
Wisnu memperhatikan Caroline yang sedang mengepak pakaiannya ke dalam koper. Wanita itu seperti hendak bersiap-siap untuk pergi dari hotel mereka menginap.
" Kamu mau ke mana, Caroline?" tanya Wisnu menarik tangan Carolien yang mengangkat koper.
" Aku harus kembali ke Jakarta, Wis. Aku harus berbicara dengan Erlangga. Aku sudah berpikir matang-matang, aku tidak ingin kehilangan Erlangga. Aku sangat mencintai Erlangga, Wis." Setelah merenung semalaman, Caroline memutuskan untuk kembali ke Jakarta dan akan meninggalkan dunia yang selama ini digelutinya sebagai seorang model profesional yang mempunyai jam terbang yang sangat padat.
" Apa kamu gi la, Caroline? Kamu mau meninggalkan karirmu yang sedang menanjak hanya untuk pria egois seperti Erlangga?" Sudah pasti Wisnu tidak akan membiarkan Caroline meninggalkan profesinya demi Erlangga.
" Aku tidak punya pilihan, Wis." Caroline terlihat pasrah, rasanya dia tidak sanggup harus kehilangan pria yang dicintainya itu.
" Kau punya pilihan, Caroline! Dan pilihanmu itu adalah karirmu!" Nada suara Wisnu terdengar tinggi karena dia merasa kecewa Caroline mengambil keputusan untuk meninggalkan profesinya yang saat ini sedang menuju puncak hanya karena Erlangga.
" Aku tidak ingin mengorbankan rumah tanggaku, Wis."
" Dan kau lebih rela mengorbankan karirmu yang susah payah kamu raih?" Wisnu merasa kesal dengan keputusan Caroline yang dianggapnya terlalu tergesa-gesa.
" Aku harus bisa menerima itu, Wis." lirih Caroline dengan berat hati.
" Tidak, Caroline! Kamu tidak bisa begitu saja mengambil keputusan itu. Apa kamu lupa kamu sudah sepakat menjadi model iklan kosmetik? Jika kamu mundur, itu akan menghancurkanmu, Caroline!"
" Jika aku disuruh membayar uang ganti rugi, aku yakin Erlangga akan memberikan uang itu, Wis. Berapun jumlahnya, Erlangga sudah berjanji bersedia membayar asalkan aku mau berhenti menggeluti pekerjaanku." Caroline bersedia memberikan uang ganti rugi karena dia ingkar janji tidak menjalankan kesepakatan yang sudah disetujui oleh pihak advertising dan perusahaan kosmetik itu sendiri.
" Erlangga! Erlangga! Erlangga terus yang kamu andalkan! Apa sih hebatnya dia sampai kamu terlalu takut kehilangan dia!?" geram Wisnu mulai tersulut emosi. Dia bahkan menarik tangan Caroline dan menghempaskan tubuh semampai wanita itu ke atas tempat tidur lalu menindihnya.
" Wisnu, apa yang kamu lakukan??" Caroline tersentak akan tindakan Wisnu yang mengungkungnya saat ini.
" Apa kamu takut tidak mendapatkan kepuasan layanan di ranjang dari dia!?"
Breeettt
Bahkan tangan Wisnu kini sudah mengoyak pakaian yang dikenakan oleh Caroline.
" Wisnu ...!! Apa kamu gi la!? Apa yang kamu lakukan!?" Caroline memekik dan memukuli tubuh Wisnu yang menindihnya.
" Aku akan membuatmu melupakan Erlangga agar pria itu tidak terus mengganggu karirmu, Caroline!" Bibir Wisnu mulai melu mat secara paksa bibir ranum yang selama ini hanya disentuh oleh Erlangga.
" Hhmmpptt ..." Caroline berusaha berontak melepaskan diri dari serangan paksa Wisnu terhadapnya, namun tenaga wanitanya tak cukup mampu melawan tubuh kekar dan tenaga kuat Wisnu yang saat ini sedang menguasainya. Wisnu pun sudah menarik pakaian dalam Caroline. Dengan terus menguasai Caroline tangannya melepas ikat pinggang dan melepas celana yang dia pakai. Tak membutuhkan waktu lama dan tanpa melakukan pemanasan terlebih dahulu Wisnu langsung menghujamkan miliknya ke inti Caroline hingga dia melakukan penyatuan paksa tubuh mereka dibarengi suara tangisan Caroline.
