
Rivaldi berdiri di depan pintu apartemen yang dia ketahui milik Grace. Dia memang mengurungkan niatnya menghubungi Grace via telepon siang tadi. Karena dia berniat menemui Grace langsung di apartemen milik wanita itu. Karena dia juga merasa khawatir saat Rizal mengatakan Grace seperti menghilang ditelan bumi, sehingga membuatnya saat ini berada di depan pintu apartemen di lantai lima itu.
Agak ragu Rivaldi menekan bel di dekat pintu apartemen milik Grace. Antara ingin menekan atau tidak. Namun, akhirnya dia memang menekan bel, berharap agar Grace segera membukakan pintunya.
Entah berapa kali Rivaldi menekan bel apartemen Grace. Nyatanya, sudah hampir sepuluh menit menunggu, pintu apartemen Grace tidak juga dibuka.
Rivaldi mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Grace. Namun, hanya jawaban dari operator yang terdengar menyebutkan jika nomer yang dia hubungi tidak aktif atau berada di luar service area.
Rivaldi menghempas nafas kasar menatap pintu apartemen Grace yang masih saja tertutup, hingga akhirnya dia berniat meninggalkan apartemen milik Grace tersebut.
Rivaldi berjalan ke arah lift dan berhenti di depan lift yang akan membawa dia turun ke basement, di mana dia memarkirkan mobilnya.
Ting
Tak lama waktu yang dibutuhkan Rivaldi untuk menunggu lift itu sampai di tempatnya, dan saat pintu lift pun terbuka, Rivaldi terkesiap mendapati Grace yang hendak keluar dari dalam lift dengan wajah terlihat lebam di dekat tulang pipi bagian kirinya.
" Rena? Kamu kenapa?" tanya Rivaldi melihat wajah Rena seperti terkena benturan keras.
" Kamu?" Grace pun memperlihatkan keterkejutannya melihat Rivaldi di depan lift.
" Wajah kamu kenapa, Rena?" Rivaldi menanyakan apa yang terjadi dengan wajah Grace.
" T-tidak apa-apa ..." Garce langsung berjalan cepat meninggalkan Rivaldi.
" Rena tunggu!!" Rivaldi menghalangi langkah Grace dengan menahan lengan Grace, karena dia merasa penasaran kenapa wajah Grace bisa memar seperti itu.
" Aaakkkhhh ...!!" Grace memekik saat Rivaldi memegang lengannya. Hingga membuat Rivaldi melepaskan lengan wanita itu. Dan Grace memegangi lengannya yang tadi disentuh oleh Rivaldi.
" Sorry, Rena. Kamu kenapa? Kenapa wajah dan tangan kamu?" Melihat Grace merintih dan memegangi lengannya, Rivaldi menduga ada memar juga di lengan Grace, walaupun tertutup hoddie yang dipakai oleh Grace.
" Aku sudah bilang, aku tidak apa-apa!" Grace tidak ingin mengatakan kepada Rivaldi soal apa yang menyebabkan lebam di wajahnya. Grace bahkan kembali meninggalkan Rivaldi dengan berlari ke arah apartemennya.
" Rena ...!!" Rivaldi pun menyusul Grace. Karena dia merasa penasaran dengan penyebab memar yang dialami Grace, hingga banyak lebam di tubuh Grace. " Rena, Pak Firman siang tadi ke kantorku. Dia bilang kamu sukar untuk dihubungi, dan sekarang wajah dan tubuhmu banyak memar begini. Apa yang sebenarnya terjadi, Rena? Siapa yang melakukan ini kepadamu?" Rivaldi berharap Grace jujur kepadanya dengan menceritakan siapa yang sudah berbuat kasar terhadap Grace.
" Kamu tidak usah ikut campur urusanku, Aldi! Siapapun yang melakukan ini terhadapku, itu bukan urusanmu! Sebaiknya kamu pergi saja dari sini!" usir Grace setelah dia berhasil membuka pintu apartemennya.
