MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Aktivitas Agnes


__ADS_3

Syamsul memarkirkan mobilnya di jalan seberang sebuah bangunan bercat warna grey dan berpagar minimalis berwarna hitam. Bangunan berlantai dua itu terlihat berpagar tinggi hingga tidak menampakkan aktivitas dari luar, jika tidak melihat plang yang terpasang di samping pagar bangunan itu.


" Benar ini tempatnya, Nyonya?" tanya Syamsul memperhatikan bangunan yang didapat Helen dari aplikasi penunjuk arah.


" Kalau dilihat plang namanya memang benar ini tempatnya. Coba kamu turun, tanyakan apa benar tempat ini bisa menyewa jasa untuk memata-matai orang?" Helen menyuruh Syamsul untuk turun dan mencari informasi lebih dahulu sebelum dia sendiri masuk ke dalam bangunan tersebut.


" Baik, Nyonya." Syamsul lalu turun dari mobil untuk menanyakan kebenaran soal lokasi tersebut, sementara Helen hanya menunggu saja di dalam mobil.


Setelah menunggu sekitar lima menit, Syamsul kembali lagi ke dalam mobil dan mengatakan jika memang tempat itu adalah kantor dari seorang Special Agent yang bisa disewa untuk menyelidiki sebuah kasus.


" Selamat siang, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" tanya security yang berjaga di pintu masuk kantor tersebut.


" Saya mau bertemu atasan kamu, dia ada?" tanya Helen kepada security.


" Apa Ibu sudah ada janji sebelumnya dengan Pak Rizal?" tanya security di kantor yang ternyata milik Rizal tersebut.


" Saya ingin menyewa jasa dari kantor ini, saya tidak tahu saya harus membuat janji dengan siapa karena saya juga baru tahu tempat ini!" Helen merasa kesal karena security itu tidak mempermudahnya masuk dan bertemu dengan pemilik kantor tersebut.


" Maaf, Ibu. Saya hanya menjalankan tugas.


Ini dengan Ibu siapa? Nanti saya sampaikan kepada kepada Pak Rizal." Security itu menjelaskan jika dia menjalankan tugas sesuai prosedur.


" Ada apa, Pak Bidin?" tanya seorang pria muda berwajah tampan yang keluar dari dalam ruangan kantor itu.


" Ibu ini ingin bertemu Pak Rizal, katanya ingin menyewa jasa dari sini, Mas Vito." Security bernama Abidin menjelaskan kepada Vito, yang merupakan kaki tangan Rizal tentang apa yang terjadi.


Vito memperhatikan penampilan dari Helen, dia yang terbiasa mendampingi Rizal bertemu dengan orang-orang kaya seperti Dirgantara Poetra Laksmana, David Richard dan juga Gavin Richard sudah dapat menebak jika Helen bukan wanita biasa, bahkan dari wangi parfumnya pun sudah terendus jika Helen pastilah termasuk ke dalam cirle wanita dari kalangan elit.


" Oh, mari silahkan masuk dulu, Nyonya." Vito mempersilahkan Helen masuk ke dalam kantor milik Rizal tersebut.


" Perkenalkan saya Vito, Nyonya. Saya anak buah Pak Rizal. Ada yang bisa kami bantu kepada Nyonya ... maaf dengan Nyonya siapa ini?" tanya Vito setelah dia mempersilahkan Helen menunggu di sofa tunggu.


" Saya Helen, saya ingin meminta bantuan dari sini untuk menyelidiki orang." Helen langsung mengatakan tujuannya datang ke tempat itu.


" Baik, Nyonya. Sebentar saya sampaikan ke Pak Rizal." Vito langsung melaporkan tentang kedatangan seorang klien yang berminat memakai jasa mereka.


Tak berapa lama, Vito pun kembali dan membawa Helen ke dalam ruangan Rizal.


" Selamat siang, Nyonya. Mari silahkan masuk ..." Rizal mempersilahkan Helen masuk ke dalam ruangannya.


" Tadi pegawai saya mengatakan jika Nyonya ingin minta bantuan kami untuk menyelidiki seseorang. Apa saya boleh tahu, apa tujuan Nyonya ingin menyelidiki orang tersebut? Maaf sebelumnya, Nyonya. Karena kami harus patuh pada peraturan, tidak akan menerima klien jika tujuannya itu untuk tindakan kriminal, jadi saya harus tahu dengan jelas tujuan Tante menyelidiki orang tersebut." Rizal memberitahukan cara kerjanya yang tetap patuh pada aturan yang berlaku dan menolak membantu tindakan kriminal.


