
Hari ini Erlangga menyuruh Koko yang membawa mobil untuk mengantar dirinya dan juga Kayra ke kantor Mahadika. Dan Erlangga meminta Koko agar berhenti di lobby utama gedung perkantoran miliknya itu. Tidak seperti biasanya karena Erlangga selalu membawa mobil sendiri dan memarkirkan mobilnya di basement gedung perkantoran itu.
Erlangga memang sengaja ingin menunjukkan kepada karyawannya tentang status Kayra sekarang ini, agar para karyawannya menaruh rasa homat kepada Kayra yang saat ini sudah menjadi istri sahnya itu.
Erlangga turun dari mobil setelah Koko membukakan pintu untuknya, setelah itu dia menunggu dan mengulurkan tangan membantu Kayra turun dari pintu mobil yang sama dengannya. Kemudian dia berjalan memasuki gedung kantornya dengan menggenggam tangan Kayra penuh rasa percaya diri.
Berbeda dengan suaminya yang begitu confident berjalan dengan langkah tegap, Kayra justru tidak berani menatap lurus ke depan, karena sudah dipastikan saat ini semua mata karyawan akan tertuju ke arahnya.
" Selamat pagi, Pak." Security dan karyawan di sana langsung menyapa melihat kedatangan Erlangga.
" Pagi ..." sahut Erlangga, dia lalu mengehentikan langkahnya lalu merangkulkan tangannya di pundak Kayra. " Saya rasa kalian sudah mendengar dari atasan kalian masing-masing jika sekarang ini Kayra adalah istri saya, dan mulai saat ini dia tidak lagi menjadi sekretaris saya." Erlangga seakan memberi pengumuman kepada karyawannya tentang Kayra yang sudah menjadi istri resminya.
Apa yang dikatakan oleh Erlangga sontak membuat beberapa karyawan di bagian front office tercengang tak percaya, karena sebagian dari mereka belum sempat mendengar hal itu dari atasan mereka.
" Tidak ada yang perlu diperbincangkan dengan status Kayra saat ini, saya menikahi Kayra atas keinginan saya, jadi hapus semua anggapan kalian jika saya menikahi Kayra karena dia menggoda saya atau apapun pikiran buruk kalian tentang Kayra. Dan jika saya sampai mendengar ada yang berkata buruk tentang istri saya ini, saya tidak akan segan memecat kalian! Apa kalian semua paham?!" Erlangga memberi penekanan bernada ancaman pada kalimat yang diucapkannya itu.
" Baik, Pak." Dengan kompak beberapa karyawan menyahuti ucapan Erlangga.
Sedangkan Kayra sampai menahan nafasnya, dia mencoba untuk menaikkan pandangannya menatap beberapa orang karyawan kantor suaminya. Tak bisa dipungkiri, tatapan-tatapan penuh tanda tanya yang dia tangkap saat memandang mereka.
" Beritahu teman kalian yang lain juga!" perintah Erlangga kemudian sebelum melanjutkan langkahnya menuju arah lift tanpa memperdulikan karyawannya yang bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa bosnya itu menikahi Kayra,? Namun, mereka harus bisa menahan has rat untuk bergosip karena ancaman pemecatan yang ditebarkan oleh Erlangga. Erlangga melakukan semua itu agar tidak ada yang akan berkata buruk tentang Kayra.
" Ya Allah, Mas ... kenapa harus mengancam seperti itu, sih?" Merasa suaminya terlalu keras mengancam para karyawan di kantor Erlangga, Kayra langsung menegur suaminya saat mereka sudah berada di dalam lift menuju lantai sembilan di mana ruangan kerja Erlangga berada.
" Jika aku tidak mengancam seperti itu, mereka akan seenaknya saja menggosipkanmu, Sayang." Erlangga mengusap pipi mulus istrinya, diakhiri dengan memberi kecupan singkat di pipi Kayra.
" Tapi aku takut mereka akan ...."
" Sssttt ... berhentilah memikirkan hal itu!" Dengan menempelkan jarinya di bibir Kayra, Erlangga meminta Kayra untuk berhenti memikirkan hal-hal yang buruk yang akan mempengaruhi kesehatan janin di perut Kayra.
Senyuman terkulum di sudut bibir Kayra, sungguh perlakuan manis Erlangga seperti ini lambat laun sepertinya akan meruntuhkan pertahanan hatinya yang semula tidak ingin jatuh cinta pada pria itu.
" Lalu aku harus mengerjakan apa di sini kalau aku memang sudah bukan sekretaris Mas lagi?" Sudah bisa Kayra bayangkan kejenuhan yang luar biasa jika dia tidak mengerjakan pekerjaan di kantor suaminya itu.
" Kamu tidak perlu melakukan apa-apa, Sayang. Kamu hanya perlu menemaniku saja." Erlangga merangkulkan tangannya di pundak Kayra.
__ADS_1
" Lalu siapa yang akan menggantikan aku menjadi sekretaris Mas?" Kayra ingat jika Erlangga pernah mengatakan bukan Gita yang akan menjadi sekretarisnya jika dia resign nanti.
