MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Papa Danny


__ADS_3

Krisna, Helen dan Nugraha begitu terkejut melihat Kayra yang sudah berjalan bersama kedua ibunya menghampiri mereka di ruang keluarga. Mereka tidak menyangka secepat itu Kayra bisa menerima kenyataan tentang masa lalu orang tuanya. Namun, tentu saja hal tersebut membuat mereka merasa lega, tidak ada drama panjang yang akan mengusik ketenangan rumah tangga Kayra dan Erlangga.


" Kayra?" Helen bahkan langsung menghampiri menantu sekaligus keponakannya itu. " Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanyanya cemas.


" Iya, Ma." Kayra mengangguk seraya melebarkan senyuman.


" Syukurlah, Sayang." Helen memeluk Kayra. " Mama senang mendengarnya," sambungnya.


" Papa bangga padamu, Nak. Kamu benar-benar wanita hebat. Papa merasa bersyukur Erlangga mempunyai istri sepertimu, Kayra." Krisna yang juga mendekati Kayra mengusap kepala menantunya itu.


" Terima kasih, Pa." sahut Kayra melingkarkan tangannya ke pinggang Krisna sejenak, lalu dia melirik ke arah Nugraha yang tersenyum kepadanya.


" Apa aku boleh memanggil Pak Nugraha dengan sebutan Papa, Ma?" tanya Kayra kepada Arina namun arah pandangannya tetap tertuju ke arah Nugraha.


" Tentu saja, Nak. Kamu adalah anak dari Mama Arina, sudah pasti kamu anak Papa juga." Namun Nugraha lah yang langsung menjawab pertanyaan Kayra.


" Terima kasih, Pa." Kembali senyuman terlihat di sudut bibir wanita cantik itu.


" Sekarang semuanya sudah clear. Sudah tidak ada sesuatu yang menjadi beban pikiran lagi. Sebaiknya kamu istirahat, Sayang. Karena besok kita ada acara, biar kamu terlihat segar." Erlangga kini menyuruh istrinya itu beristirahat meskipun jam di dinding baru menunjukkan pukul setengah sembilan malam


" Benar, Kayra. Kamu harus istirahat. Dan kompres matamu lagi biar bengkaknya hilang. Malu kalau besok tamu datang kemari lalu melihat matamu seperti ini. Nanti mereka bisa berpikiran macam-macam." Helen menimpali ucapan putranya.


" Iya, Ma." jawab Kayra, dia tidak ingin membantah, karena sejujurnya terlalu banyak menangis menbuat dia sangat lelah.


" Pa, Ma, Bu, Kayra pamit ke kamar dulu ya!?" Kayra berpamitan terlebih dahulu sebelum meninggalkan orang tua dan mertuanya itu.


***


Setelah menyelesaikan kompres pada daerah di sekitar matanya, untuk menghilangkan mata sembabnya, kini Kayra merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan berbantalkan lengan suaminya. Saat ini tidak ada tempat ternyaman bagi Kayra selain berada dalam dekapan suami tercintanya itu.


" Mas, apa aku boleh mengunjungi makam Papaku?" tanya Kayra tiba-tiba dengan mendengakkan kepala menatap ke arah wajah suaminya.


" Papamu?" Erlangga mengerutkan keningnya.

__ADS_1


" Iya, Papa Danny." sahut Kayra.


" Untuk apa kamu ke sana, Sayang?" Dari kalimat yang diucapkan Erlangga, nampaknya pria itu agak keberatan dengan permintaan sang istri.


" Aku ingin tahu saja makamnya Papa, Mas. Sekalian kirim doa. Jadi kalau lebaran nanti kita bisa berziarah lagi ke sana, selain berziarah ke makam Ayah." Kayra mengatakan alasannya ingin bertemu berziarah ke makam pria yang merupakan ayah biologisnya itu.


Erlangga menatap lekat wajah istrinya itu. Wanita di hadapannya itu benar-benat berjiwa besar dan mempunyai ketulusan hati. Sama sekali tidak ada rasa benci yang terpupuk di hati istrinya itu atas perbuatan Danny, meskipun Danny tidak mempedulikan kehadiran Kayra di perut Arina dulu.


" Sayang, apa kamu yakin kamu akan ke makam Om ku itu?" Erlangga lebih nyaman menyebut Danny sebagai Om nya daripada menyebut Danny dengan sebutan Papa Kayra. Karena menurutnya, Danny tidaklah pantas menyandang Papa dari seorang wanita berhati mulia seperti Kayra.


" Iya, Mas. Bagaimanapun juga beliau adalah Papamu. Sebagai seorang anak, aku wajib berbakti kepada orang tua. Dan karena Papa Danny sudah meninggal, aku hanya bisa berziarah ke makamnya dan berdoa untuknya," ucap Kayra.


" Sayang, hatimu sungguh luar biasa ..." Erlangga mengusap wajah cantik Kayra. " Aku sungguh tidak menyesal memperistrimu, Sayang." Erlangga menghadiahi kecupan di kening dan bibir Kayra cukup lama. Dia bersyukur bisa mencintai dan dicintai oleh wanita seperti Kayra.


" Jadi, boleh 'kan aku berziarah ke makam Papa Danny, Mas?" Belum mendapatkan jawaban dari sang suami, kembali Kayra minta persetujuan dari suaminya.


