
Kayra menahan tawa melihat warna bibir suaminya yang merah merekah akibat dari makan pedas tadi. Bibir Erlangga sudah seperti menggunakan lipstik warna pink membuat Kayra akhirnya tertawa geli.
" Kenapa kamu ketawa seperti itu?" Erlangga merasa heran dengan sikap Kayra yang menertawakannya.
" Bibir Mas sek si sekali warnanya, kayak pakai lipstik." Kayra sampai menutup mulut dengan telapak tangannya.
Erlangga langsung melihat dari kaca spion karena bibirnya disebut Kayra seperti memakai lipstik. Dia memang melihat warna merah bibirnya itu, bahkan terlihat lebih tebal dari bentuk aslinya.
" Ini pasti gara-gara kamu paksa makan pedas tadi," keluh Erlangga melirik istrinya yang tertawa meledek.
" Kenapa Mas larang aku? Kalau untukku, level pedas tadi sudah biasa masuk ke perutku, Mas. Dan selama ini aku baik-baik saja, kan?" Kayra masih mengeluhkan Erlangga yang melarangnya makan pedas.
" Sekarang memang belum terasa, tapi mungkin nanti, hati-hati dengan lambungmu! Lagipula kamu sedang hamil, jangan mengambil resiko mengkonsumsi makanan yang tidak baik untuk kesehatan janin di perut kamu." Erlangga kembali menasehati istrinya yang mulai membandel.
" Aku sangat menginginkan bayi di perut kamu ini tumbuh sehat, jadi jangan memasukkan makanan yang menurut mulutmu enak saja, tapi perhatikan juga gizi untuk anak kita." Erlangga menyentuh perut Kayra.
" Iya, Mas. Tapi kalau pedas sedikit tidak apa-apa ya, Mas?" Kayra menawar larangan yang diberikan oleh suaminya.
" Sedikit atau banyak, yang namanya sambal tetap saja pedas." Erlangga tegas menolak permintaan Kayra.
" Beda dong, Mas! Kalau pedas itu sambalnya banyak, kalau sambalnya sedikit itu tidak pedas." Kayra beradu argumentasi dengan suaminya.
" Kamu tidak kasihan sama janin di perut kamu?!"
Kayra langsung terdiam mendengar pertanyaan suaminya. Padahal menurutnya tidak ada masalah jika hanya memakan sedikit sambal, karena dia tahu banyak juga Ibu hamil yang mengkonsumsi mengkonsumsi sambal.
" Kita ke kantor Papa dulu, ya!?" Erlangga mengarahkan mobilnya ke jalan menuju kantor Krisna.
" Ada apa memangnya, Mas?" tanya Kayra.
" Tidak ada apa-apa, hanya mampir saja. Kebetulan jalan ini dekat dengan kantor Papa," ujar Erlangga.
Sepuluh menit berselang, kini Erlangga sudah sampai di kantor milik orang tuanya.
" Assalamualaikum, Pa."
Kayra dan Erlangga memberi salam saat masuk ke dalam ruangan Krisna.
" Waalaikumsalam, Erlangga, Kayra?" Krisna terkejut melihat kehadiran anak dan menantunya di kantornya siang ini. Sementara Kayra dan Erlangga langsung menghampiri Krisna, Kayra lalu mencium punggung tangan Papa mertuanya itu, diikuti oleh Erlangga. Erlangga memang membiasakan diri dengan apa yang dilakukan Kayra terhadap Papanya.
" Ada apa kalian kemari? Kenapa tidak kasih kabar dulu ke Papa?" Krisna tidak menduga jika Kayra dan Erlangga akan mengunjungi kantornya.
" Kami hanya mampir saja, kebetulan tadi kami baru makan siang. Kayra tadi minta makan bakso. Coba Papa nasehati menantu Papa ini, dia membandel ingin makan pedas, Pa." Erlangga mengadukan kelakuan Kayra kepada Papanya.
Kayra terkesiap mendengar suaminya seperti anak kecil mengadukan sikapnya ini kepada Papa mertuanya. Dia langsung mendelik tajam ke arah sang suami karena pengaduan tadi.
" Apa benar itu, Nak? Kamu harus sayangi kesehatanmu, Kayra. Apalagi saat ini kamu sedang hamil." Seperti halnya Erlangga, Papa mertuanya pun menasehati Kayra.