" Tidak, saya tidak minta bantuan untuk melakukan kejahatan!" tepis Helen. " Saya hanya ingin anak buah Pak Rizal mengawasi seorang wanita bernama Agnes," lanjutnya kemudian.


" Agnes?" Rizal mengerutkan keningnya. " Siapa wanita itu dan apa yang ingin Anda ketahui tentang wanita itu, Nyonya?" tanya Rizal kemudian.


" Saya ingin tahu, apa Agnes itu seorang wanita yang suka menyewa pria untuk ... menemaninya bercinta atau tidak?!" Helen agak ragu mengatakan perihal kegemaran Agnes menyewa pria untuk menemaninya beraktivitas di atas ranjang.


Rizal menaikkan kedua alisnya saat mendengar permintaan Helen menyelidiki Agnes, untuk mengetahui hal yang membuatnya ingin tersenyum.


" Apa Nyonya tahu sebelumnya jika Agnes itu senang melakukan aktivitas seperti itu?" tanya Rizal kembali.


" Tidak, saya hanya mendengar saja ada orang yang mengatakan hal itu, karena itu saya ingin tahu kebenaran soal itu," sahut Helen.


" Apa boleh saya tahu hubungan antara Nyonya dengan wanita itu?" Rizal bertanya sesuai dengan pekerjaanya sebagai detektif yang menanyakan setiap pertanyaan secara mendetail.


" Hmmm, i-iya, dia anak teman saya." Sudah pasti Helen malu mengatakan jika Agnes adalah calon menantu yang ingin dia jodohkan dengan Erlangga.


" Baiklah, Nyonya. Nyonya bisa berikan alamat dan aktivitas dia sehari-hari?"


" Ah, iya, sebentar ..." Helen lalu mengeluarkan dompetnya karena dia menyimpan kartu nama Agnes, di mana terdapat alamat tempat usaha Agnes yang mempunyai sebuah fitness club'. " Ini alamatnya, dia yang mempunyai tempat kebugaran itu," lanjutnya setelah menyodorkan kartu nama milik Agnes.


" Baik, Nyonya. Kami akan membantu Nyonya menyelidik tentang wanita bernama Agnes itu." Rizal lalu bangkit untuk mengambil ponselnya dan menghubungi Vito.


" Vit, tolong buatkan perjanjian kerjasama kita dengan Nyonya Helen!" Rizal langsung memberi perintah kepada Vito.

__ADS_1


" Apa harus membuat kontrak kerjasama segala?" tanya Helen.


" Benar, Nyonya. Agar kami mempunyai data siapa-siapa saja klien yang kami tangani. Dan jika ada kesalahan kami dalam melaksanakan tugas, klien kami dapat mengajukan gugatan atau ganti rugi atas pekerjaan kami yang kurang memuaskan." Rizal menyebutkan aturan yang dia terapkan di tempat usahanya.


Berselang dua menit, Vito masuk ke dalam ruangan Rizal.


" Maaf, Nyonya. Apa saya bisa meminjam KTP Nyonya?" Vito meminta KTP milik Helen.


" Apa privacy saya akan terjaga aman di sini?" Helen sangat khawatir, tentu saja status dia sebagai seorang istri pengusaha kaya raya akan dipertaruhkan jika ketahuan publik menyewa pengacara untuk memata-matai seseorang.


" Tentu saja, Nyonya. Nyonya tidak perlu khawatirkan soal itu, privacy Anda di sini akan aman," Rizal meyakinkan agar Helen tidak merasa khawatir akan kebocoran rahasia privacy nya.


" Baiklah." Helen lalu mengeluarkan KTP nya dan menyerahkan kepada Vito.


" Berapa fee yang harus saya bayar?" tanya Helen, lalu Rizal menyebutkan berapa biaya yang mesti dikeluarkan oleh Helen untuk menyewa jasanya.


" Apa saya harus membayar sekarang?" tanya Helen kembali.


" Anda bisa membayar DP nya saja dulu, Nyonya. Sisanya jika pekerjaan telah selesai," ucap Rizal.


" Saya akan transfer semua sekarang, jadi saya minta Pak Rizal lebih cepat bergerak! Saya tidak ingin penyelidikan tentang Agnes itu berjalan lama." Helen mulai membuka aplikasi internet banking nya. " Berapa nomer rekeningnya?" tanya Helen kemudian, yang langsung dijawab oleh Rizal.


