
Kayra menyusun jadwal kerja Erlangga untuk dua minggu ke depan, beberapa pertemuan penting dengan beberapa relasi bisnis memang sedang gencar suaminya itu lakukan, karena Erlangga tidak ingin para relasinya berpaling ke perusahaan baru milik Rivaldi yang melakukan persaingan tidak sehat terhadap perusahaan Mahadika Gautama.
" Mbak Gita, ini saya sudah atur jadwal kerja selama dua Minggu ke depan, nanti kalau ada jadwal kerja tambahan tinggal dijadwal saja di tanggal yang kosong, dan usahakan jangan sampai ada jadwal yang menumpuk." Kayra mengajarkan kepada Gita agar kelak Gita bisa menghandle pekerjaannya.
" Setiap ada berkas yang harus ditandatangani suami saya, sebaiknya diserahkan kepada Pak Wira untuk dicek terlebih dahulu baru diserahkan kepada suami saya."
" Baik, Bu." Setelah mendapat teguran dari Erlangga, Gita sudah membiasakan diri memanggil Kayra dengan panggilan 'Ibu' karena bagaimanapun status Kayra menang sudah menjadi istri sah bosnya sekarang.
" Saya harap Mbak Gita bisa menguasai tugas sekretaris secepatnya, karena saya berharap Mbak Gita yang akan menggantikan posisi sekretaris Mas Erlangga setelah saya benar-benar resign nanti." Mungkin Kayra akan menjadi tim sukses Gita agar Gita bisa menjadi kandidat sekretaris Erlangga berikutnya setelah dirinya.
* Saya masih belum ahli, Bu." Gita tidak ingin terburu-buru melangkah ke jenjang yang lebih tinggi dalam waktu yang singkat, karena dia pun merasa banyak karyawan yang lebih berkompeten selain dirinya.
" Yang penting itu bekerja dengan loyalitas yang tinggi, bekerja dengan kesungguhan hati, mau belajar dan bisa mengimbangi cara bekerja suami saya, Mbak. Itu point' pentingnya ..." Kayra menasehati dan menyemangati Gita.
" Saya akan coba, Mbak. Walaupun saya merasa itu masih terlalu tinggi untuk saya gapai." Gita tahu diri dan tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi berharap mendapat jabatan sebagai sekretaris bos.
" Ya sudah, Mbak Gita kalau mau istirahat silahkan, saya juga mau sholat dulu sebelum makan siang." Kayra bangkit hendak masuk ke dalam ruangan suaminya.
" Saya makan siang dulu ya, Bu." Gita berpamitan sebelum Kayra masuk ke dalam ruang kerja Erlangga.
" Mas, kita sholat dulu, yuk!" Kayra mengajak suaminya untuk melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu sebelum mereka makan siang bersama.
Erlangga melirik arlojinya yang saat ini sudah menunjukkan pukul 12.30 menit. Dia pun segera bangkit menghampiri istrinya untuk menjalankan ibadah sholat Dzuhur.
Ddrrtt ddrrtt
Namun, suara ponsel di meja Erlangga yang berbunyi menghentikan langkah bos dari Mahadika Gautama itu yang hendak mendekat ke arah Kayra.
" Sebentar, Sayang." Erlangga meminta Kayra menunggunya sebentar saat ada panggilan masuk berbunyi. Erlangga melihat nama Bondan yang menghubunginya saat ini.
" Halo, ada apa, Pak Bondan?" Erlangga selalu menganggap telepon yang masuk dari Bondan selalu membawa informasi penting untuknya.
" Selamat siang, Tuan. Maaf jika saya menganggu waktu makan siang, Tuan." Seperti biasa, Bondan selalu menyapa dengan segala rasa hormatnya terhadap Erlangga.
" Tidak apa-apa, ada apa, Pak Bondan? Apa ada informasi penting yang ingin Anda sampaikan?" tanya Erlangga kembali.
" Benar, Tuan. Ada informasi yang ingin saya sampaikan kepada Anda. Baru saja anak buah saya yang saya tempatkan di kantin melaporkan jika tadi ada seorang wanita meracau di kantin, Tuan. Wanita itu berusaha menyebarkan gosip tentang Nyonya, Tuan."
" Siapa wanita itu? Apa dia karyawan Mahadika Gautama?" Erlangga merespon cepat informasi yang disampaikan oleh Bondan, bahkan wajahnya sudah terlihat geram mengetahui ada karyawannya yang sudah nekat melanggar larangannya untuk tidak mengusik Kayra dengan menyebarkan gosip yang tidak benar.
" Bukan, Tuan. Wanita itu mengaku calon istri Tuan dan menyebut-nyebut nama Nyonya Helen." Bondan menyanggah anggapan Erlangga yang menduga pelakunya itu adalah karyawan dari kantor Mahadika Gautama.
" Agnes?" Erlangga langsung dapat menebak siapa yang yang dimaksud oleh Bondan itu.
" Sepertinya memang dia, Tuan." sahut Bondan memastikan.
" Di mana dia sekarang? Apa masih ada di kantin?" Rasanya Erlangga ingin memberi pelajaran kepada wanita licik itu.
