
Wisnu segera membawa Caroline kembali ke hotelnya dengan Caroline yang masih saja menangis tersedu. Wanita itu berkali-kali menghubungi Erlangga namun panggilan teleponnya itu tidak juga diangkat oleh Erlangga.
Wisnu kemudian menghubungi Robin dari ponsel Caroline untuk mencari informasi tentang berita yang disampaikan oleh Robin soal gugatan cerai Erlangga.
" Halo, Pak Robin. Ada apa?" Wisnu langsung bertanya kepada Robin saat panggilan teleponnya tersambung dengan Robin.
" Pak Wisnu, Nyonya Caroline ada di mana?" Robin menanyakan keberadaan Caroline karena yang menghubunginya saat ini memakai ponsel Caroline adalah Wisnu.
" Caroline sedang menangis karena kabar yang Anda kirimkan, Pak Robin." ujar Wisnu.
" Oh, Maaf. Pak Wisnu." sesal Robin karena berita yang disampaikannya membuat Caroline menangis.
" Dari mana Pak Robin mendapatkan berita tentang gugatan cerai Erlangga?" tanya Wisnu kemudian.
" Saya mendapatkan kabar dari Pak Nico, kuasa hukum dari Tuan Erlangga, Pak Wisnu." Robin menjelaskan bagaimana dia mendapatkan informasi jika Erlangga telah melayangkan gugatan perceraian.
" Saya harap Nyonya Caroline dan Tuan Erlangga menjalankan mediasi agar perceraian ini bisa dihindari, Pak Wisnu." Robin tentu akan melakukan hal yang terbaik agar perceraian itu tidak sampai terjadi.
" Saya rasa tidak perlu, Pak Robin!" Wisnu menolak rencana mediasi antara Caroline dan Erlangga karena dia sudah yakin jika Erlangga dan Caroline tidak akan cocok jika terus bersama.
" Maksud Anda, Pak Wisnu?" Robin bertanya heran.
" Biarkan saja mereka berpisah. Saya rasa pernikahan antara Erlangga dan Caroline memang sudah tidak bisa dipertahankan karena Erlangga dan Caroline sudah tidak sejalan."
Kalimat yang diucapkan Wisnu tentu saja membuat Robin terkejut, dia tidak menyangka jika Wisnu sangat mendukung keputusan cerai dari Erlangga,
" Apa Nyonya setuju dengan perceraian ini?" tanyanya ragu karena tadi Wisnu mengatakan jika Caroline menangis mendengar kabar yang dia sampaikan.
" Caroline tidak akan bahagia jika dipaksakan terus bersama dengan Erlangga, Pak Robin!" tegas Wisnu.
Tak ada jawaban dari Robin hingga beberapa detik namun akhirnya dia menjawab, " Baiklah Pak Wisnu jika memang seperti itu keputusan Nyonya Caroline. Saya sarankan agar Nyonya Caroline tidak usah datang dalam sidang nanti agar proses perceraiannya lancar dan proses perceraian bisa lebih cepat." Robin memberikan saran jika memang Caroline menyetujui perceraiannya dengan Erlangga.
" Baiklah, Pak Robin." Wisnu melirik ke arah Caroline yang menangis dengan menutup wajah dengan kedua tangannya di tepi tempat tidur.
Setelah mengakhiri percakapan dengan Robin melalui sambungan telepon, Wisnu lalu berjalan melangkah menghampiri Caroline.
" Sudahlah, Caroline. Jangan menangis seperti anak kecil. Jika memang Erlangga sudah memutuskan untuk berpisah untuk apa kamu pertahankan dia? Dia itu hanya ingin memang sendiri saja dan tidak memperdulikan kamu, untuk apa kamu tangisi? Aku rasa ini adalah jalan terbaik untuk kamu agar kamu bisa lebih fokus dengan karirmu tanpa harus memikirkan soal rumah tangga." Wisnu menepuk pundak Caroline, memberi semangat kepada wanita itu agar tidak sedih dengan keputusan yang diambil oleh Erlangga.