Caroline yang tidak mampu melakukan perlawanan akhirnya hanya bisa pasrah menerima takdirnya harus mengalami pemerko saan yang dilakukan oleh sahabat dan juga managernya sendiri.
***
Erlangga masuk ke dalam rumah orang tuanya saat Krisna yang baru tiba dari Seoul memintanya datang ke rumah karena hal yang perlu dibicarakan oleh Papanya itu.
Jika bukan karena dia ingin tahu hasil pertemuan dengan pengusaha dari Korea, rasanya Erlangga malas untuk menginjakkan kaki di rumah orang tuanya, karena dia pasti akan selalu berdebat dengan Mamanya masalah Caroline, karena sejak awal Helen memang tidak menyukai istri dari putranya itu.
" Bagaimana hasil pertemuannya, Pa? Apa kita jadi bekerja sama dengan mereka?" tanya Erlangga mendudukkan tubunya di sofa ruang kerja Krisna di rumahnya.
" Sia-sia jika Papa sampai datang ke sana namun kita tidak dapat kontrak kerja itu, Lang. Kamu masih mengandalkan Papa untuk melobi relasi bisnis yang cukup alot seperti ini." Reputasi dan pengalaman puluhan tahun sebagai seorang pemimpin perusahaan membuat Krisna memang cukup pengalaman untuk melobi beberapa relasi bisnis agar bersedia bekerja sama dengan perusahaannya.
" Terima kasih, Pa." Erlangga mengucapkan terima kasih atas bantuan Papanya. " Lantas kapan kita bisa mulai kerja sama dengan mereka?" tanyanya kemudian.
" Kerja sama kita baru akan dimulai dua bulan ke depan. siapkan saja draf kontrak kerjanya lalu kirimkan ke alamat email mereka, tanyakan apa yang harus dilengkapi." Krisna memberikan arahan kepada Erlangga.
__ADS_1
" Baik, Pak. Akan aku atur orang untuk menyiapkannya," sahut Erlangga.
" Papa dengar dari Nico, katanya kamu mengajukan gugatan cerai kepada Caroline. Apa itu benar?" Tiba-tiba Krisna mengalihkan arah pembicaraan menyinggung soal rencana perceraian anaknya yang dia dengar dari Pengacara keluarga Mahadika Gautama.
Erlangga menatap ke arah Krisna. Nico adalah kuasa hukum pribadi keluarga besarnya, sudah pasti keputusan mengajukan gugatan cerai terhadap Caroline akhirnya tembus juga ke telinga Papanya.
" Apa ini ada hubungannya dengan sekretaris kamu itu?" Bahkan Krisna to the point menebak rencana perceraian Erlangga ada sangkut pautnya dengan Kayra, mengingat apa yang pernah dia lihat di kantor Erlangga beberapa hari lalu.
" Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Kayra, Pa." Erlangga menepis dugaan Krisna jika Kayra lah yang menyebabkan dirinya mengajukan gugatan cerai terhadap Caroline.
" Papa sudah tahu bagaimana rumah tangga aku dengan Caroline belakangan ini. Kami tidak bisa terus mempertahankan rumah tangga yang sudah tidak sehat ini, Pa. Kami selalu bertengkar. Caroline terlalu mengutamakan karirnya dari pada menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga untukku." Erlangga menjelaskan yang menjadi alasannya ingin menyudahi pernikahannya dengan Caroline.
" Caroline adalah pilihanmu, Lang. Kamu sendiri yang bersedia menikahi dia dengan profesinya yang seperti itu." Krisna mengingat bagaimana Erlangga yang bertentangan dengan Mamanya saat memutuskan ingin menikah dengan Caroline.
" Tadinya aku pikir dengan berjalannya waktu, aku bisa menyurutkan ambisi Caroline untuk menjadi model top dunia, Pa. Nyatanya semakin hari ambisinya itu semakin tak terbendung dan aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Aku menginginkan memiliki keluarga yang utuh, ada istri yang menanti aku pulang dari kantor, dan ada anak yang menyambut dan membuat penatku hilang saat melihat tingkah dan celotehnya. Lima tahun bersama, Caroline masih tidak bersedia untuk mempunyai anak bahkan sampai beberapa waktu ke depan. Jadi aku rasa tidak ada lagi yang perlu dipertahankan dengan rumah tangga aku sekarang ini, Pa." Ibarat sedang mengeluh, Erlangga mencurahkan semua yang menjadi permasalahan di rumah tangganya.