__ADS_1
" Dia sudah diusir oleh anak buah saya yang berjaga di sana, Tuan." Bondan mengatakan jika orang suruhannya itu sudah bekerja sesuai intrusinya.
" Lalu bagaimana kondisi kantin saat dia datang? Apa ada karyawan yang mendengarkan ucapan dia?" Erlangga ingin mengecek apakah karyawannya itu mematuhi apa yang dilarangnya atau berani melanggarnya.
" Tidak ada yang menanggapi ocehan wanita itu, Tuan. Sepertinya semua karyawan Anda lebih menyayangi pekerjaan mereka daripada merespon semua yang diucapkan oleh wanita itu," ungkap Bondan menjelaskan situasi di kantin kantor Erlangga berdasarkan apa yang dilaporkan oleh anak buahnya.
" Bagus jika begitu. Mulai sekarang, tolong Anda atur anak buah Anda untuk mengawasi Agnes, Pak Bondan! Saya tidak ingin dia bertindak semakin gi la lagi, apalagi sampai menyakiti istri saya." Erlangga menoleh ke arah Kayra yang langsung mengerutkan keningnya karena penasaran dengan isi percakapan suaminya dengan Bondan, apalagi Erlangga sampai menyebut nama Agnes dalam percakapannya itu dengan Bondan
" Baik, Tuan. Akan saya atur anak buah saya untuk membatasi ruang gerak wanita itu." Bondan langsung menjawab dengan menyanggupi perintah yang diberikan Erlangga kepadanya.
Erlangga segera memutuskan percakapan teleponnya lalu meletakkan kembali ponsel itu di atas meja kerjanya.
" Kenapa, Mas? Ada apa dengan Nona Agnes?" tanya Kayra ingin tahu.
" Tidak ada apa-apa, hanya masalah kecil saja, semua sudah ditangani oleh anak buah Pak Bondan." Erlangga lalu merangkulkan tangannya mengajak istrinya itu keluar dari ruangannya untuk ke ruang musholah khusus yang ada di belakang ruangan kerja Wira.
" Mas, memangnya anak buah Pak Bondan itu ada berapa orang, sih? Kayaknya di setiap tempat pasti ada." Memang Kayra merasa heran, karena anak buah Bondan seperti tersebar di mana-mana. Dia sendiri tidak tahu berapa banyak uang yang dihabiskan Erlangga untuk membayar Bondan dan anak buahnya itu.
" Kamu ingin tahu?"
" Iya, soalnya banyak sekali. Memang ada berapa orang?"
Sambil mencubit cuping hidung Kayra, Erlangga menjawab, " Rahasia, dong!" Erlangga terbahak karena sudah membuat istrinya penasaran namun dia tidak memberikan jawaban.
" Mas, iiihh ..." Kayra mengusap hidungnya yang tadi dicubit Erlangga.
***
Agnes baru saja keluar dari sebuah bank swasta terkenal setelah melakukan penarikan uang tunai sejumlah dua puluh lima juta rupiah. Agnes akhirnya menyetujui nominal yang diajukan oleh Bobby demi menyingkirkan Kayra dan menggapai ambisinya menjadi istri Erlangga.
Agnes segera menghubungi nomer Reno, untuk menyuruh Reno menghubungi orang yang akan dia suruh melaksanakan misinya itu. Agnes memilih bertemu langsung dengan Bobby untuk menyerahkan uang donw payment sebesar dua puluh juta rupiah secara tunai, dia tidak ingin melakukan transfer antar rekening karena dia tidak ingin beresiko jejaknya terlacak jika rencananya gagal dan Bobby tertangkap.
Tak berapa lama Agnes sampai di sebuah restoran yang sudah dia janjikan untuk melakukan pertemuan dengan Bobby juga Reno. Sekitar sepuluh menit berselang, Reno dan Bobby tiba juga di hadapan Agnes.
" Hai, sorry kita telat dikit. Kenalkan ini Bobby, teman yang aku ceritakan." Reno memperkenalkan Bobby kepada Bobby.
" Bobby ..." Bobby mengulurkan tangannya memperkenalkan namanya kepada Agnes, namun tidak langsung ditanggapi oleh Agnes.
Agnes menatap ke arah sosok Bobby yang dikenalkan oleh Reno, dia sampai mengedikkan melihat tampang Bobby yang dianggapnya menakutkan dengan badan kekar berotot.
" Aku tidak mau berbasa-basi, ini uang DP dua puluh lima juta, kamu harus segera bertindak, aku tidak ingin wanita itu semakin bertindak semena-mena." Agnes langsung to the point menyampaikan apa tujuannya meminta bertemu dengan Bobby. " Ini tanda terima penyerahan uangnya, silahkan kamu cek lagi dan tanda tangani. " Dia lalu mengambil ponselnya untuk mengabadikan penyerahan uang down payment atas tugas uang yang dia serahkan kepada Bobby.
" Oke." Bobby menandatangi tanda terima uang yang diserahkan Agnes kepadanya.