" Tapi aku tidak ingin bercerai, Wisnu." sahut Caroline dengan terisak.
" Apa yang kamu cari dengan pernikahanmu? Kamu hanya mencintai Erlangga, selebihnya? Apa kamu bisa menjadi istri yang melayani dia setiap hari? Apa kamu bisa memasak untuknya? Menyediakan makanan untuknya? Apa kamu bersedia untuk memberikan anak untuk Erlangga sekarang ini? Kamu tidak punya waktu untuk itu karena profesi kamu yang mengharuskan kamu selalu jauh dari Erlangga, Caroline. Biarkan saja Erlangga mencari sesuatu yang membuat dia bahagia seperti kamu juga bisa mencapai keinginan kamu yang kamu cita-citakan sejak dulu tanpa ada yang menghalangi." Wisnu terus mempengaruhi Caroline agar wanita itu bisa berpikir realistis. Karena selama ini Caroline memang sering meninggalkan tugas dia sebagai seorang istri bagi Erlangga.
" Tapi Erlangga sudah berjanji akan mendukungku, Wisnu." Caroline masih bertahan karena Erlangga berjanji akan mendukungnya.
" Janji itu dia ucapkan saat dia akan menikahimu, jika dulu dia tidak berjanji, mana mungkin kamu mau menerima lamaran dia, kan?" Wisnu berbicara dengan nada mencibir, karena dia yakin Caroline akan menolak lamaran Erlangga jika saat itu Erlangga melarang Caroline menggeluti profesinya sebagai model.
" Tapi, Wis ...."
" Sudahlah, Caroline. Mulai saat ini kamu harus bisa melupakan Erlangga. Perlahan hapus nama Erlangga di hati kamu agar kamu bisa mendapatkan kebahagiaanmu yang seutuhnya." Mungkin Wisnu adalahg orang yang paling bersemangat dengan perceraian Erlangga dan Caroline. Setidaknya Caroline akan lebih bebas menentukan karirnya tanpa ada orang yang selalu menghalanginya.
***
" Saya akan berangkat lebih dulu, nanti kamu berangkat seperti biasa dengan Pak Koko." ujar Erlangga kepada Kayra selepas mereka sarapan bersama.
__ADS_1
" Semalam ada orang yang mengikuti kita ke rumah ini, jadi saya harap kamu harus berhati-hati jika akan keluar dari rumah. Hmmm, maksud saya ... kamu tidak perlu terlalu cemas karena Pak Koko akan menjaga kamu, saya hanya tidak ingin kamu atau Ibu kamu keluar dari rumah ini dan terlihat oleh orang lain. Jika membutuhkan sesuatu suruh saja ART yang ada di sini." Sebenarnya Erlangga tidak ingin memberitahu soal orang mengikuti mereka, namun Erlangga terpaksa memberitahu Kayra agar Kayra lebih hati-hati tidak menampakkan diri keluar dari rumah tinggalnya itu.
Apa yang disampaikan Erlangga tentu membuat Kayra gelisah saat tahu ada orang yang mengikuti mereka sampai ke rumah tempat tinggalnya.
" Siapa yang mengikuti, Pak?" Nada kecemasan langsung terdengar dari mulut Kayra.
Erlangga mendekat dan menangkup wajah cantik Kayra.
" Kamu tidak usah khawatirkan mereka. Saya hanya minta kamu jangan keluar dari rumah tanpa saya atau Pak Koko. Kamu mengerti?" Erlangga meminta istri sirinya itu untuk tidak khawatir akan orang yang membuntuti mereka.
" Tapi, Pak ...."
" Semua sudah diurus oleh orang suruhan Pak Bondan. Saya pastikan tidak akan ada orang yang akan mengetahui keberadaan kamu di sini. Saya pergi dulu." Lalu Erlangga menempelkan bibirnya pada kening Kayra cukup lama sebelum akhirnya pria itu meninggalkan Kayra yang sebenarnya sudah bersiap untuk berangkat.
Kayra bergegas menemui Ibunya setelah kepergian Erlangga untuk memberitahukan apa yang tadi Erlangga sampaikan kepadanya.
