
Bastian mengompres Bella.
“Tidak usah, aku baik-baik saja.”
Kata Bella.
“Badanmu panas, aku takut
kondisimu semakin parah. Sudahlah turuti saja. Setelah ini kamu harus makan,
aku akan menyuapimu jika tidak mau makan.” Kata Bastian.
Tiba-tiba Vania menelfon Bastian.
“Hallo, ada apa?” Tanya Bastian.
“Kamu dimana sayang? Hari ini kan
kita ada makan bersama dengan orang tua kamu.” Kata Vania.
“Maafkan aku, aku sedang sibuk.”
Kata Bastian.
“Kamu bersama Bella kan? Lupakan
dia dan fokuslah dengan rencana kita sayang.” Kata Vania.
“Dia sedang sakit.” Kata Bastian.
“Tapi tidak harus kamu yang
menjaganya, ada orang tuanya bahkan ada manajernya juga. Cepat kembalilah
kesini sekarang juga.” Kata Vania.
“Jangan egois, bagaimanapun juga
dia kan dulu temanmu dan kamu bekerja dengannya cukup lama.” Kata Bastian.
“Itu dulu, aku akan menunggumu
sampai kamu datang.” Kata Vania.
“Jangan menungguku.” Kata Bastian
lalu dia menutup telfonnya.
“Pergilah dan temui dia. Aku bisa
sendiri kok.” Kata Bella.
“Astaga badanmu semakin panas,
aku akan memanggil dokter untuk datang kesini.” Kata Bastian.
“Aku tidak apa-apa, aku hanya
perlu istirahat saja.” Kata Bella.
Tidak lama kemudian, datanglah
dokter. Dokter tersebut segera memeriksa kondisi Bella.
“Bagaimana keadaan dia?” Tanya
Bastian.
__ADS_1
“Dia hanya kelelahan dan banyak
pikiran. Saya memberikan obat penurun panasnya, tolong pastikan pasien
istirahat yang cukup ya.” Kata dokter.
“Baik dokter, terima kasih
banyak.” Kata Bastian.
Setelah itu dokter tersebut
kembali pulang. Bastian kembali merawat Bella.
“Minumlah obat ini.” Kata
Bastian.
“Aku tidak mau, rasanya pasti
sangat pahit.” Kata Bella.
“Tidak apa-apa nanti bisa minum
air putih yang banyak. Buka mulutmu.” Kata Bastian.
“Tidak mau, aku hanya perlu tidur
saja.” Kata Bella.
“Kalau kamu tidak mau minum obat,
akan aku jelajahi lagi dirimu biar kamu hamil sekalian.” Kata Bastian.
Akhirnya Bella pun meminum obat
tersebut.
Bastian.
“Apakah kamu akan pergi setelah
aku tertidur?” Tanya Bella.
“Haruskah aku pergi atau disini
menjagamu?” Tanya Bastian.
“Pergilah, aku baik-baik saja.”
Kata Bella, namun tangannya menggenggam tangan Bastian seakan tidak ingin
Bastian pergi.
“Aku tidak akan pergi.” Kata
Bastian.
“Terima kasih banyak, maafkan
aku.” Kata Bella.
“Aku tidur di sofa saja.” Kata
Bastian.
**
__ADS_1
Keesokan paginya. Tiba-tiba ada
yang mengetuk pintu kamar hotel tempat Bella menginap. Bastian pun awalnya
mengintip siapa yang datang, dan ternyata Vania yang datang. Bastian pun
terpaksa membuka pintunya.
“Minggir, aku mau masuk.” Kata
Vania.
“Dia sedang istirahat, dia masih
sakit.” Kata Bastian.
“Memangnya kamu siapa mau merawat
dia? Pulang sekarang juga atau aku akan menelfon reporter agar dia masuk berita
karena sedang bermesraan denganmu disini. Dibawah ada reporter sedang
berkumpul.” Ancam Vania.
“Ok ok aku akan pulang sekarang
juga, tunggulah dimobil.” Kata Bastian lalu menutup pintu.
“Aku tidak bisa meninggalkan
Bella sendiri disini. Lebih baik aku diam-diam pergi saja, aku tidak peduli
dengan Vania.” Kata Bastian dalam hati.
Bastian membangunkan Bella.
“Bella, bangunlah.” Kata Bastian.
“Jam berapa sekarang?” Tanya
Bella.
“Jam 8 pagi, ayo cepat kita pergi
dari kamar ini. Kita cari hotel lain saja.” Kata Bastian.
“Ada apa memangnya?” Tanya Bella.
“Dibawah ada Vania, dia sengaja
menelfon reporter untuk meminta keterangan darimu.” Kata Bastian.
“Apa? Sialan si Vania.” Kata
Bella.
Kemudian Bella dan Bastian
diam-diam kabur lewat pintu belakang dengan bantaun sekretaris Bastian.
“Kita mau pergi kemana?” Tanya
Bella.
“Kita pergi ke vila milikku saja.
Vania tidak tau lokasi vila baruku.” Kata Bastian.
__ADS_1
“Baiklah, ayo cepat sebelum para
reporter melihat kita.” kata Bella. Bastian pun langsung mengebut.