
Sepanjang acara pengajian, mata Arina tidak pernah lepas menatap Kayra. Kadang bola matanya sampai mengembun karena rasa haru. Dia tidak menyangka akhirnya bisa bertemu dengan putri kandungnya, kendatipun tak bisa dia ungkapkan siapa dirinya yang sebenarnya kepada Kayra. Tapi, dia sudah cukup bahagia, putrinya itu masih hidup, sehat dan tumbuh menjadi wanita yang mempunyai perangai baik dan terpuji.
Kayra sendiri bukannya tidak menyadari jika dia diperhatikan oleh Arina. Setiap arah pandangannya bertemu dengan mata Arina, Arina pasti sedang mengarahkan pandangan ke arahnya.
Hal itulah yang membuat Kayra merasa bingung dan sedikit serba salah. Kenapa Arina sampai menatap dirinya sebegitunya, sama persis seperti orang yang sedang jatuh hati kepada seseorang.
Seusai acara pengajian, para tamu undangan sudah mulai meninggalkan rumah kediaman Krisna. Hanya tersisa beberapa kerabat dekat Krisna dan Erlangga. Termasuk Arina yang nampak enggan meninggalkan acara itu karena masih belum puas ingin dekat dengan Kayra.
" Mas, kenapa Ibu Arina sejak tadi memperhatikan aku terus, ya? Apa ada yang aneh dengan aku?" Kayra meminta suaminya menatap wajahnya untuk mengecek apa ada sesuatu di dalam wajahnya yang terlihat aneh.
" Ah, untung saja hanya Bu Arina yang memandangimu. Jika Pak Nugraha yang terus memandangimu, akan aku tegur langsung beliau." Erlangga justru menanggapi perkataan Kayra dengan kelakar.
" Mas ...!" Kayra mencubit lengan sang suami karena meledeknya, tak menanggapi serius perkataannya.
" Itu karena Ibu Arina menyukai kamu, Sayang. Ibu Arina itu sangat menyanyangi aku sudah pasti dia ingin aku mendapatkan pendamping seorang wanita yang istimewa. Dan aku mendapatkannya padamu, makanya Ibu Arina merasa terharu melihatmu." Erlangga memberikan alasan kepada Kayra agar istrinya tidak terus bertanya-tanya.
Erlangga sendiri sebenarnya merasakan kekhawatiran karena sikap Arina yang hampir hilang kendali. Tapi, dia bisa memaklumi sikap Arina. Dia pun tidak menyalahkan sikap Arina karena pasti gejolak di dalam hati Arina yang membuat Arina tak bisa menahan perasaannya saat melihat Kayra.
Sementara itu, Nugraha berniat mengajak istrinya pulang. Dia juga merasakan jika istrinya seperti berperang menahan keinginan untuk mengatakan hal yang sesungguhnya. Dan dia rasa itu bukanlah suatu yang baik untuk hubungan Arina dan Kayra juga keluarga Mahadika Gautama ke depannya.
" Ma, sebaiknya kita pulang sekarang." Nugraha menggenggam lengan Arina untuk mengajak berpamitan kepada keluarga Krisna.
" Pa, Mama masih ingin melihat Kayra." Arina menolak karena masih terasa berat untuk meninggalkan putrinya itu kembali.
" Ma, Mama harus ingat janji pada Erlangga. Jika Mama bersikap seperti ini dan menimbulkan kecurigaan pada Kayra, Papa takut Mama tidak diijinkan lagi bertemu dengan Kayra." Bukan berusaha menakuti, akan tetapi Nugraha merasa perlu menegur istrinya agar tetap tenang dan tidak mengingkari janji mereka kepada Erlangga.
Ucapan Nugraha membuat Arina menatapnya seraya menggelengkan kepalanya.
" Tidak, Pa. Mama tidak ingin seperti itu." Tentu saja Arina merasa ketakutan jika dilarang bertemu dengan Kayra. Sudah bertahun-tahun dirinya mencari keberadaan putrinya. Setelah bertemu, tidak mungkin dia rela kehilangan kembali.
" Karena itu sebaiknya Mama jangan memancing kecurigaan. Mama bisa lain waktu berkunjung untuk menemui Kayra. Papa percaya kepada Erlangga. Erlangga mengatakan jika nanti waktunya tepat, Kayra akan diberitahu soal Mama. Jadi Mama harus bersabar ..." Nugraha menenangkan Arina agar Arina mau mendengar nasehatnya, hingga Akhirnya Arina mengangguk setuju.
__ADS_1
" Erlangga, Kayra, kami pamit dulu ..." Setelah berpamitan dengan Krisna dan Helen lebih dahulu, kini Nugraha dan Arina berpamitan kepada Erlangga dan Kayra.
" Terima kasih Pak Nugraha dan Ibu Arina sudah menyempatkan waktu datang ke acara kami." Erlangga menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran pasangan suami istri yang merupakan Ayah dan ibu mertuanya itu.
" Sama-sama, Erlangga. Kami juga senang diberi kesempatan untuk hadir di acara empat bulanan Kayra," sahut Nugraha. " Terutama istri saya ini, dia senang sekali bisa bertemu dengan Kayra." Nugraha melingkarkan tangannya di pundak sang istri yang saat ini sedang menatap Kayra tanpa berkedip.
