Menua Bersamamu

Menua Bersamamu
bab 11


__ADS_3

Tidak terasa, hari Minggu pun telah tiba. Itu berarti hari ke tiga pernikahan. Gus Habib akan bertemu dengan Fatimah, sepupunya. Dia adalah wanita yang hendak dijodohkan dengan Gus Habib yang sebenarnya. Tapi, Umi Hafizah belum mengatakan pada Gus Habib. Karena dekat sejak kecil, makanya Umi Hafizah ingin menjodohkan mereka berdua.


Tapi lelaki itu, malah memilih jalan menikahi Mayra yang hanya seorang santriwati. Sebelumnya, Gus Habib adalah anak lelaki yang penurut, tapi semua berubah sejak bertemu Mayra, itu menurut Ummy Hafizah. Padahal kalau yang sebenarnya, Gus Habib berubah menjadi lelaki murah senyum adalah berkat bertemu dengan Mayra. Dia seorang lelaki yang dingin dan tidak mengenal cinta. Tapi karena Mayra, dia pun menjadi sangat baik. Seperti kata pepatah, jika bertemu dengan orang yang tepat, maka sesungguhnya dia akan menjadi orang yang lebih baik. Tapi jika dia bertemu dengan orang yang tidak tepat, maka, dia akan berubah menjadi sangat buruk.


3 hari tinggal satu atap, membuat Mayra nyaman berada di pelukan suaminya. Walaupun terkadang sangat mendambakan menyentuh, Gus Habib tetap memaksa untuk menolak sentuhan. Seperti hari ini, kala selesai joging pagi didepan kompleks perumahan. Gus Habib yang ramah pada orang sekitarnya, membuat mood Mayra pun buruk.


"Lanjutkan sendiri jogingnya!" Ujar Mayra ketus


"Kang Mas salah apa lagi, Dinda?"Tanya Gus Habib heran.


"Tidak ada... Kang Mas tidak salah apapun pada Dinda. Yang salah itu Dinda, salah memilih suami yang tampan." Jawab Mayra sewot, membuat Gus Habib garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Fix... Dinda cemburu???" Tanya Gus Habib


tersenyum.


"Pikir saja sendiri???" Setelah memberikan pernyataan demikian, Mayra pun berlari meninggalkan Gus Habib lebih dulu menuju rumah mereka. Kemudian, Gus Habib pun menyusul sang istri yang masih cemberut. Ya, walaupun dia berlari lebih cepat, tapi raut muka Mayra yang cemberut terlihat cantik saat dia cemburu Dimata Gus Habib. Gus Habib pun mengejar dan menarik tangan Mayra mundur menghadapnya. Mayra yang masih berlari pun terkejut saat tangannya ditarik mundur oleh suaminya dan refleks menabrak tubuh suaminya.


Dan hap...


Ditangkaplah tubuh Mayra kearahnya. Wajah cantik Mayra yang mendongak ke atas, tepat sang suami pun memandangnya dari dekat... Sangat dekat... Dengan bibir ranumnya... Gus Habib melihat pancaran cahaya dari wajah sang istri. Begitu membuatnya terpesona.


Dipeluknya tubuh Mayra, kemudian diciumnya kening istrinya sambil memejamkan matanya perlahan... Seketika pandangan mereka berdua beradu begitu lama... Sangat lama... Pandangan penuh cinta dari keduanya..


"Ayo Dinda... Tidak enak kalau terlalu lama dijalan." Mayra yang masih shock dengan ucapan sang suami belum bisa merespon . Tapi setelah merasa tidak terjadi apa-apa, Mayra pun mengerjapkan matanya pertanda baru sadar, kalau tidak terjadi apa-apa.


"Eh... Iya kang Mas." Akhirnya mereka berdua pun berjalan bersamaan menuju rumah. Padahal, Mayra awalnya hendak pergi lebih dulu, tapi karena Gus Habib menggandeng tangannya dengan lembut, Mayra pun kembali luluh karena perlakuan suaminya itu. Setelah berjalan 30 menit, mereka berdua pun telah sampai, dan saat ini, waktu menunjukkan pukul 6 pagi.


