
pagi ini udara sangat dingin tapi tak menyurutkan niat Fitri untuk pergi ke pasar menemani ibunya membeli bahan makanan. dia sudah memakai jaket dan juga syal untuk menghangatkan tubuhnya.
mereka berangkat ke pasar pukul 5 pagi setelah melaksanakan shalat subuh berjama'ah. pagi-pagi begini Pak Sumarno kembali ke kebun untuk mengecek orang-orang yang sedang memanen sayur. pagi ini banyak sayuran hijau yang di panen di kebun Pak Sumarno. ada bayam, kangkung, selada, kacang panjang dan lainnya. ada juga wortel dan kentang yang sudah siap untuk di bawa ke pasar pagi.
sementara Ahmad juga mengikuti Pak Sumarno ke kebun untuk melihat aktivitas apa saja yang dilakukan calon mertuanya itu di pagi hari yang dingin begini.
"bapak tiap hari gini pak??? tanya Ahmad penasaran.
"iya nak." jawab Pak Sumarno.
"apa bapak gak kedinginan???"
"kan bapak juga pake jaket. ya gak kedinginan dong."
"aku juga pake jaket tapi tetep aja masih merasa kedinginan pak. apa lagi bapak yang tiap hari kaya gini."
"ya justru itu nak. kalo bapak diam saja di rumah, bapak malah merasa kedinginan. tapi kalo pagi-pagi gini bapak kerja, malah gak ngerasa kedinginan. soalnya kan keluar keringat." kata Pak Sumarno menjelaskan pada Ahmad.
"iya sih pak. tapi kan disini juga banyak pekerja bapak. ada orang kepercayaan bapak juga. tapi kenapa bapak masih aja terjun langsung ke lapangan??.
"ya gak papa. itung-itung cari keringat dan sembari olah raga. bapak juga gak mau terlalu mengandalkan orang lain. kasian mereka."
Ahmad pun manggut-manggut mendengar penjelasan Pak Sumarno.
__ADS_1
mereka berdua kemudian membantu pekerja lainnya untuk memasukkan sayuran ke dalam bakul untuk di bawa ke atas mobil pick up untuk di jual di pasar sekitar Cimahi.
"pak, ini sayurannya mau di bawa ke mana???" tanya Ahmad.
"mau di jual ke pasar pagi di sekitar daerah sini nak."
"oh pantes berangkatnya setelah subuh."
"iya. kalo yang di kirim keluar kota biasanya karyawan bapak bawanya sore hari. kalo gak jam tiga pagi udah mulai kirim sayuran."
"biasanya tujuannya di kota mana aja pak??"
"biasanya sih tujuan kota Cimahi, Bandung, Bekasi, ada juga yang sampai Jakarta dan Tangerang."
"wah jauh juga ya Pak."
"bapak udah punya langganan pedagang disana??".
"iya Alhamdulillah bapak udah punya pelanggan di masing-masing kota. kita tinggal kirim barang sesuai permintaan mereka."
"oh, gampang ya Pak, kalo udah punya pelanggan sendiri."
"iya nak. Alhamdulillah. semuanya di mudahkan oleh Yang Maha Kuasa."
__ADS_1
mereka kemudian melanjutkan pekerjaan yang dari tadi mereka kerjakan. setelah mobil pick up pergi, mereka membantu buruh kebun untuk membereskan sisa-sisa sayuran yang jelek untuk di jadikan makanan ternak.
sisa-sisa sayuran yang jelek tersebut dijual Pak Sumarno dengan harga yang murah kepada pemilik ternak kelinci atau kambing yang biasa menjadi langganannya. seperti wortel yang rusak atau ukurannya tidak sesuai standar, atau kangkung dan bayam yang jelek untuk makan kambing.
semuanya tidak terbuang sia-sia dan menjadi limbah. sedangkan sisa-sisa dedaunan yang jelek. biasanya akan digunakan untuk pupuk kompos dan dijual dalam bentuk pupuk organik.
Pak Sumarno pandai memanfaatkan peluang usaha yang ada sehingga dengan mudah dia mampu membangun bisnis yang dulunya hanya berupa perkebunan sayur yang kecil sekarang menjadi perkebunan yang besar dan punya banyak pekerja.
pekerja disana juga betah bekerja dengan Pak Sumarno karena Pak Sumarno dan Bu Sundari adalah bos yang baik dan tidak pilih kasih. mereka menyamaratakan semua karyawan. di samping kebun sayur, pak Sumarno juga memiliki peternakan kecil-kecilan di belakang rumah berupa kolam lele dan juga kandang ayam kampung milik sendiri.
jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Pak Sumarno mengajak Ahmad untuk kembali ke rumah. jarak perkebunan dengan rumah Pak Sumarno hanya sekitar lima belas menit jalan kaki. cukup dekat memang. hingga mereka berdua lebih memilih untuk jalan kaki sembari berolahraga.
"nak. yuk pulang, udah siang." ajak Pak Sumarno.
"tapi pak, ini belum selesai." kata Ahmad yang sedang memasukkan wortel reject ke dalam karung.
"udah gak papa. ditinggal aja. nanti biar akang-akang itu yang melanjutkan."
"ya udah deh pak. yuk pulang."
mereka berdua kemudian pulang ke rumah pak Sumarno. siapa tahu sampai di rumah, Fitri dan Bu Sundari sudah selesai memasak dan mereka bisa langsung sarapan.
dan benar saja, setelah sampai di rumah, ternyata masakan sudah tertata rapi di atas meja makan. Bu Sundari menyuruh mereka berdua untuk mandi terlebih dahulu. setelah mereka berdua mandi, kemudian mereka baru makan bersama dengan menu yang sudah di pikirkan oleh Bu Sundari dan juga Fitri.
__ADS_1
semur jengkol, jengkol goreng + sambel, udang, cha sayur dan juga lainnya. mereka semua makan dengan lahap. tak terkecuali Ahmad. walaupun baru semalam menginap di rumah calon mertuanya, tapi dia merasa sangat nyaman berada di sana.. hingga dia merasa tidak ingin pulang ke Bandung...
bersambung . .