MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Sesuatu Yang Paling Berharga


__ADS_3

Rivaldi sedang memimpin rapat di kantornya saat mendengar suara ponselnya bergetar di atas meja, mata pria tampan itu melirik ke layar ponselnya dan menjumpai nama Jimmy yang muncul di layar ponsel itu. Rivaldi sengaja mengacuhkan panggilan telepon masuk dari Jimmy karena rapat yang saat ini sedang dia hadapi lebih penting menurutnya.


Selesai memimpin rapat, Rivaldi berjalan kembali ke ruang kerja dengan tangan kiri bertolak pinggang sedangkan tangan kanannya mencoba menghubungi Jimmy yang meninggalkan empat panggilan tak terjawab di ponselnya tadi.


" Halo, ada apa, Jim?" Setelah panggilan teleponnya terangkat, Rivaldi bertanya kepada Jimmy tentang maksud anak buahnya itu menghubunginya di jam-jam sibuk.


" Saya hanya ingin memberitahu kalau tadi saya bertemu dengan wanita yang bos sukai ... Nona Kayra. Bos "


Rivaldi terperanjat mengetahui jika perihal yang ingin disampaikan Jimmy adalah soal Kayra.


" Kau bertemu dia di mana, Jim?" tanya Rivaldi penasaran namun dengan nada antusias.


" Tadi saya bertemu Nona Kayra di rumah sakit X, Bos." Jimmy menyebutkan nama rumah sakit tempat dia bertemu secara tidak sengaja dengan Kayra.


" Rumah sakit? Siapa yang sakit? Apa Kayra sakit?" Rasa khawatir terdengar dari kalimat yang diucapkan Rivaldi mendengar Jimmy bertemu dengan Kayra di rumah sakit.


" Tidak, Bos! Nona Kayra tidak sakit, tapi ..." Jimmy menjeda kalimatnya.


" Tapi apa?" Semakin dibuat penasaran oleh kalimat yang diucapkan Jimmy, sepertinya Rivaldi benar-benar butuh informasi tentang Kayra dari anak buahnya itu.


" Tapi sepertinya Nona Kayra itu sedang hamil, Bos."


Rivaldi kembali tersentak saat Jimmy memberikan informasi jika wanita yang dia kagumi ternyata diduga hamil.


" Hamil?" Walau sempat curiga jika Kayra memang telah menikah secara diam-diam namun dia tidak pernah menduga jika ternyata Kayra saat ini sedang mengandung, dan entah anak siapa yang dikandung oleh Kayra.


" Benar, Bos. Soalnya orang yang mendampingi dia mengatakan jika Nona Kayra itu sedang hamil. Tadi saya bersenggolan dengan Nona Kayra saat hendak keluar dari ruang poli kandungan karena saya terburu-buru mengambil barang istri saya yang tertinggal di sana. Wajah wanita yang saya tabrak itu mirip seperti foto Nona Kayra yang pernah bos berikan dan orang yang mengantarnya itu menyebut nama Nona Kayra, itulah yang membuat saya menghubungi bos." Jimmy menjelaskan kepada Rivaldi apa yang membuatnya menghubungi Rivaldi tadi.


" Lalu sekarang Kayra ada di mana? Apa kamu masih mengawasi dia?" tanya Rivaldi kembali.


" Saya menyuruh orang saya untuk mengawasi Nona Kayra karena saya harus mengantar istri saya pulang, Bos. Sampai saat ini orang suruhan saya itu masih mengawasi Nona Kayra yang sedang menuju arah kantor tempatnya bekerja." Jimmy menjelaskan panjang lebar tentang apa yang dilaporkan orang suruhannya itu.


" Siapa orang yang menemani Kayra periksa kandungan? Orang itu pria atau wanita?" tanya Rivaldi penasaran dengan orang yang menemani Kayra.


" Wanita, Bos. Dari seragam yang dipakai orang itu, sepertinya dia karyawan perusahaan Mahadika. Saya semakin curiga jika ini ada hubungannya dengan Pak Erlangga, Bos." ujar Jimmy kembali.


