MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Ingkar Janji


__ADS_3

Menyadari Kayra sudah mulai terlepas dari buaiannya, Erlangga segera menindih kembali tubuh sang istri dan melu mat bibir Kayra membuat wanita itu melenguh.


" Ini tidak akan sakit, percayalah ..." bisik Erlangga meyakinkan Kayra agar tidak menolak keinginannya, sementara tangannya mulai membelai kulit di seputar inti Kayra.


" S-saya takut, Pak." Mengingat posisinya yang hanya sebagai istri siri yang bisa ditinggalkan kapan saja jika Erlangga sudah tidak menginginkannya, Kayra tentu saja takut harus berhubungan in tim seperti saat ini


" Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, kamu hanya cukup menikmati saja, Kayra." Erlangga mengecup kening Kayra dan mulai membuka boxernya hingga memperlihatkan senjatanya yang sudah menegang. Setelah itu dia turun ke bawah hingga Indra perasaanya mulai menikmati kulit luar inti Kayra yang membuat dirinya begitu berga irah.


" Aaakkhh ..." Kayra terus melenguh, mende sah merasakan sesuatu yang terasa seperti sengatan hingga ke ubun-ubunnya. Tubuhnya sudah tidak bisa tenang terus bergerak dan menggelinjang hingga dia harus berkali-kali memejamkan mata dan menggigit bibirnya.


Merasakan jika Kayra sudah menyerah dan dirinya yang sudah tidak sabar menguasai Kayra seutuhnya, akhirnya Erlangga pun mengarahkan senjatanya ke inti Kayra. Perlahan dia mencoba memasuki area yang agak sulit untuk dia tembus.


" Aaaakkkhh ...!! Sakiiittt ...!!" Kayra bahkan merintih kesakitan saat merasakan sesuatu yang memaksa masuk ke dalam intinya yang masih sempit.


" Tahanlah sebentar, ini hanya sementara," sahut Erlangga mendengar rintihan Kayra.


" Sakit, Pak!" Kayra bahkan menangis karena rasa sakit yang dia rasakan saat ini. Dia bahkan memukuli tubuh Erlangga agar menjauh darinya, saat itu dia tidak memperdulikan jika Erlangga adalah bosnya.


Erlangga kembali membekap Kayra dengan ciuman agar wanita itu tidak terus mengeluh kesakitan sementara senjatanya masih berusaha menaklukan sempitnya jalan menuju lorong kenikmatan milik Kayra hingga akhirnya pertahanan Kayra benar-benar terkoyak dibarengi suara rintihan Kayra.


Erlangga bergerak perlahan untuk memberikan rasa nyaman bagi Kayra sampai suara rintihan Kayra kini berganti dengan suara de sahan, membuat Erlangga mempercepat gerakannya menyatukan tubuh mereka berdua hingga akhirnya mendapatkan pelepasan.


Dua kali pelepasan akibat penyatuan tubuh Erlangga dan Kayra, membuat Kayra takluk hingga kini wanita itu tertidur lemas. Erlangga yang sangat berpengalaman benar-benar membuat Kayra yang masih polos kewalahan dan tak berdaya.


***


Erlangga menatap langit kota Jakarta dari balkon kamarnya. Suara guruh sesekali terdengar di atas langit menandakan jika sebentar lagi kemungkinan Ibu kota akan diguyur hujan.


Erlangga menarik nafas panjang. Sepertinya dia harus kembali mengambil keputusan penting dalam hidupnya hari ini seperti saat dia mengambil keputusan untuk menikahi Caroline lima tahun lalu.


Flashback on


Erlangga menekan tombol bel pintu kamar hotel yang berada di kota Paris, dengan sebuah buket bunga di tangannya. Hari ini adalah hari ulang tahun Caroline yang ke dua puluh dua tahun.


Erlangga sengaja menyusul Caroline ke Paris, karena kekasihnya itu sedang ada jadwal pemotretan di sana. Dan hari ini adalah hari ulang tahun Caroline, sehingga dia ingin memberikan kejutan kepada wanita itu.


Ceklek


Suara pintu dibuka hingga menampakkan seorang wanita cantik tinggi semampai dari dalam kamar hotel.


" Happy brithday, Sayang." Erlangga menyodorkan buket bunga kepada wanita yang sudah tiga tahun menjadi kekasihnya itu.


" Erlangga? Sayang, kamu ada di sini?" Caroline terperanjat dengan kehadiran Erlangga di depan kamar hotel dia menginap.


" Kenapa? Kamu tidak suka, Caroline?" Erlangga tersenyum mendapati wajah kaget Caroline karena kedatangannya itu.


