
Setelah selesai makan malam, Grace diajak berbincang santai bersama keluarga Rivaldi di ruangan keluarga. Sambutan keluarga Rivaldi dirasakan Grace sangat hangat. Mungkin karena ini pertama kalinya Rivaldi membawa teman wanita berkunjung ke rumah orang tuanya. Menyebabkan kedua orang tua Rivaldi antusias dalam menyambut kedatangan Grace di rumah itu.
Selama berbincang ringan, mata Grace selalu memperhatikan foto keluarga yang ada di ruangan tempat mereka mengobrol santai. Namun, dia belum mendapatkan moment yang tepat untuk menanyakan soal foto tersebut.
" Oh ya, tadi Aldi bilang, kamu ke tempat teman kamu, tapi teman kamunya tidak ada. Lalu, apa kamu akan langsung kembali ke Jakarta malam ini, Rena?" tanya Nugraha setelah melewati beberapa obrolan ringan lainnya.
" Rena tadinya mau menginap di hotel sambil menunggu temannya kembali dari luar pulau, Pa. Tapi, aku suruh dia pakai apartemen aku saja." Bukan Grace yang menjawab pertanyaan Nugraha, tapi Rivaldi lah yang bersuara.
" Apartemen kamu?" Nugraha langsung menoleh ke arah istrinya, yang di saat bersamaan pun menoleh ke arahnya. Sehingga kedua orang tua Rivaldi itu saling berpandangan seakan memikirkan satu hal yang sama.
" Iya, bagaimana menurut Papa?" Rivaldi meminta pendapat Papanya.
" Hmmm, tidak masalah. Apartemen itu juga 'kan tidak ditempati kalau kamu di Jakarta," sahut Nugraha tidak menentang keputusan anaknya menyuruh Grace tinggal sementara di apartemen Rivaldi.
" Lalu kamu sendiri akan tinggal di apartemen itu, Aldi? Kali ini Arina yang bertanya.
" Besok pagi aku akan kembali ke Jakarta, Ma. Mungkin aku menginap satu malam saja di Bandung. Kalau harus pulang malam ini ke Jakarta, sepertinya lelah sekali rasanya," keluh Rivaldi seraya mengusap tengkuknya.
" Sebaiknya kalian menginap di sini saja. Rena juga selama di Bandung menginap di sini saja, jangan di apartemen kamu. Kasihan Rena jika di sana sendirian. Lebih baik di sini, ada Tante, jadi kita bisa banyak mengobrol." Arina menyarankan agar Grace menetap di rumahnya selama Grace menunggu kedatangan temannya pulang dari Lampung.
" Gimana, Rena? Kamu ingin di apartemenku atau di sini?" Rivaldi memberikan pilihan kepada Grace.
" Aduh, saya jadi tidak enak merepotkan Om, Tante dan Aldi." Grace langsung menanggapi dengan tidak enak hati.
" Tidak apa-apa, Rena. Tante justru senang jika kamu mau menginap di sini. Jadi Tante bisa ada teman bicara kalau Papanya Aldi ke kantor." Arina menerima dengan senang hati keberadaan Grace di rumahnya.
" Terima kasih ya, Om, Tante. Om dan Tante baik sekali terhadap saya." Grace terduduk malu karena perlakuan baik kedua orang tua Rivaldi kepadanya.
" Kamu jangan sungkan-sungkan, Rena. Nanti Tante suruh di bibi siapkan kamar untuk kamu." Arina segera memerintah ART di rumahnya untuk merapihkan kamar tamu yang akan dipakai Grace menginap di rumah itu.
" Aldi, Papa mau bicara sama kamu ..." Nugraha bangkit dari duduknya. Dia ingin berbicara di ruangan kerjanya bersama Rivaldi. " Rena, Om tinggal sebentar, ya?" Nugraha pun berpamitan terlebih dahulu kepada Grace sebelum meninggalkan mereka.
" Silahkan, Om." sahut Grace.
" Aku tinggal sebentar." Rivaldi juga berpamitan kepada Grace. Dan kali ini hanya dibalas dengan anggukan kepala Grace.
Kepergian Papa dan anak itu tentu saja membuat Grace merasa nyaman. Karena dia bisa mencari informasi dari Arina, tanpa menimbulkan kecurigaan Rivaldi dan Papanya.
" Hmmm, itu adik-adik Aldi ya, Tan?" Tanpa menunggu waktu lama, Grace bertanya kepada Arina seraya menunjuk ke arah foto keluarga Rivaldi.
" Iya, itu adik-adik Aldi," sahut Arina.
" Anak Tante laki-laki semua ya, Tan?" Mulai Grace memancing informasi dari mulut Arina.