" Iya, Pa." Walau kesal karena suaminya itu melaporkan sikapnya yang bersikukuh ingin makan pedas, namun tidak dapat dipungkiri jika Kayra merasa bahagia diperhatikan penuh kasih sayang oleh Papa dari suaminya itu.
" Oh ya, bagaimana sidang perceraianmu tadi, Lang? Papa dengar dari Pak Nico hari ini kamu menghadiri sidang putusan hakim." Krisna menanyakan kabar seputar sidang perceraian putranya dengan Caroline.
" Sidang berjalan lancar, Pa. Semua terkendali seperti apa yang aku harapkan," sahut Erlangga. " Aku juga berencana memberikan rumah tinggal kami dulu untuk Caroline, Pa." Erlangga menyampaikan niatnya memberikan aset miliknya itu kepada Caroline.
" Ya sudah, tidak masalah jika keinginanmu seperti itu, setidaknya kalian berpisah tidak ada sengketa nantinya. Lagipula Papa yakin, Caroline bukan wanita yang gi la akan harta," Krisna mengomentari sikap wanita yang kini sudah menjadi mantan menantunya itu.
" Dia memang tidak gi la harta, hanya gi la populeritas," celetuk Erlangga.
" Mas ...!" Kayra langsung mencubit lengan suaminya karena berkomentar tidak baik tentang wanita yang baru saja diceraikan oleh Erlangga.
" Kenapa kamu mencubitku, Kayra?" Erlangga mengusap lengannya yang terkena cubit istrinya.
" Jangan bicara seperti itu, Mas! Bagaimanapun juga Ibu Caroline itu orang yang pernah Mas sayangi." Kayra tidak suka dengan sikap suaminya, hanya karena sudah berpisah, bukan berarti Erlangga boleh seenaknya berkomentar buruk soal Caroline.
" Apa kamu sedang pencitraan di depan Papaku, Kayra?" sindir Erlangga melihat Kayra menegurnya soal Caroline.
Apa yang diucapkan oleh Erlangga, membuat Kaura membulatkan matanya, dia tidak mengerti kenapa Erlangga berpikiran sepicik itu terhadapnya.
" Maksud, Mas?" Kayra sampai menggelengkan kepalanya menandakan tidak menyangka suaminya itu akan menuduhnya seperti tadi.
" Jangan dengarkan dia, Kayra. Erlangga itu sedang menggodamu. Papa percaya kamu tidak seperti yang dituduhkan Erlangga." Bersyukur Krisna tidak mempercayai tudingan putranya terhadap Kayra.
Bersamaan Krisna mengakhiri kalimatnya, Erlangga tertawa senang karena sudah membuat istrinya kesal karena ucapannya tadi.
" Aku hanya bercanda, Sayang." Erlangga langsung memeluk Kayra dan memberikan kecupan di pipi istrinya tersebut.
__ADS_1
Krisna yang memperhatikan interaksi antara Erlangga dan Kayra secara refleks melengkungkan senyuman. Dia sedang melihat putranya terlihat sangat bahagia dengan pernikahannya kali ini, apalagi saat ini menantunya itu sedang mengandung keturunan keluarga Mahadika Gautama.
" Papa senang melihat kamu terlihat sangat bahagia, Lang. Papa juga ingin berterima kasih kepadamu, Kayra. Karena kamu sudah membuat Erlangga menjadi sosok yang lebih baik." Krisna mengucapkan rasa terima kasihnya, karena merasa Kayra lah yang mampu merubah sosok Erlangga yang keras kepala.
" Papa tidak usah berkata seperti itu, Kayra merasa tidak banyak melakukan apa-apa terhadap Mas Erlangga kok, Pa." Kayra bingung karena Papa mertuanya berterima kasih. dimenyadari tidak banyak melakukan sesuatu untuk Erlangga, justru Erlangga lah yang melakukan banyak hal untuknya.
***
Seorang pria dan seorang gadis kecil berusia enam tahun duduk di sebuah kedai soto di depan kantor Mahadika Gautama. Tatapan kedua orang itu menatap lurus ke arah gedung perkantoran di hadapan mereka.