" Tidak, Sayang. Bukan seperti itu! Aku senang bahkan bahagia sekali kamu datang ke sini, Sayang. Aku hanya tidak menyangka kamu datang kemari." Caroline langsung memeluk tubuh kekasihnya.


" Ini hari ulang tahunmu, kan? Dan aku ingin memberi kejutan untukmu dengan kedatanganku kemari." Erlangga menangkup wajah cantik Caroline. " Selamat ulang tahun, Sayang." Sebuah kecupan disematkan Erlangga di bibir Caroline yang dibalas oleh Caroline hingga pagutan itu berlangsung hampir satu menit.


" Cepat kamu ganti pakaianmu, Caroline. Kita akan makan malam bersama." Erlangga meminta Caroline yang saat itu hanya mengenakan pakaian santai untuk segera mengganti pakaiannya.


" Sayang, kenapa kamu tidak mengabari aku dari awal jadi aku bisa siap-siap dulu?" Caroline mencebikkan bibirnya.


" Kalau aku kasih tahu dari awal, itu bukan kejutan namanya." Erlangga terkekeh melihat wajah Caroline yang memberengut.


" Ya sudah, aku ganti baju dulu." Caroline membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan Erlangga untuk masuk ke dalam kamar hotelnya.


Erlangga melangkah masuk ke dalam kamar hotel yang ditempati oleh Caroline. Namun dia seketika memicingkan matanya saat melihat keberadaan Wisnu di kamar hotel Caroline. Wisnu yang memang sejak lama bersahabat dengan Caroline dan merangkap sebagai manager Caroline terlihat sedang duduk dengan laptop di pangkuannya.


" Sedang apa dia di sini, Caroline?" Nada tidak suka langsung terdengar dari ucapan Erlangga melihat keberadaan Wisnu di kamar hotel Caroline.


" Wisnu sedang mengatur jadwal pemotretanku, Sayang." sahut Caroline.

__ADS_1


" Mengatur jadwal di dalam kamarmu? Apa tidak ada tempat lain untuk dia melakukan pekerjaannya itu!?" ketus Erlangga, tentu saja sosok Wisnu selalu membuat Erlangga cemburu, meskipun hubungan antara Caroline dan Wisnu tidak lebih dari seorang sahabat dan hubungan kerja.


" Sayang, kami tidak melakukan apa-apa di sini, kamu jangan berburuk sangka seperti itu!" tepis Caroline, menyangkal apa yang ada di pikiran Erlangga.


" Aku mengenal Caroline sebelum Caroline mengenalmu, Erlangga! Jadi jangan terlalu berpikiran negatif terhadapku!" sindir Wisnu karena sikap Erlangga yang selalu ketus terhadapnya.


" Sayang, duduklah dulu. Aku akan berganti pakaian sebentar." Caroline menyuruh Erlangga duduk di sofa bersama Wisnu sedangkan dia sendiri segera mengambil gaun untuk rencana makan malam bersama Erlangga.


Erlangga masih memperhatikan Wisnu yang masih serius dengan laptopnya. Dia memang tidak menyukai Wisnu walaupun dia tahu jika Wisnu adalah sahabat Caroline.


" Ada apa kau datang kemari?" tanya Wisnu merasa Erlangga sejak tadi memperhatikannya.


" Aku menemui kekasihku, memangnya apa urusannya denganmu!?" jawab Erlangga dengan nada ketus membuat Wisnu tersenyum sinis namun dia tidak ingin terus meladeni Erlangga yang dia tahu tidak menyukai dirinya.


" Sayang, aku harus berhias dulu, aku panggilkan orang sebentar untuk meriasku, ya!?" Caroline meminta ijin Erlangga untuk menunggu orang yang akan merias wajah dan menata rambutnya.


" Tidak usah, Caroline. Kamu tidak perlu berhias berlebihan. Kamu sudah cantik tanpa disentuh make up juga." Erlangga melarang Caroline memanggil orang untuk merias kekasihnya, karena dia ingin segera membawa Caroline pergi makan malam.


" Tapi, Sayang ...."


" Sudah, cepatlah ...!" Erlangga menyuruh Caroline untuk cepat memakai make up seadanya dan mengikat rambutnya menjadi satu.


" Wis, aku pergi sebentar. Tolong kunci pintunya kalau kamu mau kembali ke kamarmu, nanti aku ambil di sana." Setelah selesai merias wajahnya dan menata rambutnya sendiri, Caroline berpamitan kepada Wisnu dan mengikuti Erlangga untuk acara dinner ulang tahunnya yang ke dua puluh dua tahun bersama kekasihnya itu.


