MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Bisa Berdamai


__ADS_3

" Apa kamu sudah siap, Sayang?" Setelah Kayra menghabiskan makan malamnya dan mendapat kabar jika anggota keluarga yang lain sudah menunggu di ruangan keluarga, Erlangga mengajak istrinya itu untuk bergabung dengan yang lainnya.


" Mas, aku ingin bicara bertiga saja dengan ibu dan Ibu Arina."


Erlangga mengeryitkan keningnya mendengar permintaan Kayra. Kayra ingin berbicara dengan kedua ibunya itu tanpa ada orang lain.


" Apa kamu yakin, Sayang?" Erlangga tampak tidak yakin Kayra bisa menghadapi kedua ibunya itu sendiri. Tentu dia tidak ingin Kayra begitu emosional karena dia tahu istrinya itu begitu perasa.


" Iya, aku pinjam ruang kerja Mas, ya? Nanti Mas juga menemani aku di sana."


Kalimat selanjutnya dari Kayra membuat Erlangga bernafas lega, karena dia juga ikut mendampingi istrinya itu berbicara dengan Ibu Sari dan Arina.


" Baiklah, Sayang. Kita nanti bicara di ruang kerjaku," sahut Erlangga mengusap kepala Kayra dengan penuh kasih sayang lalu mengambil ponselnya ingin menghubungi Krisna.


" Halo, Pa. Pa tolong sampaikan ke Ibu Arina dan Ibu Sari, Kayra ingin bicara dengan mereka di ruang kerjaku. Bisa tolong suruh mereka ke ruanganku sekarang, Pa?" Erlangga berbicara dengan Krisna lewat handphone nya.


" Terima kasih, Pa." sambung Erlangga setelah mendapat jawaban dari Krisna.


" Kita ke ruangan sebelah sekarang." Erlangga merangkulkan lengannya menuntun Kayra keluar dari kamarnya menuju ruangan kerjanya setelah menutup sambungan teleponnya dengan Krisna.


Lima menit kemudian, pintu ruang kerja Erlangga diketuk dari luar.


" Sayang, kau harus bersikap tenang dan jangan terlalu emosi ya!? Kamu harus ingat bayi kita ini ..." Sebelum membukakan pintu kamar ruang kerjanya, Erlangga menasehati istrinya terlebih dahulu.


" Iya, Mas." sahut Kayra dengan menganggukkan kepalanya.


Erlangga lalu melangkah untuk membukakan pintu untuk kedua ibu mertuanya itu.

__ADS_1


Sementara dengan hati berdebar arah pandangan Kayra terpusat ke arah pintu hingga akhirnya dia melihat sosok Arina yang berjalan masuk ke ruangan mencari keberadaan dirinya, diikuti dengan Ibu Sari di belakang Arina.


Dari kedua pasang mata wanita paruh baya itu, Kayra dapat merasakan kesedihan dan rasa penyesalan juga bersalah. Kayra pun bisa melihat mata sembab Ibu Sari dan Arina yang menunjukkan jika mereka sangat sedih melihatnya seperti ini.


" Kayra, maafkan Mama, Nak." Arina Bahakan sudah menyebut dirinya sebagai Mama. Dia langsung menangis dengan penuh penyesala. Namun, dia tidak berani mendekat ke arah Kayra. Dia takut ada penolakan dari Kayra terhadap dirinya.


" Mama tidak bisa menjadi seorang Mama yang baik untuk bayi Mama Tapi, percayalah, Nak. Mama tidak pernah sedikit pun berniat membuang kamu, Kayra. Mama sangat merindukan kamu. Mama merasa menyesal telah menitipkan kamu sehingga Mama harus terpisah dari Mama. Tapi, demi Allah, Kayra. Mama sangat menyanyangi kamu ..." Arina yang tidak dapat menahan perasaannya hingga terus menangis di setiap kalimat yang diucapkannya.


" Kayra, Ibu juga minta maaf, karena telah menyembunyikan status kamu selama ini. Ibu minta maaf karena keegoisan Ibu dan ayah telah membuat kamu terpisah dengan Mama kandungmu." Ibu Sari pun ikut bersuara menyatakan penyesalannya terhadap Kayra dengan menangis.


" Semua ini karena kami merindukan sosok anak dalam rumah tangga kami. Ibu tidak tega melihat kamu harus ditaruh di panti asuhan. Sungguh, Nak. Ibu tidak punya niat jahat sama sekali terhadapmu. Ibu melakukan hal itu murni karena Ibu ingin mempunyai anak. Maafkan Ibu, Kayra." Ibu Sari kini mendekati Kayra bahkan duduk bersimpuh di hadapan wanita yang sejak bayi dia rawat dengan penuh kasih sayang.


