MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO

MENJADI ISTRI SIMPANAN SANG CEO
Berbicara Empat Mata Dengan Nugraha


__ADS_3

Di kantor Jaya Raya Garment, Rivaldi sedang berbincang dengan Papanya. Dia yang kebetulan ada pertemuan dengan relasi bisnisnya di Bandung menyempatkan diri untuk mengunjungi kantor Papanya itu.


Kepada Papanya, Rivaldi banyak bercerita tentang Grace yang ternyata telah menipunya. Walaupun Nugraha sendiri sudah mendengar cerita dari Arina soal wanita yang mengaku bernama Rena itu bukanlah anak dari pemilik perusahaan Langgeng Putra Persada.


" Apa kamu mencari informasi tentang siapa Rena itu, Aldi?" tanya Nugraha.


" Iya, Pa. Aku sudah mendapatkan informasi dari Jimmy tentang siapa Rena. Ternyata dia adalah anak seorang pengusaha terkenal dan juga seorang desainer bernama Agatha Hirawan. Apa Papa kenal?" Karena Papanya bergerak dalam bidang Garment, Rivaldi bertanya kepada Papanya soal Agatha.


" Agatha Hirawan? Ya, Papa memang sering mendengar namanya. Dia salah satu desainer ternama," sahut Nugraha yang merasa mengenali nama yang disebutkan oleh Rivaldi.


" Lalu, apa maksud dari anak Agatha menyamar dan membohongimu seperti itu, Aldi?" Nugraha berpikir hingga keningnya berkerut. Dia berpikir apa hubungannya anaknya dengan anak dari Agatha.


" Entahlah, Pa. Awalnya aku berpikir ini ada hubungannya dengan Mahadika. Tapi, saat aku tahu siapa Rena, aku jadi ragu jika mereka saling hubungannya," tutur Rivaldi mengungkapkan kecurigaan awalnya jika Grace memang bekerja untuk Erlangga.


Nugraha menghempas nafas panjang mendengar perkataan Rivaldi. Dia memang tahu, selama ini putranya itu melakukan persaingan dengan Mahadika Gautama.


" Sejak awal Papa tidak setuju dengan sikapmu itu, Aldi. Papa tidak ingin kamu mempunyai musuh. Papa ingin kamu bersaing sehat dengan perusahaan yang bergerak di bidang yang sama denganmu. Apalagi harus bersinggungan dengan keluarga Mahadika Gautama ..." Nugraha menyatakan penyesalannya dengan sikap anaknya itu, sehingga membuat orang lain kini melakukan penyamaran yang kemungkinan berniat menjatuhkan Rivaldi.


" Aku tidak tega melihat Mama selalu bersedih jika mengingat anaknya, Pa. Keluarga Mahadika harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dilakukan oleh anggota keluarganya terhadap Mama, sampai Mama harus kehilangan anaknya yang tidak tahu berada di mana saat ini!" Rivaldi yang sejak kecil selalu melihat Arina bersedih, merasakan sakit hati terhadap keluarga Mahadika atas hal yang menimpa Arina. Rivaldi merasa semua ini adalah kesalahan keluarga Krisna Mahadika Gautama, walaupun pelakunya adalah adik sepupu istri Krisna, yang bukan keturunan langsung keluarga Mahadika Gautama.


" Tapi kita tidak usah terlalu ikut campur dengan masalah itu. Mamamu juga tidak pernah membenci keluarga Mahadika, kenapa kamu justru menyimpan dendam itu, Nak? Hal itu tidak baik untuk dirimu ke depannya, Aldi." Nugraha mencoba menasehati Rivaldi agar bisa berpikir secara terbuka dan tidak mengedepankan sikap egois dan emosi.


Rivaldi terdiam, tidak merespon apa yang dikatakan oleh Papanya. Dia tahu apa yang dia lakukan adalah salah. Namun, rasa sayangnya kepada Arina, walau Arina adalah Mama sambungnya, membuatnya ingin memberikan pelajaran kepada keluarga Mahadika Gautama, meskipun dia tahu apa yang dia lakukan terlalu berlebihan.


Apalagi saat dia harus bersaing dengan Erlangga karena mereka sama-sama menyukai wanita yang sama. Dan dia menganggap jika Erlangga telah melakukan tindakan curang, membuatnya dia sulit untuk mendekati Kayra. Hal itulah yang akhirnya membuat kebenciannya terhadap Erlangga Mahadika Gautama semakin membuncah.


