
Ting
Lift yang membawa Kayra dan Gita sampai di lantai sembilan di mana ruangan kerja mereka yang berada di depan ruangan Erlangga dan pintu lift pun terbuka.
" Kayra, Sayang ... kamu tidak apa-apa?" Saat pintu lift terbuka, Erlangga sudah menyambut di depan dan langsung memeluk Kayra. " Apa orang itu bertindak kasar terhadapmu?" Erlangga mengurai pelukannya, kini pria itu justru memperhatikan Kayra dari ujung rambut sampai ujung kaki, dari depan sampai belakang membuat Kayra bengong dengan sikap suaminya itu.
Tak hanya Kayra, Gita pun sama-sama bengong melihat sikap super posesif bosnya terhadap istrinya itu.
" Gita, lain kali kamu harus lebih hati-hati menjaga istri saya! Jika ada sesuatu yang mencurigakan cepat lapor ke Pak Koko!" Bahkan Erlangga langsung memberi perintah kepada Gita, meskipun hal itu sudah dilakukan Gita tanpa harus menunggu perintah dari Erlangga.
" B-baik, Pak." jawab Gita.
" Mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan kamu berkeliaran bebas. Aku tidak mau orang-orang suruhan Rivaldi itu berani menyentuhmu!" tegas Erlangga yang benar-benar merasa khawatir setelah mendapatkan informasi dari Koko soal orang suruhan Jimmy yang membuntuti istrinya itu.
Kayra menoleh ke arah Gita yang terlihat mengedikkan bahunya. Dia berhasil 'menyetir' Gita namun dia melupakan Koko. Semestinya Koko lah orang pertama yang dia minta tutup mulut dari suaminya itu.
" Apa apa ini, Pak?" Wira yang melihat kegaduhan di dekat ruangan kerjanya langsung ke luar ruangan dan mendapati Erlangga, Kayra dan Gita yang masih berdiri di depan lift.
" Orang suruhan dari Rivaldi mencoba mengawasi dan membuntuti Kayra, Pak Wira." Erlangga mengatakan apa yang membuatnya khawatir dan terlihat heboh sendiri.
" Rivaldi?" Terlihat guratan di kening Wira, sejujurnya dia pun sangat geram dengan aksi Rivaldi yang ternyata memata-matai perusahaan Mahadika selama ini.
" Benar, Pak Wira." sahut Erlangga.
" Dia menyuruh orang mengawasi Kayra karena dia masih mengejar Kayra atau dia sengaja mencari kelemahan Anda yang bisa dia jadikan kartu truf untuk menjatuhkan Anda, Pak?" Dua kemungkinan itu yang muncul di benak Wira mengetahui Rivaldi masih saja menyuruh anak buahnya untuk mencari informasi tentang Kayra.
" Sebaiknya kita bicara di ruangan saya saja, Pak Wira." Seraya merengkuh pundak Kayra, Erlangga menyuruh Wira masuk ke dalam ruangannya. " Kamu kembali ke mejamu, Gita!" Sementara Gita dia suruh kembali melanjutkan aktivitasnya.
" Aku di sini saja, Mas. Mas bicara saja berdua dengan Pak Wira." Merasa tidak ingin dipusingkan dengan masalah Rivaldi, Kayra memilih kembali ke mejanya bersama Gita.
" Ya sudah, kamu duduk saja, jangan banyak beraktivitas." Sebelum masuk ke dalam ruangannya untuk melanjutkan membahas soal aksi Rivaldi yang masih saja merecoki seputar kehidupannya, Erlangga membiarkan Kayra kembali ke meja kerja wanita itu bersama Gita.
Kayra mendelik saat melihat Gita terkekeh seraya menutup mulutnya mengingat rahasia yang harus dijaga dari Erlangga ternyata sudah diketahui oleh Erlangga.
" Besok-besok kalau main rahasia-rahasiaan, Pak Koko yang mesti ditatar dulu tuh, Mbak." Gita terkekeh meledek Kayra.
Kayra memutar bola matanya karena dia rasa Koko adalah orang yang susah untuk diajak kompromi untuk berbohong pada suaminya.
" Pak Koko itu tidak akan menurut sama saya, Mbak." ucap Kayra.
" Iya sudah, terima nasib saja, Mbak. Beginilah resiko jadi istri bos, hehe ..." Gita mengusap punggung Kayra meminta Kayra untuk bersabar.