" Nanti Pak Hendro akan merekomendasikan karyawan kantor ini yang cocok menjadi sekretarisku, selanjutnya Pak Wira yang akan memilihkan karyawan yang kompeten untuk tugas itu," jawab Erlangga.
" Kenapa tidak Mbak Gita saja, Mas? Aku bisa mengajarkan Mbak Gita supaya bisa menghandle pekerjaanku dulu." Entah mengapa Kayra merasa jika dia akan lebih tenang kalau Gita yang akan mengambil alih tugasnya di kantor Mahadika Gautama.
" Aku yakin dia bisa menjadi sekretaris Mas yang baik." bujuk Kayra kembali.
" Kenapa kamu tidak ingin orang lain yang mengisi posisimu? Apa kamu takut aku akan berpaling?" Erlangga justru meledek istrinya itu.
" Ah, tidak kok, Mas. Aku hanya ..." Kayra tidak melanjutkan ucapannya, dia sendiri bingung ingin memberikan jawaban apa kepada suaminya tersebut. Dia hanya takut sekretaris yang baru tidak bisa menjalankan pekerjaannya dengan baik, seperti dia selama ini bertugas melayani Erlangga dalam hal pekerjaan.
Ting
Lift yang membawa Kayra dan Erlangga berhenti di lantai sembilan, setelah pintu terbuka mereka pun keluar dan melangkah ke arah ruangan Erlangga.
" Selamat Pagi, Pak. Mbak Kayra." Gita menyapa Erlangga dan Kayra saat melihat kemunculan mereka dari dalam lift.
" Pagi, Mbak Gita." Dengan tersipu malu Kayra membalas sapaan Kayra.
" Oh, baik, Pak. Maaf, Bu." Gita segera meralat panggilannya setelah terkena tegur bosnya itu.
Kayra hanya menggelengkan kepala melihat suaminya sudah menerapkan aturan-aturan yang harus dilaksanakan karyawan kantor Mahadika yang bersangkutan dengan dirinya.
***
Seorang pria memasuki sebuah club boxing yang siang itu tidak terlalu ramai, pandangan mata pria itu mengedar seakan sedang mencari seseorang yang dia kenal.
" Cari siapa, bro?" Seorang pria bertubuh kekar datang menghampiri dan menyapa pria tersebut.
" Bobby, saya cari Bobby." sahut pria itu kepada pria bertubuh kekar yang menyapanya.
" Bobby? Apa kamu teman Bobby?" tanya pria bertubuh kekar itu mengerutkan keningnya, karena Bobby adalah salah satu orang kepercayaan pemilik club boxing itu.
" Iya, saya Reno, teman sekolah Bobby waktu SMA dulu." Pria yang tak lain adalah Reno, yang ditugasi Agnes untuk mencari orang yang bisa membantu menjalankan rencana Agnes, sengaja datang untuk mencari orang yang bisa diajak bekerja sama untuk memisahkan Erlangga dengan Kayra.
__ADS_1
" Oh, tunggu sebentar, saya panggilkan dulu. Kamu bisa duduk di sana!" Pria bertubuh kekar menunjuk tempat duduk di sudut bangunan itu lalu meninggalkan Reno untuk memanggil Bobby, sedangkan Reno berjalan menuju ke ruang tunggu yang ditunjuk oleh pria kekar tadi.
Sekitar sepuluh menit menunggu. akhirnya pria bernama Bobby muncul dan mendekat ke arah Reno.
" Hai, Ren. Ada apa kau kemari?" Bobby melakukan fish bump kepada Reno yang langsung bangkit dari duduknya saat melihat kemunculan Bobby.
" Hei, Bob. Apa kabar?" tanya Reno berbasa-basi.
" Seperti yang kau lihat, sehat-sehat saja. Sibuk apa kau sekarang, Ren?" tanya Bobby membalas pertanyaan basa-basi Reno.
" Masih seperti dulu, Bob. Kuliah sambil melukis." sahut Reno yang merupakan mahasiswa jurusan seni rupa.
" Oh ya, ada apa kamu kemari, Ren?"
" Aku butuh pertolonganmu, Bob." sahut Reno, mengatakan tujuan kedatangannya karena dia membutuhkan bantuan Bobby.
" Bantuan apa? Ayo duduk dulu." ujar Bobby mempersilahkan Reno untuk duduk kembali.
" Apa kita bisa bicara di luar, Bob? Tidak enak bicara di sini." Karena apa yang ingin dibicarakannya perihal rencana yang ingin dijalankan oleh Agnes, Reno merasa tidak nyaman bicara di tempat itu.
" Sepertinya hal serius yang ingin kau katakan ini, Ren?"
" Seperti itulah, Bob."
" Oke, kita ke cafe di depan sana saja." Dari jendela Bobby menunjuk arah cafe yang terletak di depan gedung club' boxing tersebut.
" Oke, Bob." Reno pun menyetujui cafe yang ditunjuk oleh Bobby untuk membicarakan bantuan apa yang dibutuhkan oleh Reno. Mereka pun akhirnya pergi ke cafe yang dimaksud oleh Bobby.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️