MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Sayang


__ADS_3

Ddrrtt ddrrtt


Erlangga yang baru saja ingin bergabung dengan Kayra di atas tempat tidur mengurungkan niatnya saat dia mendengar suara ponsel istrinya berbunyi, lalu dengan segera dia menghampiri ponsel Kayra yang diletakkan di atas meja rias kamar hotel.


Erlangga segera mengangkat panggilan masuk yang ternyata berasal dari Ibu Sari, Ibu mertuanya.


" Assalamualaikum, Kayra. Bagaimana kabarmu, Nak?" Suara Ibu Sari langsung terdengar saat Erlangga mengangkat panggilan masuk tersebut.


" Waalaikumsalam, Kayra sudah tidur, Bu." Dengan cepat Erlangga menjawab Ibu mertuanya itu.


" Nak Erlangga? Oh, maaf ... Ibu mengganggu istirahat kalian, ya?" tanya Ibu Sari yang merasa panggilan teleponnya telah mengganggu waktu tidur Erlangga dan Kayra.


" Tidak, Bu. Tidak apa-apa."


" Memang di sana jam berapa sekarang, Nak? Sudah malam, ya?" tanya Ibu Sari kembali.


" Di sini baru jam sembilan, Bu. Tadi setelah sholat Isya Kayra memang langsung tertidur. Mungkin karena dia kaget melakukan perjalanan panjang dari Jakarta ke sini. Tadi saja dia sempat pingsan ...."


" Kayra pingsan?" Ibu Sari langsung senewen mendengar kabar jika putrinya itu semaput.


" Kayra mengeluh pusing, mual dan juga sempat muntah." Erlangga menjelaskan kepada Ibu Sari apa yang dialami Kayra selama dua hari di Italia, namun dia tidak menceritakan tentang kejadian pertemuan Kayra fan Caroline.


" Kayra pingsan, mengalami sakit kepala, mual dan muntah?" Ibu Sari mengulang apa yang dikatakan putranya soal kondisi Kayra.


" Benar, Bu."


" Nak, sebaiknya Kayra dibawa ke dokter kandungan di sana atau coba pakai alat tes kehamilan. Ibu curiga apa yang dialami Kayra itu seperti tanda-tanda orang yang sedang hamil muda."


Bola mata Erlangga membulat saat ibu Sari mengatakan dirinya harus membawa Kayra menenui dokter kandungan atau membeli alat tes kehamilan.


" M-maksud Ibu, Kayra hamil?" Suara Erlangga bergetar ketika mengucapkan kalimat tadi. Betapa bahagianya dia jika apa yang diduga oleh Ibu mertuanya itu benar dan harapannya untuk mempunyai keturunan menjadi kenyataan.


" Kalau ciri-ciri yang disebutkan oleh Nak Erlangga tadi memang mirip sekali dengan tanda-tanda orang hamil, Nak. Karena itu Ibu tadi bilang supaya Kayra periksa ke dokter kandungan atau tes pakai alat kehamilan untuk lebih memastikan benar atau tidak dugaan Ibu itu." Ibu Sari teringat jika Kayra mengatakan belum datang bulan hingga membuatnya kepikiran jika putrinya itu sedang mengandung saat ini.


" Baiklah, Bu. Nanti saya akan bawa Kayra ke dokter kandungan di sini." Dengan penuh semangat Erlangga merespon saran yang diberikan oleh Ibu mertuanya itu, karena dia pun melambungkan harapan setinggi-tingginya jika dugaan kehamilan itu benar.


Setelah komukasi dengan Ibu Sari via telepon berakhir, Erlangga kembali merebahkan tubuhnya setengah berbaring dengan siku tangannya menopang badannya. Senyuman mengembang lebar di bibir pria tampan itu, sementara tangannya membelai lembut wajah cantik sang istri.


" Saya harap ini benar, Kayra. Saya harap kamu benar-benar hamil." Erlangga menatap wajah Kayra dengan bola mata berkaca-kaca, betapa emosionalnya dia mengetahui kemungkinan kehamilan Kayra karena mempunyai seorang anak adalah impiannya sejak lama.