Sedangkan di dalam ruangan Erlangga, pria itu mulai berbincang serius soal Rivaldi, mereka membicarakan kemungkinan informasi yang sudah didapat Rivaldi dari perusahaan Mahadika.
" Dia benar-benar seorang pengecut, ingin membangun perusahaan untuk menjadi besar dengan cara yang licik," geram Erlangga kesal.
" Anda harus berhati-hati, Pak Erlangga. Rivaldi ingin bersaing dengan Mahadika dan juga ternyata dia menyukai Kayra. Ini tidak bisa dianggap sepele, apalagi jika dia tahu jika Kayra adalah istri Anda, akan semakin membuat ambisinya untuk mengalahkan Anda semakin berlipat-lipat." Wira memperingatkan Erlangga agar lebih hati-hati dalam bertindak, karena jika Rivaldi sampai tahu wanita yang disukai pria itu ternyata istri simpanan Erlangga, bukan tidak mungkin Rivaldi akan memanfaatkan itu untuk menyerang Erlangga yang selama ini punya reputasi sebagai eksekutif muda yang mempunyai nama baik dan setia kepada istrinya yang seorang model ternama.
" Kalau bisa hindari kedekatan Anda dengan Kayra di depan umum yang akan menimbulkan gosip tak sedap, mungkin Anda sudah terbiasa menjadi sorotan publik, namun Kayra tidak. Jika sampai Rivaldi menyebarkan gosip itu ke permukaan, Kayra yang akan menerima imbas besar dalam hal ini, Pak. Apalagi Kayra saat ini sedang mengandung anak Anda, akan sangat berpengaruh kepada kandungan Kayra jika Rivaldi menyebarkan berita soal perselingkuhan Anda. Maaf, jika saya berkata seperti itu. Kayra yang akan dihujat jika publik tahu Anda menceraikan Ibu Caroline karena Anda sudah menikah dengan Kayra." Wira memang sangat perduli terhadap Kayra hingga dia tidak ingin sampai Kayra tertekan jika bom waktu itu meledak.
__ADS_1
Erlangga menarik nafas panjang, benar yang dikatakan Wira, untuk berita apapun, dia sudah tahan banting, namun Kayra tidaklah setangguh dirinya.
" Saya tidak akan tinggal diam jika Rivaldi sampai mengusik kehidupan Kayra!" desis Erlangga penuh amarah, membuat rahangnya mengeras dengan tangan mengepal.
" Kalau saya boleh memberikan saran sebaiknya Anda mengganti mobil yang biasa dipakai oleh Pak Koko untuk mengantar jemput Kayra, dan memindahkan Kayra dari tempat tinggalnya sekarang ini, agar tidak ada yang terus melacak Kayra." Wira menyarankan agar Erlangga mengganti mobil juga membelikan tempat tinggal yang baru untuk Kayra agar tidak ada lagi orang yang akan memantau Kayra, apalagi mobil yang selama ini dipakai Kayra sudah diketahui oleh Rivaldi.
" Iya, Anda benar, Pak Wira. Saya harus memikirkan ke arah sana." Erlangga sependapat dengan Wira. " Terima kasih untuk saran Anda." Erlangga sangat beruntung memiliki asisten dan orang kepercayaan yang bisa diandalkan bahkan untuk memecahkan permasalahan pribadinya sekalipun.
***
" Apa vitaminnya sudah diminum?" Erlangga yang baru masuk ke kamar menanyakan vitamin yang tadi diberi oleh dokter kandungan.
" Sudah siang tadi, Mas." Kayra menutup buka tentang Ibu dan anak yang dibeli oleh Diah atas permintaan Erlangga. Erlangga yang sangat berantusias ingin mempunyai keturunan sebenarnya menginginkan Kayra beristirahat dan bersantai di rumah, menonton televisi atau membaca majalah hingga dia menyuruh ART nya untuk membelikan beberapa majalah seputar ibu hamil untuk dibaca oleh Kayra.
" Ini su su hamilnya di minum dulu." Erlangga menyodorkan segelas su su untuk ibu hamil kepada Kayra.
" Terima kasih, Mas." Kayra mengambil gelas itu lalu meneguk su su hamil yang sudah disiapkan oleh sang suami. Setelah habis tak tersisa, Kayra mengembalikan gelas itu kepada Erlangga.