" Kita akan dinner di mana, Sayang?" tanya Caroline saat mereka berjalan meninggalkan kamar hotel Caroline.


" Di restoran hotel ini saja yang dekat," ucap Erlangga seraya tersenyum dan menggenggam tangan Caroline. " Tidak apa-apa, kan?"


" Tidak apa-apa, Sayang. Kamu sudah datang kemari saja itu sudah membuat aku bahagia sekali." Caroline melingarkan tangan lainnya ke pinggang Erlangga.


Erlangga tersenyum bahagia, karena dia benar-benar tidak sabar memberikan kejutan kepada kekasihnya itu.


Saat tiba di restoran, Erlangga dan Caroline disambut oleh pelayan restoran. Erlangga sengaja memesan private room untuk acara dinner mereka. Pelayan itu mengarahkan Erlangga dan Caroline ke private room paling ekslusif di restoran itu.


" Surprise ...!!"


" Papa, Mama?" Caroline yang terkejut dengan kehadiran keluarganya langsung memeluk kedua orang tuanya itu.


" Happy brithday, Caroline ..." Kedua orang tua Caroline memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada putrinya.


" Terima kasih, Pa. Ma." Caroline menangis haru karena kedatangan kedua orang tuanya itu ke Paris.


" Happy brithday, Kak. Tiup lilinnya dulu, dong!" Catherine, adik dari Caroline menyodorkan cake ulang tahun ke hadapan Caroline.


Caroline tersenyum seraya mengacak rambut adiknya yang berusia empat tahun lebih muda darinya. " Terima kasih, Dik." Caroline kemudian meniup lilin yang terpasang di cake yang dipegang oleh Catherine.


" Apa kamu senang, Sayang?" tanya Erlangga setelah Caroline meniup lilin di kue ulang tahunnya.


" Sayang ..." Caroline langsung memeluk Erlangga, dia tidak menduga akan diberikan kejutan dengan kehadiran keluarganya di hati ulang tahunnya itu. " Terima kasih atas kejutannya." Caroline sangat bahagia karena saat ini dia merayakan ulang tahun dikelilingi orang-orang yang dia cintai.


" Aku lakukan semua ini karena aku mencintaimu, Caroline." Erlangga mengecup kening Caroline.


" Sebaiknya kita makan sekarang." Melihat keromantisan anaknya dan juga Caroline, Papa dari Caroline meminta agar mereka segera menyantap makanan yang telah disiapkan sebelumnya.


Bersamaan dengan itu juga seseorang masuk ke dalam ruangan dengan membawa biola di tangannya. Orang itu segera memainkan alat musik gesek itu untuk menghibur mereka yang akan menyantap makan malam.


Mereka pun akhirnya makan bersama dengan penuh suka cita, terutama Caroline yang nampak berbinar karena dia merasa beruntung atas kehadiran orang-orang yang disayanginya.


Setelah mereka menyelesaikan makannya, Erlangga mengulurkan tangan kepada Caroline dan mengajaknya berdansa. Caroline tentu saja menerima dengan senang hati uluran tangan Erlangga hingga mereka berdua pun berdansa diiringi biola yang memperdengarkan irama lagu romantis.


Setelah setengah lagu pemain biola itu memainkan lagunya, Erlangga tiba-tiba duduk berlutut di hadapan Caroline, sementara tangannya merogoh saku blazer yang dipakainya. Dia mengeluarkan kotak perhiasan dan membukanya hingga memperlihatkan sebuah cincin bertahtakan berlian yang dia tunjukkan kepada Caroline.


" Will you marry me, Caroline?" tanya Erlangga melamar Caroline.

__ADS_1


Caroline membelalakkan matanya melihat lamaran yang dilakukan Erlangga kepadanya.


" S-sayang?" Caroline tentu merasa terkejut dengan tindakan Erlangga itu.


" Apa kamu mau menikah denganku, Caroline?" Erlangga mengulang pertanyaannya untuk mendapatkan jawaban dari Caroline soal lamarannya itu.


" Sayang, kamu tahu jika aku tidak mungkin menikah dalam waktu dekat ini. Aku ingin menggapai cita-citaku sebagai model terkenal dunia." Caroline memang tidak menginginkan menikah cepat karena dia masih ingin konsentrasi dengan karirnya, apalagi usianya masih sangat muda sekarang ini.


