MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Rencana Kabur


__ADS_3

Kayra terduduk di tepi tempat tidur Ibunya dengan tangan memegangi dadanya karena dia merasakan degup jantungnya terasa tidak beraturan saat dia mendengar rencana Erlangga yang akan memperistri dirinya.


Kayra berharap yang didengarnya tadi tidaklah nyata. Dia bisa membayangkan jika hidupnya akan serasa di neraka jika bosnya itu serius dengan niatnya.


" Kayra ...."


Kayra terkesiap saat suara Ibu Sari terdengar di kamar Ibunya itu.


" Kayra, kamu tahu? Ternyata apa yang Ibu khawatirkan menjadi kenyataan. Tuan Erlangga menginginkanmu, Nak." Dengan menitikkan air mata Ibu Sari menyampaikan berita yang sebenarnya sudah Kayra dengar.


" Ibu ..." Kayra bangkit dan menuntun Ibunya ke tempat tidur karena dia dapat merasakan kesedihan Ibunya itu.


" Ibu sudah merasakan hal yang tidak enak dengan kebaikan Tuan Erlangga itu, Kayra. Dan ternyata dugaan Ibu benar-benar terjadi." Kalimat yang diucapkan Ibu Sari penuh dengan kecemasan.


" Ibu Tidak rela jika kamu harus menjadi wanita yang akan dianggap merusak rumah tangga orang. Ibu tidak rela jika kamu akan dianggap pelakor." Ibu Sari seketika terisak karena dia tidak sanggup membayangkan seandainya semua julukan itu akan disematkan orang-orang kepada putrinya.


" Ibu jangan berpikiran seperti itu, Bu. Kayra akan bicara pada Pak Erlangga agar beliau tidak melaksanakan niatnya itu." Kayra hendak meninggalkan kamar Ibu Sari dan menemui Erlangga yang dia kira masih berada di rumah itu.


" Tuan Erlangga sudah pulang, Nak. Sudah Ibu suruh pulang." Perkataan Ibu Sari membuat Kayra menahan langkahnya.


" Kita harus bagaimana, Bu?' Kayra akhirnya ikut terduduk di samping Ibunya. Dia pun merasa bingung, Kayra tahu bagaimana sikap bosnya itu bagaimana, pasti tidak akan mudah menentang apa yang diinginkan oleh Erlangga.


Cukup lama Ibu dan anak itu terdiam seolah saling berpikir satu sama lainnya tentang langkah apa yang harus mereka ambil untuk menghindari keinginan Erlangga memperistri Kayra.


" Kita harus pergi dari Jakarta, Kayra!" Tiba-tiba Ibu Sari mengusulkan agar mereka meninggalkan Jakarta secepatnya, tentu saja tanpa sepengetahuan Erlangga.


Kayra menoleh ke arah Ibunya dengan kening berkerut mendengar ajakan Ibunya itu.


" Maksud Ibu kita kabur dari sini?" tanyanya kemudian.


" Iya, tidak ada jalan lain untuk menghindari Tuan Erlangga selain pergi jauh dari Jakarta ini." Ibu Sari menjelaskan rencananya yang dia anggap bisa menghindarkan Kayra dari masalah.


" Tapi kita akan pergi ke mana, Bu? Rumah kita di Bandung belum kita renovasi." Kayra tidak tahu harus tinggal di mana jika mereka pergi dari Jakarta karena rumah mereka di kampung halamannya pun belum sempat diperbaiki.


" Nanti Ibu pikirkan, Kayra. Yang penting kita pergi dari sini, Ibu tidak rela kamu harus menjadi istri kedua Tuan Erlangga." Ibu Sari menegaskan jika dia memang tidak ingin Kayra dinikahi oleh bosnya itu.


***


Sesampainya di mobil, Erlangga langsung menghubungi seseorang dengan ponselnya.


" Selamat siang, Tuan Erlangga. Apa ada perintah yang harus saya kerjakan?" tanya seseorang dari ponsel Erlangga.


" Pak Bondan, tolong siapkan segala keperluan yang dibutuhkan untuk menikah secepatnya. Minggu depan saya ingin menikahi Kayra." Ternyata Bondan, orang kepercayaan Erlangga yang dihubungi CEO perusahaan Mahadika Gautama itu.


" T-Tuan Erlangga akan menikah kembali?" tanya Bondan bernada terkejut dengan perkataan Erlangga


" Kenapa? Ada masalah?" tanya Erlangga merasa apa yang dilakukannya bukanlah sautu kesalahan.