" Tidak bisa, Rena! Kalau ada yang melakukan kekerasan terhadapmu, setidaknya aku bisa beritahu Pak Firman agar dia bisa memberitahu Papamu." Rivaldi tidak ingin tinggal diam, karena dia merasa ada orang yang melakukan kekerasan fisik terhadap Grace.
" Aku tidak ingin Papaku tahu! Jadi pergilah dari sini!!" Grace bergegas masuk dan menutup pintu apartemen. Namun, tangan Rivaldi menahan agar pintu apartemen Grace tidak tertutup.
" Rena, biarkan aku masuk. Setidaknya kamu ceritakan kenapa kamu bisa mengalami luka-luka itu? Siapa yang bersikap kasar terhadapmu, Rena?" Rivaldi terus menahan daun pintu apartemen Grace dengan tangannya.
" Hiks ... pergilah, Aldi! Biarkan aku sendiri ..." Grace terdengar terisak. Wanita itu benar-benar memerankan aktingnya dengan sangat baik.
Rivaldi tertegun mendapati Grace yang terisak. Dia merasakan ada masalah yang dihadapi oleh Grace. Namun, Grace tidak ingin menceritakan kepadanya juga orang tua Grace sendiri.
" Rena, ijinkan aku masuk. Kau bisa cerita padaku tentang masalahmu, Rena." Rivaldi berusaha membujuk Grace agar diperbolehkan masuk oleh wanita itu.
" Aku ingin sendiri, tolong pergilah ...!" Grace masih menangis, dan memohon agar Rivaldi pergi meninggalkannya.
" Baiklah, tapi nanti aku akan kembali ke sini jika kamu sudah tenang." Rivaldi menjauhkan tangannya dari pintu apartemen Grace.
Brraakk
Tak ada jawaban dari Grace, hanya suara pintu yang tertutup dengan kasar yang terdengar, membuat Rivaldi seolah tersetak kaget dan akhirnya terpaku di depan pintu.
Dia menghela nafas panjang. Sejujurnya dia ingin tahu apa yang dialami oleh Grace. Dia merasa kasihan melihat memar di wajah dan lengan Grace. Jika diamati, Grace yang menghilang dan seolah tidak ingin didekati, dia merasa luka yang didapat Grace bukan berasal dari kecelakaan atau menabrak sesuatu benda keras. Tapi, Rivaldi merasa luka yang dialami Grace karena wanita itu mendapatkan perlakuan kasar dari seseorang. Namun, Rivaldi tidak tahu siapa yang melakukan hal itu terhadap Grace. Apalagi Grace sendiri tertutup dan tidak ingin apa yang dialaminya diketahui orang termasuk orang tuanya sendiri.
Walau dengan langkah berat, akhirnya Rivaldi melangkah meninggalkan apartemen Grace. Beberapa kali dia menolehkan pandangan ke arah apartemen Grace, berharap Grace berubah pikiran dan membukakan pintu untuknya, sehingga dia bisa tahu permasalahan yang sedang dihadapi oleh wanita itu. Namun, sampai pintu lift yang akan akan membawa dirinya turun ke basement, Grace tidak juga keluar dari apartemennya.
***
" Mas, apa Agnes tahu rumah ini?" tanya Kayra saat dia hendak memejamkan matanya setelah mereka berdua pulang dari rumah Krisna.
__ADS_1
" Tidak, dia tidak tahu soal rumah ini. Kenapa memangnya?" tanya Erlangga menanggapi pertanyaan sang istri.
" Kalau Agnes tidak tahu rumah ini, apa sebaiknya Mama tinggal di sini untuk sementara waktu, Mas?" Kayra menolehkan pandangan ke arah suaminya. Dia mengusulkan agar Mama Mertuanya sementara tinggal di rumah keluarga Krisna yang kini ditempati Kayra dan juga Erlangga.