Rivaldi mendesah, hatinya ingin menyangkal jika hal ini berhubungan dengan Erlangga, karena Erlangga sudah mempunyai istri dan Kayra bukan tipe wanita penggoda yang akan merebut suami orang, namun jika dia ingat kembali bagaimana sikap Erlangga terhadap Kayra yang terlalu posesif, hal tersebut memang mengarah jika mereka berdua seperti mempunyai hubungan spesial diluar hubungan antara bos dan sekretarisnya.


Sementara itu beberapa saat sebelumnya di Rumah Sakit X, Kayra telah selesai memeriksa kandungan dan mendapatkan vitamin dari dokter ahli kandungan. Mereka kini berjalan ke luar rumah sakit untuk menemui Koko yang menunggu di parkiran.


Kayra terkejut karena tiba-tiba Gita merangkulkan tangannya di lengan Kayra, sontak Kayra langsung menoleh ke arah Gita.


" Ada apa, Mbak?" tanyanya bingung.


" Sepertinya ada yang sedang mengikuti kita, Mbak." bisik Gita.


" Hahh? Siapa, Mbak? Mana?" Kayra mengedar pandangan dengan menolehkan kepala ke belakang mencari orang yang dimaksud oleh Gita.


" Orang yang pakai jaket jeans itu, yang pakai topi. Sejak di ruang tunggu obat tadi orang itu sepertinya memperhatikan Mbak Kayra terus." Gita mengungkapkan kecurigaannya terhadap orang yang bertingkah mencurigakan menurutnya.


" Kalau begitu, ayo kita cepat kembali ke mobil, Mbak!" Kayra kini menarik tangan Gita dan meminta asisten pribadinya itu untuk berjalan cepat agar segera sampai di mobil.


" Jangan buru-buru, Mbak. nanti kandungan Mbak kenapa-kenapa kalau Mbak Kayra lari-lari." Takut akan membuat janin di kandungan Kayra bermasalah, Gita menyuruh Kayra untuk tetap tenang dan berjalan seperti biasa.


" Ini rumah sakit, saya yakin orang itu tidak akan berani bertindak macam-macam terhadap kita." Gita menyesal telah membuat Kayra senewen atas ucapannya tadi. Dia pun segera mengeluarkan ponsel dari tasnya lalu menghubungi nomer Koko, meminta agar Koko stand by di depan lobby.


" Halo, Pak Koko, Pak tolong stand by dekat lobby, ya!? Sepertinya ada orang yang mencurigakan yang mengikuti kami." Setelah panggilan teleponnya terangkat, Gita langsung menyampaikan kecurigaannya akan adanya seseorang yang mengawasi mereka.


" Posisi kalian di mana? Siapa orang yang mengikuti kalian?" Koko langsung merespon karena dia merasa khawatir dengan Kayra.


" Kita sedang menuju ke lobby, Pak. Kami tidak tahu dia itu siapa!?" jawab Gita.

__ADS_1


" Ya sudah, saya menuju ke lobby sekarang, jaga Nyonya Kayra baik-baik!"


" Baik, Pak Koko."


Gita mematikan sambungan teleponnya saat Koko mematikan panggilan telepon tersebut.


" Kita naik lift, Bu. Jangan sampai orang itu ikut masuk ke dalam lift yang akan kita gunakan." Gita mengajak Kayra ke arah lift yang tidak jauh dari arah mereka.


" Ayo, Mbak." Kayra pun berjalan beriringan dengan Gita menuju arah lift untuk turun ke lobby rumah sakit.


Saat pintu lift terbuka, Kayra dan Gita masuk ke dalam lift itu bersama tiga orang yang juga ingin menggunakan lift tersebut. Dan ketika lift hendak tertutup, tiba-tiba dari luar lift sebuah tangan menghalangi pintu lift yang akan tertutup, hingga pintu itu terbuka kembali.


Seorang pria berjaket jeans yang tadi dicurigai Gita membuntuti merekalah yang saat ini nampak berdiri di depan pintu lift.