" T-tidak, Tuan." Bondan yang tidak ingin ada masalah langsung menepis rasa kagetnya itu.


" Kalau begitu lakukan apa yang saya perintahkan!" tegas Erlangga memberikan tugas kepada Bondan untuk mengurus segala hal yang berhubungan dengan privasinya.


" Baik, Pak." sahut Bondan.


" Saya sangat mempercayai Anda, Pak Bondan. Saya tidak ingin rencana saya ini sampai tercium publik." Nada bicara Erlangga mengandung peringatan agar Bondan tutup mulut dengan keputusan Erlangga untuk menikahi wanita lain.


" Baik, Tuan. Saya akan menjaga rahasia ini," jawab Bondan.


" Oke, segera laksanakan yang saya minta."


" Baik, Tuan."


Setelah mengakhiri hubungan teleponnya dengan Bondan ,Erlangga lalu mengendarai mobilnya ke tempat Henry, dia ingin menceritakan rencananya untuk menikahi Kayra kepada sahabatnya itu.


Beberapa menit kemudian, Erlangga sudah sampai di rumah Henry.


" Ada apa siang bolong begini kau datang ke rumahku, Lang?' tanya Henry saat melihat Erlangga sudah menunggunya di mini bar rumahnya.

__ADS_1


" Ini weekend, hari libur kerja, kenapa kau malah berkeliaran di luar bukannya menikmati family time bersama keluargamu, bos? Oh iya, aku lupa jika istrimu adalah wanita karir paling sibuk di dunia ini sampai menelantarkan suaminya yang haus akan belaian sampai mengidamkan wanita lain untuk menemani tidurnya,"  sindir Henry kemudian sambil terkekeh meledek.


" Si alan kau, Hen!" Merasa disindir oleh Henry, Erlangga langsung memprotes sahabatnya itu.


" Oh ya, kenapa kau kemari sendiri? Kenapa tidak mengajak sekretaris cantikmu itu?" Sindir Henry lagi.


" Aku baru saja dari rumahnya," sahut Erlangga.


" Benarkah? Lalu kenapa dia tidak ikut bersamamu? Apa dia takut kau bawa ke hotel? Hahaha ..." Henry sepertinya belum puas meledek Erlangga.


" Aku bicara kepada Ibunya kalau aku ingin menikahi Kayra."


" Uhuukk ... uhuukk ..." Henry yang sedang meneguk air mineral langsung tersedak dan terbatuk saat mendengar ucapan Erlangga yang mengatakan ingin menikahi Kayra.


" Kau gi la, Lang!?" Henry menganggap jika Erlangga benar-benar frustasi.


" Bukankah kau yang menyarankan aku untuk menikahi Kayra?" Melihat tanggapan Henry yang terkejut dengan keputusannya, tentu membuat Erlangga heran karena usul untuk menikahi Kayra itu berasai dari sahabatnya itu.


" I-iya memang aku menyarankan seperti itu, tapi aku tidak menyangka jika kau benar akan melakukan hal itu, Lang! Aku tidak menduga jika kau benar-benar ingin menikahi Kayra." Henry menyadari saran yang dia berikan adalah salah.


" Siapa yang akan menikahi Kayra?" Emma yang tiba-tiba saja sudah berada di sana langsung menanyakan hal yang sepitas dia dengar. Emma menatap Erlangga dan Henry secara bergantian, mencari tahu apa maksud dari perkataan suaminya tadi.


" Sayang, apa maksud kata-katamu tadi?" tanya Emma kembali.


" Suamimu menyuruhku menikahi Kayra." Erlangga yang menjawab pertanyaan Emma.


" Apa??" Mata Emma terbelalak, dia lalu menatap tajam ke arah suaminya. " Sayang, apa benar yang Erlangga katakan? Kau menyuruh Erlangga menikahi Kayra?" Emma tidak percaya jika suaminya sanggup memberikan saran yang menye satkan seperti itu.


" Aku hanya menolong dia, Sayang. Apa kau tahu jika dia sudah mengajak tidur sekretarisnya itu?" Henry berusaha membela diri.


Dan penjelasan dari Henry semakin membuat Emma tercengang. " Ya Tuhan, apa yang sebenarrnya terjadi denganmu, Lang?"


" Dia itu kesepian dan butuh belaian istrinya. Kau tahu sendiri bagaimana kesibukan Caroline, kan?" ujar Henry.