" Tidak, Sayang. Aku masih belum berani membiarkan kamu dan Mama tinggal dalam satu atap." Meskipun Erlangga ingin melihat Mama dan juga istrinya itu akur layaknya mertua dan menantu yang harmonis, tapi dia masih ragu jika istri dan Mamanya tinggal di tempat yang sama.
" Kenapa memangnya, Mas? Bukankah itu lebih baik daripada Mama merasa ketakutan di sana? Bukankah Mas juga ingin aku lebih akrab dengan Mama? Siapa tahu kalau Mama tinggal di sini, Mama lambat laun bisa menerima aku, Mas. Nanti biar Mama memakai kamar yang dipakai Ibu. Ibu yang pindah ke kamar tamu." Kayra menyarankan agar suaminya itu setuju Helen dibawa ke tempat tinggal mereka.
" Aku masih belum yakin Mama tidak akan mengganggumu, Kayra." Erlangga mengungkap alasannya kurang setuju dengan permintaan Kayra, karena dia takut Mamanya akan kembali ke tabiat lamanya.
" Jangan berburuk sangka terhadap orang tua sendiri, Mas. Mama 'kan sudah melihat bagaimana sebenarnya Agnes. Aku yakin Mama pasti sudah bisa terbuka mata hatinya, Mas." Kayra tidak ingin Erlangga berpikiran buruk terhadap Mamanya.
" Aku bukannya berburuk sangka, Sayang. Aku hanya mengatisipasi saja. Lagipula, Mama tindak mungkin meninggalkan Papa sendirian di sana, kan?" Erlangga mempertimbangkan bagaimana dengan Papanya jika Mamanya harus dibawa ke tempat mereka
" Kalau begitu Papa diajak tinggal di sini saja sampai keadaannya kondusif, Mas. Bagaimana?" Kayra kembali mengajukan saran untuk membawa kedua mertuanya itu pindah sementara waktu di tempat tinggal mereka. Lagipula, rumah yang mereka tempati itu milik orang tua Erlangga juga.
" Sayang, tidak semudah itu kita bisa mengajak Papa dan Mama untuk tinggal di sini. Papa sama Mama juga belum tentu mau kembali kemari. Apalagi rumah ini akan mengingatkan Mama akan bayinya." Erlangga memberi pengertian Kayra agar Kayra tidak memaksakan keinginannya membawa Krisna dan Helen tinggal bersama mereka.
" Tapi, tidak ada salahnya dicoba dulu 'kan, Mas? Siapa tahu dengan kondisi seperti ini Mama akan berubah pikiran. Jika orang merasa ketakutan, yang ada ingin lari dari tempatnya untuk bisa menyelamatkan diri," ujar Kayra berpendapat.
" Seperti saat kamu melarikan diri dariku ketika ingin aku nikahi?" Tiba-tiba Erlangga mengingatkan akan kejadian Kayra yang ingin kabur bersama ibunya ketika Erlangga berniat memperistri Kayra.
" Iiihh, tidak usah mengingatkan soal hal itu dong, Mas." Kayra mencubit pinggang Erlangga saat suaminya itu menyinggung soal kenekatannya kabur, tetapi diketahui oleh Erlangga.
" Kamu pasti menyesal jika kamu berhasil kabur, Sayang." Erlangga terkekeh menggoda Kayra.
" Sudah tidak usah dibahas lagi, Mas." Kayra menutup telinganya, karena tidak ingin mendengarkan sang suami terus menerus meledeknya.
" Ya sudah, kita tidur saja. Aku rasanya lelah sekali ..." Erlangga merentangkan tangannya untuk merengangkan otot-ototnya.
Kayra langsung meletakkan kepalanya di bahu Erlangga dan melingkarkan tangannya memeluk dada bidang sang suami saat Erlangga mengajaknya untuk beristirahat.
" Sayang, sepertinya aku belum dapat jatah menengok adik bayi Minggu ini," ucap Erlangga melirik istrinya.