" Kamu sabar ya, Nak. Papa tidak tahu, apakah kamu bisa bertemu dengan Mama." Pria itu mengusap kepala gadis kecil di sampingnya.
" Mama ..." Gadis kecil itu merengek menyebut kata 'Mama'.
" Sabar, Nak. Papa nanti berusaha menghubungi Mama agar Mama mau bertemu denganmu," ucap pria itu kembali memeluk putri kecilnya.
Pria itu lalu menoleh ke arah tiga orang wanita berpakaian seragam Mahadika Gautama yang sedang menikmati soto.
" Maaf, Mbak. Mbak-mbak ini bekerja di kantor itu?" Prita itu menunjuk arah kantor milik Erlangga.
" Iya, benar, Mas." Salah seorang wanita yang disapa pria yang terlihat berusia di bawah tiga puluh tahun itu pun menjawab.
" Saya boleh numpang tanya, Mbak?"
" Tanya apa, Mas? Karyawan Mahadika tadi menjawab.
" Apa Mbak kenal dengan yang namanya Kayra?" tanya Pria itu kembali.
Beberapa wanita yang ada di dekat pria itu seketika saling berpandangan saat nama Kayra disebut pria yang bersama gadis kecil.
" Memangnya kenapa, Mas?" tanya karyawan Mahadika.
" Apa saya bisa minta tolong sampaikan pesan ke Kayra?" tanya pria tadi.
" Memang Mas ini siapa? Dan apa hubungan Mas ini dengan Ibu Kayra?" tanya karyawan Mahadika penasaran.
" Kayra itu mantan istri saya."
Pengakuan pria tadi membuat karyawan-karyawan Mahadika kembali berpandangan dan terperanjat.
" Mantan istri?" tanya mereka bersamaan.
" Mas ini mantan suaminya Bu Kayra?" Karyawan Mahadika tidak mempercayai ucapan pria di hadapannya.
" Benar, kami menikah tujuh tahun lalu, tapi sejak dia pindah bekerja di perusahaan ini, dia menggugat cerai saya dan meninggalkan anaknya demi ambisinya ingin mempunyai suami kaya raya agar dia bisa menikmati hidup enak tanpa memikirkan anaknya. Sejak dia menjadi sekretaris di perusahaan ini, dia sama sekali sudah tidak memperdulikan anaknya lagi." Pria tadi terus bercerita kepada karyawan Mahadika.
" Mbak apa bisa bantu saya? Tolong sampaikan pesan. kepada Kayra, kalau anaknya ingin bertemu ..." lanjut pria itu berkata dengan memohon.
" Hmmm, gimana ya, Mas? Memang Mas tidak tahu kalau Bu Kayra sudah menikah dengan Pak Erlangga?" tanya karyawan Mahadika kepada pria itu.
" Pak Erlangga itu siapa, ya?" tanya pria tadi.
" Pak Erlangga itu bos kami, yang punya perusahaan itu!" tunjuk karyawan Mahadika.
" Kayra menikah dengan bosnya?" Wajah pria itu terlihat kecewa dengan kabar yang dikatakan oleh karyawan Mahadika.
" Iya, Pak. Mana berani kami menyampaikan pesan Mas ini kepada istri bos kami." sahut karyawan Mahadika.
" Ya Tuhan, Mama ternyata sudah menikah lagi, Nak." Pria tadi menatap sedih ke arah gadis kecil di sampingnya itu.
" Maaf ya, Mas. Kami permisi dulu." karyawan Mahadika yang tadi berbincang dengan pria itu berpamitan meninggalkan kedai soto bersama rekan-rekannya.
Setelah beberapa karyawan Mahadika itu keluar dari kedai soto, pria tadi segera merogoh ponselnya lalu menghubungi seseorang dengan ponselnya itu.
" Halo, saya tadi sudah bicara dengan beberapa karyawan dari kantor Mahadika, dan saya sudah menyebarkan berita ke mereka jika Kayra itu sudah pernah menikah dan meninggalkan suami dan istrinya demi mencari pria kaya yang ingin dia kuras uangnya." Dengan berbisik pria tadi melaporkan kepada seseorang melalui ponselnya.
" Oke, sebaiknya kau segera pergi dari tempat itu! Jangan sampai ada orang yang mencurigai aksimu tadi!" sahut pria di seberang telepon.
