MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Ketakutan Arina


__ADS_3

Saat Kayra berpamitan keluar lebih dahulu dari toilet, Arina dan Grace pun berniat melakukan hal yang sama dengan meninggalkan toilet yang ada di convention hall itu.


" Sayang, kenapa kamu lama sekali?"


Terdegar suara pria yang berbicara dari luar toilet, dan Arina menduga jika itu adalah suami dari wanita tadi yang bicara dengannya di dalam toilet. Dan saat baru selangkah keluar dari toilet, Arina bisa melihat pria bertubuh tinggi tegap merengkuh tubuh wanita cantik yang dia temui di toilet tadi.


" Kenapa kalian lama sekali, sih? Papa mencarimu, ada relasi bisnis Mahadika yang ingin bertemu denganmu, Erlangga!"


Suara seorang wanita yang berjalan mendekat ke arah sepasang suami istri itu membuat Arina tercengang. Apalagi saat dia melihat wajah sosok wanita itu sangat dia kenal.


" Ibu Helen??" Melihat kemunculan Helen, Arina yang hendak kembali ke meja seketika menarik langkahnya kembali, hingga dia kembali masuk ke dalam toilet.


" Ada apa, Tante?" Melihat Arina kembali masuk ke dalam toilet, membuat Grace keheranan.


" Ya Tuhan, jangan sampai Ibu Helen melihatku," batin Arina seraya memegangi dadanya.


" Tante, Tante kenapa?" Tak mendapat jawaban dari Arina, apalagi saat melihat wajah Arina memucat, Grace menjadi khawatir.


" Hmmm, tidak, tidak apa-apa, Nak." Arina menepis jika dia sedang berada dalam masalah.


Arina mengintip ke luar toilet. Namun, dia sudah tidak lihat Helen, dan sepasang suami istri tadi di sana, hingga membuatnya bernafas lega.


" Pria tadi itu, suami dari wanita cantik itu ternyata Erlangga ..." Arina menampakkan wajah haru melihat sosok Erlangga, pria yang saat berusia balita diurus olehnya, kini sudah berubah menjadi sosok pria dewasa yang sangat gagah, walaupun dia tidak sempat melihat jelas wajahnya.


" Tante yakin tidak apa-apa?" tanya Grace, tidak yakin jika Arina baik-baik saja jika melihat sikap Arina saat ini.


" Iya, Tante baik-baik saja. Ayo, kita kembali ke meja saja!" Arina ingin segera kembali ke ruangan resepsi. Dia harus segera meninggalkan pesta itu. Arina tidak ingin keluarga Krisna Mahadika Gautama mengetahui keberadaannya di pesta itu. Karena Arina takut Krisna dan Helen akan menanyakan keberadaan bayi yang dikandung Arina dulu.


" Pa, sebaiknya kita pulang sekarang." Sesampainya di meja tempat mereka tadi berkumpul, Arina mengajak suaminya untuk segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


" Memangnya kenapa, Ma? Apa Mama sakit?" Nugraha terheran, setibanya Arina dari toilet, istrinya itu justru mengajaknya pulang.


" Aku tadi melihat Ibu Helen, istri dari Pak Krisna. Aku tidak mau mereka melihatku dan menayangkan anakku." Dengan nada penuh kecemasan, Arina berkata sejujurnya kepada Nugraha.


" Ada apa, Ma?" Rivaldi pun ikut bertanya melihat Arina yang terlihat ketakutan.


" Mamamu ingin segera pulang, sepertinya kurang enak badan." Nugraha segera bangkit, guna mengikuti keinginan sang istri yang menginginkan mereka segera meninggalkan pesta tersebut.


" Apa karena batuk-batuk tadi?" tanya Rivaldi kemudian.


Arina menganggukkan kepalanya seolah membenarkan alasan yang diucapkan oleh Rivaldi tadi.


" Ya sudah, hati-hati ya, Ma, Pa." Rivaldi mengusap punggung Arina sebelum kedua orang tuanya berpamitan kepada tuan rumah terlebih dahulu sebelum pergi dari pesta tersebut.


Sikap Arina saat menghindar bertemu dengan Helen, terlebih sikap Arina yang ingin cepat-cepat pergi dari pesta, membuat Grace merasa curiga jika ada sesuatu dibalik sikap Arina itu.


Kini Grace menoleh ke arah meja di mana Erlangga berada. Dia melihat pria yang dia duga adalah Satria ikut bergabung di sana. Grace lalu menatap Rivaldi yang juga sedang menatap ke arah yang sama.


Grace menarik nafas perlahan, dia harus tenang menghadapi situasi seperti sekarang ini. Dia pun harus memberikan alasan yang masuk akal yang bisa diterima oleh Rivaldi.