" Apapun rencana yang kamu buat, aku minta kamu jangan melakukan hal yang membahayakan nyawa wanita itu, karena aku tidak mau membusuk di penjara karena dituduh melakukan pembunuhan berencana," Agnes memberikan instruksi agar Bobby tidak sampai melakukan tindak kriminal yang membuat nyawa Kayra terancam, karena dia masih takut terjerat kriminal walaupun dia ingin menyingkirkan Kayra.
" Mungkin saya akan 'mendekati' keluarganya, dan membawa keluarganya itu pergi tanpa sepengetahuan wanita itu." Bobby menyampaikan rencananya yang ingin menculik keluarga Kayra.
__ADS_1
" Kamu ingin menculik dia? Aku tidak mau jika sampai polisi terlibat dalam hal ini." Agnes keberatan dengan rencana Bobby yang ingin menculik keluarga dari Kayra, karena dia bisa bayangkan pasti akan ada campur tangan pihak yang berwenang jika Erlangga sampai tahu ada orang yang mengusik keluarga Kayra.
" Lalu kamu ingin saya melakukan apa?" Bobby balik bertanya.
" Fitnah dia, sebarkan berita tidak benar tentang dia, bunuh karakternya di hadapan publik agar Erlangga meninggalkan dia, tapi jangan main fisik!" Sebenarnya Agnes memang tidak punya nyali, walau hatinya dipenuhi dengan kedengkian.
" Kalau kau ingin melakukan misi itu, kenapa kamu tidak sewa saja perkumpulan ibu-ibu rumpi yang senang bergosip?" Bobby menyindir Agnes, karena menyewa dirinya hanya untuk melakukan tugas yang menurutnya hanya pantas dilakukan oleh kaum wanita-wanita yang senang berghibah.
" Pantas saja kamu menawarkan harga yang sangat murah untuk menjalankan misimu itu," sindir Bobby kembali.
" Hei, aku tidak ingin di penjara karena masalah ini!" ketus Agnes karena Bobby menyindirnya.
" Kalau kau masih takut berurusan dengan polisi, sebaiknya jangan berbuat kejahatan! Cukup duduk manis saja di rumah, atau tidur saja ditemani pria-priamu itu!" Bobby tahu siapa Agnes dari Reno, sudah pasti dia sedikit tahu wanita seperti apa Agnes itu, karenanya dia menyindir Agnes dengan kalimat yang menohok.
Mendengar sindiran soal kebiasaannya, Agnes langsung mendelik ke arah Reno yang menyeringai seraya mengusap tengkuknya.
" Si al, kau!!" umpat Agnes kesal karena aibnya dibongkar oleh Reno.
" Jadi bagaimana? Setuju atau tidak dengan rencanaku?" Bobby menegaskan apakah Agnes mau mengikuti rencananya atau tidak.
" Oke, tapi kalian harus hati-hati! Jangan sampai mereka sampai lapor ke polisi!" Agnes memberi intruksi agar Bobby agar lebih waspada.
" Tenang saja, asal fee yang kamu berikan memuaskan," sahut Bobby.
" Ya sudah, sebaiknya segera kamu lakukan misi ini secepatnya! Aku muak melihat wanita itu semakin merajarela!" geram Agnes mengingat betapa beruntungnya Kayra bisa menjadi istri Erlangga, memupuskan keinginannya menggantikan posisi Caroline sebagai istri pengusaha muda itu.
" Oke, secepatnya saya akan menjalankan rencana ini." Bobby langsung merespon. " Ya sudah, saya cabut dulu sekarang, ada hal yang mesti aku urus." Bobby bangkit dari duduknya dan berpamitan kepada Agnes diikuti oleh Reno di belakangnya.
Tanpa mereka sadari seorang pria di belakang meja mereka duduk, sejak tadi mencuri dengar percakapan mereka bertiga, terutama percakapan antara Agnes dan juga Bobby. Pria itu langsung bangkit saat melihat Bobby dan Reno keluar meninggalkan restoran tersebut.
Pria itu pun segera menghubungi seseorang dengan ponselnya.
" Halo, bos. Target sedang berada di salah satu resto di kawasan SCBD. Tapi saya harus meninggalkan dia, karena dia baru saja menyewa orang untuk membuat masalah dengan istri dari Tuan Erlangga, dan saya harus mengikuti orang sewaannya itu agar tidak melakukan hal yang bisa mencelakai Nyonya Kayra." Bondan langsung bergerak cepat menyuruh anak buahnya untuk mengawasi Agnes. Dan benar saja, anak buah dari Bondan sudah berhasil mencium rencana busuk Agnes yang menyewa orang untuk berbuat licik terhadap Kayra. Bahkan orang suruhan Bondan itu begitu cekatan langsung mengikuti orang sewaan Agnes tadi.
" Bagus, kamu awasi orang itu, jangan sampai kecolongan. Nanti saya akan atur orang lain yang akan mengawasi Agnes, kau fokus saja pada orang suruhan wanita licik itu,!" Bondan memberikan instruksi apa yang harus dikerjakan oleh anak buahnya yang mengawasi Agnes.
" Baik, Bos." sahut anak buah Bondan yang disuruh mengawasi segala gerak-gerik Agnes.
*
*
*
Bersambung ....
Happy Reading ❤️
__ADS_1