Kayra sampai menelan salivanya saat menyadari orang yang diduga membuntuti kini berada di lift yang sama dengan mereka. Dia pun menolehkan pandangan ke arah Gita yang juga langsung menoleh ke arahnya. Kayra bahkan menggenggam tangan Gita karena dia merasa cemas dengan orang yang ada di dalam lift itu.


Gita merasa khawatir melihat Kayra yang terlihat cemas walaupun saat itu di dalam lift ada banyak orang, dia pun langsung mengambil ponselnya kembali.


" Halo, Pak. Pak tolong stand by depan lift dekat lobby rumah sakit, ya!? Kayaknya kita dibuntuti orang, deh! Saya tidak tahu apa urusan orang itu mengikuti kita, tolong urus orang itu ya, Pak!? Kalau perlu hubungi polisi!" Gita sengaja berbicara dengan nada yang tinggi dan tegas di teleponnya, walaupun sebenarnya ponselnya itu tidak tersambung dengan nomer siapapun juga. Dia hanya sengaja mengertak agar orang yang mengikuti mereka tidak berani berbuat macam-macam.


Tentu saja apa yang dikatakan Gita membuat semua orang yang ada di dalam lift langsung mengarahkan pandangan kepada Gita kecuali orang yang memakai jaket jeans itu. Kayra sendiri pun ikut menatap heran kepada Gita yang dia pikir menghubungi Koko kembali.


Gita hanya tersenyum saat Kayra menoleh ke arahnya. Dia ditugaskan Erlangga untuk menjadi asisten pribadi Kayra dengan gaji yang besar sehingga dia merasa harus bertanggung jawab menjaga Kayra dengan baik, dan ide menakut-nakuti orang yang mengikutinya itu dia harap mampu membuat orang itu mengurungkan apapun niatnya terhadap Kayra.


Ting


Pintu lift terbuka, semua orang yang berada di lift termasuk Kayra dan Gita pun keluar dari lift itu. Dan benar saja, saat mereka keluar dari lift, Koko sudah menunggu mereka di lobby. Pria itu bahkan berlari kecil menghampiri Kayra dan Gita.


" Mana orang yang mengikuti Nyonya?" Koko menanyakan orang yang mengikuti Kayra.


" Itu yang pakai jaket jeans itu, Pak." Gita menunjuk ke arah orang yang terlihat beranjak menjauh dari mereka dengan tergesa.


Koko yang mendapati orang yang dimaksud oleh Gita hendak mengejar orang itu namun Kayra melarangnya.


" Tapi saya harus tahu maksud dia itu apa, Nyonya!?" Koko tetap merasa perlu menemui orang itu.


" Tidak usah, Pak! Kita kembali saja sekarang." Kayra tetap melarang Koko yang ingin mengejar orang yang mengikutinya tadi.


Akhirnya Koko pun mengikuti apa yang diperintah oleh Kayra, walaupun dia merasa perlu 'mengurus' orang yang diduga hendak berbuat tidak baik terhadap Kayra.


***


Koko menurunkan Kayra dan Gita di luar pintu gerbang bangunan tinggi perusahaan Mahadika Gautama atas permintaan Kayra. Setelah itu dia keluar dari mobilnya lalu bejalan ke arah belakang menghampiri sebuah mobil yang berhenti sekitar tiga puluh meter di belakang mobil yang dikendarainya. Dia merasa jika mobil itu mengikuti mobilnya sejak keluar dari rumah sakit tadi.


Tok tok tok


Koko mengetuk kaca jendela mobil yang mengikutinya tadi dengan sangat kencang, tak lama kaca pintu mobil itu terbuka dan dia melihat pria yang mengenakan jaket jeans seperti yang dia lihat tadi lobby rumah sakit.


" Siapa Anda sebenarnya?" tanya Koko bertanya penuh selidik.


" Maksud Anda apa?" tepis pria itu seolah tidak tahu apa yang terjadi.


" Saya tahu sejak di rumah sakit tadi Anda membuntuti Nyonya Kayra! Siapa yang menyuruh Anda? Apa Anda disuruh oleh orang yang bernama Jimmy?"