" Saya rasa saya tidak salah memilihmu sebagai istri saya, karena kamu bisa memberikan apa yang saya inginkan yang tidak dapat dilakukan Caroline untuk saya." Walau kepastian tentang kehamilan Kayra belum positif, tapi Erlangga sudah sangat yakin jika prediksi Ibu mertuanya itu benar.


Teringat akan alat tes kehamilan, akhirnya Erlangga memutuskan untuk meminta bantuan petugas hotel untuk mendapatkan benda itu, karena hotel mereka menginap berada di private island, jauh dari pusat kota Venezia.


***


Erlangga terbangun karena dia terkejut saat merasakan gerakan tubuh Kayra yang turun dari tempat tidur dengan terburu-buru. Pria itu pun bergegas mengikuti langkah sang istri yang berlari menuju arah kamar mandi, apalagi saat dia mendengar Kayra kembali mengeluarkan isi perutnya yang membuat perut istrinya tidak terasa nyaman.


" Hoek ... Hoek ...."


" Kamu merasa mual lagi, Kayra?" tanya Erlangga menghampiri Kayra yang sedang tertunduk di depan wastafel, tangannya bahkan ikut memijat tengkuk leher Kayra.


Teringat akan benda kecil yang semalam dia pesan ke petugas hotel, Erlangga segera keluar dari kamar mandi untuk mengambil alat tes kehamilan, karena semalam akhirnya dia bisa mendapatkan alat itu dengan bantuan petugas hotel mereka menginap.


" Kayra, coba kamu pakai ini." Setelah kembali ke kamar mandi, Erlangga menyodorkan alat testpack di tangannya kepada Kayra.


Wanita yang sedang tertunduk di depan wastafel itu menoleh ke arah benda yang disodorkan oleh Erlangga, keningnya berkerut melihat benda yang ditunjukkan Erlangga kepadanya. Pandangan mata Kayra kini berganti menatap ke arah Erlangga, dia melihat aura bahagia yang terpancar dari wajah tampan Erlangga.


" Semalam Ibumu telepon, saya ceritakan apa yang kamu alami sekarang ini dan Ibu menyuruh saya membawa kamu ke dokter kandungan atau mencoba pakai ini untuk mengecek kondisimu, karena dari apa yang kamu alami sekarang Ibu menduga jika kamu sedang hamil, Kayra."


Mata Kayra terbelalak, dia pun teringat jika dia belum mengalami menstruasi, sudah satu bulan lebih, namun kenapa dia tidak terpikirkan jika kemungkinan sekarang dia sedang hamil.

__ADS_1


" Cepat cobalah! Apa kamu tahu cara menggunakannya? Saya sudah baca petunjuknya, pertama-tama kamu taruh urine kamu di wadah ini." Erlangga pun sudah menyiapkan wadah kecil untuk menampung urine Kayra yang akan dicek menggunakan test pack. " Selanjutnya masukan alat ini ke wadah urine tadi jangan melebihi batas maksimal selama dua puluh detik, setelah itu tunggu beberapa menit sampai hasilnya muncul kamu hamil atau tidak." Erlangga bahkan sampai menyebutkan secara detail apa yang dia baca di petunjuk test pack tersebut, sepertinya mengetahui kemungkinan dia akan menjadi seorang Papa membuatnya begitu bersemangat.


Walaupun dia tahu jika test pack adalah alat pengecek kehamilan namun dia tidak pernah melihat alat yang seperti Erlangga tunjukkan kepadanya itu.


" Bapak bisa keluar sebentar?" Setelah menerima alat test kehamilan dan wadah penampung urine, Kayra meminta Erlangga untuk keluar meninggalkan kamar mandi karena dia ingin menaruh urinenya ke dalam wadah. Dia malu jika harus dilihat Erlangga saat dia melakukan aktivitas itu, walaupun Erlangga sudah terbiasa melihat area sensitifnya.


" Memangnya kenapa saya harus keluar? Saya juga ingin tahu hasilnya bagaimana!?" Merasa diusir Kayra, Erlangga merasa keberatan karena dia pun ingin tahu apakah Kayra benar hamil atau tidak.