" Iya, itu memang Papaku. Memangnya mereka itu dari perusahaan Mahadika? Aku hanya tahu nama tapi tidak terlalu hapal orang-orangnya." Grace menjawab dengan santai dan tanpa merasa bersalah.


" Mereka itu Erlangga dan Krisna Mahadika Gautama," ketus Rivaldi merasa tidak suka dengan kehadiran Satria yang justru ikut bergabung di meja keluarga Mahadika Gautama. " Untuk apa lagi Papamu bergabung dengan mereka jika ingin bekerjasama dengan perusahaanku!?"


" Memangnya kenapa kalau Papaku menemui mereka? Selama ini perusahaan Papaku dengan perusahaan mereka bekerjasama dengan baik. Kalau sekarang ini pihak kami ingin bekerjasama dengan PT. Abadi Jaya, itu karena Papa mendengar perusahaanmu menjual barang di bawah mereka. Aku rasa dalam bisnis, mencari keuntungan lebih besar adalah hal yang wajar. Tapi, bukan berarti kami harus memutus hubungan dengan pihak Mahadika begitu saja." Dengan kalimat yang tersusun dengan nada tegas Grace mencoba melakukan pembelaan agar penyamarannya tidak terbongkar.


" Kami juga tidak akan seratus persen menghentikan suplai barang dari Mahadika, walaupun nanti perusahaan kita bekerjasama. Kami hanya akan mengurangi pengambilan produk dari Mahadika dan mengalihkannya ke perusahaan Abadi Jaya. Aku rasa rencana kerja sama perusahaan Papaku dan perusahaanmu, bukan berarti kamu bisa ikut campur dengan segala tindakan dan sikap yang diambil oleh Papaku!" Perkataan Grace kali ini bernada ketus, seakan tidak suka dengan Rivaldi yang seolah menyalahkan Satria yang bergabung dengan keluarga Mahadika, padahal Satria mengharapkan kerja sama dengan perusahaannya.


Rivaldi terkesiap mendengar kalimat-kalimat tegas yang terlontar dari mulut Grace. Sejujurnya, dia tidak menyangka jika Grace akan berargumentasi seperti itu. Kalimat yang terdengar dari Grace terdengar sangat dewasa. Berbeda sekali dengan sikap Grace yang selama ini terkesan acuh dengan urusan perusahaan.

__ADS_1


" Sorry ..." Rivaldi akhirnya menyampaikan permohonan maafnya kepada Grace, karena terlalu emosi melihat Satria berkumpul dengan keluarga Mahadika.


" Aku sebaiknya pulang saja." Grace bangkit dari kursinya. Karena dia melihat Erlangga memberikan kode kepadanya untuk bertindak.


" Kamu mau pulang?" Rivaldi tidak menyangka perkataannya tadi membuat Grace marah sampai ingin pulang.


" Iya, aku rasa sudah tidak ada yang mesti kita bahas lagi." Grace kembali menoleh ke arah Erlangga. " Aku tidak mau Papa melihat aku ada di sini." Grace memilih mengambil langkah sendiri dengan meninggalkan pesta, tidak mengikuti skenario yang dirancang oleh Erlangga, Rizal dan juga Bondan. Dia berpikir jika Rivaldi akan mengikutinya jika dia pergi dari pesta itu.


" Aku antar kamu kalau begitu ..." Benar seperti dugaan Grace, karena Rivaldi akhirnya ikut bangkit dan berniat mengantar Grace pulang.


" Tidak perlu, aku bisa sendiri." Grace bersandiwara seolah kesal terhadap Rivaldi, karena perkataan Rivaldi tentang Satria yang duduk bersama keluarga Mahadika.


" Kau datang bersamaku, harus pulang juga bersamaku!" Kali ini giliran Rivaldi yang bersikap tegas. Dia tidak ingin ada penolakan dari Grace.


Grace pun akhirnya tidak menolak paksaan Rivaldi, karena memang sebenarnya itulah yang diharapakan. Kepergian Rivaldi dari pesta pernikahan Pak Ronald, membuat situasi aman terkendali, karena akan bahaya jika Rivaldi sampai bertemu muka, apalagi jika sampai berbincang dengan Satria.


" Grace ...!"


Ketika mereka melintasi pintu masuk tempat resepsi, seseorang memanggil nama Grace. Hal itu sontak membuat Grace menolehkan pandangan ke arah suara yang dia sangat kenal siapa pemiliknya.


Grace sontak membulatkan matanya, saat dia melihat kehadiran Agatha yang menghampirinya.


" Mama?" gumam Grace dalam hati dengan terperanjat.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2