaha membujuk Erlangga agar mau datang menemui Caroline.


Erlangga menghela nafas panjang, namun akhirnya dia menyanggupi untuk datang menjenguk Caroline.


" Baiklah, nanti aku akan datang ke sana," ucapnya.


" Terima kasih, Erlangga. Mama tidak tahu harus bagaimana agar Caroline tidak mengulangi niatnya bertindak bo doh seperti kemarin lagi selain meminta bantuanmu." Suara Mama Ivone terdengar lirih.


" Ya sudah, Ma. Aku tutup teleponnya dulu." Erlangga kemudian mematikan sambungan telepon dengan Mama Ivone.


Erlangga melirik arlojinya, saat ini masih belum masuk waktu istirahat. Dia lalu mematikan laptopnya lalu ke luar dari ruangannya.


" Kayra, kamu ikut saya!" Erlangga sengaja mengajak Kayra untuk menjenguk Caroline agar dia tidak terlalu lama berada di sana. Dia bisa mengunakan alasan ingin bertemu klien setelah jam makan siang.


" Baik, Pak." Kayra segera merapihkan mejanya lalu menyampirkan tas di pundaknya dan berjalan mengikuti Erlangga turun ke lantai bawah menggunakan lift khusus.


" Kita akan ke rumah sakit menjenguk Caroline."


Kayra langsung menoleh ke arah Erlangga dengan mata terbelalak.


" Menjenguk Ibu Caroline? Sebaiknya saya tidak usah ikut, Pak." Kayra melepas kembali seat belt yang melingkar di tubuhnya.


" Kamu tetap ikut dengan saya, Kayra!" Erlangga memaksa Kayra untuk tetap menemaninya.


" Tapi apa saya tidak akan mengganggu Bapak dan Ibu?" Kayra lebih takut keluarga Caroline akan mencurigai kedatangannya bersama Erlangga.


" Saya sudah bilang jangan pikirkan masalah yang terjadi pada Caroline, kamu fokus saja dengan tugas kamu melayani suamimu ini." Erlangga tidak suka Kayra selalu menganggap jika istri sirinya itu akan menjadi pengganggu kebersamaannya dengan Caroline.


Kembali Kayra hanya bisa menuruti apa yang diperintahkan Erlangga terhadapnya, daripada dia nantinya akan berdebat dengan suaminya itu.


Kurang dari satu jam Erlangga dan Kayra sampai di rumah sakit tempat Caroline dirawat. Kayra sengaja berjalan sedikit di belakang Erlangga, dia benar-benar harus bersikap hati-hati agar tidak ada yang mencurigai hubungannya dengan bosnya itu.


" Saya tunggu di sini saja, Pak." Saat mereka sampai di depan ruang rawat Caroline, Kayra memilih untuk menunggu di luar ruangan dan tidak ikut masuk ke dalam menemui Caroline.


" Ya sudah, kalau begitu kamu tunggulah di sini, jangan ke mana-mana!" Erlangga meminta Kayra agar tidak pergi jauh dari kamar di mana Caroline di rawat.


" Iya, Pak."


Setelah melihat Kayra duduk di sofa, Erlangga lalu masuk ke dalam ruangan di mana Caroline berada.


" Erlangga ..." suara Carolie terdengar lirih memanggil nama Erlangga saat melihat kehadiran suaminya itu.


" Erlangga, kamu sudah datang?" Mama Ivone yang sedang duduk di dekat brankar Caroline langsung bangkit dan memberikan tempat untuk Erlangga duduk di kursi dekat brankar Caroline.


" Erlangga ..." Kali ini Caroline memanggil dengan terisak.

__ADS_1


" Apa yang kamu lakukan ini adalah tindakan bo doh, Caroline! Apa yang kamu pikirkan sampai kamu senekat ini? Apa kamu tidak merasa kasihan kepada Mamamu jika saja kemarin kamu tidak tertolong?" Erlangga justru memarahi Caroline karena tindakan wanita itu.


Caroline semakin terisak mendengar ucapan Erlangga. Dia berharap Erlangga akan merasa prihatin, setidaknya pria itu akan menunda gugatan cerainya, namun Erlangga malah berkata dengan nada penuh kekesalan. Tak ada lagi sikap manis pria itu yang dulu selalu membuatnya bagaikan wanita paling bahagia di muka bumi ini.


Sementara di luar, Kayra yang sedang duduk menunggu Erlangga merasa canggung saat melihat kehadiran Mama Ivone yang baru keluar dari kamar Caroline.


" Selamat siang, Ibu." Kayra berusaha menyapa Mama Ivone saat Mama Ivone memandanginya.


" Kamu siapa?" tanya Mama Ivone heran.