Tok tok tok


Suara pintu diketuk dari luar membuat Rivaldi dan Nugraha menolehkan pandangan ke arah pintu yang tak lama terbuka dan muncul sosok Marni, sekretaris dari Nugraha.


" Ada apa, Marni?" tanya Nugraha, saat melihat kehadiran sekretarisnya di ruang kerjanya.


" Maaf, Pak. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Bapak." Marni memberitahu alasan yang menyebabkannya masuk ke dalam ruang kerja bosnya itu.


" Apa saya ada jadwal bertemu klien hari ini, Marni?" tanya Nugraha, dia mungkin terlupa. Namun, dia merasa jika hari ini dia tidak ada jadwal bertemu dengan siapapun juga.


" Hari ini memang tidak ada jadwal bertemu dengan relasi, Pak." sahut Marni.


" Lalu siapa tamu yang datang ingin bertemu?" tanya Nugraha kemudian.


" Informasi dari FO di bawah, katanya tamu yang ingin bertemu dengan Bapak itu seorang pria yang mengaku bernama Erlangga Mahadika Gautama, CEO dari perusahaan Mahadika Gautama, Pak." ujar Marni menerangkan siapa tamu yang datang berkunjung ke kantor Jaya Raya Garment.


Nama yang disebut oleh sekretaris Nugraha sontak membuat Rivaldi menatap serius ke arah Marni. Tak hanya Rivaldi, Nugraha pun tersentak mendengar siapa tamu yang datang ke kantornya.


" Mahadika Gautama?" tanpa sadar mulutnya menyebut nama itu.


" Mau apa dia kemari?" Tanggapan berbeda justru keluar dari mulut Rivaldi. Tentu dia tidak suka dengan kemunculan pria yang dia anggap musuhnya itu kini tiba-tiba muncul di kantor Papanya.


" Aldi, tolong jaga sikapmu itu! Jangan buat keributan dan jangan buat malu nama baik Papa!" Nugraha menegur putranya agar bisa bersikap tenang.


" Tapi mau apa dia kemari, Pa?" Rivaldi penasaran dengan maksud kedatangan Erlangga. Dia sempat berpikir apakah Erlangga sudah tahu tentang siapa dirinya itu, hingga membuat Erlangga datang ke kantor Nugraha.


" Itu yang mesti kita cari tahu. Makanya Papa minta kamu tenang dulu," sahut Nugraha. " Suruh tamu saya itu masuk, Marni." Akhirnya Nugraha menyuruh Marni menghubungi orang di bagian Front office untuk mempersilahkan CEO Mahadika Gautama naik ke ruangannya. Ini pertama kalinya ia bertemu dengan pemilik perusahaan ternama itu.


" Baik, Pak." Setelah mendapatkan perintah dari atasannya, Marni pun segera keluar dari ruangan kerja Nugraha untuk menghubungi karyawan di lantai bawah.


***


Mobil mewah yang dikendarai Erlangga memasuki halaman luas kantor Jaya Raya Garment yang berdiri megah delapan lantai. Menggunakan kacamata hitam, CEO berwajah tampan dan bertubuh tinggi tegap itu keluar dari mobilnya.


Sambil mengancingkan blazernya, Erlangga berjalan memasuki gedung perkantoran milik Nugraha. Sontak kehadiran Erlangga menjadi pusat perhatian karyawan yang ada di sekitar.


Aura seorang bos yang terpancar dari sosok Erlangga ditambah dengan wangi maskulin yang menguar dari tubuh pria tampan itu membuatnya langsung mendapatkan pelayanan istimewa dari karyawan perusahaan tersebut, termasuk dari security dan karyawati yang bertugas di bagian front office.


" Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya security saat melihat kehadiran Erlangga di depan pintu lobby yang membuka kacamata hitamnya.


" Saya ingin bertemu dengan Pak Nugraha Wijaya. Tolong Bapak sampaikan jika Erlangga Mahadika Gautama, CEO PT. Mahadika Gautama ingin bertemu dengan beliau." Erlangga berkata dengan lugas dan juga menyebut siapa dirinya. Karena dia tahu, tidak akan mudah bisa bertemu langsung dengan pimpinan perusahaan besar jika tidak membuat janji terlebih dahulu.

__ADS_1


" Oh, silahkan duduk dulu, Pak. Sebentar saya informasikan dulu ke bagian FO." Security kemudian berjalan menuju front office. Erlangga mengikuti arahan dari security yang berjaga di depan, yang memintanya menunggu di sofa.