Setibanya di rumah, Mayra dan Gus Habib pun bergegas untuk masuk ke kamar mereka masing-masing. Mayra yang sudah selesai mandi pun bergegas menuju dapur dan hendak memasak. Sedangkan Gus Habib, yang baru selesai pun juga bergegas menuju kamar sang istri berada. Setelah sampai di depan pintu kamar Mayra, Gus Habib pun membukanya...Tapi dilihatnya kosong.


Sesaat baru tersadar, 'apa mungkin didapur?' Tanyanya dalam benaknya. Begitu sampai di dapur, dia mendapati sang istri disana. Tak disangkanya, Mayra bisa memasak.


"Dinda, sedang apa?" Tanya Gus Habib berjalan menuju dapur


"Memasak... Dan membuatkan camilan untuk diteras depan." Jawab Mayra terkesiap saat tiba-tiba Gus Habib memeluknya dari belakang


"Bolehkah kalau begini?" Tanya Gus Habib sambil memeluk istrinya dari belakang. Gus Habib memang sangat sopan santun dalam berperilaku.


Bagaimana tidak, kalau kepada istrinya saja harus minta izin. Padahal kalau di surat perjanjian pranikah itu disebutkan bahwa tidak berhubungan intim selama 3 bulan. Sebenarnya sentuhan fisik, tapi karena tidak tega dan takut dosa, akhirnya Mayra mengganti isinya berupa tidak berhubungan intim selama 3 bulan.


"Ehm... Iya. Boleh Kang Mas." jawab Mayra pasrah.


"Nanti, Dinda ikut Kang Mas menemui Fatimah di BS resto ya! Kang Mas, ingin memberi tahukan padanya, kalau kita sudah menikah. Supaya, Fatimah tidak berharap lebih pada Kang Mas." Gus Habib pun mencium pucuk kepala Mayra dengan lembut.

__ADS_1


"Begitu ya?? Seharusnya selesaikan saja sendiri, kang Mas! Dinda merasa tidak enak kalau berada di antara kalian. Karena ini adalah urusan hati kalian."


"Apakah salah, kalau Kang Mas tidak ingin memberikan harapan yang lebih pada Fatimah? Bagaimana kalau Fatimah berpikir bahwa Kang Mas tidak membawa istri, itu berarti Kang Mas menginginkannya untuk menikah dengan Kang. Mas? Hmm..." Gus Habib merasa gemas sendiri melihat Mayra yang masih berpikir.


"Hhh.." terdengar suara helaan nafas berat dari Mayra. "Baiklah... Tapi kita tidak bisa langsung kesana bersamaan. Jadi... Dinda harus menemui teman-teman dulu, baru menuju meja makan nomor 19."


"Iya Dinda... Tidak masalah, kita akan pergi ke pantai setelah dari sana dan juga menginap di hotel yang terletak tidak jauh dari sana."


"Wah... Pantai??? Dinda senang... Kang Mas. Terima kasih ya!"


"Iya Dinda. Sebaiknya Dinda bersiaplah, biarkan kang Mas mu ini yang memasak, mulai besok... Dinda lah yang memasak. Jadi khusus hari ini, biar Kang Mas saja yang memasak." Setelah mengucapkan itu, Gus Habib yang masih memeluknya itu pun sambil melepaskan celemek yang dipakai oleh Mayra, dan memakainya. Membuat Mayra salah tingkah dan pipinya merah merona.


"Iya, Kang Mas. Terima kasih." Jawab Mayra


Mungkin terdengar lebay sih, tapi sejujurnya, Mayra sendiri pun belum nyaman dengan memanggil suaminya seperti itu. Karena itu adalah keinginan sang suami, Mayra pun tidak bisa menolak keinginannya. Setelah menjawab ucapan terima kasih, Mayra pun bersiap-siap untuk ikut ke restoran tempat Gus Habib dengan Fatimah sepupunya bertemu. Mayra tidak perlu bersolek dengan begitu mencolok, secukupnya saja, suaminya sudah bahagia memandangnya.


