MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Pembalasan Henry


__ADS_3

Langit sudah berubah gelap, waktu saat ini hampir menjelang Isya, sementara Kayra masih berada di rumah Henry. Sahabat dari Erlangga itu sepertinya serius ingin mengerjai suami dari Kayra, karena Kayra tidak diperbolehkan menghubungi suaminya sendiri, bahkan dia dilarang mengaktifkan ponselnya saat ia meminjam charger untuk mengisi batere ponselnya yang lowbat. Menghubungi ibunya pun, Henry menyuruh Kayra menggunakan telepon rumah Henry, itupun dengan syarat, Ibu Sari dilarang memberitahu keberadaan Kayra saat ini.


" Kita ingin tahu, bagaimana reaksi Erlangga saat kamu menghilang, sekaligus kami ingin membalas dia karena dia sudah melibatkan kami dalam pernikahan kalian."


Itulah alasan yang diberikan Henry, kenapa pria itu bersemangat ingin mengerjai sahabatnya sendiri. Namun, sejujurnya Kayra sendiri tidak tega melakukan hal ini kepada suaminya, dia tahu pasti suaminya saat ini sedang kebingungan mencari keberadaannya, tapi jika mengingat bagaimana sikap Erlangga yang dulu memaksa untuk memperistrinya, dia pun mau mengikuti ide Henry.


" Keluhan-keluhan apa saja yang kamu rasakan dengan kehamilanmu ini, Kayra?" tanya Emma saat mereka berada di meja makan menyantap makan malam.


" Hanya mual saja ketika pagi, tapi itu juga tidak terlalu sering," ujar Kayra menjawab pertanyaan Emma.


" Sudah pasti Erlangga senang sekali dengan kehamilanmu ini, karena sejak dulu dia menginginkan Caroline hamil, sayang istrinya itu, eh ... calon mantan istrinya itu tidak bersedia hamil. Menurutku, Caroline itu tidak mensyukuri nasibnya menjadi seorang istri CEO kaya raya, padahal Erlangga sanggup memberikan apa saja yang dia mau jika dia bersedia hamil dan mempunyai anak." Henry sudah seperti ibu-ibu rumpi yang senang bergosip menceritakan bagaimana kondisi rumah tangga Erlangga dan Caroline yang sebentar lagi akan berakhir.


Kayra lebih memilih bungkam tak ingin memberikan tanggapannya soal masalah rumah tangga suaminya dan istri pertama suaminya itu. Menurutnya, tidak logis juga jika ia memberikan pendapatnya, karena dia merasa, secara tidak langsung dia mempunyai pengaruh besar atas kandasnya rumah tangga Erlangga dan Caroline. Setidaknya, jika Erlangga tidak mengenal dirinya, mungkin Erlangga tidak akan menikahinya dan saat ini mungkin Erlangga masih tetap berusaha bertahan dengan Caroline.


" Kamu ini benar-benar wanita yang sangat berbeda, Kayra. Pantas saja Erlangga sangat menginginkanmu." Emma kembali memberikan pendapat yang memuji Kayra.


Mendengar pujian dari sahabat suaminya, Kayra tersipu malu, walaupun pujian seperti itu sudah sering Kayra dengar dari suaminya. Namun, dia sendiri tidak mengerti apa yang dinilai orang berbeda dari dirinya, karena dia merasa jika dia adalah wanita biasa seperti wanita pada umumnya.


" Kau tahu, Kayra. Jika wanita lain berposisi seperti sekarang ini, mereka pasti akan memanfaatkan kekayaan Erlangga untuk kesenangan dirinya," ucap Emma kemudian.


" Saya rasa, saya tidak punya hak memanfaatkan kekayaan milik Mas Erlangga, Bu." Jawaban yang diberikan Kayra sudah bisa ditebak oleh Emma maupun Henry, dan itulah yang mereka anggap membuat Erlangga bertekuk lutut pada sekretarisnya itu.


" Saya senang Erlangga terselamatkan di tanganmu, Kayra. Maksud saya, Erlangga berpaling dari Caroline bukan pada wanita nakal yang hanya akan menghancurkan Erlangga." Henry kembali berpendapat.


