
Keesokan paginya seperti biasa, Ahmad datang ke rumah Fitri dan sarapan bersama. setelah itu mereka juga berangkat bersama-sama.
Tetangga rumah kontrakan Fitri juga tahu ada laki-laki masuk ke dalam rumah. mereka juga bertanya kepada Ahmad sendiri saat Fitri belum membukakan pintu.
"mas, saya lihat mas sering kesini pagi-pagi. kalau boleh tahu mas siapanya neng Fitri sih??." tanya Bu Murni tetangga sebelah Fitri.
"saya calon suaminya Fitri buk, ini bentar lagi juga mau nikah. beberapa waktu yang lalu kan Fitri kecelakaan, ayahnya berpesan kepada saya untuk selalu mengantar jemput Fitri untuk bekerja. karena beliau takut akan terjadi hal yang tak diinginkan lagi. mengingat pelaku yang menabrak Fitri belum tertangkap."
"oh begitu, saya cuma tidak mau terjadi fitnah yang tidak diinginkan. soalnya para tetangga juga mau nggrebek kalian. sebelum itu terjadi, makanya saya tanya dulu sama masnya."
"iya gak papa buk, lagian saya juga kalo pagi-pagi kesini cuma mau numpang sarapan sama jemput Fitri aja kok. gak ngapa-ngapain. pintunya juga di buka kan. jadi orang-orang juga bisa lihat kalo kita gak ngapa-ngapain di dalam."
"ya sudah kalau gitu kan ibu tenang dengernya. dari pada pas kalian di dalem terus di grebek sama pak RT kan jadi berabe urusannya."
saat di dalam mobil Ahmad menanyakan kepada Fitri bagaimana tentang rencana lamaran mereka.
konsepnya maupun setting tempatnya.
"kalo tempat mendingan di rumah aku aja, di Cimahi. kasihan kan kalo bapak sama ibu harus kesini lagi. mereka kan juga udah tua. mendingan kita aja yang kesana. sekalian ngambil cuti."
"boleh juga tuh. kan jarak Cimahi dan Bandung juga gak begitu jauh kan."
"iya, di deket kampung aku kan juga banyak home stay. jadi kalo nginep mah gampang disana aja kalo perjalanan jauh mah."
"ya udah deh nanti akan aku bicarakan sama mama dan papa. terus untuk masalah tanggalnya kapan??."
"aku sih ngikut aja, tapi jangan terlalu cepat ya. takut keluargaku belum siap."
"gimana kalo bulan depan aja. satu bulan lagi kita lamaran."
"apa gak terlalu cepat??."
"terus kamu maunya kapan?? mau tahun depan?? mau di grebek dulu sama pak RT baru dinikahin?? mau kaya gitu??"
"ih kamu mas, jangan kaya gitu dong. aku kan jadi takut."
"ya udah nurut aja sih, nanti semuanya biar keluarga aku yang siapin. kamu mah terima beres."
"gak gitu juga kali."
"ya udah maunya gimana??. aku nurut aja."
"aku maunya yang sederhana aja. dan gak usah melibatkan terlalu banyak orang. nanti jadinya ribet. terus yang datang keluarga inti aja sama beberapa orang. maksimal 10 orang."
__ADS_1
"oke kita lihat nanti."
"ya udah besok bulan depan kita cuti 4 hari aja. kita pulang kampung."
"oke deh. tapi aku boleh kan nganterin kamu sampai rumah orang tua kamu??."
"aku mending naik bis aja deh."
"jangan, ribet. mendingan kita naik mobil aja. kamu naik mobil aku. kita pulang sama. Nanti kita mampir dulu ke Bandung di rumah papa mama aku, terus nanti baru kita ke rumah kamu yang di Cimahi."
"emang boleh mampir sama mama kamu??."
"ya boleh dong, kan kamu calon istri aku."
"ya udah deh, fix ya. kita lamaran tanggal 3 Maret 2020."
"oke."
"eh tapi masalah bajunya gimana?? apa kita beli baju couple aja di mall biar kelihatan serasi gitu."