Krisna menarik nafas cukup panjang mendengarkan keluhan putranya tentang kondisi rumah tangganya yang sudah tidak lagi harmonis. Krisna sendiri bukannya tidak tahu jika Caroline sangat berambisi dengan dunia modelnya, namun putranya itu sangat mencintai Caroline, itulah yang dia pikir membuat Erlangga bertekuk lutut hingga bersedia menikah dengan Caroline.
" Lalu bagaimana dengan sekretarismu itu? Bagaimana hubunganmu yang sebenarnya dengan Kayra? Papa yakin apa yang Papa lihat kemarin di kantormu itu bukan tanpa alasan, Erlangga. Apa sebenarnya kamu menyukai Kayra? Atau kamu hanya membutuhkan tempat pelampiasan karena istrimu tidak bisa memberikan apa yang kamu inginkan?" Krisna masih menyimpan kecurigaan dengan peristiwa yang dia lihat di kamar istirahat Erlangga.
Erlangga diam sejenak dan tak menjawab secara langsung apa yang dikatakan Krisna kepadanya. Erlangga memang tidak ingin Papanya itu tahu lebih dahulu tentang hubungannya dan Kayra yang sebenarnya saat ini. Dia ingin mengatakannya nanti jika perceraian dengan Caroline sudah tuntas.
" Kayra seorang wanita yang baik, Pa." Hanya itu yang dikatakan oleh Erlangga menjawab pertanyaan Krisna.
" Papa tahu, karena itu Papa tanya ke kamu, apa kamu diam-diam mengagumi dia?" Jawaban yang diberikan Erlangga tidak cukup membuat Krisna puas.
" Papa khawatir kamu tidak bisa menahan diri dan melakukan hal yang akan merugikan nama baik kamu dan juga sekretaris kamu itu, Lang."
" Jangan membuat skandal yang bisa mencoreng nama baik perusahaan!" Dengan kalimat tegas Krisna mengatakan apa yang tidak dia harapkan dilakukan oleh Erlangga.
Erlangga menelan salivanya, nyatanya dia memang telah menciptakan skandal itu dengan menikahi Kayra secara diam-diam.
" Kayra seorang wanita yang baik, jangan buat dia menjadi buruk dengan anggapan orang yang akan menyebutnya perusak rumah tanggamu." Setidaknya itulah yang sempat terlintas di pikiran Krisna saat pertama kali menjumpai Erlangga dan Kayra berada di atas satu tempat tidur.
" Aku tahu, Pa." sahut Erlangga.
" Lalu bagaimana tanggapan Caroline tentang gugatan ceraimu itu? Apa dia setuju?" tanya Krisna penasaran.
" Aku belum tahu tanggapan dia seperti apa, Pa. Tapi aku sudah menyuruh Pak Nico untuk menghubungi Pak Robin soal gugatan cerai ini. Dan aku rasa perceraian ini adalah jalan yang terbaik untuk kami berdua," sahut Erlangga, dia memang tidak perduli apa reaksi Caroline terhadap gugatan cerainya. Karena apapun respon dari Caroline, dia tetap pada pendiriannya untuk berpisah dengan wanita yang sudah lima tahun hidup bersamanya.
***
Helen keluar dari kamarnya karena dia tidak juga melihat suaminya masuk ke dalam kamar hingga dia berniat mencari di mana suaminya berada.
" Bi, Bapak mana?" tanya Helen kepada Bi Inah yang sedang berada di dapur.
" Tuan sedang di ruang kerja bersama Den Erlangga, Nyonya." Bi Inah menyebutkan di mana keberadaan majikannya itu.
" Ada Erlangga di sini?" Helen memang tidak mengetahui jika ada putranya di sana.
" Benar, Nyonya."
Helen kemudian keluar dari dapur berjalan ke arah ruang kerja suaminya itu. Dia ingin membuka handle pintu saat terdengar suara suaminya berucap.
__ADS_1
" Lalu bagaimana tanggapan Caroline tentang gugatan ceraimu itu? Apa dia setuju?"
Helen menahan langkahnya saat mendengar perkataan suaminya tadi, dia pun semakin mempertajam pendengarannya dengan mendekatkan telinga ke daun pintu.