" Bu ...."
" Kayra, kenapa kamu tidak berangkat bersama suamimu?" tanya Ibu Sari.
" Pak Erlangga menyuruh Kayra berangkat bersama Pak Koko nanti, Bu. Mungkin Pak Erlangga ingin ke rumahnya dulu." Kayra yang awalnya ingin menceritakan soal orang yang mengikuti dirinya dan Erlangga mengurungkan niatnya itu karena dia tidak ingin membuat Ibunya cemas.
" Bu, sebaiknya Ibu jangan keluar-keluar dari rumah ini, ya!? Kayra tidak ingin ada yang mengenali kita di sini." Kayra hanya menitipkan pesan kepada Ibunya agar tetap berada di dalam rumah saja.
" Memangnya Ibu mau ke mana, Kayra? Ibu tidak tahu daerah sini, bagaimana Ibu akan keluar dari sini?" jawab Ibu Sari.
" Ya sudah kalau begitu Kayra berangkat sekarang ya, Bu. Assalamualaikum ..." Kayra mencium punggung tangan Ibu Sari kemudian berangkat meninggalkan rumah itu menuju kantor Erlangga.
***
" Siang, Kayra. Apa Pak Erlangga ada di tempat?" tanya Pak Hendro kepada Kayra.
" Ada, Pak. Silahkan. Bapak sudah ditunggu oleh Pak Erlangga." Kayra bangkit untuk mengantar Pak Hendro masuk ke dalam ruangan kerja Erlangga.
" Tidak usah, Kayra. Biar saya sendiri saja." Hendro menolak Kayra yang ingin mengantarnya lalu berjalan dan berhenti di depan pintu ruangan kerja Erlangga.
" Selamat siang, Pak." Pak Hendro masuk ke dalam ruangan kerja Erlangga setelah mengetuk pintunya terlebih dahulu.
" Masuklah, Pak Hendro." Erlangga mempersilahkan Pak Hendro untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya. " Silahkan duduk ...."
" Terima kasih, Pak." Hendro segera duduk di kursi depan meja berhadapan dengan Erlangga.
" Ada apa Bapak memanggil saya?" tanya Hendro yang merasa cukup berdebar dipanggil Erlangga untuk menghadap.
" Pak Hendro, saya ingin Anda segera mengeluarkan Rivaldi dari kantor ini." Erlangga merasa jika Rivaldi merupakan ancaman baginya hingga dia perlu menjauhkan Kayra dari pria itu dengan memecat Rivaldi yang dianggap terlalu berani menentang setiap perintahnya bahkan pria itu cenderung menantang setiap larangan yang diberikan olehnya.
" Pak Rivaldi dari divisi marketing maksud Bapak?" Hendro terkesiap mendengar ucapan Erlangga yang bernada perintah kepadanya.
" Apa ada karyawan lain bernama Rivaldi di kantor ini selain dia?"
" Tidak, Pak. Hanya ada satu nama Rivaldi dan dia berada di divisi Marketing," sahut Hendro.
" Kalau begitu segera laksanakan tugas yang saya beri ini, Pak Hendro." Erlangga benar-benar ingin menyingkirkan Rivaldi dari kantornya.
__ADS_1
" Hmmm, maaf, Pak. Memangnya ada kesalahan apa yang dibuat oleh Pak Rivaldi hingga dia harus dikeluarkan dari kantor ini?" Hendro merasa penasaran dengan keputusan Erlangga yang ingin mengeluarkan Rivaldi dari Mahadika Gautama, karena ketika suatu perusahaan ingin mengeluarkan salah seorang karyawannya pasti ada alasan dibalik keputusan itu. Dan selama dia bekerja di perusahaan tersebut, dia tidak pernah menerima perintah untuk mengeluarkan karyawan dari Erlangga sebelumnya, hingga dia merasa penasaran, kesalahan fatal apa yang dilakukan oleh Rivaldi kepada Mahadika Gautama hingga membuat Rivaldi akan dipecat.