Erlangga menyadari kehadirannya di kantor itu mengundang banyak pasang mata yang memperhatikannya, terutama tatapan mata penuh rasa kagum kaum hawa yang terpesona dengan kesempurnaan fisik yang dimiliki oleh Erlangga.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Erlangga menunggu, karena lima menit kemudian, security tadi kini sudah kembali mendekat ke arahnya seraya berkata, " Mari ikut saya, Pak. Saya antar ke ruangannya Pak Nugraha." Dengan ramah security tersebut menyampaikan kesediaannya mengantar Erlangga bertemu dengan bosnya.


" Mbak Marni. Ini tamu Pak Nugraha yang ingin bertemu Bapak." Setelah sampai di depan ruang kerja Nugraha, security tadi memberitahu Marni soal Erlangga.


" Oh, mari silahkan, Pak." Sekretaris Nugraha itu lalu mengantar Erlangga masuk ke dalam ruangan kerja Nugraha.


Erlangga terperanjat saat melihat keberadaan Rivaldi di ruangan Nugraha, ketika dia masuk ke ruangan bos Jaya Raya Garment itu. Dia tidak menyangka jika Rivaldi pun ternyata ada di kantor orang tua Rivaldi.


" Selamat siang, Pak Nugraha, Pak Rivaldi Wijaya." Erlangga menyapa kedua ayah dan anak itu. " Perkenalkan nama saya Erlangga Mahadika Gautama, mungkin anak Pak Nugraha ini sudah sangat mengenal saya." Dengan mengembangkan senyum tipis, Erlangga menyindir Rivaldi.


Rivaldi tersentak mendengar ucapan Erlangga. Dari kalimat yang diucapkan bos Mahadika Gautama itu, tersirat jika Erlangga sudah mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya.


" Oh, iya, silahkan duduk, Pak Erlangga." Dengan menjabat tangan Erlangga, Nugraha mempersilahkan anak sulung Krisna Mahadika Gautama itu untuk duduk di sofa.


" Pak Erlangga ini sudah mengenal putra saya rupanya?" Nugraha berpura-pura tidak mengetahui apa yang telah dilakukan putranya di perusahaan milik Erlangga.


Erlangga tersenyum tipis dengan berucap. " Tentu saja, Pak Nugraha. Dia sudah membantu perusahaan saya beberapa tahun terakhir ini." Kembali sindiran dilontarkan Erlangga seraya melirik ke arah Rivaldi yang terlihat emosi bercampur malu, karena aksinya ternyata diam-diam telah diketahui oleh Erlangga.


" Oh, begitu ... lalu, ada keperluan apa Pak Erlangga datang menemui saya?" Nugraha tidak ingin terlalu lama berbasa-basi seputar Rivaldi, karena dia tahu hal itu hanya akan mempermalukan anaknya saja.


" Apa saya bisa bicara empat mata dengan Anda, Pak Nugraha?" Erlangga hanya ingin bicara berdua dengan Nugraha saja, tanpa ditemani Rivaldi.


Sudah tentu permintaan Erlangga membuat Rivaldi semakin menatap dengan sorot mata tajam ke arah Erlangga. Dia seolah diusir di tempat orang tuanya sendiri.


" Aldi, kamu bisa meninggalkan kami sebentar?" Nugraha langsung menoleh ke arah anaknya.


" Tapi, Pa ..." Tentu Rivaldi tidak bisa begitu saja menerima permintaan Erlangga yang dengan mudah disetujui Nugraha.


" Tolong hormati tamu kita, Nak." Nugraha meminta Rivaldi tidak membantahnya.


Dari sikap dan ucapan Nugraha, Erlangga bisa menilai jika sikap pria paruh baya itu bertolak belakang dengan sikap Rivaldi yang menurutnya licik.


" Apa yang ingin Anda sampaikan kepada saya sehingga Anda ingin berbicara empat mata dengan saya, Pak Erlangga?" tanya Nugraha setelah Rivaldi meninggalkan mereka berdua.


" Maaf sebelumnya, Pak Nugraha. Jika saya sudah bertindak lancang dengan bertemu dan berbicara dengan istri Bapak beberapa waktu lalu tanpa sepengetahuan Pak Nugraha."


Nugraha membelalakkan matanya ketika Erlangga mengatakan bertemu dengan Arina. Nugraha sudah tahu kisah masa lalu Arina seperti Rivaldi mengetahui kisah masa lalu Mama sambungnya itu. Namun, berbeda sikap dengan Rivaldi yang berniat membalas dendam, Nugraha lebih menenangkan Arina agar lebih ikhlas menghadapi kenyataan.