Gus Habib tidak suka wanita yang berprilaku berlebihan dihadapannya. Terutama istrinya, jelas saja kalau sang istri yang melakukannya dirumah, dia selalu mengaguminya. Tapi saat diluar, Mayra tidak diperbolehkan untuk berpenampilan menarik.


"Dinda... makanannya sudah matang. apakah Dinda sudah selesai persiapannya?" teriak Gus Habib dari dapur.


"Sudah, Kang Mas." Jawab Mayra lembut. Sambil menggeret koper kecil.


"Punya Kang Mas, sudah di siapkan sekalian, Dinda?" Tanya Gus Habib sambil melirik kopernya, walaupun koper itu kecil, tapi bisa saja Mayra lupa tidak membawakan pakaian untuk suaminya.


"Sudah, Kang Mas. Sudah dijadikan satu dengan pakaian Dinda. Apa Kang Mas Ingin memastikannya sendiri?"


"Ehm... Begitu ya? Iya Kang Mas, bagaimana pun juga, Dinda saat ini sudah menjadi istri Kang Mas. Jadi sudah sepantasnya Dinda melaksanakan tugas dan kewajiban seorang istri."


"Terima kasih, Dinda. Kang Mas sangat... Bahagia bersama dengan Dinda." Jawab Gus Habib sambil memeluk istrinya. setelah itu, mereka berdua pun bergegas menuju ruang makan, sementara kedua asisten rumah tangga Gus Habib pun sudah menyelesaikan pekerjaannya, dan segera masuk ke kamar mereka karena tidak ingin mengganggu kedua majikannya tersebut.


Mereka berdua pun memulai interaksi saat sarapan. Mayra mengambilkan makanan untuk Gus Habib. Gus Habib pun menerimanya dengan senang hati dan tersenyum.


"Kok, Kang Mas bisa mengolah lobster pedas manis yang keras menjadi lembut begini?, Ditambah lalapan, lagi!" Ujar Mayra sambil memotong seekor lobster menjadi empat bagian. Kemudian di letakkannya satu bagian ke piring suaminya, dan satu bagian lagi di piringnya sendiri. Lalu, Gus Habib pun memotong daging lobster milik Mayra menjadi tipis-tipis setelah selesai, disodorkannya piring istrinya tersebut.


"Terima kasih, Kang Mas."


"Sama-sama, Dinda. Oh iya, nanti, setelah kita sampai di BS resto, Dinda mau pesan apa? Biar Kang Mas pesankan sekalian."


"Ehm... Apa ya? Bakwan udang dan kebab buatan chef disana. Soalnya, aku suka kebab yang dibawakan oleh kang Mas kemarin lusa itu."


"Oh... Iya. Nanti sekalian kang Mas pesankan." Jawabnya sambil tersenyum dan mengunyah makanan.


"Iya... Terima kasih, Kang Mas. Terus, apa yang akan kita lakukan dirumah? Kan sekarang masih pukul setengah 8, Kang Mas! Masih lama nunggunya."

__ADS_1


"Iya juga sih... Oh iya, sebelum kita berangkat ke restoran, bagaimana kalau kita rebahan sambil nonton TV? Atau ke bioskop?"


"jauh Kang Mas?"


"Cuma beda... Kamar!"


"Apa Dinda tidak salah dengar?"


"Tidak, Dinda tidak salah dengar. Kita ke ruang TV. Kang Mas, ingin menunjukkan kamar lainnya."


"Iya... Kang Mas."


"Kita selesaikan dulu, sarapannya. Setelah itu, baru nonton bioskop." Dibalas anggukan oleh Mayra. Beberapa menit pun berlalu, mereka berdua pun selesai sarapan pagi bersama, layaknya pengantin baru. Setelah itu, Gus Habib pun menggandeng tangan Mayra menuju ruang TV yang berhadapan dengan bar dapur.


"Sini... Dinda. Disini tidak ada orang, kita bisa tiduran atau apapun bisa kita lakukan bersama. Tempatnya juga luas, walaupun tidak seluas bioskop yang asli."