" Aku belum tahu tanggapan dia seperti apa, Pa. Tapi aku sudah menyuruh Pak Nico untuk menghubungi Pak Robin soal gugatan cerai ini. Dan aku rasa perceraian ini adalah jalan yang terbaik untuk kami berdua,"
Helen membelalakkan matanya saat mendengar kalimat jawaban dari Erlangga. Tak lama senyuman langsung mengembang di bibirnya mendengar kalimat sepintas yang dia tangkap dari pembicaraan antara anak dan suaminya itu.
Helen pun akhirnya memutar langkah dan mengurungkan niatnya yang tadi ingin menemui Krisna. Dia memilih kembali ke dalam kamarnya karena dia ingin membagikan kabar yang merupakan berita gembira ini kepada Agnes, wanita yang memang dia harapkan menjadi menantunya.
Sesampainya di kamar, Helen segera menghubungi Agnes dengan ponselnya untuk menyampaikan berita yang baru saja dia dengar dari pembicaraan antara Krisna dan Erlangga.
" Halo, Agnes. Tante punya kabar gembira untukmu." Helen yang terlalu bersemangat nampak tidak sabar membagikan kabar bahagia itu kepada Agnes.
" Kabar gembira apa, Tante?" sahut suara Agnes dari seberang.
" Erlangga akan bercerai dengan istrinya, Agnes."
" Serius, Tan?" Suara Agnes terdengar kaget mengetahui berita yang disampaikan oleh Helen. Tentu saja perceraian Erlangga dan Caroline adalah suatu kejutan untuknya, karena dia tahu jika Erlangga sangat mencintai istrinya tersebut. " Tante dengar berita ini dari mana?" tanyanya kemudian.
" Dari mulut Erlangga sendiri. Tadi Tante mencuri dengar obrolan Erlangga sama Papanya di ruang kerja. Agnes, ini peluang untukmu mendapatkan hati Erlangga." Helen sudah menyusun rencana padahal perceraian putranya itu belum terjadi.
" Tentu saja, Tante. Ini peluang bagus untukku bisa mendekati Erlangga. Ah, Tante ... ini benar-benar namanya berita gembira. Aku harap perceraian Erlangga dan istrinya itu berjalan lancar ya, Tan." Karena Agnes mempunyai kepentingan dengan perceraian Erlangga dan Caroline, sehingga dia berharap tidak ada halangan dalam proses perceraian Erlangga dan istrinya.
" Tante harap juga begitu, Agnes. Tante ingin Erlangga segera menikah denganmu dan berbahagia." Helen melambungkan harapannya, menurutnya Erlangga hanya akan berbahagia jika ada wanita seperti Agnes yang mendampinginya.
" Semoga saja ya, Tan. Aku juga sudah tidak sabar bisa bersanding dengan Erlangga," sahut Agnes yang saat ini seperti mendapatkan durian runtuh atas kandasnya rumah tangga Erlangga dan Caroline.
***
Kayra melirik jam di dinding kamar yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun tidak juga ada tanda-tanda kemunculan Erlangga di kamarnya.
Seharusnya dia senang, artinya pria yang bestatus suaminya itu tidak akan menyuruh dirinya untuk melayani pria itu untuk malam ini, setidaknya dia bisa beristirahat dengan tenang tanpa harus kelelahan mengimbangi naf su Erlangga yang begitu buas saat menyentuhnya. Namun entah mengapa dia merasakan seperti ada yang bilang dengan ketidakhadiran Erlangga malam ini didekatnya, apalagi saat dia tahu kemarin ada orang yang sedang mengikuti Erlangga sampai rumah tempat tinggalnya.
" Ya ampun, kenapa aku malah memikirkan Pak Erlangga?" Kayra menepuk kepala dengan telapak tangannya beberapa kali karena dia merasa bersalah memikirkan pria yang berstatus suami wanita lain itu.
Kayra akhirnya memutuskan untuk beranjak ke peraduan dan beristirahat. Dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan mencoba memejamkan matanya.
Berjalan beberapa menit Kayra belum juga bisa tertidur, dia bahkan mengganti beberapa posisi mencari posisi ternyaman agar matanya cepat terpejam namun ternyata tidak juga bisa dia lakukan.
Tin tin
Kayra bangkit dari posisinya saat dia mendengar suara klakson mobil berbunyi yang dibarengi suara pintu gerbang terbuka. Kayra bergegas menuju arah balkon untuk memastikan jika yang datang adalah Erlangga. Dan tarikan nafas lega terdengar saat dia melihat memang mobil Erlangga yang datang saat ini.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1