" Anda bertemu istri saya? Kapan?" tanya Nugraha penasaran.


" Beberapa hari lalu, saya dan Papa saya bertemu dan berbicara dengan Ibu Arina." Erlangga merubah panggilannya terhadap Arina. Karena dia menghormati Nugraha, bagaimanapun masa lalu Arina, saat ini Arina adalah istri seorang pengusaha terkenal.


" Saya rasa Pak Nugraha sudah tahu perjalanan masa lalu Ibu Arina." Erlangga berhati-hati mengatakan kalimat itu. Walaupun Arina sudah memberitahu jika Nugraha mengetahui masa lalu Arina.


" Ya, saya sudah tahu masa lalu istri saya. Dia adalah mantan pengasuh Pak Erlangga, kan?"


Erlangga tidak menduga jika Nugraha pun sudah tahu mendetail tentang siapa dirinya.


" Panggil saya Erlangga saja, Pak Nugraha." Erlangga meminta Nugraha tidak menyebutnya dengan panggilan 'Pak'.


" Baiklah, Nak. Istri saya pernah bercerita jika dia pernah bekerja di rumah keluarga orang tua, Nak Erlangga."


" Benar, Pak Nugraha. Ibu Arina adalah wanita yang dekat dengan saya ketika saya kecil, jauh lebih dekat daripada dengan Mama saya sendiri." Erlangga kembali terkenang dengan masa kecilnya bersama Arina.


" Lalu, apa hubungannya kedatangan Nak Erlangga kemari dengan istri saya?" Nugraha masih belum memahami maksud kedatangan Erlangga menemuinya.


Erlangga menarik nafas panjang lalu menghempaskannya perlahan sebelum dia menjelaskan kepada Nugraha, apa yang menyebabkan dirinya ingin bicara dengan suami Arina itu.


" Saya ingin memberitahu di mana anak Ibu Arina yang hilang itu, Pak Nugraha."


Kembali Nugraha tersentak mendengar informasi yang disampaikan Erlangga. Dia yang semula duduk sambil menyandarkan punggung ke sofa kini merubah posisi duduknya lebih tegak.


" Nak Erlangga tahu di mana anak Arina berada? Di mana dia sekarang, Nak?" Nugraha dibuat penasaran dengan perkataan Erlangga.

__ADS_1


" Saat ini anak dari Ibu Arina ada bersama saya, Pak Nugraha."


" Nak Erlangga berhasil menemukan anak Arina? Sejak kapan dia bersama Nak Erlangga? Saya harus memberitahu Arina, dia pasti bahagia sekali jika mengetahui putrinya masih hidup dan saat ini sudah diketahui keberadaannya." Nugraha langsung bangkit. Dia berniat mengambil ponselnya untuk menghubungi sang istri dan menyampaikan berita bahagia itu.


" Tunggu dulu, Pak Nugraha!" Erlangga menahan Nugraha agar tidak memberitahu Arina.


" Kenapa memangnya, Nak?" tanya Nugraha heran.


" Anak Ibu Arina adalah istri saya, Pak. Saat ini dia sedang hamil muda, dan dia tidak mengetahui jika orang tua yang merawatnya sejak kecil bukanlah orang tua kandungnya sendiri. Orang tua asuhnya mengganti nama Kania Pratiwi menjadi Kayra Ainun Zahra. Saya tidak ingin mengambil resiko istri saya menjadi syok karena mengetahui hal ini. Saya rasa Pak Nugraha mengerti akan maksud saya ini." Erlangga mengungkapkan rasa khawatirnya jika Nugraha mengatakan kepada Arina sekarang.


" Iya, saya memahami kecemasan Nak Erlangga. Tapi, bagaimana Nak Erlangga yakin jika istri Nak Erlangga itu adalah putri dari istri saya?" tanya Nugraha kembali.


" Saya sudah melakukan test DNA dari sampel rambut istri saya dan Ibu Arina." Erlangga lalu menceritakan bagaimana dia menyimpan kecurigaan soal hubungan antara Kayra dan Arina. Sementara Nugraha mendengarkan dengan sangat serius cerita dari Erlangga.


" Saya memohon bantuan Pak Nugraha. Saya akan akan menemui Ibu Arina dan menceritakan hal ini." Erlangga meminta ijin bertemu dengan Arina untuk membicarakan soal Kayra.