Orang berjaket jeans itu tersentak kaget saat Koko menyebut nama Jimmy, karena dia tidak menduga jika Koko mengenal Jimmy, orang yang menyuruhnya.


" S-saya tidak paham maksud perkataan Anda ini apa!?" Orang itu masih berusaha menyangkal.


" Kalau Anda masih berusaha menyangkal, saya bisa menyuruh orang yang ada di sekitar sini memukuli Anda." Memberikan gertakan kepada orang yang membuntuti Kayra, Koko berharap orang itu akan mengakui siapa yang menyuruhnya. Dia menunjuk beberapa ojek online yang berkumpul di depan rumah makan menunggu orderan.


Ancaman yang diberikan Koko sontak membuat pria itu ketakutan, hingga akhirnya dia mengatakan maksud dia membuntuti Kayra.

__ADS_1


" I-iya, saya memang diperintah Pak Jimmy untuk mengikuti wanita yang bernama Nona Kayra tadi, tapi saya sendiri tidak bermaksud jahat kok, Pak. Saya hanya disuruh mengawasi apa yang dilakukan Nona Kayra dan ke mana Nona Kayra pergi." Pria itu mengakui apa yang dilakukannya tadi.


" Boleh saya lihat KTP dan SIM Anda?" Koko ingin mengetahui identitas pria itu agar dia bisa mengejar jika pria itu ternyata berbohong.


" Untuk apa, Pak?" tanya pria itu ketakutan saat Koko meminta kartu identitasnya.


" Saya hanya ingin memastikan ke mana saya bisa mengejar Anda jika Anda ternyata berbohong!"


" Saya tidak berbohong, Pak! Saya memang disuruh Pak Jimmy hanya untuk mengawasi Nona Kayra saja tapi tidak untuk melukai Nona Kayra. Pak Jimmy menghubungi saya untuk segera datang ke lokasi, karena Pak Jimmy melihat keberadaan Nona Kayra secara tidak sengaja di rumah sakit tadi." Pria itu berusaha meyakinkan Koko jika apa yang dia katakan adalah hal sebenarnya.


" Mana KTP dan SIM Anda!?" Koko kembali meminta pria itu menyerahkan kartu identitasnya. " Saya hanya hanya ingin memastikan saja!" lanjutnya.


Setelah dipaksa oleh Koko, pria itu akhirnya menunjukkan kartu identitasnya.


" Baiklah, sekarang Anda katakan saja ke Jimmy jika Nyonya Kayra sudah kembali ke kantornya dan jangan katakan soal saya yang mengetahui siapa Anda! Saya rasa Jimmy juga pasti tidak akan suka jika anak buahnya bertindak teledor hingga ketahuan membuntuti Nyonya Kayra apalagi sampai mengatakan siapa yang menyuruhnya, kan?" Setelah mengabadikan KTP dan SIM bersamaan dengan pria tadi dengan ponselnya, Koko pun menyerahkan kembali kartu identitas dan juga kartu ijin mengemudi untuk menyamakan nama pria tersebut.


" Jangan mencoba untuk kabur, karena saya pasti bisa menemukan Anda!" Kembali Koko menebar ancaman sebelum akhirnya dia berjalan kembali ke dalam mobil yang dia kendarai tadi.


***


" Mbak, tolong nanti jangan cerita sama suami saya soal orang yang mengikuti kita, ya!?" Ketika Kayra dan Gita berada di dalam lift menuju lantai ruangan mereka, Kayra meminta Gita untuk tutup mulut, tak menceritakan jika ada orang yang mengawasi dirinya saat di berada rumah sakit tadi.


" Lho, memangnya kenapa, Mbak? Bukankah kalau Pak bos tahu, akan ada banyak orang Pak bos yang menjaga Mbak Kayra? Jadi Mbak Kayra tidak harus ketakutan seperti tadi." Gita berpendapat justru Kayra akan lebih aman jika Erlangga mengetahui soal orang yang mengikuti mereka, karena sudah bisa dia perkirakan jika Erlangga akan menambah orang yang menjaga Kayra hingga pekerjaannya pun akan sedikit ringan.