" Apa adik bayi tidak kangen sama Papanya?" Erlangga menyeringai seraya mengusap perut Kayra.
Kayra tahu apa maksud dari suaminya berbicara seperti itu, apalagi tangan sang suami sudah mulai menyusup ke pakaian tidur yang dia pakai.
" Mas, tadi 'kan Mas bilang capek ..." Kayra mengingatkan Erlangga soal keluhan sang suami yang mengatakan lelah.
" Sepertinya untuk menengok dedek bayi di perutmu ini, aku masih menyimpan tenaga, Sayang." Erlangga langsung mengungkung tubuh Kayra. Dia sudah mulai bersiap melakukan pemanasan untuk membawa istrinya itu menikmati surga dunia yang akan semakin menambah kehangatan rumah tangga mereka berdua.
***
" Ada apa, Bos?" Jimmy yang baru saja tiba di apartemen milik Rivaldi langsung menanyakan alasan Rivaldi menyuruhnya datang ke apartemen bosnya itu.
" Jim, aku minta kamu awasi seseorang," ujar Rivaldi seraya mengambil minuman dari mini bar di apartemennya itu.
" Siapa, Bos?" tanya Jimmy menyahuti.
" Namanya Grace Renata. Aku ingin kau menyelidiki dengan siapa dia berhubungan? Siapa orang yang dekat dengannya?" Rivaldi menyebutkan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh Jimmy.
" Grace Renata? Dia wanita? Siapa dia, Bos?" tanya Jimmy ingin mengetahui informasi dari Rivaldi soal orang yang diminta untuk dia awasi.
" Dia anak dari pemilik perusahaan Langgeng Putra Persada. Dia sedang belajar membantu mengurus perusahaan Papanya." Rivaldi menjelaskan siapa sebenarnya Grace.
" Kenapa Bos ingin saya mengawasi dia? Apa dia ada hubungannya dengan Mahadika Gautama?" tanya Jimmy penasaran.
" Tidak, bukan itu, Jim! Aku hanya khawatir ada orang yang ingin mencelakai wanita itu," jawab Rivaldi. " Karena, aku sedang menjalin kerjasama dengan Papanya." Rivaldi mempertegas alasannya, saat melihat Jimmy sedang menatap dengan penuh tanda tanya kepadanya.
" Bos seperduli ini kepada wanita itu? Pasti dia cantik 'kan, Bos?" Jimmy menebak sosok Grace pastilah sangat seorang cantik hingga membuat Rivaldi begitu memperdulikannya.
Rivaldi hanya menarik samar sudut bibirnya menanggapi pertanyaan Jimmy yang terkesan meledeknya.
__ADS_1
" Apa dia akan menjadi pengganti Nona Kayra, Bos?" Tak mendapat jawaban dari Rivaldi, Jimmy kembali meledek bosnya itu.
Rivaldi melirik ke arah Jimmy saat Jimmy menyebut nama Kayra. " Sudahlah, jangan banyak bicara! Lakukan saja apa yang aku perintahkan!" Rivaldi tampaknya tidak senang diledek oleh Jimmy soal Grace.
" Dia tinggal di Apartemen milik Angkasa Raya Group di tower dua, lantai lima nomer dua sembilan. Aku ingin tahu siapa orang yang kira-kira berniat mencelakakannya," sambung Rivaldi.
" Kenapa Bos berpikir ada orang yang berniat mencelakakannya? Apa itu saingan bisnis dari perusahaan orang tuanya? Kalau memang dia dalam bahaya, kenapa tidak meminta perlindungan dari pihak berwajib, Bos?" tanya Jimmy heran.
" Sepertinya ada orang yang menganiayanya,. karena tadi aku lihat wajah wanita itu lebam-lebam. Dia tidak menceritakan siapa orang yang berbuat kekerasan kepadanya, dan dia juga tidak ingin orang tuanya tahu soal ini." Kepada Jimmy, Rivaldi menyampaikan alasannya kenapa dia memerintahkan Jimmy untuk mengawasi Grace karena dia takut kejadian yang dialami oleh Grace akan terulang kembali.