" Hmmm, i-iya. Anak Tante semua laki-laki." Pertanyaan Grace dijawab dengan terbata oleh Arina.
" Kok, tadi adik-adik Aldi tidak ikut makan bersama, Tante?" tanya Grace mempertanyakan keberadaan kedua adik laki-laki Rivaldi.
" Iya, karena mereka berdua kuliah di Australia," jawab Arina.
" Oh, begitu ..." Grace menganggukkan kepalanya perlahan tanda mengerti apa yang dijelaskan Arina.
" Aldi lebih mirip sama Om wajahnya, Tan. Kalau adik-adiknya lebih mirip ke Tante, ya?" Grace memperhatikan wajah ketiga pria muda di foto tersebut. Memang tidak ada kemiripan wajah Rivaldi dengan Arina.
" Oh, iya. Sebenarnya Tante ini Mama sambung Aldi. Tante menikah dengan Papanya Aldi saat Aldi masih berumur empat tahun." Untuk hal ini, Arina tidak ragu untuk menceritakan hubungannya dengan Rivaldi.
" Mama sambung? Tapi Tante dan Aldi terlihat sangat akrab dan terlihat seperti hubungan antara ibu dan anak kandung lho, Tan." Grace berpura-pura terkejut mendengar penjelasan Arina.
" Iya, mungkin karena Tante sudah sejak kecil mengurus Aldi," sahut Arina dengan tersenyum memandang ke arah foto keluarganya.
__ADS_1
" Berarti Tante memang senang mengasuh anak kecil, ya? Jadi bisa mudah akrab dengan Aldi." Grace memancing Arina dengan menyebut kalimat mengasuh anak.
Arina menoleh ke arah Grace saat Grace mengucapkan kalimat mengasuh anak kecil. Bahkan air muka Arina seketika berubah dan terlihat sendu.
" Aku kira Aldi punya adik perempuan, Tan. Soalnya Aldi baik sekali sama aku, seperti ke adik sendiri," ucap Grace kemudian. Karena dia merasakan perubahan di wajah Arina, yang membuatnya yakin jika Arina memang wanita yang dimaksud oleh Erlangga sebagai pengasuh kecil Erlangga.
" Memang selama ini Aldi hanya menganggap kamu ini hanya sekedar adik?" Pertanyaan bernada kecewa terdengar dari mulut Arina.
" Hahh? Oh, maksud aku ... Aldi begitu perduli, dia seperti kakak laki-laki yang perduli kepada adik perempuannya. Maaf lho, Tante. Saya sudah lancang mengatakan hal ini." Walaupun sedang dalam penyamaran, Grace tidak ingin menyinggung perasaan Arina.
" Oh, tidak, Grace. Kamu tidak perlu minta maaf seperti itu. Tante justru berharap jika kalian itu bisa lebih dekat lagi. Tante dan Om itu sudah lama ingin melihat Aldi mengakhiri masa lajangnya. Tante sendiri tidak mengerti apa yang dicari lagi oleh Aldi? Sehingga dia tidak juga segera menikah." Arina mende sah, seperti ada beban yang dia rasakan melihat Rivaldi belum juga memutuskan untuk berumah tangga.
" Aduh, Tante. Saya jadi tidak enak ini." Grace tersipu. " Saya dan Aldi hanya sekedar berteman saja kok, Tante." Grace lebih berharap Arina tidak terlalu mengharapkan kedekatannya dengan Rivaldi terlalu jauh. Karena dia kasihan juga melihat kedua orang tua Rivaldi, yang sepertinya sudah terlanjur jatuh hati kepadanya.
" Tante berharap, lambat laun pertemanan kalian bisa berkembang ke arah yang lebih serius," harap Arina seraya menggenggam tangan Grace.
Grace hanya tersenyum tipis menanggapi harapan Arina. Apalagi saat ini Arina menggenggam tangannya seolah begitu menginginkan lebih dari kedekatan dirinya dan juga Rivaldi.
" Oh ya, Tan. Kita sudah banyak berbincang tapi aku tidak tahu nama Tante." Kali ini Grace mencoba merubah topik pembicaraan dengan menanyakan nama Arina.
" Nama Tante itu Arina. Kamu panggil saja Tante Rina." Jawaban yang ditunggu-tunggu akhirnya terdengar juga di telinga Grace.
" Oh, baik, Tante Rina." Grace melengkungkan senyuman. Dugaan jika Arina adalah pengasuh Erlangga saat CEO Mahadika Gautama itu terbukti benar. Tugasnya mencari informasi tentang siapa sosok Mama Rivaldi sudah dia dapatkan. Kini, justru satu informasi soal anak perempuan yang dilahirkan Arina hasil perbuatan Om dari Erlangga yang masih sulit untuk didapat. Apalagi Arina sepertinya menutup rapat soal rahasia tersebut.