" Oke." Setelah melaporkan apa yang sudah dikerjakannya, pria tadi bersama gadis kecil itu bergegas meninggalkan kedai soto yang mulai sepi dari pengunjung karena waktu makan siang sudah mulai hampir selesai.
Sementara itu ketiga karyawan Mahadika yang menyebrang jalan setelah makan siang di kedai soto tadi langsung menghampiri pos security yang ada di gerbang pintu masuk kantor milik Erlangga.
" Informasi apa yang kalian dapatkan dari orang di kedai tadi?" tanya Koko kepada tiga karyawan wanita yang dia suruh mengawasi kedai soto.
" Seperti yang Bapak katakan kepada kami, pria itu mengatakan jika Ibu Kayra adalah mantan istrinya, dia bersama seorang anak kecil yang dia akui sebagai anaknya bersama Ibu Kayra, Pak." salah seorang karyawan wanita itu menceritakan apa yang mereka dengar di kedai soto dari seorang pria yang menurutnya mencurigakan.
__ADS_1
" Lalu apa lagi yang dia katakan?" tanya Koko kembali.
" Dia minta kami menyampaikan pesan kalau anaknya ingin bertemu Mamanya." sahut karyawan lainnya.
" Ya sudah, kalian boleh kembali ke tempat. Tapi kalian harus ingat, jika orang tadi hanya ingin menjatuhkan Nyonya Kayra, jadi jangan sampai berita bohong tentang Nyonya Kayra sampai ke telinga Tuan Erlangga, Untuk bonus kalian, saya akan bicarakan dengan Tuan Erlangga secepatnya." Koko memberi perintah kepada mereka yang tadi dia suruh untuk mengawasi seseorang yang mencurigakan di kedai soto itu.
" Baik, Pak. Kami permisi ..." pamit mereka kemudian meninggalkan Koko untuk kembali ke ruangan mereka masing-masing.
Beberapa jam sebelumnya ...
Koko sedang menikmati kopi di warung kopi di sebelah kantor Erlangga saat ponselnya berbunyi. Koko segera mengangkat panggilan telepon yang berasal dari Bondan.
" Ada apa Pak Bondan?" tanya Koko saat mengangkat panggilan telepon dari Bondan.
" Ko, tolong kamu awasi di sekitar kantor Tuan Erlangga. Saya sudah kirim foto orang yang disuruh oleh orang sewaan Agnes untuk menyebarkan gosip tentang Nyonya Kayra. Dicky memberitahu saya jika orang sewaan Agnes sudah mulai beraksi dan dia menyuruh seorang pria yang akan menyamar sebagai mantan suami Nyonya Kayra. Orang itu akan membawa anak kecil dan akan mengaku jika anak itu adalah anaknya bersama Nyonya Kayra. Orang itu akan beredar seputar kantor Mahadika. Kau carilah karyawan kantor Tuan Erlangga yang bisa menghandle orang itu, biarkan orang itu melaksanakan misinya, suruh karyawan Tuan Erlangga mendengarkan. Biarkan mereka beranggapan jika misi mereka berhasil." Bondan langsung memberi intruksi kepada Koko, apa yang harus dilakukan salah satu anak buahnya itu.
" Baik, Pak Bondan." Setelah mengakhiri perbincangan melalui telepon dengan Bondan, Koko pun segera mematikan sambungan telepon lalu dia memulai aksinya mencari beberapa karyawan Mahadika yang bisa dia ajak kerjasama, tentu saja dengan iming-iming bonus yang akan diberikan kepada mereka.
***
" Terima kasih ya, Dek. Tadi sudah menemani Om." Pria yang tadi mengaku sebagai mantan suami Kayra mengusap gadis cilik yang dia pinjam untuk berakting sebagai anaknya.
" Sama-sama, Om." Ibu dari gadis cilik yang menjawab perkataan pria itu.
" Ini uang satu juta yang saya janjikan tadi, Bu." Pria itu lalu menyodorkan uang satu juta rupiah sebagai kompensasi dia meminjam anak si ibu untuk berpura-pura menjadi anaknya.
" Terima kasih, Mas. Kalau Mas butuh bantuan lagi, saya bersedia, Mas." Dengan wajah ceria si ibu dari anak kecil yang berpura-pura sebagai anak dari Kayra menerima uang dari pria itu, bahkan dia menawarkan putrinya kembali jika dibutuhkan untuk berakting seperti tadi.