" Hmmm, saya Kayra, Bu. Saya sekretaris dari Pak Erlangga. Kebetulan kami ingin bertemu dengan klien setelah dari sini, jadi Pak Erlangga menyuruh saya sekalian ikut kemari." Kayra mengikuti apa yang diminta Erlangga agar berbohong, walaupun dia sendiri merasa tidak setuju harus berkata dusta seperti ini.


" Oh ..." Mama Ivone lalu duduk di hadapan kursi yang diduduki oleh Kayra.


" Bagaimana kondisi Ibu Caroline, Bu?" tanya Kayra mencoba berbasa-basi dengan menanyakan kondisi Caroline.


" Caroline sudah siuman ..." sahut Mama Ivone.


" Alhamdulillah, semoga Ibu Caroline cepat kembali pulih." Kayra mendoakan agar Caroline cepat sehat kembali.


" Terima kasih, Nak Kayra." jawab Mama Ivone.


Sambil menunggu Erlangga yang sedang berbincang dengan Caroline di dalam, Kayra pun berbincang dengan Mama Ivone agar dirinya tidak merasa canggung atau bertingkah yang mencurigakan Mama dari Caroline itu.


" Maaf, Bu. Saya mau ke toilet dulu." Kayra meminta ijin kepada Mama Ivone untuk pergi ke toilet.


" Oh, silahkan ... " Mama Ivone mempersilahkan Kayra yang hendak buang air kecil di toilet.


Tak lama setelah Kayra masuk ke dalam toilet tiba-tiba dua orang wanita masuk ke dalam ruangan di mana Kayra dan Mama Ivone tadi berbincang.


" Di mana anakmu, Nyonya Ivone?" Helen yang datang bersama Agnes bertanya dengan nada ketus kepada Ivone.


" Nyonya Helen?"


Mama Ivone kaget dengan kedatangan Helen yang ditemani oleh Agnes. Dia pun memperhatikan Agnes, wanita muda yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Agnes terlihat berdiri dengan melipat tangan di dadanya. Agnes tersenyum sinis seolah merasa senang dan puas atas apa yang terjadi dengan Caroline.


" Anda tahu, Nyonya Ivone? Apa yang anakmu itu lakukan bisa membuat malu nama baik keluarga Mahadika Gautama! Orang akan berpikir anak saya mempunyai istri yang stres sampai mencoba bunuh diri segala!" Kata-kata yang diucapkan Helen dengan nada tinggi.


" Maafkan anak saya, Nyonya Helen." Mama Ivone segera menyampaikan permohonan maafnya karena Helen menuduh Caroline bisa mempermalukan nama baik keluarga besar Erlangga.


" Kalau anak Nyonya Ivone berpikir dengan tindakannya ini dia bisa membuat anak saya membatalkan gugatan cerainya, anak Anda salah besar Nyonya Ivone! Erlangga sudah bulat untuk berpisah dengan istrinya yang tidak berguna itu!" Setiap kalimat yang diucapkan oleh Helen sudah seperti sayatan belati yang melukai hati Mama Ivone, karena bagaimanapun juga seorang Ibu tidak akan rela melihat anaknya dihina seperti ini.


" Sekali lagi saya minta maaf, Nyonya Helen. Tapi saya rasa Caroline memang tidak sengaja melakukan hal itu hanya untuk mendapatkan perhatian dari Erlangga, Nyonya!" Mama Ivone mencoba membantah ucapan Helen.


" Tidak mungkin! Dia pasti memang tidak ingin kehilangan status sebagai istri dari Erlangga, kan? Bukankah itu pilihan anak Anda sendiri yang terlalu mencintai karirnya? Memang apa kurangnya menjadi istri Erlangga Mahadika Gautama? Apa kekayaan keluarga kami tidak membuat anak Anda puas hingga masih saja bekerja sebagai model? Dasar istri .tidak tahu diuntung!!" Helen masih terus menyerang Caroline melalui Mama Ivone, .


" Mama! Apa yang Mama lakukan di sini?" Erlangga yang mendengar suara gaduh di luar dengan cepat melangkah ke luar kamar Caroline, dan dia langsung menegur Mamanya yang sedang menghina Caroline melalui Mama Ivone.


" Erlangga? Kamu ada di sini?" Helen terperanjat mendapati Erlangga keluar dari dalam kamar Caroline. Dia tidak menduga jika putranya itu saat ini sedang berada di sana.


" Apa yang Mama lakukan di sini?" Erlangga kini melirik ke arah Agnes. " Dan untuk apa Mama Membawa dia kemari?" geram Erlangga merasa tidak suka dengan kehadiran Mamanya terutama Agnes dia tahu selalu berusaha menarik perhatian dari dirinya itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2