"Subhanallah... Ini terlalu mahal, kang Mas, harga sebuah rumah seperti ini. Siapa Kang Mas sebenarnya? Kalau hanya gaji dosen, tidak mungkin bisa membeli rumah besar dan sebagus ini, Kang Mas?" Tanya Mayra beruntun. Dia merasa jika suaminya sedang menyembunyikan rahasia.


"Iya Dinda... Baiklah kalau Dinda merasa tidak nyaman dengan semua fasilitas ini, Dinda tidak perlu merasa curiga pada Kang Mas seperti itu. Kang Mas merasa kecewa dengan sikap Dinda yang tidak mau percaya pada Kang Mas mu ini. asal Dinda tahu, kang Mas itu seorang manager di BS resto."Setelah mengatakan hal itu, Gus Habib pun pergi meninggalkan ruangan itu dengan rasa kecewanya. Hanya karena rumah yang besar dan megah ini, menjadi Boomerang untuk kelangsungan rumah tangga mereka.


Mayra tergugu menangis di ruang TV, dia kecewa dengan sikap suaminya. Seolah-olah dirinya tidak berharga dan tidak bisa dipercaya oleh suaminya. Sementara Gus Habib sendiri sedang meredam amarahnya di bak mandi kamar utama. ingin rasanya ia memaksa Mayra bercinta., tapi itu namanya dia tidak bertanggung jawab atas surat perjanjian pranikah tersebut.


Setelah emosinya sempat meledak, akhirnya Gus Habib pun menyudahi ritual mandinya. Setelah keluar dari kamar mandi, ternyata ada yang mengambilkan pakaian.


Dipakainya pakaian yang telah disiapkan oleh seseorang itu. Ternyata istrinya itu masih peduli terhadapnya. Ditemuinya Mayra di ruang tv, tapi tidak ada siapapun disana... setelah tidak ditemukan di manapun, akhirnya Gus Habib pun hampir menyerah, tapi sesaat baru tersadar kalau kamarnya Mayra saja yang belum dilihat. Gus Habib pun berjalan perlahan menuju kamar sang istri. kemudian dibukanya dan Gus Habib pun mendapati istrinya sedang tertidur. Gus Habib pun menghampirinya di ranjang.


melihat wajah cantik istrinya, Gus Habib pun mengusapkan tangannya pada wajah sang istri, dia sedang menangis memang. itu pasti karena dirinya tadi. Gus Habib pun beralih ke bibir ranumnya, 'ingin sekali aku menciummu. apakah bila sedikit saja, aku berdosa?'


"Dinda... kita berangkat sekarang saja ya!" ujarnya sambil mengusap bahu Mayra.


"ehm... iya Kang Mas."


akhirnya, tepat pukul 8 lebih 30 menit pun mereka berdua telah sampai di BS resto. begitu sampai di parkiran restoran, Gus Habib berpamitan dengan Mayra ke toilet umum yang tidak jauh dari restoran itu terlebih dahulu, sementara Mayra menghampiri teman-temannya.


"May!!!" pekik Diana, temannya 3 bulan di restoran.


"hey... Di... bagaimana kabarmu?"


"aku baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana, May?"


"Alhamdulillah, seperti yang terlihat. sangat baik."


akhirnya mereka berdua pun ngobrol sejenak. Gus Habib pun masih memasak di dapurnya, sesuai dengan keinginan Mayra, dia sendiri yang memasak makanan untuk dimakan di restoran. setelah matang, diberikan kepada pelayan untuk dihidangkan pada sang istri, sambil menunggu Fatimah, sepupunya Gus Habib.

__ADS_1


tapi siapa yang menyangka kalau sebenarnya Fatimah Az-Zahra adalah sahabat Mayra di pondok pesantren Al-Furqon dulu. tanpa sengaja, laki-laki yang disukai oleh Ning Zahra adalah Gus Habib suami dari Mayra sahabatnya.


pertemuan kembali ini akan ditampilkan di bab selanjutnya.


__ADS_2