" Kamu masih bisa bergelut dengan profesimu meskipun nanti kamu menikah, Caroline. Aku akan tetap mendukung karirmu setelah kita menikah nanti." Erlangga yang sangat begitu mencintai Caroline bersedia menerima profesi Caroline dan memberi kesempatan Caroline untuk menggeluti karirnya.


" Tapi, Sayang ...."


Erlangga bangkit dan menangkup wajah cantik wanita bertinggi semampai itu.


" Aku sangat mencintaimu, Caroline. Aku ingin menikahimu. Aku tidak ingin kamu berpaling kepada pria lain." Ketakutan Erlangga dengan profesi Caroline yang pasti akan selalu bertemu dengan pria-pria tampan membuatnya ingin secepatnya memperistri Caroline, apalagi usia dia yang sudah memasuki usia dua puluh tujuh tahun adalah usia yang matang untuknya berumah tangga.


" Papa setuju dengan Erlangga, Nak. Erlangga sangat mencintaimu, jangan sia-siakan pria tang benar-benar tulus mencintaimu." Papa dari Caroline menasehati anaknya agar mempertimbangkan lamaran dari Erlangga.


Caroline menarik nafas panjang mempertimbangkan apa yang diminta Erlangga kepadanya.


" Baiklah, Sayang. Jika kamu memang menginginkan itu, aku bersedia menerimanya, tapi ...."


" Tapi apa, Caroline?" tanya Erlangga penasaran dengan syarat yang akan diajukan Caroline.


" Kamu harus janji untuk tidak menghalangiku menggeluti profesiku sebagai seorang model," Hanya itu syarat yang diminta oleh Caroline dari Erlangga agar Erlangga tidak menghalangi jalannya mencapai karir sebagai model kelas dunia.


" Aku janji, Caroline. Aku akan selalu mendukungmu." Tangan Erlangga membelai rambut panjang Caroline.


Caroline pun akhirnya memeluk tubuh Erlangga dan menenggelamkan wajahnya ke dada bidang pria tampan itu.


Flashback off


Erlangga kembali menarik nafas yang terasa berat. Rasa sesak kembali terasa di hatinya jika mengingat kebahagiaan saat dia melamar Caroline.


" Maaf, Caroline. Aku mengingkari janjiku. Aku pikir dengan pernikahan kita, keinginanmu untuk mengejar karirmu akan mereda, nyatanya kamu lebih mementingkan karir dari pada pernikahan kita. Kamu lebih mengutamakan profesimu dari pada rumah tangga kita. Mungkin inilah jalan terbaik untuk kita agar kita mendapatkan apa yang kita inginkan masing-masing." gumam Erlangga.


Erlangga lalu melangkah kembali ke dalam kamarnya untuk menghubungi seseorang dengan ponselnya.


" Selamat malam, Tuan Erlangga. Apa ada yang harus saya lakukan, Tuan?" Bondan yang dihubungi oleh Erlangga langsung menjawab panggilan telepon Erlangga.


" Pak Bondan, tolong urus pengajuan gugatan cerai saya dengan Caroline secepatnya." Erlangga langsung memberikan perintah kepada Bondan.


" T-Tuan akan bercerai dengan Nyonya Caroline?" Bondan yang cukup lama mengenal Erlangga sebelum menikah dengan Caroline terkejut mendengar perintah Erlangga.


" Apa perintah saya tidak cukup jelas untuk Anda, Pak Bondan?" tanya Erlangga dengan nada yang tegas.


" Oh, jelas, Tuan. Baiklah, saya akan urus surat gugutan cerai Tuan untuk Nyonya." Bondan segera menyanggupi tugas yang diberikan Erlangga terhadapnya.


" Tolong atur secepatnya, Pak Bondan!"


" Siap, Tuan. Besok pagi surat itu akan segera kami ajukan ke pengadilan." Bondan menjawab perintah Erlangga.


Erlangga segera mematikan panggilan teleponnya setelah Bondan menyanggupi perintahnya. Dia lalu meletakkan kembali ponselnya itu di atas nakas.


Erlangga memperhatikan Kayra yang sedang berbaring. Wajah cantik wanita yang menjadi istri keduanya itu terlihat kelelahan karena permainan dua ronde yang mereka lalui tadi.


Erlangga lalu berjalan ke arah tempat tidur dan bergabung dengan Kayra dalam selimut yang sama. Erlangga mengangkat kepala Kayra dan menjadikan lengannya sebagai bantal kepala wanita itu. Dia pun memeluk tubuh polos Kayra, lalu akhirnya ikut mengistirahatkan tubuhnya bersama wanita yang baru saja dia berikan kenikmatan surga dunia yang akan menjadi candu selanjutnya bagi dirinya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2