" Dan kau memberikan saran yang tidak benar, kan?! Sayang, apa kau ingin disalahkan oleh Om Krisna, Tante Helen dan Caroline jika mereka tahu kamu menyarankan hal buruk kepada Erlangga?" Emma merasa kesal karena suaminya itu bukannya memberikan jalan keluar yang benar namun justru memberikan pendapat yang justru akan memperuncing masalah rumah tangga Erlangga dan Caroline.


" Om Krisna tahu tentang hal ini?" Emma tidak menyangka ternyata banyak hal terlewatkan olehnya dalam dua hari ini.


" Iya, Sayang. Om Krisna bahkan menuduh Kayra telah menggoda Erlangga. Padahal kau lihat sendiri bagaimana sekretaris Erlangga itu, kan? Om Krisna itu tidak tahu, sebenarnya bukan sekretaris Erlangga yang genit, tapi anaknya lah yang tidak bisa jauh dari Kayra."


" Tapi mengusulkan Erlangga menikahi Kayra tidak akan memperbaiki keadaan, Sayang. Apa kau tidak kasihan melihat Kayra? Dia pasti akan mendapatkan masalah besar jika sampai Erlangga menikahi Kayra." Emma tidak sependapat dengan suaminya.


" Setidaknya itu menghindari Kayra dari perbuatan dosa, Sayang. Karena bosnya itu ingin selalu berdekatan dengan Kayra akibat kurang belaian dan kasih sayang istrinya." Henry masih sempat menyindir Erlangga.


" Sudahlah ... kenapa kalian jadi bertengkar?" Erlangga yang sejak tadi hanya mendengarkan pasangan suami istri itu berdebat melerai Henry dan Emma.


" Lalu apa tanggapan dari orang tua Kayra dengan niatmu itu?" Kali ini Henry menanyakan kepada Erlangga karena dia merasa penasaran atas sikap Kayra dan orang tuanya atas permintaan Erlangga tersebut.


" Sepertinya orang tua Kayra keberatan dengan niatku itu." Erlangga menerangkan apa yang dia tangkap dari kata-kata Ibu Sari saat dia menyampaikan keinginannya memperistri Kayra.


" Sudah pasti orang tua sekretarismu itu keberatan. Kau adalah pria beristri, tentu saja mereka menolakmu. Sepertinya orang tua sekretarismu itu bukan orang-orang yang gi la akan harta hingga tidak sampai merelakan anaknya menjadi istri simpanan, yang penting pria yang menjadi suami anaknya itu seorang bos besar." Emma langsung menanggapi cerita Erlangga. Dari cerita Erlangga, Emma bisa menilai bagaimana keluarga Kayra sebenarnya.


" Lalu apa kau akan membatalkan niatmu itu, Lang?" tanya Henry kemudian.


" Tidak, aku akan tetap menikahi Kayra!" tegas Erlangga, sepertinya keputusan pria itu sudah bulat untuk menikahi Kayra.


" Apa kau siap dengan resiko yang akan terjadi jika pernikahan itu tetap terjadi? Kau harus mempertimbangkan reputasimu, Lang. Jika kau terlibat asmara dengan sekretarismu itu." Emma mencoba memperingatkan resiko yang bisa terjadi.


" Aku akan menutupi pernikahan ini sementara waktu," ujar Erlangga.


" Kau ingin menjadikan Kayra sebagai istri simpananmu?" Emma sudah menduga seperti itulah status yang akan disandang oleh Kayra.


" Hanya sementara ..." sahut Erlangga.


" Sementara? Sampai kapan?" tanya Emma kembali.


" Sampai aku bisa mengatasi masalah rumah tanggaku dengan Caroline,"

__ADS_1


" Maksudmu kau akan menikahi Kayra sementara lalu meninggalkan dia setelah hubungan pernikahanmu dengan Caroline membaik?" Emma menggelengkan kepala seakan tak percaya dengan rencana Erlangga.


" Aku tidak tahu, yang aku pikirkan saat ini adalah menikahi Kayra. Jika aku tidak cepat menikahi Kayra, maka aku akan kehilangan dia, karena sudah banyak pria yang mencoba mendekati Kayra." Kecemasan Erlangga akan Rivaldi dan adik dari Wira, membuat Erlangga harus cepat bertindak dengan mengikat Kayra jika dia tidak ingin kehilangan wanita yang menjadi sekretarisnya itu.


***


Ibu Sari keluar dari kamarnya setelah selesai berbincang dengan seseorang melalui sambungan telepon.


" Kayra ... Mbak Diah, mana Kayra?" Ibu Sari menjumpai Diah yang keluar dari arah dapur.