" Tapi saya malu jika harus dilihat saat buang air kecil," aku Kayra jujur.


" Astaga, kenapa malu? Saya ini suami kamu dan saya sudah terbiasa melihat milikmu, jadi untuk apa merasa malu?" Merasa sikap istrinya yang masih merasa canggung terhadapnya, Erlangga langsung memprotes.


" Sudah cepat cek urinemu itu!" Erlangga memang benar-benar tidak sabar untuk mengetahui hasil dari test pack nanti setelah tersentuh urine Kayra.


" Tapi Bapak jangan mengintip!" Meskipun Erlangga sudah menyuruhnya agar membuang rasa malu di hadapan suaminya, namun Kayra tetap merasa tidak nyaman dengan keberadaan Erlangga di kamar mandi.


" Hmmm ..." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Erlangga.


Kayra akhirnya melakukan apa yang diminta oleh Erlangga, dia pun sebenarnya merasa penasaran apakah dia benar hamil atau tidak? Karena apa yang dia rasakan sejak kemarin memang mirip dengan gejala wanita hamil muda. Setelah Kayra mengisi wadah dengan urinenya dan mencelupkan test pack itu beberapa detik, kali ini adalah saat yang menegangkan menunggu hasil dari alat tersebut.


Mata Erlangga terus mengarahkan pandangannya dengan menatap tanpa kedip alat yang saat ini dia pegang, sementara Kayra sendiri memilih mengalihkan pandangannya karena dia takut hasil alat tersebut tidak sesuai dengan harapan Erlangga.


Setelah menunggu tiga menit, alat test pack menampilkan keterangan pregnant yang menyatakan Kayra memang benar hamil, sontak Erlangga berseru dengan kegirangan.


" Kamu hamil, Kayra! Kamu hamil ...! Ya Tuhan, kamu benar-benar hamil ..." Erlangga langsung memeluk dan menghujani wajah Kayra dengan ciuman bahkan mengangkat tubuh Kayra hingga berputar, membuat Kayra terkesiap dan tertegun melihat tingkah Erlangga yang begitu bahagia mengetahui kehamilannya.


" S-saya hamil, Pak?" Seakan masih tidak percaya dengan hasil dari test pack tersebut, Kayra melirik ke arah alat yang dipegang Erlangga.


" Ini, kamu lihatlah sendiri!" Erlangga menunjukkan test pack kepada Kayra, sehingga Kayra melihat hasil yang pada alat test kehamilan yang dia anggap cukup canggih itu karena langsung memberikan keterangan pregnant disertai angka 1-2.


" Angka ini menunjukkan kalau usia kandungan kamu saat ini sekitar tiga atau empat Minggu." Erlangga benar-benar membaca petunjuk dan keterangan pemakaian alat test kehamilan itu, hingga mengerti maksud dari angka yang muncul di alat test pack.


" J-jadi saya benar hamil, Pak?" Kini Kayra menatap Erlangga dengan air mata bahagia yang menetes di pipinya.


Erlangga menangkup wajah Kayra dengan senyum bahagia dan berucap dengan suara bergetar, " Iya, Sayang. Kita akan mempunyai anak, aku bahagia sekali rasanya, terima kasih, Sayang. Terima kasih ..." Erlangga kembali menghujani kecupan di wajah Erlangga.


Kayra kembali tertegun saat Erlangga memanggilnya dengan sebutan Sayang bahkan pria itu tidak lagi menyebut kata Saya untuk menyebut dirinya sendiri dan menggantinya dengan kata Aku.


" Inilah yang aku harapkan sejak lama dan kamu mampu mewujudkannya, aku bahagia sekali, Kayra. Terima kasih, Sayang." Kembali Erlangga menghujani kecupan-kecupan di seluruh wajah Kayra, menandakan jika dia sangat bersyukur dengan kehamilan istrinya itu. Sementara Kayra sendiri masih terpaku seakan tidak percaya kalau dirinya benar-benar sedang hamil saat ini.