Jimmy mengulum senyuman. Dia merasa jika Rivaldi mempunyai hubungan spesial dengan wanita bernama Grace tersebut. Namun, dia tidak ingin mengatakannya di depan Rivaldi,. karena dia tahu jika bosnya itu akan menampik apa yang dikatakan olehnya itu.
Flashback on
Grace masuk ke dalam ruangan Rizal. Dia mendengar Rizal dan Vito sedang tertawa lebar, entah apa yang sedang ditertawakan oleh kedua pria tampan itu.
" Apa siang ini jadi menemui Rivaldi kembali, Pak Tua?" tanya Grace, karena Rizal memang menjadwalkan akan berkunjung ke perusahaan Abadi Jaya milik Rivaldi.
" Apa kau rindu bertemu dengannya?" Rizal kemudian bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekat Grace.
Grace memutar bola matanya menanggapi sindiran Rizal.
" Oh ya, Vit. Seharusnya sebelum menemui Agnes, mestinya kamu banyak belajar dari Grace. Supaya kau tidak kaku jika bertemu wanita yang senang berhubungan in tim dengan pria seperti Agnes itu " Rizal langsung tergelak. Baik Rizal maupun Vito sama-sama tahu bagaimana Grace yang dulu, hingga Vito pun ikut tertawa.
" Si al! Kalian pikir ini lelucon!?" Grace melayangkan sebuah tinju ke arah Rizal karena tersinggung dengan ucapan Rizal, namun dengan cepat Rizal menyambut kepalan tangan Grace dan memelintir tangan Grace hingga tubuh Grace berputar, bahkan punggung Grace besentuhan dengan dada Rizal.
" Kau harus lebih sopan denganku, Nona. Jika tidak ingin dijebloskan Om David ke penjara," desis Rizal di telinga Grace hingga membuat darah Grace berdesir.
" Saya permisi, Pak Rizal." Melihat interaksi tak biasa antara Grace dan Rizal, Vito memilih untuk meninggalkan ruangan kerja Rizal.
" Kau harus bersikap sopan denganku, Nona." Rizal melepas tangan Grace dan berjalan menuju kursi kerjanya.
Merasakan Rizal melepasnya, Grace langsung menendangkan kakinya ke arah pinggang Rizal karena masih terasa kesal.
Buuuggghhh
Setelah melakukan tendangan ke arah Rizal, Grace langsung memutar tubuhnya untuk melarikan diri dari ruangan Rizal
Duuugg
" Aaakkhh ...!" Grace langsung meringis kesakitan karena dia menabrak daun pintu ruangan Rizal yang masih terbuka hingga mengenai tulang pipinya.
" Itulah akibatnya jika berbuat dzolim terhadapku." Rizal terkekeh melihat penderitaan yang baru saja dialami oleh Grace.
Grace menatap tajam ke arah Rizal yang tertawa di atas penderitaannya.
" Mana aku lihat?" Rizal mencoba menyingkirkan tangan Grace yang menutupi pipi yang terkena pintu tadi.
" Kasihan sekali, padahal siang ini akan bertemu dengan pujaan hati." Rizal kembali meledek Grace.
" Lepaskan!" Grace menyingkirkan tangan Rizal yang memegang rahangnya.
" Sebaiknya kau tidak usah datang menemui Rivaldi. Aku punya rencana untukmu agar Rivaldi semakin penasaran denganmu dan kamu bisa masuk mendekati keluarganya." Otak cemerlang Rizal langsung menemukan ide berlian yang akan dia gunakan untuk membuat Grace bisa lebih dekat mengenal siapa Mama Rivaldi dan di mana anak perempuan dari Mama Rivaldi yang merupakan anak biologis adik sepupu Helen.
Flashback off
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️