***
Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Erlangga masih belum bisa terlelap. Dia hanya memandangi Kayra yang sedang tertidur dengan mulut sedikit terbuka berbantalkan lengannya.
" Tidur dengan mulut terbuka seperti inipun kamu tetap terlihat cantik, Kayra." Erlangga terkekeh meledek sang istri yang tidak mungkin mendengar sindirannya itu. Erlangga bahkan langsung memberikan kecupan di bibir Kayra hingga Kayra langsung mengatupkan bibirnya, walaupun masih dengan mata terpejam.
" Bagaimana ibumu bisa melahirkan wanita sempurna sepertimu, Kayra? Cantik, baik, sabar dan juga penuh kasih sayang." Jari tangan Erlangga membelai wajah cantik istrinya yang tidak memperdulikan apa yang dikatakan olehnya. " Beruntung orang tuamu memiliki anak sepertimu, Kayra. Semoga anak kita nantinya mewarisi sikapmu, tapi jika dia laki-laki harus tegas seperti Papanya." Erlangga menyunggingkan senyuman menandakan jika dia merasakan kebahagiaan yang tidak terlukiskan lewat kata-kata.
Erlangga menoleh ke arah ponselnya. Dia yakin jika orang yang menghubungi dirinya adalah Bondan. Karena dia memang meminta Bondan menghubunginya kapan saja jika ada informasi penting yang ingin disampaikan kepadanya.
Tangan Erlangga meraba ke atas nakas untuk mengambil ponsel, karena dia tidak ingin mengganggu istrinya yang tertidur di pelukannya. Setelah dia mendapatkan ponselnya itu, dia melihat satu pesan masuk dari Bondan.
" Selamat malam, Tuan. Maaf mengganggu waktu istirahat Tuan. Rizal mengabarkan jika Grace saat ini berada di rumah orang tua Rivaldi. Dan menurut info yang dikirim oleh Grace, ibu dari Rivaldi itu bernama Arina. Beliau adalah ibu tiri Rivaldi. Dan mengenai anak perempuan Ibu Arina. Grace masih belum mendapatkan informasi. Karena anak yang diakui oleh Arina hanya Rivaldi sebagai anak sambung dan dua anak laki-laki yang merupakan anak kandung Nyonya Arina dan Tuan Nugraha. Sama sekali tidak ada anak perempuan di rumah orang tua Rivaldi itu, Tuan."
Itu isi pesan panjang yang dikirimkan oleh Bondan ke ponsel Erlangga.
Erlangga menghela nafas panjang mengetahui jika Mama tiri Rivaldi adalah pengasuhnya dulu. Orang yang paling dekat dengannya dibanding dengan Mamanya sendiri.
" Sudah lama sekali tidak kita tidak bertemu. Dan kemarin kita berada di ruangan yang sama. Namun, tidak menyadari jika ada Sus di sana." Erlangga menyesalkan terlambat mengetahui jika Mama Rivaldi adalah Sus Rina, pengasuhnya dulu.
" Oke, Pak Bondan. Tolong arahkan Grace agar terus mencari tahu di mana anak perempuan Sus Rina itu berada." Erlangga lalu membalas pesan masuk dari Bondan.
" Baik, Tuan." balas Bondan cepat.
Erlangga menaruh kembali ponsel itu di atas nakas setelah membaca balasan dari Bondan. Seketika itu otaknya berpikir keras.
" Di mana adik sepupuku itu berada jika di rumah Rivaldi tidak ada anak perempuan? Apakah adik sepupuku itu telah meninggal? Ya Allah, jika adik sepupuku itu masih hidup, tunjukkanlah di mana dia saat ini berada?" gumam Erlangga dalam hati memohon petunjuk dari Sang Khalik.
" Uugghh, Mas ...."
Erlangga menoleh ke arah Kayra saat mendengar lenguhan dan suara Kayra memanggilnya. Namun, dia melihat istrinya itu masih terlelap dalam tidurnya.
Erlangga memperhatikan lekat wajah Kayra yang terlihat damai. Dia teringat akan cerita Kayra yang secara tiba-tiba merasa seperti akrab dengan Arina, padahal istrinya itu belum pernah berjumpa sebelumnya dengan Arina. Kayra pun berkata, Arina juga seperti tertegun saat melihat Kayra, seolah kedua orang itu pernah saling mengenal sebelumnya.