***


Setelah menikmati sarapan dan melihat Kayra sudah tidak merasakan morning sickness, Erlangga membawa Kayra ke pusat kota Venice, karena dia ingin mencari dokter untuk memeriksa lebih lanjut kondisi kehamilan Kayra.


Dan setelah menemui dokter kandungan, akhirnya mereka bisa bernafas lega karena apa yang dia dapati dari hasil test pack tadi pagi memang benar akurat, ada janin di perut Kayra dan itu sudah berusia empat Minggu.


" Rasanya seperti mimpi, sebentar lagi aku akan menjadi seorang Papa ..." aura bahagia terpancar dari raut wajah Erlangga saat mereka berdua duduk di restoran untuk menikmati makan siang. Tangan Erlangga bahkan menggenggam erat tangan Kayra, sepertinya dia memang tidak ingin melepaskan wanita itu dalam genggaman tangannya walau hanya sekejap saja.


" Saya ingin memberitahu Ibu tentang kabar ini, Pak." Kayra memang berencana memberitahu Ibunya jika sudah mendapatkan kepastian dari dokter kandungan tentang kehamilannya. Kayra berharap Erlangga melepaskan genggaman tangannya agar dia bisa menghubungi Ibunya.


" Mulai sekarang jangan panggil saya Pak ketika di luar kantor, aku ingin kita akrab layaknya suami istri dan jangan berkata dengan formal mulai saat ini ketika kita sedang bicara berdua." Rasanya memang sudah tidak pantas mereka berbicara dengan sebutan yang formal saat mereka berkomunikasi, Erlangga meminta Kayra untuk membiasakan diri tidak memanggilnya dengan sebutan yang terlalu resmi, karena mereka bukan hanya sekedar bos dan sekretarisnya tapi juga pasangan suami istri.


" Saya harus panggil apa?" Kayra masih merasa canggung menyebut Erlangga dengan panggilan lain selain Pak atau Bapak.


" Terserah asal jangan panggilan seperti di kantor."


" Saya tidak terbiasa seperti Ibu Caroline memanggil Bapak." Kayra terlalu malu membayangkan dirinya harus menyebut Erlangga dengan panggilan Sayang seperti yang biasa Caroline ucapkan saat memanggil Erlangga.


Erlangga hanya terkekeh mendengar ucapan Kayra. Dia pun tidak mengharapkan Kayra melakukan apa yang dilakukan Caroline kepadanya.


" Aku juga tidak ingin kamu berubah menjadi Caroline, aku memilih kamu karena kamu berbeda dengan Caroline, panggil saja dengan panggilan yang membuat kamu nyaman."

__ADS_1


Sejauh ini memang panggilan Pak atau Bapak lah yang terasa nyaman untuk Kayra, namun dia menyadari, memang panggilan itu terasa kurang sedap jika dipakai untuk memanggil suaminya. Seketika dia ingat kata-kata Gita untuk merubah panggilan kepada Erlangga.


" Apa saya boleh memanggil Mas?" tanya Kayra malu-malu, bahkan rona merah langsung membias di wajah putih mulus wanita cantik itu.


" Tentu saja, mulai saat ini kamu panggil aku dengan sebutan itu, dan ganti menyebut kata saya menjadi aku, kamu mengerti?" Bagaikan seorang guru yang sedang mengajari muridnya, Erlangga menyuruh Kayra merubah panggilan-panggilan yang dianggapnya kurang cocok didengar di telinga.


Kayra mengangguk pelan, walau dia masih canggung, namun dia memang tidak mungkin memanggil suaminya itu sebutan yang formal.


" Oh ya, katanya kamu mau telepon Ibu, cepatlah telepon, Ibumu pasti akan senang saat tahu jika kamu hamil, Kayra." Merasa jika kabar tentang kehamilan Kayra wajib diketahui oleh Ibu Sari, Erlangga segera menyuruh Kayra menghubungi Ibunya.


Kayra mengambil ponsel dari tasnya, dia pun segera mencari nomer ponsel Ibunya untuk menyampaikan soal kehamilannya saat ini..


" Assalamualaikum, Bu. Ibu apa kabar?" Setelah panggilan teleponnya terdengar terangkat, Kayra segera menyapa Ibunya.