" Oke, Bu. Nanti saya hubungi Ibu jika saya butuh bantuan adik ini lagi." sahut pria itu.
" Kalau begitu saya permisi dulu ya, Mas. Ayo, Sayang. Kita jalan-jalan ke mall. kamu mau beli mainan apa? Mama dapat rejeki ini." Ibu si gadis cilik berjalan menjauh dari pria suruhan Bobby.
Pria suruhan Bobby tersenyum senang karena tugasnya sudah berhasil dia laksanakan dengan baik. Dia menduga jika gosip yang dia sebarkan lewat ketiga karyawan Mahadika pasti sebentar lagi akan tersebar di kantor milik Erlangga.
Puukk
Pria itu tersentak saat sebuah tepukan mengenai pundaknya. Dia pun langsung menoleh untuk mengetahui siapa yang tadi menepuknya.
" Akting Anda sangat bagus, Bung!" Dicky, anak buah Bondan yang disuruh mengawasi Bobby langsung mengikuti pria suruhan Bobby yang ditugaskan untuk menyebarkan fitnah terhadap Kayra.
" Apa maksudmu?" tanya pria itu kaget saat Dicky menyebut soal akting
" Mengajak anak kecil untuk melakukan kebohongan, dan menyebarkan fitnah jika Nyonya Kayra itu sudah menikah dan punya anak. Apa Anda masih akan menyangkal?" Dengan seringai tipis Dicky membuka kedok pria itu.
" A-apa maksud kamu?! Saya tidak mengerti!" Pria itu bahkan ingin beranjak pergi dengan gugup, namun tangan Dicky lebih dahulu mencegkram pundaknya.
" Anda tahu? Orang yang Anda fitnah itu adalah istri kesayangan Tuan Erlangga, bos pemilik perusahaan Mahadika Gautama. Jika beliau tahu berita bohong yang Anda sebarkan tentang istri beliau, saya pastikan jeruji besi adakan tujuan Anda berikutnya!" Kalimat bernada ancaman yang keluar dari mulut Dicky membuat wajah pria suruhan Bobby memucat.
" S-saya tidak tahu apa-apa, Bang. Saya hanya disuruh." Mendengar ancaman Dicky, pria itu langsung berkata jujur jika dia hanya sewaan orang yang menyuruhnya.
" Saya tahu, karena itu saya beri peringatan kepada Anda. Jika pria yang bernama Bobby itu masih menyuruh Anda melakukan sesuatu untuk mengusik Nyonya Kayra, segera hubungi saya! Jika tidak, saya tidak segan-segan mengantar kamu ke penjara!" Dicky terus mengintimidasi pria itu dengan ancaman-ancaman.
" Baik, Baik, Bang. Saya janji saya akan mengabari Abang. Berapa nomer telepon Abang, nanti saya kabari ..." Karena ketakutan akhirnya pria itu mau diajak kerjasama dengan Dicky.
" Awas kalau kamu sampai kabur, saya pasti akan menenukanmu! Anak buah Tuan Erlangga banyak tersebar di mana-mana, jadi jangan berani macam-macam!" ancam Dicky kembali.
" Baik, Bang. Ini nomer telepon saya, Bang." Pria itu lalu melakukan panggilan ke nomer Dicky, setelah Dicky memberikan nomer telepon cadangannya kepada pria suruhan Bobby.
" Ya sudah, pergilah sana! Jangan macam-macam dengan kami!"
" I-iya, Bang. Terima kasih, Bang." Pria tadi bergegas meninggalkan Dicky dengan terburu-buru karena ketakutan.
Dicky kemudian menghubungi Bondan setelah pria itu berlalu..
" Halo, Pak Bondan. Satu nyamuk sudah saya urus." Dicky segera melaporkan apa yang sudah dia kerjakan.
" Bagus, tetap awasi pria bernama Bobby itu," sahut Bondan.
" Baik, Pak Bondan." Dicky kemudian mengakhiri panggilan teleponnya lalu melangkah menuju mobilnya untuk kembali ke tempat Bobby berada di club' boxing milik Jimmy, orang kepercayaan Rivaldi
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️