" Ya sudah, nanti akhir pekan saja kita ziarahnya, ya!? Sekarang kamu harus istirahat agar besok pagi terbangun dengan staminanya yang fresh." Erlangga menganjurkan istrinya untuk segera istirahat dan memejamkan matanya.


Sementara di kamar Krisna dan Helen. Kedua mertua Kayra itu masih terjaga dan berbincang-bincang.


" Itulah hebatnya menantu kita, Ma. Jangankan memaafkan kedua orang yang menyayangi dia, memaafkan orang yang membencinya juga dia mudah memaafkan, kok." Seraya tertawa kecil Krisna menyindir Helen yang dulu begitu menentang dan memusuhi Kayra.


" Papa menyindir Mama!?" Helen melirik ke arah suaminya.


" Papa tidak menyebut nama, lho! Mungkin Mama saja yang merasa." Krisna masih terkekeh.


" Beruntung Erlangga mempunyai istri seperti Kayra ya, Pa? Mama sendiri sekarang merasakan, Erlangga jarang menentang Mama." Helen merasakan perubahan sikap putranya yang sekarang ini lebih tenang dan hormat kepadanya.


" Papa sudah katakan, Kayra itu membawa aura positif bagi orang-orang di sekitarnya. Termasuk kepada Mama. Mama sudah bertobat dan terbebas dari pengaruh wanita nakal seperti Agnes, kan?" sindir Krisna kembali.


" Ck, sudahlah, Pa! Jangan bawa-bawa nama wanita ja lang itu lagi! Hiiii, beruntung dia tidak sampai menjadi menantu kita ..." Helen mengedikkan bahunya, dia tidak dapat membayangkan jika Agnes menjadi menantunya.


" Yang bersemangat dan menginginkan dia jadi menantu kita itu siapa ya, Ma?" Sepertinya Krisna masih senang menggoda istrinya.

__ADS_1


" Sudahlah, Pa! Jangan menyindir terus!" protes Helen tidak suka diingatkan soal Agnes. " Sebaiknya kita tidur saja, deh!" Helen lalu beranjak ke peraduan untuk mengistirahatkan tubuhnya.


***


Acara tujuh bulanan kehamilan Kayra berjalan khidmat dan lancar. Walau hanya dihadiri kerabat terdekat namun tidak mengurangi kemeriahan acara tujuh bulanan menantu satu-satunya keluarga Mahadika Gautama tersebut.


Rangkaian acara tujuh bulanan dilewati Kayra dengan rasa bahagia karena dihadiri keluarga tercintanya. Acara dimulai dengan acara pengajian yang berjalan secara khidmat. Suasana haru terasa saat melakukan tahapan sungkeman, terutama ketika Kayra melakukan sungkeman kepada Arina dan Ibu Sari. Kayra tidak dapat membendung air matanya. Karena lama terisak di hadapan kedua Ibunya itu, sampai Erlangga berusaha menenangkan sang istri. Selanjutkan prosesi acara tujuh bulanan dilalui Kayra dengan senyuman di bibirnya.


" Kayra, selamat ya, semoga lancar saat persalinan nanti," ucap Emma yang pagi itu ikut hadir dalam acara tasyakuran tujuh bulanan Kayra.


" Oh, Mbak Emma. Terima kasih ya, Mbak." Kayra menerima ucapan selamat dan pelukan hangat dari Emma.


" Aku tidak menyangka jika kamu adalah adik sepupu Erlangga yang hilang dulu. Syukurlah kalian bisa bertemu dan ternyata kalian berjodoh." Emma termasuk orang yang menyemangati Kayra, terutama saat baru resmi menjadi istri dari Erlangga.


" Iya, Mbak. Hidup itu seperti misteri, Mbak." Kayra tidak heran Emma tahu soal dirinya, karena hubungan suaminya dengan Emma dan Henry begitu dekat hingga Erlangga tak canggung bercerita kepada Emma ataupun Henry.


" Aku senang melihat Erlangga sekarang. Dia banyak berubah terutama sikap dan cara berpikirnya yang lebih dewasa. Siapa menyangka jika dulu kau menikahi dia karena paksaan darinya. Kalau aku lihat sekarang, kau terlihat bahagia, Kayra." Emma dapat melihat pancaran bahagia di wajah Kayra saat ini.


" Tentu saja saya bahagia, Mbak. Selain mempunyai suami yang begitu menyanyangi saya, saya juga bisa bertemu dengan keluarga saya yang sesungguhnya." Tentu saja keluarga yang dimaksud adalah Arina. Dan hubungannya dengan keluarga Mahadika Gautama.


" Aku turut senang melihat kebahagiaan kalian berdua. Dan semoga kebahagiaan kalian semakin lengkap dengan kehadiran baby boy ini." Emma mengusap baby bump Kayra.


" Aamiin, terima kasih untuk doanya, Mbak." Kayra mengucapkan terima kasih kepada Emma, karena sejak awal Emma tidak memojokkan posisinya terutama saat Erlangga memutuskan untuk menikahinya.


*


*


*


Bersambung ...


Yang belum mampir di kisahnya Rizal-Grace-Rivaldi di tunggu kunjungannya di sana, makasih 🙏

__ADS_1



Happy Reading❤️


__ADS_2