" Suamiku benar, Kayra. Aku senang melihat Erlangga mendapatkan wanita yang baik sepertimu, walaupun aku awalnya kurang setuju Erlangga menikah lagi, namun setelah aku tahu wanita yang dinikahi Erlangga itu adalah kamu, aku sedikit merasa lega," sambung Emma.


Ddrrtt ddrrtt


Ponsel Henry tiba-tiba berbunyi saat mereka sedang mengobrol di sela-sela menyantap makan malam bersama.


Henry melengkungkan sudut bibirnya saat mengetahui jika Erlangga yang meneleponnya saat ini. Suara kekehan langsung terdengar dari mulut Henry seraya mengambil benda pipih itu dengan tangannya.


" Tak diragukan lagi suamimu itu, Kayra. Sepertinya dia sudah tahu di mana keberadaanmu saat ini." Henry menunjukkan layar teleponnya kepada Kayra, dimana nama Erlangga terlihat di sana.


" Erlangga tahu Kayra di sini?" tanya Emma terkejut, hingga Henry menunjukkan ponselnya itu kepada istrinya.


" Kau mempermainkan seorang Erlangga, Sayang. Tentu saja dengan kuasanya dia bisa memerintah Bondan untuk mencari informasi sesuai dengan kehendaknya," sahut Emma kemudian. " Sebaiknya kamu angkat teleponnya, Sayang." sambungnya.


Namun, bukannya mengangkat panggilan masuk dari Erlangga, Henry justru meletakkan kembali benda pipih itu di atas meja dan membiarkannya terus berbunyi beberapa kali. Henry sengaja ingin membuat Erlangga semakin kesal dengan mengabaikan panggilan masuk dari suami Kayra itu.


" Kamu cari masalah, Sayang." Mencoba mengingatkan sang suami yang sengaja mengabaikan telepon Erlangga, Emma yakin Erlangga akan mengamuk jika tahu suaminya telah sengaja membawa Kayra tanpa seijin dan sepengetahuan Erlangga.


" Biarkan saja, Sayang. Dia itu sekali-sekali pantas untuk kita kerjai." Suara tawa mengakhiri kalimat yang diucapkan Henry.


Emma menggelengkan kepalanya menanggapi kelakuan iseng suaminya, dia lantas menoleh ke arah Kayra lalu berucap, " Maafkan suamiku, Kay. Dia dan Erlangga memang seperti itu." Emma berharap Kayra mau memaklumi candaan suaminya.


" Iya, Bu." jawab Kayra, walau dalam hatinya dia merasa takut Erlangga akan marah pada Henry, tapi setidaknya dia bersyukur jika suaminya sudah mengetahui posisinya saat ini. Namun, di dalam hatinya, Kayra juga sebenarnya tidak tega mengikuti rencana Henry.


***


Erlangga masih berada di kantornya bersama Wira dan Gita yang masih ikut pusing dan cemas menanti laporan dari Bondan yang masih mencari keberadaan Kayra.


Ddrrtt ddrrtt


Erlangga segera mengangkat ponselnya saat terlihat Bondan menghubunginya selepas Maghrib.


" Halo, bagaimana, Pak Bondan? Apa Anda sudah mendapatkan kabar soal mobil yang membawa istri saya?" Rasanya Erlangga benar-benar tidak sabar mengetahui siapa orang yang telah bermain-main dengannya.

__ADS_1


" Selamat sore, Tuan. Saya sudah mendapatkan rekaman cctv berjarak lima ratus meter dari tempat kejadian, dari rekaman kamera cctv itu terpantau mobil yang lalu lalang dari arah jalan di mana Nyonya turun. Ada sebuah mobil mewah yang mungkin Anda kenal mobil itu milik siapa, Tuan." Bondan langsung menyampaikan berita yang membuat Erlangga semakin penasaran.


" Siapa pemilik mobil itu?" tanyanya kepada Bondan.


" Saya sudah mengirimkan rekaman videonya ke nomer HP Tuan." Bondan mengirimkan video rekaman cctv bersama dengan dia menghubungi Erlangga.


" Baiklah, saya cek dulu videonya." Erlangga kemudian mematikan percakapan telepon dengan Bondan. Dia lalu membuka pesan video yang dikirimkan Bondan kepadanya.