" Saya berencana mempertemukan Kayra dan Ibu Arina. Tapi, saya harus memastikan lebih dahulu agar Ibu Arina mau menjaga rahasia ini. Saat ini Kayra sedang mengandung cucu Ibu Arina juga, saya harap Ibu Arina dapat mengerti," lanjutnya kemudian.


" Baiklah, kapan Nak Erlangga akan bertemu dengan istri saya?" Nugraha menyetujui permintaan Erlangga.


" Sore atau malam ini, apa saya bisa bertemu dengan Ibu Arina?" Erlangga tidak ingin berlama-lama ingin segera menyelesaikan masalah ini.


" Baiklah, bagaimana jika bertemu makan malam saja? Nak Erlangga bisa datang ke tempat saya. Nanti kita bicarakan hal itu di ruangan pribadi saya di rumah." Nugraha menentukan pilihan di mana Erlangga akan bertemu dengan Arina.


" Baiklah, Pak Nugraha. Saya berterima kasih atas kesediaan Bapak membantu saya." Tak lupa Erlangga mengucapkan terima kasihnya atas kesediaan Nugraha memberi ijin bertemu dan berbicara dengan Arina.


" Jangan sungkan-sungkan, Nak Erlangga. Jika Kayra adalah istrimu, berarti saya adalah Papa mertuamu juga." Bahkan Nugraha sudah menerima Erlangga sebagai menantunya sendiri setelah tahu anak sambungnya itu bersuamikan Erlangga.


Erlangga cukup terkesan dengan respon yang ditunjukkan oleh Nugraha. Hatinya tentu bahagia karena Nugraha langsung menerimanya dengan baik.


" Terima kasih, Pak Nugraha."


" Kamu juga harus memanggil Papa mulai sekarang ini, Nak."


" Mungkin saya akan membiasakan diri jika Kayra sudah mengetahui semuanya, Pak Nugraha." Erlangga menolak halus permintaan Nugraha.


" Baiklah, saya mengerti ..." Nugraha memaklumi penolakan Erlangga.


" Oh ya, Nak Erlangga. Jika saya boleh tahu, bagaimana Nak Erlangga bertemu dengan istri saya?" tanya Nugraha bingung, karena dia tahu istrinya termasuk wanita rumahan yang jarang berpergian keluar rumah. Lalu, bagaimana Erlangga bisa bertemu dengan Arina.


" Saya meminta bantuan seseorang, Pak Nugraha." Erlangga lalu menceritakan bagaimana Grace memerankan tugasnya dengan sangat baik. Erlangga yang awalnya ingin menghentikan aksi Rivaldi yang terus mengejar Kayra, justru menemukan rahasia besar melalui Grace.


" Aldi menyukai Kayra? Berarti Aldi juga kenal dengan Kayra?" Nugraha kembali terkejut.


" Benar, Pak."


" Ya Tuhan, ternyata selama ini Aldi sempat bertemu dengan adik tirinya sendiri dan dia tidak tahu jika Kayra adalah Kania yang selama ini dicari Mama sambungnya itu." Nugraha seakan tidak percaya.


" Benar, Pak Nugraha. Seperti saya sendiri tidak menyadari jika Kayra yang sebelumnya bekerja sebagai sekretaris saya adalah adik sepupu saya yang selama ini tidak kami ketahui keberadaannya," ujar Elangga.


" Tuhan sudah menjodohkan kalian ..." Nugraha menimpali ucapan Erlangga.


" Benar, Pak,"


" Oh ya, Nak Erlangga. Atas apa yang dilakukan oleh Aldi dulu, saya benar-benar minta maaf dan menyesal." Mewakili Rivaldi, Nugraha meminta maaf atas ulah putranya tersebut.


" Saya sudah tidak mempermasalahkan hal itu lagi sekarang, Pak Nugraha. Karena bagaimanapun juga Rivaldi saat ini adalah kakak tiri Kayra. Jika saya merasa dendam terhadap Rivaldi, sudah pasti itu akan menyakiti hati Ibu Arina dan juga istri saya." Erlangga berusaha berbesar hati melupakan persaingannya dengan Rivaldi.


Erlangga tahu, jika Kayra mengetahui Rivaldi adalah anak tiri Arina, Kayra pasti tidak akan suka melihatnya terus bermusuhan dengan Rivaldi. Karena itu dia harus melupakan apa yang menjadi kesalahan Rivaldi kepadanya. Dan juga harus berbesar hati meminta maaf atas apa yang telah dia lakukan yang telah menyakiti kakak tiri istrinya itu.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2