" Sudah saya transfer semua." Helen menunjukkan layar ponselnya kepada Rizal yang memperlihatkan bukti transfer ke rekening atas nama Rizal, sejumlah fee penuh atas pekerjaan yang akan dikerjakan oleh Rizal.


" Baik, Nyonya. Terima kasih atas kepercayaan Anda terhadap jasa kami. Nanti sekalian kami akan kami buatkan tanda terimanya."


Sementara itu di halaman parkir tempat usaha milik Rizal, mobil Bondan berhenti di sebelah mobil milik Helen. Saat keluar dari mobil, Bondan sempat memperhatikan mobil yang dia ingat adalah milik Helen. Tentu saja dia ingat, karena baru kemarin, dia mengantar Helen ke mobilnya setelah peristiwa di restoran.


" Ada apa Nyonya Helen datang kemari?" Kening Bondan berkerut, merasa aneh melihat mobil milik dari orang tua bosnya.


" Siang, Pak Bondan." Sapa security saat Bondan menghampiri bangunan kantor Rizal.


" Siang, Pak Bidin. Apa Rizal ada di tempat?" tanya Bidan kemudian.


" Ada, Pak. Silahkan ..." Security mempersilahkan Bondan masuk ke dalam.


" Halo, Pak Bondan. Apa kabar?" Vito yang baru kembali dari ruangan Rizal langsung menyapa Bondan.


" Hai, Vit. Rizal ada?" tanya Bondan kepada Vito.


" Ada, tapi Pak Rizal sedang ada tamu, Silahkan duduk dulu, Pak Bondan." Vito mempersilahkan Bondan untuk duduk menunggu Rizal selesai menerima tamunya.


" Oke, Vit." Bondan pun duduk menunggu Rizal selesai dengan tamunya.


" Oh ya, Vit. Yang pakai mobil warna silver itu, apa tamu yang sekarang ini bersama Rizal?" Bondan merasa penasaran dengan mobil yang dipakai Helen itu.


" Sepertinya memang iya, Pak. Kenapa, Pak? Apa Bapak kenal dengan yang punya mobil itu?" Vito heran karena Bondan menanyakan soal mobil mewah yang terparkir di pekarangan kantor Rizal.


" Sepertinya begitu ... apa tamu Rizal itu seorang wanita paruh baya?" Jiwa penyelidik tidak bisa lepas dari pembawaan Bondan, hingga dia ingin tahu lebih lanjut soal tamu yang saat ini berada di ruangan Rizal.


" Iya, benar, Pak." sahut Vito kembali.


" Apa namanya Nyonya Helen Mahadika Gautama?"


" Namanya memang Nyonya Helen, tapi nama panjangnya bukan itu, Pak Bondan." tepis Vito.


" Oh, iya. Itu nama suaminya." Bondan terlupa karena dia sendiri tidak tahu mama lengkap Helen.


" Pak Bondan kenal Nyonya Helen?" tanya Vito heran.


" Iya, karena beliau adalah orang tua dari bos saya, Vit."


" Serius, Pak Bondan?" Vito tercengang mendengar Bondan mengatakan jika Helen adalah orang tua dari bos Bondan.


" Iya, Vit. Makanya saya heran beliau ada di sini." sahut Bondan.

__ADS_1


" Saya ingin hasil secepatnya, Pak Rizal. Jadi tolong bekerja dengan cepat." Suara Helen yang sedang berjalan menuruni anak tangga terdengar, membuat Bondan dan Vito yang sedang berbincang menolehkan pandangan ke arah tangga.


Bondan yang mendapati kemunculan Helen di hadapannya segera bangkit dan menyapa Helen, karena Helen adalah orang tua dari bosnya.


" Selamat siang, Nyonya."


Melihat keberadaan Bondan di kantor Rizal membuat Helen terperanjat, Sudah tentu Helen tidak ingin aksinya menyewa orang untuk membuntuti Agnes diketahui orang, apalagi orang itu adalah suami dan juga anaknya, karena dia pasti akan malu terhadap kedua pria itu.


" Kamu? Sedang apa kamu di sini? Apa kamu mengikuti saya? Apa Erlangga menyuruh kamu mengawasi saja?!" Helen langsung melancarkan tuduhan kepada Bondan.


" Tidak, Nyonya. Tuan Erlangga tidak menyuruh saya untuk mengikuti Anda. Saya kemari karena saya ingin bertemu dengan Rizal, dia itu teman saya, Nyonya." Bondan dengan cepat menyangkal tudingan Helen, agar Helen tidak menjadi salah paham.


