
Erlangga membawa pulang Kayra dari kantor sebelum jam empat sore, karena malam hari nanti mereka akan datang ke rumah orang tua Erlangga.
Selepas Maghrib mereka berangkat menuju rumah kediaman Krisna dan Helen. Sudah dapat dipastikan jantung Kayra berdetak kencang karena harus bertemu kembali dengan Mama mertuanya itu. Karena dalam pertemuan terakhir mereka, Helen yang mengetahui jika Kayra kini sudah menjadi istri sah Erlangga nampak murka bahkan hampir menamparnya.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah Krisna pun Kayra terlihat hanya diam tak berkata sepatah katapun. Hal itu sudah pasti tertangkap oleh mata Erlangga. Erlangga langsung menggenggam tangan Kayra yang terasa sangat dingin.
" Masih cemas karena mau bertemu Mama?" tanya Erlangga membuat Kayra menoleh ke arahnya.
" Iya, Mas." Karya tidak bisa membohongi suaminya jika dia hatinya memang tidak tenang.
" Tidak usah takut, ada aku, Sayang." Erlangga merangkul pundak Kayra dan membiarkan Kayra bersandar di bahunya sementara Koko yang membawa mobil yang mengantar mereka ke rumah keluarga Krisna terus melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Lima belas menit kemudian, mobil yang dibawa Koko telah sampai di pekarangan luas rumah bak istana milik keluarga Krisna Mahadika Gautama tersebut.
Erlangga membantu Kayra turun dari mobil dengan mengulurkan tangannya. Dia pun berjalan dengan melingkarkan tangan di pinggang Kayra menuju bangunan rumah orang tuanya.
" Assalamualaikum ..." Kayra dan Erlangga mengucap salam saat mereka masuk ke dalam rumah.
" Waalaikumsalam, Den." Bi Inah yang tadi membukakan pintu menyambut dan membalas ucapan salam yang diucapkan oleh Elangga dan juga Kayra. ART yang sudah cukup lama bekerja di rumah keluarga Krisna itu terlihat sedikit terkejut dengan ucapan salam yang tadi diucapkan Erlangga, tidak biasanya anak bosnya itu memberi salam seperti itu. Namun, hal yang membuatnya lebih terkejut adalah kehadiran Kayra yang saat ini terlihat lebih in tim karena Erlangga memeluk pinggang Kayra.
Seperti kedua ART yang bertugas memasak, Inah pun sudah diberitahu oleh Krisna akan kedatangan Erlangga juga istrinya, namun yang saya heran, kenapa bukan Caroline yang datang bersama Erlangga.
" Selamat malam, Bu." Merasa dirinya diperhatikan dengan tatapan mata heran, Kayra menyapa ART di rumah mertuanya itu.
" Selamat malam, Non." Bi Inah menjawab sapaan Kayra.
" Bi Inah, sekarang ini Kayra sudah menjadi istri saya, jadi tolong perlakukan Kayra seperti layaknya menantu di rumah ini." Erlangga memperkenalkan Kayra kepada Bi Inah.
Bi Inah terlihat terkejut saat Erlangga memperkenalkan Kayra sebagai istrinya, karena selama ini dia tahu jika istri Erlangga adalah Caroline.
" Aku sudah bercerai dengan Caroline, Bi. Sekarang ini istri aku adalah Kayra." Melihat ART nya terkejut dengan peryataannya, Erlangga langsung menjelaskan status pernikahannya dengan Caroline yang kini sudah berakhir
" Oh, baik, Den." Tidak tahu harus berkomentar apa atas berita yang dianggapnya mengejutkan, Bi Inah hanya menjawab dengan kalimat singkat mengiyakan.
" Papa di mana, Bi?" tanya Erlangga kemudian.
" Tuan sedang di ruang keluarga, Den." sahut Bi Inah kembali.
" Oh, ya sudah. Ayo, kita temui Papa, Sayang." Erlangga kini merubah posisi tangannya memeluk pundak Kayra lalu mengajak istrinya itu untuk menemui Krisna di ruang keluarga.
Sementara Bi Inah memperhatikan anak dan menantu majikannya masih dengan tatapan heran. Dia tidak menyangka jika sekarang ini Erlangga sudah berganti istri, dan istri anak majikannya itu adalah wanita yang pernah dibawa Erlangga ke rumah itu beberapa waktu lalu.
***
__ADS_1
" Assalamualaikum, Pa." Erlangga dan Kayra menyapa Krisna yang sedang menonton televisi di ruangan keluarga. Meraka pun bergantian mencium punggung tangan Krisna.