" Apa sudah ditemukan mobil itu, Pak?" Wira ikut penasaran dengan percakapan Erlangga dengan Bondan.


" Pak Bondan memberitahu ada mobil mewah yang kemungkinan melintas dari arah jalan di mana Kayra turun, Pak Bondan mengatakan kemungkinan saya kenal mobil itu milik siapa!?" Tatapan mata Elangga fokus ada video hasil rekaman cctv yang dikirim oleh Bondan.


Wira ikut memperhatikan video dari ponsel Erlangga untuk ikut mengenali mobil yang dimaksud oleh Bondan.


" Mobil itu ..." Wira tiba-tiba menyadari mengenal mobil yang baru saja melintas dari rekaman cctv di ponsel Erlangga. " Coba putar ulang mobil yang baru melintas tadi, Pak." lanjutnya meminta Erlangga mengulang video yang tadi mereka lihat.


Erlangga kembali mengulang di bagian yang diminta oleh Wira, hingga dia pun bisa melihat mobil mewah yang melintas di rekaman cctv tersebut.


" Itu seperti mobil milik ...."


" Henry, ini seperti mobil milik Henry." Erlangga memotong ucapan Wira. Dia bahkan memutar kembali video itu karena penasaran dengan mobil yang dia duga milik Henry, setelah itu dia meng-capture video mobil mewah itu untuk mengetahui. nomer plat mobil tersebut.


" Si al! Ini benar mobil Henry." Erlangga langsung mengumpat sahabatnya setelah mendapatkan plat nomer mobil itu benar milik Henry.


" Berarti Pak Henry yang membawa Kayra?"


" Walaupun saya mengecam perbuatan Henry karena menyembunyikan Kayra, Tapi saya lebih senang Kayra bersama Henry daripada Rivaldi yang membawa Kayra." Setidaknya Erlangga lebih tenang jika Kayra bersama Henry daripada Kayra jatuh di tangan Rivaldi.


" Tapi kenapa Pak Henry tidak memberitahu jika dia membawa Kayra, Pak?" Wira menaruh curiga jika Henry sedang mengerjai Erlangga. " Apa Pak Henry sengaja menyembunyikan Kayra dari Anda supaya membuat Anda khawatir, Pak?" Wira mengulum senyuman tipis seolah meledek Erlangga yang tadi sempat kalut karena ulah Henry yang tadi membuat kisruh hati dan pikiran Erlangga.


Erlangga melirik ke arah Wira yang sedang tersenyum seakan meledeknya, dia lalu mencari nomer ponsel Henry untuk menghubungi nomer telepon sahabatnya itu.


Erlangga segera memasukkan ponsel ke saku bagian dalam blazernya, dia pun lalu merapihkan tas kerjanya bersiap untuk menemui Henry dan menyusul istrinya pulang.


" Anda akan ke tempat Pak Henry, Pak?" tanya Wira melihat bosnya itu berkemas.


" Tentu saja, Pak Wira! Saya harus membawa Kayra pulang. " Erlangga kemudian berlalu meninggalkan ruangannya menuju arah lift sementara Wira mengikutinya dari belakang.


" Gita, kamu sudah boleh pulang." Saat Erlangga sudah masuk ke dalam lift, Wira menyuruh Gita untuk pulang.


" Mbak Kayra bagaimana, Pak? Apa sudah ditemukan?" Gita pun tidak merasa tenang dengan menghilangnya Kayra dari kantor Mahadika.


" Sepertinya jejak Kayra sudah ditemukan," sahut Wira.


" Tapi Mbak Kayra baik-baik saja 'kan, Pak?" Gita penasaran.


" Iya, sepertinya begitu, karena kemungkinan orang yang membawa Kayra adalah sahabat dari Pak Erlangga sendiri, dan sudah dipastikan Kayra akan aman di sana," Wira menjelaskan di mana Kayra saat ini berada.


" Alhamdulilah kalau begitu, saya jadi ikut tenang, Pak." Gita mengucapkan rasa syukurnya karena keradaan Kayra saat ini sudah diketahui.


" Ya sudah, kamu sebaiknya cepat pulang."


" Baik, Pak."


Setelah mendengar sahutan dari Gita, Wira pun segera beranjak ke dalam ruangannya, dia pun ingin segera meninggalkan kantor karena sebagian besar karyawan di kantor Mahadika sudah keluar dari bangunan kantor itu.