" Tapi saya akan semakin terkekang, Mbak. Saya yakin suami saya pasti tidak akan membiarkan saya bebas seperti tadi." Walaupun tidak sepenuhnya bebas, namun dia merasa Erlangga akan meningkatkan keamanan untuk dirinya dan dipastikan dirinya semakin tidak bisa bebas, karena saat ini ada sesuatu yang paling berharga bagi Erlangga dalam dirinya yaitu janin di perutnya.


" Itu 'kan tandanya Pak bos sayang sama Mbak Kayra kalau Pak bos melakukan hal itu." Gita memberikan pendapatnya.


" Iya, sih. Tapi saya akan merasa seperti burung yang berada dalam sangkar emas, Mbak. Saya juga 'kan ingin diberi sedikit kebebasan, Mbak. Tolong ya, Mbak ..." Nada memohon diucapkan Kayra agar Gita mengabulkan permohonannya.


Gita berpikir sejenak, jika dia mengikuti apa yang diinginkan oleh Kayra, dia yakin Erlangga akan memarahinya jika hal itu sampai terdengar ke telinga bosnya itu.


" Please, Mbak ...."


Melihat Kayra yang memohon kepadanya, Gita pun merasa kasihan, seorang ibu hamil muda dikekang sana-sini, pastilah sangat menjenuhkan. Akhirnya dengan sangat terpaksa dia pun menuruti apa yang diinginkan oleh Kayra.


Sementara itu di ruangan Erlangga, CEO Mahadika Gautama itu sedang menerima panggilan telepon masuk dari Koko. Tentu saja panggilan telepon dari Koko itu segera dia angkat karena Koko adalah supir dan juga orang yang menjaga Kayra, dia takut terjadi sesuatu dengan istrinya itu.


" Ada apa, Pak Koko?" tanya Erlangga saat menjawab panggilan masuk tersebut.


" Selamat siang, Tuan. Maaf, saya hanya ingin menyampaikan jika sejak di rumah sakit ada orang suruhan Jimmy yang mengawasi Nyonya Kayra, Tuan."


" Orang suruhan Jimmy? Mau apa lagi orang itu!?" Erlangga seketika geram mengetahui jika orang suruhan Jimmy ternyata masih mengikuti istrinya. Sudah bisa dipastikan hal ini berhubungan dengan Rivaldi.


" Dia bilang diperintah oleh Jimmy untuk mengawasi dan mengikuti ke mana Nyonya pergi, tapi saya sudah mengatasi orang itu, Tuan. Saya yakin orang itu tidak akan berani mendekati Nyonya Kayra, karena saya sudah mendapatkam nama orang itu." Koko memang bertindak gesit, tak heran Bondan merekomendasikan Koko untuk menjadi supir pribadi Kayra. " Tapi sepertinya, Rivaldi itu saat ini sudah tahu jika Nyonya sedang hamil, Tuan." Koko menduga kalau informasi tentang kehamilan Kayra sudah sampai ke telinga Rivaldi.


Erlangga mendengus kasar, kebenciannya terhadap Rivaldi pun semakin menjadi. " Tapi bagaimana orang itu bisa mengikuti Kayra?" tanya Erlangga heran.


" Menurut orang suruhan Jimmy, Jimmy secara tidak sengaja melihat Nyonya Kayra di rumah sakit, lalu menyuruh orang untuk mengawasi Nyonya."


" Baiklah, terima kasih informasinya, Pak Koko." Setelah mendengarkan penjelasan dari Koko, Erlangga pun segera mengakhiri sambungan telepon tersebut.


Wajah Erlangga terlihat merah padam mengetahui ternyata Rivaldi masih berusaha menyelidiki Kayra.


" Breng sek! Ternyata kau masih terus mengejar istriku, Rivaldi! Kita lihat saja, sampai di mana aksimu itu!" Seringai tipis tertarik di sudut bibir Erlangga menandakan jika dia menerima genderang perang yang ditabuhkan Rivaldi.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2