Erlangga terigat akan Kayra dan rumah yang mereka tempati sekarang ini. Kayra merasakan kehangatan berada di rumah ini, seakan Kayra pernah tinggal di sini di masa malunya. Namun, istrinya itu berkata, jika dia mulai menetap di Jakarta sejak dia bekerja di perusahaan Krisna. Itupun dia selalu mengontrak di rumah kecil yang berada di gang sempit yang pernah dia sebut gubug sebelumnya.
__ADS_1
" Ada rahasia apa antara kamu dan rumah ini sebenarnya, Kayra? Dan kenapa juga kamu bisa merasa dekat dengan Sus Rina?" Pertanyaan itu seketika muncul di benak Elangga, karena dia merasakan ada kejanggalan dengan hubungan aneh yang terjadi antara istrinya, rumahnya dan juga mantan pengasuhnya itu.
***
Tok tok tok
Suara pintu kamar diketuk dari luar, membuat Kayra dan Erlangga mengarahkan pandangan ke arah pintu.
Erlangga segera berjalan ke arah pintu untuk membukakan pintu dan mengetahui siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
" Mama? Dengan siapa Mama kemari?" Erlangga terkejut saat mendapati Helen sudah berdiri di depan kamarnya.
" Mama diantar Pak Samsul." Helen langsung menerobos masuk ke dalam kamar Erlangga yang dulu pernah menjadi kamarnya bersama Krisna.
" Ibu ..." Kayra segera menghampiri Helen dan mencium tangan Helen.
" Saya itu bukan Ibu kamu, jangan panggil Ibu!" Helen menolak disebut Ibu oleh Kayra. " Panggil saja seperti Erlangga memanggil saya!"
Kalimat terakhir yang diucapkan Helen membuat Kayra menoleh ke arah suaminya yang langsung mengangguk dengan mengulum senyuman.
" I-iya, Ma. Maaf ..." Kayra pun langsung meralat panggilannya.
" Kamu merubah kamar ini, Lang?" Helen memperhatikan setiap sudut ruangan kamar tidurnya dulu kini telah berbeda.
" Iya, aku sengaja merubah interiornya agar terlihat lebih modern," sahut Erlangga. " Mama berdua saja dengan Pak Samsul?" tanya Erlangga kembali.
" Iya, Mama akan tinggal di sini beberapa waktu dengan Papamu." Helen membuka pintu balkon dan melangkah ke arah teras balkon. Walaupun kembali ke tempat itu akan mengingatkan akan bayinya yang telah meninggal. Namun, Helen menguatkan hati untuk datang dan menetap di rumah lamanya untuk sementara waktu.
" Nanti Mama akan tidur di kamar mana?" Helen kembali masuk ke dalam kamar setelah cukup puas memantau sekitar pekarangan samping rumahnya dari atas balkon.
" Mama akan tidur di kamar utama di lantai bawah," ujar Erlangga.
Untung saja Kayra sudah meminta Ibu Sari sudah berpindah kamar sebelumnya, saat dia tahu Mama mertuanya itu setuju untuk menginap di tempat tinggalnya dalam beberapa waktu.
" Apa kamu akan berangkat ke kantor sekarang?" tanya Helen melihat Erlangga yang telah rapih mengenakan setelan blazernya.
" Iya, Ma. Apa Mama mau ikut ke kantor juga?" tanya Erlangga.
" Apa istrimu juga akan ikut ke kantor?" Helen menjawab pertanyaan Erlangga dengan sebuah pertanyaan.
" Iya," sahut Erlangga.
" Mas, kalau Mama tidak ikut kita ke kantor, sebaiknya aku di rumah saja menemani Mama, ya?" Kayra meminta ijin suaminya untuk menemani Helen tinggal di rumah jika Mama mertuanya itu tidak ingin ikut ke kantor.
" Sayang, apa kamu yakin akan tinggal di sini saja?" Bagaimanapun Erlangga masih belum bisa yakin sepenuhnya terhadap Mamanya itu. Masih ada kekhawatiran di hati Erlangga jika Mamanya itu akan menyakiti Kayra.
" Apa kamu pikir Mama akan mencelakai istrimu, Lang?" Merasa jika Erlangga ragu terhadapnya, Helen langsung memprotes putranya itu.
" Bukan begitu, Ma." Erlangga langsung menyanggah ucapan Mamanya. " Aku hanya masih trauma dengan sikap Mama selama ini terhadap Caroline dan juga Kayra." Erlangga menyampaikan kecemasannya.
" Apa kamu tidak bisa melihat kalau Mama ini sudah bertobat, Erlangga?!" ketus Helen karena ketahuan putranya akan sikapnya saat ini.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy reading ❤️