***

__ADS_1


" Ini waktu hamil anak pertamaku, aku melahirkan normal." Emma menunjukkan foto maternity saat kehamilan pertamanya kepada Kayra, saat Emma memperlihatkan album foto dirinya saat mengandung anak pertama.


" Ibu cantik sekali ..." Kayra mengagumi aura kecantikan yang terpancar dari foto maternity Emma yang memperlihatkan perut buncitnya dengan Henry yang mencium perut Emma bergaya seperti model.


" Nanti kalau perut kamu sudah sebesar ini, kamu juga foto begini sama Erlangga, Kayra. Tapi aku tidak yakin dia mau foto seperti ini," Emma terkekeh membayangkan Erlangga harus berpose seperti suaminya di foto maternity anak pertama mereka.


Kayra menarik tipis sudut bibirnya, dia tidak berpikir akan melakukan apa yang dilakukan Emma dan Henry, harus memperlihatkan perut buncitnya itu di hadapan orang lain. Dan sama seperti Emma, dia juga tidak yakin Erlangga akan mau melakukan hal yang sama seperti Henry di foto itu.


" Kalau ini hamil anak keduaku, hamil ke dua aku melahirkan caesar. Kamu sendiri rencana mau melahirkan apa, Kayra?" tanya Emma menanyakan rencana persalinan Kayra padahal kehamilan Kayra masih berada di trimester pertama.


" Semoga saja bisa melahirkan normal, Bu." jawab Kayra.


" Panggil saya Emma atau Mbak saja, Kayra. Biar kita lebih akrab. Kamu ini 'kan sekarang istri Erlangga, dan Erlangga itu sahabat aku dan Henry." Emma menyuruh Kayra memanggilnya dengan sebutan Mbak agar mereka lebih akrab


" Baik, Mbak." sahut Kayra.


" Di mana majikan kalian?!"


Tiba-tiba suara Erlangga terdengar kencang dari arah ruang tamu rumah Henry saat Emma dan Kayra sedang berbincang di ruang keluarga lantai atas.


" Mas Erlangga?"


" Erlangga?"


Kayra dan Emma terkesiap bahkan langsung bangkit saat mendengar suara Erlangga yang terdengar dengan nada tinggi. Mereka berdua pun bergegas untuk menemui Erlangga di ruangan tamu.


Sementara di lantai bawah, Erlangga yang merasa kesal dengan ulah Henry yang diam-diam membawa kabur istrinya langsung mencari keberadaan Henry, dia bahkan bertanya dengan nada geram kepada ART di rumah Henry.


" Henry, di mana kau?! Keluar kau! Di mana kau menyembunyikan istriku?!" Erlangga masih berteriak memanggil Henry yang tidak juga menampakkan dirinya.


" Hei, kenapa kau teriak-teriak di rumahku, Erlangga? Kamu pikir rumahku ini hutan!?" Henry yang varu keluar dari kamarnya langsung berjalan menuruni anak tangga menghampiri Erlangga.


" Si al kau, Henry! Di mana kau sembunyikan istriku?" Erlangga langsung bergegas menghampiri Henry dan langsung mengayunkan sebuah pukulan di wajah tampan Henry.


Buuuggghh


" Aaakkhh ..." Henry meringis memegangi pipinya yang kena hantam tangan Erlangga.


" Astaga, Erlangga!!"


" Astaghfirullahal adzim, Mas."


Emma dan Kayra yang baru sampai di ujung tangga bagian atas ingin turun ke bawah dibuat terperanjat saat melihat Erlangga meninju wajah Henry.


" Mas ..." Kayra bahkan berlari kecil ingin melerai suaminya yang sudah memukul Henry.


" Kayra, hati-hati!!" pekik Emma terkesiap melihat Kayra berlari menuruni anak tangga.


Erlangga langsung membelalakkan matanya melihat Kayra melakukan tindakan yang akan membahayakan janin di perutnya, dia langsung bangkit dan berlari ke arah istrinya itu untuk menghentikan tindakan yang dilakukan oleh Kayra.


" Kayra, Sayang ... jangan lari!!"


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


Happy Reading❤️


__ADS_2