" Ibu, Ibu jangan seperti ini." Kayra menyentuh pundak Ibu Sari dan meminta Ibu Sari untuk berdiri.


" Kayra tidak menyalahkan Ibu." Kayra tak kuasa membendung air matanya karena sejujurnya hatinya merasa sakit melihat kedua ibunya menangis apalagi sampai bersimpuh di hadapannya itu.


" Maafkan Kayra, karena Kayra sudah membuat Ibu bersedih, padahal Ibu selama ini sudah merawat Kayra dengan baik." Kayra langsung memeluk tubuh Ibu Sari, hingga mereka berdua menangis bersama dalam berpelukan.


Melihat ucapan Kayra yang berkata tidak menyalahkannya, Arina pun memberanikan diri berjalan mendekati Kayra dan Ibu Sari.


" Kayra ..." Arina menepuk pelan pundak Kayra, membuat Kayra menoleh ke arah Arina.


" Mama ..." Kayra pun kini berganti memeluk Arina.


" Kayra, Sayang. Maafkan Mama, Mama sudah menjadi Mama yang buruk, Nak. Mama berjanji, Mama akan menebus semua kesalahan Mama selama ini ..." Arina memeluk erat Kayra sambil menciumi wajah Kayra. Sudah lama dia menginginkan hal ini, memeluk Kayra setelah Kayra menyadari jika dia adalah Ibu kandungnya.


" Mama jangan bicara seperti itu. Kayra mengerti keadaan Mama saat itu," lirih Kayra yang tak juga menghentikan tangisannya. Apalagi saat Ibu Sari pun bergabung hingga mereka bertiga saling berpelukan.

__ADS_1


Erlangga yang sejak tadi menyaksikan interaksi Kayra dan kedua ibunya kini dapat menarik nafas lega. Dia tidak menyangka jika Kayra tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa menerima kenyataan ini. Ini di luar dugaannya.


Erlangga tersenyum bangga melihat ketulusan dan kebesaran hati Kayra. Istrinya itu benar-benar luar biasa. Kayra bisa berdamai dan memaafkan dengan sangat mudah. Tidak menyesal rasanya dia memperistri Kayra. Wanita itu benar-benar berhati seperti Malaikat. Dan benar yang dikatakan Papanya jika Kayra adalah wanita yang hebat.


" Sayang, apa kamu melupakan aku di sini?" Melihat situasi kondusif, Erlangga memecah suasana haru saat itu dengan berpura-pura merasa diasingkan oleh istrinya.


" Mas ..." Kayra menoleh ke arah suaminya lalu mengulurkan tangannya ke arah Erlangga, meminta suaminya itu untuk mendekat.


" Terima kasih, Mas. Karena Mas telah mempertemukan aku dengan Mamaku." Kali ini Kayra memeluk suaminya. Baginya saat ini suaminya itu bukan hanya pelindung baginya tapi juga pahlawan bagi dirinya.


" Aku senang kamu bisa menerima semua itu, Sayang. Kau memang luar biasa. Aku sangat bangga kepadamu, Kayra." Erlangga mengecup kening dan pucuk kepala istrinya itu.


" Sebaiknya kita ke bawah, pasti yang lain juga sudah tidak sabar mengetahui apa yang terjadi di sini." Erlangga mengajak istrinya dan kedua ibu mertuanya itu untuk bergabung dengan anggota keluarga yang lain.


" Iya, Mas." Kayra menyeka air matanya. Dia melepas pelukannya dari tubuh sang suami lalu mengulurkan tangan kepada Arina dan Ibu Sari.


" Ayo, kita turun ke bawah, Bu, Ma ..." Kayra pun mengajak kedua ibunya itu untuk mengikutinya ke ruang keluarga di mana Krisna, Helen dan Nugraha berkumpul.


Berada dalam rangkulan ke dua ibunya, Kayra berjalan menuju lift, sementara Erlangga mengikuti di belakangnya. Tidak masalah baginya jika kali ini perhatian istrinya itu terbagi dengan kehadiran Arina. Bagi Erlangga yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan istrinya. Melihat Kayra bisa tersenyum baginya adalah nomer utama. Karena semula dirinya merasa khawatir, Kayra akan down dan agak sulit menerima kenyataan jika istrinya itu ternyata bukan anak kandung Ibu Sari dan Ayah Ariyanto. Tapi, syukurlah semua itu tidak terjadi.


*


*


*


Bersambung ....

__ADS_1


Happy Reading ❤️


__ADS_2