" Waalaikumsalam, kalian sudah sampai?" Krisna membalas sapaan anak dan menantunya.
" Iya, Pa. Maaf agak telat." sahut Erlangga kemudian duduk di sofa berdampingan dengan Kayra. " Mama mana, Pa?" tanya Erlangga kemudian.
" Mamamu ada di kamar," sahut Krisna.
" Apa Mama sengaja bersembunyi di kamar untuk menghindari kami, Pa?" Erlangga menduga jika Helen sengaja menghindari bertemu muka dengan Kayra dan dirinya.
" Kamu tahu sendiri bagaimana Mamamu itu, Lang." Krisna lalu bangkit dari duduknya. " Sebentar Papa panggilkan Mamamu dulu." Krisna berniat memanggil istrinya untuk bergabung makan malam bersama.
" Kalau Mama tidak ingin ikut makan malam bersama kami, tidak sudah dipaksakan, Pa. Biarkan saja ..." Erlangga tidak ingin Papanya memaksa Mamanya untuk ikut bergabung makan malam bersama. Baginya, mungkin ketidakhadiran Helen di meja makan akan membuat suasana makan malam mereka lebih tenang.
" Jangan seperti itu, Lang. Bagaimanapun Mamamu itu harus bisa menerima kalian berdua di rumah ini. Kalian ke meja makan saja dulu, nanti Papa menyusul ke sana." Krisna menyuruh Erlangga dan Kayra untuk pergi ke ruang makan lebih dahulu, sementara dia sendiri meninggalkan ruangan keluarga untuk mengajak istrinya bergabung dengan anak dan menantu mereka.
Sementara di dalam kamarnya, Helen sedang melakukan percakapan telepon dengan Agnes. Helen memang bertekad tidak ingin bergabung bersama suami dan anaknya di meja makan karena kehadiran Kayra di rumahnya.
" Tante, aku mau ke sana, deh." Setelah mendengar cerita Helen soal rencana Krisna yang mengundang Kayra, tentu saja Agnes ingin sekali bergabung dalam acara makan malam keluarga Krisna tersebut meskipun kehadirannya tidak dikehendaki oleh Krisna.
" Tante juga ingin sekali kamu ada di sini, Nes. Daripada melihat wajah perempuan kampung itu, mending tante Tante di kamar saja berbicara dengan kamu, Nes." ujar Helen..
" Kenapa Om melarang aku ke sana sih, Tan?" Agnes merasa kecewa saat Helen mengatakan Krisna melarangnya datang untuk ikut makan malam bersama di rumah Krisna.
" Ma, Erlangga dan Kayra sudah datang, ayo kita makan malam sekarang!"
Suara Krisna dari arah pintu membuat Helen yang sedang menelepon Agnes terkesiap.
" Nes, sudah dulu ya, ada Om." Helen buru-buru menutup panggilan teleponnya dengan Agnes tanpa menunggu jawaban dari Agnes.
" Papa saja yang makan, Mama tidak mau!" Helen seperti anak kecil yang merajuk, dia lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur, tak mempedulikan permintaan suaminya yang mengajaknya bergabung menikmati makan malam bersama.
" Ma, jangan seperti anak kecil! Kita ini sudah tua, malu pada menantu kita kalau sikap Mama seperti ini." Krisna menasehati Helen agar bersikap lebih dewasa sesuai dengan umur mereka yang seharusnya bisa bersikap lebih bijaksana.
" Daripada Mama emosi mending Mama di sini saja!" Helen tetap tidak ingin keluar dari kamarnya.
Krisna berjalan mendekat ke tempat tidur lalu duduk di tepinya.
" Ma, sampai kapan Mama akan berkeras hati seperti ini terus? Apa Mama tidak ingin hidup bahagia? Hidup akur dan tentram bersama anak, menantu dan cucu Mama? Memaksakan keinginan Mama untuk menjodohkan Erlangga dengan Agnes, sama saja membuat Erlangga hancur, Ma." Krisna menyampaikan pandangannya.
Helen langsung mendelik saat suaminya mengatakan pilihannya adalah pilihan yang keliru, bahkan akan membawa dampa buruk kepada Erlangga.
" Papa jangan sembarang bicara, ya! Tidak mungkin Erlangga akan hancur jika menikah dengan Agnes! Agnes itu wanita baik dan wanita yang paling tepat mendampingi Erlangga." Helen kesal karena Krisna seakan merendahkan Agnes.