" Saya tidak suka tipe orang pembangkang, Pak Hendro. Jadi saya rasa Anda tahu maksud saya, kan?" Kalimat bernada dingin langsung terucap dari bibir Erlangga membuat Hendro merinding
" Baiklah, Pak. Saya akan membuat surat pemutusan hubungan kerja untuk Pak Rivaldi." Tak ingin menjadi pelampiasan amarah Erlangga, Hendro segera menyanggupi apa yang diperintahkan bosnya itu kepadanya.
" Anda boleh kembali ke tempat Anda, Pak Hendro." Selanjutnya Erlangga menyuruh Hendro untuk kembali ke ruangannya.
" Baik, Pak. Permisi." Dengan bergegas Hendro keluar dari ruangan Erlangga namun hatinya masih diselimuti tanda tanya besar dengan kesalahan yang dilakukan Rivaldi hingga Erlangga terpaksa harus memecatnya.
Erlangga lalu menghubungi Wira yang saat ini sedang bersama Krisna berada di Seoul untuk memberitahu soal keputusannya memecat Rivaldi.
" Halo, Pak Wira. Apa Anda sedang bersama Papa saya?" tanya Erlangga setelah hubungan teleponnya tersambung dengan Wira.
" Pak Krisna sedang berbincang dengan Mr. Lee, Ada apa, Pak Erlangga?" tanya Wira.
" Bagaimana hasil pembicaraan kerjasama dengan pihak mereka?" tanya Erlangga.
" Kami sedang berusaha melobby mereka, Pak. Masalahnya ada perusahaan lain di daerah Bandung yang menawarkan kerjasama dengan mereka. Kita sedang mayakinkan mereka agar kerjasama itu bisa kita dapatkan." Wira menjelaskan hasil pertemuan dengan perusahaan terkenal di Korea itu.
" Perusahaan lain dari Bandung?"
" Perusahaan baru tapi merupakan anak perusahaan besar di sana Mereka berani menjanjikan keuntungan yang besar kepada pihak dari Korea jika perusahaan Korea ini mau memberikan kontrak kerja dengan mereka." Wira kembali menjelaskan munculnya pesaing baru Mahadika Gautama.
" Berani sekali mereka menawarkan keuntungan besar padahal mereka adalah perusahaan baru." Erlangga tak habis pikir karena pesaingnya itu mengambil langkah terlalu beresiko.
" Kita lihat saja kekuatan mereka sampai di mana, Pak. Apa mereka mampu bersaing dengan Mahadika Gautama!?" Wira sangat yakin jika eksistensi perusahan yang kini dipimpin oleh Erlangga tidak mudah digoyahkan apalagi oleh pesaing baru.
" Ya sudah, usahakan agar kontrak kerjasama itu kita yang dapatkan."
" Kami sedang berusaha yang terbaik, Pak." sahut Wira.
" Oh ya, Pak Wira. Saya akan memberhentikan Rivaldi dari kantor ini." Erlangga memberitahu Wira soal pemecatan Rivaldi olehnya.
" Pak Rivaldi? Memangnya ada apa Anda memecat Pak Rivaldi, Pak?" Sama seperti Hendro, Wira pun sangat kaget dengan keputusan Erlangga.
" Dia mencurigai kedekatan saya dengan Kayra. Saya tidak ingin dia tahu jika Kayra adalah istri saya." Erlangga menjelaskan alasannya.
" Maaf, Pak. Kenapa tidak dipindah ke cabang lain saja, Pak?" Wira merasa pemecatan Rivaldi terlalu berlebihan karena Rivaldi tidak melakukan kelalaian dalam pekerjaan. Dia pun khawatir jika Rivaldi tidak menerima pemecatan sepihak dari pihak kantor.
" Dia selalu membantah apa yang selalu diperintahkan oleh saya. Saya tidak suka dengan orang pembangkang seperti dia." Keputusan Erlangga sepertinya sudah bulat dan tidak ingin diganggu gugat oleh siapapun.
" Baiklah jika memang itu sudah menjadi keputusan Anda, Pak." Wira hanya bisa menerima keputusan Erlangga dengan pemecatan Rivaldi.
***
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️