" Kayra, Elang, apa Ibu boleh berkunjung ke tempat kalian lain waktu?" tanya Arina menatap ke arah Erlangga dan Kayra bergantian.
" Tentu saja, Bu. Ibu bisa berkunjung ke tempat kami. Tapi, kami tinggal di rumah Papa yang dulu, rumah saat aku kecil." Erlangga menerangkan di mana dia dan Kayra tinggal.
" Jika Ibu kurang nyaman berada di sana, kita bisa bertemu di rumah ini atau di tempat lain." Menyadari rumah tempat tinggalnya meninggalkan kenangan buruk bagi Arina, Erlangga memberikan opsi tempat lain di mana mereka akan bertemu nanti jika Arina datang kembali ke Jakarta.
" Iya, Lang. Ibu terserah kamu saja di mana tempatnya." Arina menyetujui usulan Erlangga.
" Lain waktu kalian juga bisa datang ke Bandung dan menginap di rumah kami." Nugraha mengundang anak dan menantunya itu untuk berkunjung ke rumahnya di Bandung.
" Baik, Pak. Mungkin nanti jika ada waktu senggang pergi ke Bandung kami akan mampir ke sana." Erlangga pun merangkulkan tangannya di pundak Kayra. " Benar 'kan, Sayang?" Erlangga meminta persetujuan dari istrinya.
" Iya, Mas." sahut Kayra mengangguk.
" Iya, Bu. Terima kasih ..." jawab Kayra memperhatikan tangan Arina yang menyentuh perutnya. Seperti merasakan aliran yang sejuk saat tangan itu menyentuh perutnya yang membuat dirinya semakin bingung.
" Ibu senang bisa bertemu dengan kamu, Nak." Kini tangan Arina sudah berada di wajah Kayra. Membelai wajah cantik putri kandungnya itu.
" Saya juga senang bisa berjumpa langsung dengan Ibu. Mas Erlangga pernah bercerita kepada saya, jika Ibu begitu sayang dan dekat dengan suami saya ketika kecil dulu. Dan ternyata perasaan sayang Ibu terhadap suami saya sampai saat ini tidak pernah pudar," ucap Kayra.
" Iya, Nak. Ibu memang menyanyangi Elang saat dia masih kecil seperti Ibu menyanyangi anak ibu sendiri," balas Arina. " Karena itu Ibu merasa senang Erlangga mendapatkan istri seperti kamu," lanjut Arina.
" Mas Erlangga terlalu berlebihan membanggakan istrinya, Bu." Kayra tersipu malu melirik ke arah suaminya.
" Memangnya tidak boleh jika aku membanggakan istriku sendiri, Sayang?" Erlangga mengakhiri ucapannya dengan memberikan kecupan di pipi Kayra, tanpa memperdulikan di hadapannya saat ini ada Nugraha dan Arina yang langsung terkesiap melihat sikap mesra Erlangga dan Kayra.
__ADS_1
" Ya Allah, Mas. Ada Pak Nugraha dan Ibu Arina!" tegur Kayra merasa tidak enak bermesraan di hadapan orang lain apalagi orang yang lebih tua dari mereka.
" Ibu Arina bilang sudah menganggap aku seperti anaknya sendiri, jadi tidak masalah 'kan jika Ibu Arina melihat anak-anak bermesraan seperti ini?!" Erlangga kembali menghadiahi Kayra kecupan, membuat Kayra semakin salah tingkah.
Sementara Nugraha dan Arina langsung mengembangkan senyuman melihat keromantisan pasangan muda suami istri di depannya itu. Terutama Arina yang seakan terlempar ke masa lalu, mengingat bagaimana perlakuan Erlangga kepada bayi yang dia kandung dulu yang tak lain adalah Kayra.
" Sshhh ...."
" Cus mau lahiran?" tanya polos Erlangga kecil memperhatikan wajah Arina yang terlihat menahan rasa sakit.
* Tidak, Elang. Cus belum mau melahirkan. Ini adik bayinya sedang bergerak terus di perut Cus ..." sahut Arina mengusap perutnya yang sudah membuncit besar.
" Adik bayi. Adik bayi jangan nakal di perut Cus Rina, ya!" celoteh Erlangga kecil seraya mengusap perut buncit Arina saat Arina tiba-tiba meringis merasakan kontraksi palsu.
" Adik bayinya main lompat-lompat ya, Cus?" tanya Erlangga kembali.
" Iya." Arina menjawab sekenanya karena dia sedang merasakan sakit.
" Adik bayi, jangan main lompat-lompat! Nanti jatuh kalau main lompat-lompat!" Erlangga seperti seorang kakak yang sedang menasehati adiknya, bicara pada perut Arina. Erlangga pun bahkan menciumi perut Arina, sambil berucap, " Sayang, sayang, jangan nakal, ya!"
Arina yang sedang merasa kesakitan bahkan sempat tersenyum kecil melihat tingkah lucu anak majikannya itu.
" Elang sayang sama adik bayinya Cus Rina, ya?" tanya Arina.
" Iya, kata Papa 'kan Elang harus sayang kalau punya adik. Kata Papa kalau Elang sudah besar nanti, Elang juga harus menjaga dan melindungi adik-adik Elang seperti superhero, Cus." jawab Erlangga kecil dengan tegas. Seakan mengikrarkan janjinya yang akhirnya ketika dewasa ditepatinya dengan menjadi pelindung Kayra.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️