Erlangga menaruh gelas kosong itu di atas nakas lalu kini duduk menyandarkan punggungnya di headbord spring bed sementara tangannya merangkul ke pundak Kayra agar wanita itu bersandar di bahu kekar miliknya.
" Kayra, aku akan membawa kamu pergi dari sini," ujar Erlangga kemudian.
Kayra mendonggakkan kepalanya ke arah suaminya lalu bertanya, " Mas mau mengajakku bulan madu lagi?"
Suara kekehan Erlangga langsung terdengar menanggapi ucapan Kayra.
" Apa kamu ingin kita pergi bulan madu lagi?" Tangan Erlangga mengusap lembut kulit mulus istri cantiknya itu.
" Aku ingin kamu pindah dari rumah ini."
" Maksud, Mas?" Kayra mengeryitkan dahinya.
" Aku tidak ingin Rivaldi tahu keberadaanmu di sini, apalagi jika dia tahu kalau aku juga tinggal bersamamu di sini. Aku juga akan mengganti mobil yang biasa dibawa Pak Koko untuk menghilangkan jejak mobil yang sebelumnya, karena kamu sering kepergok menggunakan mobil itu oleh Rivaldi." Erlangga menjelaskan apa maksud ucapannya tadi.
Kayra mende sah, ternyata statusnya saat ini masih belum aman walaupun hubungannya dengan Erlangga sudah diketahui oleh Caroline. Banyak orang yang akan menghalangi kebahagiaannya termasuk dari Rivaldi, dan mungkin juga dari Mama suaminya. Apa yang dialami Kayra saat bertemu dengan Caroline ternyata bukan akhir dari segalanya, namun mungkin awal dari masalah-masalah yang akan menimpa dirinya kelak.
" Kamu jangan khawatirkan hal itu, Kayra. Aku tidak akan membiarkan mereka-mereka yang tidak suka dengan hubungan kita mengusik pernikahan kita." Melihat Kayra yang terlihat cemas memikirkan sesuatu, Erlangga mencoba menenangkan istrinya.
" Lalu kita akan tinggal di mana, Mas?" tanya Kayra kemudian.
" Aku sedang berusaha mencari tempat tinggal yang cukup aman untuk kita huni, kita akan tinggal di sana nanti bersama Ibumu juga. Aku akan menempatkan beberapa orang yang ahli beladiri untuk menjaga kamu saat kamu di rumah, termasuk Pak Koko dan anak buah Pak Bondan lainnya." Erlangga menyampaikan rencananya kepada Kayra, dia memang ingin agar Kayra dijaga sebaik mungkin.
" Ya ampun, Mas. Aku kok seperti putri raja saja sampai diperlakukan seperti itu!?" Mengetahui orang yang akan menjaganya berlapis-lapis, Kayra merasa dirinya ini seperti orang penting yang harus dijaga ketat.
" Kamu bukan putri raja, Sayang. Tapi kamu adalah ratu di hatiku." Erlangga memberikan sentuhan di bibir Kayra dengan lembut yang dibalas Kayra, membuat Erlangga semakin bersemangat melu mat bibir sang istri hingga beberapa saat sebelum akhirnya dia menghentikan penyatuan bibir mereka. Erlangga takut dia tidak dapat menahan has rat nya jika terus berpagutan dengan Kayra.
" Sebaiknya kamu istirahat, Kayra. Ibu hamil tidak boleh tidur terlalu malam." Erlangga menyuruh istrinya itu untuk segera tidur.
Kening Kayra berkerut karena Erlangga mengakhiri kein timan mereka. Sejak tahu dia hamil, Erlangga tidak pernah menyentuh bagian dalamnya lagi. Pria itu seperti menghindar jika merasakan sudah mulai terbakar gelora asmara, padahal Kayra sendiri sedang menginginkan sentuhan suaminya, sepertinya pengaruh kehamilannya membuat dirinya berga irah.
__ADS_1
" Mas sudah mau tidur?" tanya Kayra.
" Kenapa memangnya?"
" Tidak apa-apa," sahut Kayra, dia terlalu malu ingin bertanya kenapa Erlangga tidak pernah menyentuhnya satu Minggu ini, tepatnya sejak terakhir bercinta saat dia mengenakan gaun tidur menggoda yang dipilihkan Erlangga untuk dirinya. Padahal biasanya suaminya itu tidak pernah sampai seminggu tidak menyentuhnya.
