Menua Bersamamu

Menua Bersamamu
Season 2 Bagian 24


__ADS_3

Bastian mengompres Bella.


“Tidak usah, aku baik-baik saja.”


Kata Bella.


“Badanmu panas, aku takut


kondisimu semakin parah. Sudahlah turuti saja. Setelah ini kamu harus makan,


aku akan menyuapimu jika tidak mau makan.” Kata Bastian.


Tiba-tiba Vania menelfon Bastian.


“Hallo, ada apa?” Tanya Bastian.


“Kamu dimana sayang? Hari ini kan


kita ada makan bersama dengan orang tua kamu.” Kata Vania.


“Maafkan aku, aku sedang sibuk.”


Kata Bastian.


“Kamu bersama Bella kan? Lupakan


dia dan fokuslah dengan rencana kita sayang.” Kata Vania.


“Dia sedang sakit.” Kata Bastian.


“Tapi tidak harus kamu yang


menjaganya, ada orang tuanya bahkan ada manajernya juga. Cepat kembalilah


kesini sekarang juga.” Kata Vania.


“Jangan egois, bagaimanapun juga


dia kan dulu temanmu dan kamu bekerja dengannya cukup lama.” Kata Bastian.


“Itu dulu, aku akan menunggumu


sampai kamu datang.” Kata Vania.


“Jangan menungguku.” Kata Bastian


lalu dia menutup telfonnya.


“Pergilah dan temui dia. Aku bisa


sendiri kok.” Kata Bella.


“Astaga badanmu semakin panas,


aku akan memanggil dokter untuk datang kesini.” Kata Bastian.


“Aku tidak apa-apa, aku hanya


perlu istirahat saja.” Kata Bella.


Tidak lama kemudian, datanglah


dokter. Dokter tersebut segera memeriksa kondisi Bella.


“Bagaimana keadaan dia?” Tanya


Bastian.

__ADS_1


“Dia hanya kelelahan dan banyak


pikiran. Saya memberikan obat penurun panasnya, tolong pastikan pasien


istirahat yang cukup ya.” Kata dokter.


“Baik dokter, terima kasih


banyak.” Kata Bastian.


Setelah itu dokter tersebut


kembali pulang. Bastian kembali merawat Bella.


“Minumlah obat ini.” Kata


Bastian.


“Aku tidak mau, rasanya pasti


sangat pahit.” Kata Bella.


“Tidak apa-apa nanti bisa minum


air putih yang banyak. Buka mulutmu.” Kata Bastian.


“Tidak mau, aku hanya perlu tidur


saja.” Kata Bella.


“Kalau kamu tidak mau minum obat,


akan aku jelajahi lagi dirimu biar kamu hamil sekalian.” Kata Bastian.


Akhirnya Bella pun meminum obat


tersebut.


Bastian.


“Apakah kamu akan pergi setelah


aku tertidur?” Tanya Bella.


“Haruskah aku pergi atau disini


menjagamu?” Tanya Bastian.


“Pergilah, aku baik-baik saja.”


Kata Bella, namun tangannya menggenggam tangan Bastian seakan tidak ingin


Bastian pergi.


“Aku tidak akan pergi.” Kata


Bastian.


“Terima kasih banyak, maafkan


aku.” Kata Bella.


“Aku tidur di sofa saja.” Kata


Bastian.


**

__ADS_1


Keesokan paginya. Tiba-tiba ada


yang mengetuk pintu kamar hotel tempat Bella menginap. Bastian pun awalnya


mengintip siapa yang datang, dan ternyata Vania yang datang. Bastian pun


terpaksa membuka pintunya.


“Minggir, aku mau masuk.” Kata


Vania.


“Dia sedang istirahat, dia masih


sakit.” Kata Bastian.


“Memangnya kamu siapa mau merawat


dia? Pulang sekarang juga atau aku akan menelfon reporter agar dia masuk berita


karena sedang bermesraan denganmu disini. Dibawah ada reporter sedang


berkumpul.” Ancam Vania.


“Ok ok aku akan pulang sekarang


juga, tunggulah dimobil.” Kata Bastian lalu menutup pintu.


“Aku tidak bisa meninggalkan


Bella sendiri disini. Lebih baik aku diam-diam pergi saja, aku tidak peduli


dengan Vania.” Kata Bastian dalam hati.


Bastian membangunkan Bella.


“Bella, bangunlah.” Kata Bastian.


“Jam berapa sekarang?” Tanya


Bella.


“Jam 8 pagi, ayo cepat kita pergi


dari kamar ini. Kita cari hotel lain saja.” Kata Bastian.


“Ada apa memangnya?” Tanya Bella.


“Dibawah ada Vania, dia sengaja


menelfon reporter untuk meminta keterangan darimu.” Kata Bastian.


“Apa? Sialan si Vania.” Kata


Bella.


Kemudian Bella dan Bastian


diam-diam kabur lewat pintu belakang dengan bantaun sekretaris Bastian.


“Kita mau pergi kemana?” Tanya


Bella.


“Kita pergi ke vila milikku saja.


Vania tidak tau lokasi vila baruku.” Kata Bastian.

__ADS_1


“Baiklah, ayo cepat sebelum para


reporter melihat kita.” kata Bella. Bastian pun langsung mengebut.


__ADS_2