"gak usah, kamu terima beres aja. nanti aku yang siapin sama mama. kamu cuma siapin tempat buat lamaran."
"ih, aku kan jadi gak enak sama mama kamu. apa-apa terima beres. nanti aku di cap cewek matre lagi. yang bisanya ngabisin duit kamu. belum juga nikah."
"enggak dong sayang. mama aku tuh sekarang lagi seneng banget soalnya sebentar lagi kita nikah. dia bisa secepatnya gendong cucu."
"ya udah sekarang aja yuk kita ke penghulu."
"ogah."
"Halah kamu tuh pura-pura sok jual mahal. padahal aslinya juga malu-malu tapi mau kan." goda Ahmad.
mereka mengakhiri perdebatan kecil di dalam mobil tadi. karena memang sudah sampai di depan pintu gerbang kantor Fitri.
"eh mas, nanti anterin ke perpustakaan bentar yuk mau balikin buku."
"oke boleh deh, sekalian nostalgia pertama ketemu calon istri."
"ah kamu." kata Fitri malu-malu.
Fitri lalu keluar dari dalam mobil tersebut dan masuk ke dalam kantor.
di ujung gerbang, ada senyum tidak suka dari seseorang yang memperhatikannya dari tadi. siapa lagi kalau bukan Rini senior Fitri yang sok berkuasa itu.
__ADS_1
"awas kamu Fitri, dasar pelakor." batin Rini.
Rini pun langsung masuk ke dalam kantor karena jam sebentar lagi sudah pukul 8 pagi. menandakan jam mulai bekerja.
--
Di Kantor Tempat Ahmad bekerja.
Ahmad sudah memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam lobi kantor. saat dia akan masuk ke dalam lift, tiba-tiba saja dia didorong dari belakang dan terantuk dinding lift.
"siapa sih yang dorong gue sampe kepala gue kejedot gini." batin Ahmad sambil memegang kepalanya yang kejedot tadi. Lalu dia menoleh ke belakang.
Ternyata yang ada di belakang Ahmad dan mendorongnya dengan kuat adalah mantan kekasihnya. Salsa.
"Salsa." kata Ahmad terkejut.
"hallo sayang, lama banget ya kita gak ketemu sejak meeting bulan lalu." kata Salsa dengan suara sensualnya.
Salsa masih terus menggoda Ahmad. bahkan hari ini dia datang menggunakan rok span pendek di atas lutut dan hanya memakai tank top yang di balut dengan blazer.
membuat mata lelaki yang memandangnya ingin melahap gunung kembar yang serasa ingin memuntahkan lahar panas.
Gunung kembarnya nampak terlihat jelas di depan mata Ahmad. karena Salsa terus maju mengunci Ahmad di dinding lift.
lift masih berjalan menuju lantai 10 tempat meeting berlangsung.
"kenapa kamu disini?? ada perlu apa??."
"aku mau meetting dengan client sayang. dan kebetulan tadi ada kamu mau masuk lift jadi aku ikut denganmu."
"heh, kamu mau apa?? jangan dekat-dekat dengan ku. jauhkan tubuh kotormu itu dariku."
"hah?? jangan sok suci sayang. kamu suka kan dengan ini." menunjuk gunung kembarnya.
"tidak, jauhkan itu dariku. aku jijik."
"sudahlah sayang, ayo kita nikmati sebentar saja di dalam lift ini."
"hah, kamu jangan gila. apa kamu tidak lihat ada cctv disana??."
"aku sudah suruh orang untuk mematikan cctv itu sayang."
"dasar perempuan gak waras."
__ADS_1
"aku begini karena kamu sayang. ayolah kita nikmati sebentar saja." kata Salsa sambil membuka blazer yang dia kenakan...
Di depan Ahmad tampak dengan jelas sekali gunung kembar milik Salsa yang besar. Dia menelan air liur memandang pemandangan yang ada di depannya. tetapi akal sehatnya masih berjalan. dia tidak mau terjebak dengan rencana Salsa selanjutnya. karena sebentar lagi dia akan melamar kekasihnya....