" Waalaikumsalam ... Kayra, bagaimana kondisimu, Nak? Suami kamu bilang kalau kamu pingsan, sakit kepala dan mual-mual. Kayra, tanda-tanda itu persis seperti ciri-ciri wanita hamil muda, apa kamu sudah periksa pakai alat test kehamilan? Apa kamu sudah dibawa ke dokter kandungan? Ibu menduga kalau kamu hamil, Nak Kamu harus segera periksa, Kayra. Biar ketahuan kamu hamil atau tidak, jadi kamu bisa jaga nutrisi kamu dan tidak sembarangan mengkonsumi makanan dan minuman." Ibu Sari langsung memberondong Kayra dengan beberapa pertanyaan dengan nada penuh kecemasan.


" Iya, Bu. Aku hamil, baru empat Minggu." Kayra mengakui jika dirinya memang sedang hamil saat ini, dan dugaan Ibunya itu ternyata benar.


" Alhamdulillah, Ya Allah. Selamat ya, Nak. Ibu senang mendengar kamu akan menjadi seorang Ibu. Kamu harus jaga kesehatan, Kayra. Apalagi saat ini kamu sedang di negeri orang, jangan makan dan minum sembarangan." Ibu Sari menasehati.


" Iya, Bu." sahut Kayra.


" Oh ya, bagaimana reaksi suami kamu waktu tahu kamu positif hamil, Kayra? Pasti Nak Erlangga bahagia sekali, ya?" Memang sudah bisa dibayangkan bagaimana antusiasnya Erlangga mengetahui Kayra sedang mengandung hingga Ibu Sari bisa berpendapat seperti itu.


Kayra melirik ke arah suaminya yang sedang asyik memandang dirinya, dia pun tersenyum malu ditatap lekat oleh sang suami.


" Ya seperti itulah, Bu." Kayra memelankan suaranya. " Mas Erlangga memang senang sekali, Bu." cerita Kayra.


" Kamu sudah merubah panggilanmu, Nak? Syukurlah kalau begitu, biar kalian tidak terlihat canggung," sahut Ibu Sari terkekeh.


" Iya, Bu."


" Kayra, Ibu hanya berpesan kepadamu, Nak. Bagaimanapun status pernikahan kamu dengan Nak Erlangga, anak adalah anugrah dari Illahi. Kamu harus tetap merawat dia dengan baik dan penuh kasih sayang." Kembali Ibu Sari menasehati Kayra, mengingat saat ini status pernikahan Kayra dan Erlangga masih nikah siri dan belum disahkan secara hukum negara.


Kayra menarik nafas yang terasa berat, mengingat status pernikahannya dengan Erlangga saat ini, seketika rasa bahagia karena dirinya akan menjadi Ibu sedikit terusik.


" Iya, Bu. Ya sudah, Kayra tutup teleponnya dulu ya, Bu!? Kami mau makan siang sekarang ini." Kayra sengaja ingin mengakhiri pembicaraan dengan Ibunya karena dia merasa hatinya sedikit mencelos diingatkan kembali soal status pernikahannya dengan Erlangga.


" Ya sudah, jaga kesehatan kamu di sana, Kayra. Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ..." jawab Kayra kemudian menutup panggilan teleponnya.


" Ibu bilang apa?" tanya Erlangga merasa penasaran dengan apa yang dikatakan Ibu mertuanya itu kepada istrinya.


" Ibu menyuruh aku menjaga kesehatan, Mas."


" Apa Ibu senang mendengar akan mempunyai cucu?"


Kayra mengangguk cepat merespon pertanyaan sang suami lalu memberikan jawaban, " Iya, Mas. Ibu senang mengetahui aku sedang hamil saat ini."


" Mestinya kamu tadi bilang sama Ibu, jika aku bisa memberikan banyak cucu yang lucu untuk Ibu." Erlangga menyeringai seraya berseloroh, membuat Kayra membelalakkan matanya. Bisa-bisanya suaminya itu memikirkan memberi banyak anak, padahal dia sendiri baru hamil anak pertama mereka


*


*


*


Bersambung ,,,


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2