" Kau kenal dengan Nyonya Helen, Dan?" Terkejut saat mngetahui jika Helen dan Bondan saling mengenal satu sama lain, Rizal kemudian bertanya.


" Iya, Zal. Nyonya Helen ini adalah orang tua dari Tuan Erlangga." Bondan menjelaskan bagaimana dia bisa mengenal Helen.


" Benarkah?" Rizal semakin terkejut mendapati kenyataan jika Helen adalah orang tua Erlangga.


" Pak Rizal, apa kerahasiaan klien Anda masih tetap terjaga aman?" Helen takut, karena Rizal dan Bondan berteman, maka Rizal akan membocorkan apa yang ditugaskannya kepada Rizal.


" Tentu saja, Nyonya. Saya menjamin itu." jawab Rizal.


" Baiklah, tolong jangan mengecewakan saya. Saya permisi sekarang." Setelah berpamitan, Helen pun berjalan ke luar dari kantor Rizal.


" Ada apa Nyonya Helen kemari, Zal?" Pastinya Bondan merasa penasaran dengan maksud Helen datang ke kantor Rizal.


" Kau dengar tadi, Dan? Aku harus menjaga privacy klienku." Rizal terkekeh menjawab pertanyaan dari Bondan.


" Si alan, kau!" Bondan ikut terkekeh.


" Ayo, ke ruanganku!" Rizal menepuk pundak Bondan, lalu mereka berdua pun beranjak menuju ruangan Rizal.


" Jadi kau tidak akan mengatakan kenapa Nyonya Helen datang ke kantormu ini, Zal?" Bondan semakin penasaran dengan kedatangan Helen.


" Si al, ini adalah posisi sulit. Di saat aku harus mempertahankan reputasiku sebagai Special Agent yang dapat dipercaya dan menjaga privacy klienku, di saat yang bersamaan aku menghadapi sahabatku." Rizal mendengus.


" Baiklah, untuk kali ini aku mengingkari janjiku, itupun karena melihatmu dan juga Tuan Erlangga." Akhirnya Rizal menyerah dan berniat mengatakan kepada Bondan kenapa Helen datang menemuinya.


" Kau bisa percaya padaku, Zal. Aku tidak akan mengatakan hal ini kepada siapapun, terkecuali bosku, hehehe ..." Bondan terkekeh, tentu saja keingintahuannya itu untuk dia laporkan kepada Erlangga.


" Lagipula aku pun harus melindungi Nyonya Helen, jangan sampai beliau terlibat masalah, Zal." Bondan kini menepuk pundak Rizal.


" Oke, oke, duduklah dulu ..." Setelah sampai di ruangannya, Rizal mempersilahkan Bondan duduk terlebih dahulu.


" Nyonya Helen memintaku untuk menyelidiki seorang wanita bernama Agnes." Rizal mengatakan dengan sejujurnya permintaan Helen.


" Agnes? Kenapa Nyonya Helen ingin kamu menyelidiki Agnes? Apa dia masih belum yakin dengan kelicikan wanita itu?" Mengetahui jika Helen masih berusaha menyelidiki Agnes padahal Agnes sudah berkata kasar terhadap Helen membuat Bondan merasa aneh.


" Kau mengenal Agnes juga, Dan?"


" Agnes adalah wanita licik yang ingin memisahkan Tuan Erlangga dan Nyonya Kayra. Nyonya Helen dan Agnes itu awalnya bersekutu, namun sepertinya persekutuan mereka akan berakhir karena perbuatan Agnes yang memalukan menyebarkan fitnah terhadap Nyonya Kayra, bahkan Agnes itu sampai berkata kasar terhadap Nyonya Helen. Yang aku heran, untuk apa Nyonya Helen mengawasi Agnes? Apa dia masih kurang yakin dengan kejahatan Agnes?" Bondan masih tidak mengerti untuk apa Helen menyewa orang untuk menyelidiki Agnes.


" Apa kau tahu jika Agnes itu senang menyewa pria untuk bercinta?"


" Maksudmu?"


" Menurut Nyonya Helen, ada orang yang mengatakan jika Agnes sering menyewa pria-pria untuk menemaninya bercinta di atas ranjang."


Informasi yang disampaikan Rizal sontak membuat Bondan terbelalak, selama anak buahnya mengawasi Agnes, dia bahkan tidak pernah mendapatkan informasi dari anak buahnya soal aktivitas Agnes yang satu ini.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung


Happy Reading ❤️


__ADS_2