__ADS_1
" Jika Erlangga bersama Agnes, mungkin rumah tangga mereka akan lebih parah dibandingkan rumah tangga Erlangga dengan Caroline, Ma." Krisna kembali memberikan tanggapannya.
" Caroline yang jelas-jelas pilihan Erlangga dan wanita yang dicintai Erlangga saja tidak bisa membuat rumah tangga mereka berada dalam kedamaian apalagi dengan wanita yang jelas-jelas tidak dicintai Erlangga." Krisna berpikir realistis.
" Kalau Mama sayang terhadap Erlangga, biarkan Erlangga bahagia dengan rumah tangganya saat ini. Erlangga sudah sangat bahagia dengan pernikahannya bersama Kayra, Ma. Apalagi mereka akan mempunyai anak, sebaiknya kita tidak usah mengusik lagi." Krisna ingin agar istrinya bisa berdamai dengan kekerasan hatinya dan bisa menerima Kayra sebagai menantu mereka.
" Apa Mama tidak ingin menggendong cucu? Apa Mama tidak ingin membawa cucu Mama saat Mama hadir di acara-acara keluarga?" Krisna terus saja menasehati istrinya agar dapat merubah pandangannya soal Kayra.
Helen terdiam, tentu saja dia menginginkan hal tersebut. Dia pun tentu ingin dipanggil dengan panggilan Nenek oleh cucu-cucunya kelak, tapi dia tidak menginginkan mendapatkan cucu dari Kayra, karena Kayra bukanlah menantu yang diinginkan olehnya.
***
Kayra beberapa kali melirik ke arah pintu ruangan makan, dia dilanda harap-harap cemas, apakah Mama mertuanya itu akan ikut makan malam bersama mereka atau tidak.
Jantung Kayra seketika berdebar kencang saat dia melihat kehadiran Helen yang berjalan di belakang Krisna dengan wajah memberengut, sama sekali tidak menampakkan wajah bersahabat, berbanding terbalik dengan wajah Krisna yang terlihat tenang.
Kayra sebenarnya ingin bangkit dan menyalami Mama mertuanya, namun dia ragu melakukannya. Untung saja Erlangga langsung melakukan apa yang ada di dalam pikiran Kayra. Erlangga terlihat bangkit, mendekat lalu mencium punggung tangan Helen dan juga mengecup pipi Helen.
Tindakan Erlangga tadi sontak membuat Helen terkesiap. Sudah lama sekali rasanya Erlangga tidak mencium pipinya, ditambah mencium punggung tangannya. Mungkin sejak bersitegang karena Erlangga memilih menikah dengan Caroline, hubungan Helen dengan Erlangga merenggang, karena Helen tidak bisa menerima kehadiran Caroline sebagai menantunya, dan kejadian itu kini terulang kembali kepada Kayra.
Melihat suaminya mencium punggung tangan Helen, Kayra pun ingin melakukan hal yang sama, dia bangkit dan mengulurkan tangan ingin menyalami Helen, namun Helen sudah lebih dulu menarik tangannya, seakan enggan tangannya disentuh oleh Helen.
Erlangga segera mengusap punggung Kayra saat melihat Mamanya menolak bersalaman dengan istrinya itu, dia pun menyuruh Kayra untuk duduk kembali.
" Kamu masak menu apa, Idah?" tanya Krisna kepada Idah yang sudah menyiapkan makanan di meja. Untung saja para ART yang memasak tidak mengikuti perintah Helen untuk berhenti memasak, kalau mereka mengikuti apa yang diperintah istri Tuannya itu, sudah pasti mereka akan kena tegur Krisna.
" Masak salmon teriyaki, tumis buncis udang, ayam goreng lengkuas, Tuan." Idah menyebutkan beberapa menu masakan, karena Krisna memang menyuruh memasak beberapa menu sebagai pilihan.
" Kamu makan sayuran dan salmonnya, Kayra. Itu bagus untuk Ibu hamil." Krisna menyuruh Kayra memilih makanan yang banyak mengandung gizi untuk kandungan menantunya itu
" Iya, Pa." sahut Kayra seraya mengambilkan piring milik Erlangga dan mengambil makanan untuk suaminya terlebih dahulu, sebelum mengambilkan nasi dan lauk untuknya.
Sudut mata Helen memperhatikan apa yang dilakukan oleh Kayra terhadap Erlangga, tentu saja hal seperti itu jarang sekali dia lihat saat Erlangga datang makan malam bersama Caroline di rumahnya.
*
*
*
Bersambung ....
Happy reading ❤️
__ADS_1