" Mbak Kayra sedang di kamar mandi, Bu." jawab Diah.


" Oh, tolong nanti suruh ke kamar saya ya, Mbak." Bu Sari menitip pesan agar menyampaikan kepada Kayra jika dia menunggu di kamarnya.


" Baik, Bu." Diah menjawab, dan membuat Ibu Sari kembali masuk ke dalam kamarnya.


* Mbak Kayra dipanggil Ibu." Saat melihat Kayra keluar dari kamar mandi\, Diah menyampaikan pesan Ibu Sari untuk Kayra.


" Iya, makasih, Mbak." Kayra segera melangkah menuju kamar Ibunya.


" Ibu cari Kayra? Ada apa, Bu?" tanya Kayra saat memasuki kamar Ibu Sari.


" Kayra, Ibu sudah bicara sama Bu RT. Beliau bilang ada saudaranya yang mengontrakan rumah di Bandung. Sementara kita bisa memakai rumah itu untuk tinggal sampai kamu mendapatkan pekerjaan baru di sana." Ibu Sari memang segera menghubungi tetangganya di Bandung untuk mendapatkan informasi tempat tinggal jika dia dan Kayra terpaksa kembali ke Bandung.


" Apa kita harus benar- benar kabur dari sini, Bu?" Kayra nampak ragu karena dia merasa berat harus meninggalkan pekerjaannya.


" Daripada kamu harus menjadi istri kedua Tuan Erlangga. Kayra, kamu jangan memikirkan pekerjaanmu! Ibu yakin kamu akan bisa mendapatkan pekerjaan lain di sana. Mungkin memang tidak seperti di sini gajinya, tapi yang penting kita bisa hidup tenang dan damai." Melihat putrinya yang terlihat ragu, Ibu Sari mencoba meyakinkan Kayra agar Kayra mantap dengan niatnya meninggalkan kota Jakarta.


" Lalu kapan kita akan ke Bandung, Bu?" Kayra memang tidak punya pilihan lain selain menuruti keputusan Ibunya itu.


" Besok pagi setelah Shubuh, dan jangan sampai ada yang tahu jika kita akan pergi ke Bandung termasuk tetangga di sini. Nanti setelah Isya kita ke rumah RT di sini, kita ijin meninggalkan tempat ini." Ibu Sari tetap menyarankan Kayra berpamitan kepada tetangga di sekitar kontrakannya.


" Lalu bagaimana dengan barang-barang kita yang sudah kita pidahkan ke tempat baru, Bu?" Kayra memikirkan perabotannya yang sebagian besar sudah dibawa ke tempat baru.


" Besok kita ambil seperlunya saja yang bisa kita bawa ke Bandung. Selebihnya kita pikirkan nanti di Bandung. Sekarang ini yang terpenting kita harus menjauh dari Tuan Erlangga." Ibu Sari merasa takut jika dia telat mengambil tindakan.


Tanpa mereka sadari jika dari luar kamar Ibu Sari, Diah sedang mencuri dengar perbincangan antara Kayra dan Ibu Sari. Tak lama wanita itu kemudian masuk ke arah dapur dan mengambil ponselnnya untuk menghubungi seseorang.


" Selamat malam, Pak Bondan. Saya hanya ingin memberitahukan jika Mbak Kayra dan Ibu Sari berniat kabur ke Bandung besok pagi. Besok seharusnya Mbak Kayra pindah ke tempat barunya, tapi saya tidak tahu kenapa Mbak Kayra dan Ibu Sari membatalkan rencana itu dan memilih pergi ke Bandung secara diam-diam." Diah melaporkan apa yang dia dengar dari obrolan antara Kayra dan Ibu Sari yang sempat dia dengar.


" Kapan mereka akan meninggalkan tempat kontrakan mereka?" tanya Bondan.


" Setelah waktu Shubuh, Pak Bondan."


" Oke, terima kasih atas informasinya. Saya akan melaporkan hal ini kepada bos. Hubungi saya jika ada hal terbaru." Bondan memberi perintah kepada Diah untuk terus mengawasi Kayra dan Ibu Sari.


" Baik, Pak." Diah segera mengakhiri percakapannya via telepon dengan Bondan setelah menyahuti perkataan Bondan. Diah tidak ingin Kayra akan memergoki dirinya sedang membocorkan rencana Ibu Sari dan Kayra kabur ke Bandung.










Bersambung ,,,


Happy Reading

__ADS_1


__ADS_2