" Ya sudah, ayo tidur ..." Erlangga membuka lengannya agar Kayra menjadikannya bantal untuk menyanggah kepala istrinya.
Kayra mende sah karena kecewa dan akhirnya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan kepala berada di lengan berotot Erlangga. Dia memejamkan mata sesaat seraya menghirup aroma maskulin yang kini menjadi aroma favoritnya, sementara tangannya memainkan kancing pakaian tidur yang dikenakan Erlangga. Perlahan tangannya mulai membuka kancing bagian atas pakaian tidur Erlangga hingga tangannya kini bisa menyelinap ke dada Erlangga dan memainkan rambut halus di dada suaminya itu.
Kayra tidak menyadari jika gerakan tangannya di dada Erlangga membuat suaminya itu sampai harus menelan salivanya. Mati-matian dia mencoba meredam gelora asmaranya namun tindakan sang istri justru seakan memancing ga irahnya.
Erlangga menggenggam tangan Kayra di dadanya lalu menurunkan tangan istrinya itu hingga kini melingkar di perutnya.
Merasa Erlangga menyingkirkan tangannya, Kayra langsung membuka matanya dan menatap sang suami dari samping dengan lekat.
" Kenapa, Mas?" Memberanikan diri untuk bertanya, Kayra ingin tahu alasan Erlangga menjauhkan tangannya dari dada suaminya.
" Apanya?" Erlangga balik bertanya.
" Kenapa tanganku tidak boleh memegang bulu di dada Mas?" keluh Kayra.
" Bukan tidak boleh, Sayang. Aku hanya takut tidak bisa mengendalikan has ratku untuk mengga ulimu." Erlangga menjelaskan kenapa memindahkan tangan Kayra ke perutnya.
" Memangnya kenapa? Mas tidak mau menyentuhku?" Terlihat merajuk bahkan kini Kayra memasang wajah sedih.
" Tidak mungkin aku tidak ingin menyentuhmu!" sanggah Erlangga dengan cepat. " Aku hanya takut jika kita berhubungan, itu akan menyakiti calon anak kita." Erlangga terlalu menjaga kehamilan istrinya hingga dia harus rela menahan keinginannya untuk bercinta. Untuk hal satu ini, Erlangga tidak ingin egois karena dia memang sangat menginginkan anak dari pernikahannya bersama Kayra. Sepertinya kehamilan Kayra dan keinginan mempunyai anak membuatnya ikut aktif mencari informasi seputar ibu hamil termasuk melakukan hubungan suami istri. Walaupun dia sempat menemukan artikel yang memberikan informasi jika diperbolehkan melakukan hubungan in tim suami istri asal dilakukan dengan aman, namun sepertinya Erlangga lebih menyayangi calon anaknya ketimbang harus memikirkan menyalurkan has rat bira hinya.
" Jadi Mas tidak mau sekarang ini?" Kayra mencebikkan bibirnya dan Erlangga merasakan perubahan ekspresi sang istri sejak dia menyudahi pagutannya tadi.
Erlangga mengulum senyuman, dia menduga jika istrinya saat ini sedang menginginkan penyatuan mereka.
" Apa kamu menginginkannya, Kayra?" tanya Erlangga menarik lembut dagu Kayra. Dan pertanyaan itu dijawab dengan gelengan kepala sang istri.
" Apa kamu yakin?" Erlangga melebarkan senyumannya karena saat ini wajah istrinya nampak merona.
Kayra kini menatap Erlangga, senyuman meledek Erlangga saat ini terasa menyebalkan baginya.
" Siapa juga yang kepingin?" Kayra justru memalingkan wajahnya membuat Erlangga terkekeh.
" Baiklah ... kita akan melakukannya tapi pelan-pelan saja, ya!? Kasihan adik bayi di perut kamu." Erlangga langsung menempatkan tubuhnya di atas Kayra, walaupun dia tetap menjaga agar tidak menyentuh perut sang istri. Erlangga mulai melakukan pemanasan sebelum bercinta dengan mengabsen bagian tubuh Kayra dari wajah, leher dan kedua bagian kembar milik Kayra. Setelah dia berhasil membuat Kayra berkali-kali mende sah dan menggelejang akhirnya dia memutuskan untuk melakukan prnyatuan walaupun dilakukan pelan-pelan dengan sangat hati-hati.
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1
Happy Reading❤️