Menua Bersamamu

Menua Bersamamu
bab 15


__ADS_3

Setelah kejutan malam pertama di hari ketiga pernikahannya semalam, keesokan harinya Mayra dan Gus Habib pun memutuskan untuk bergegas kembali ke rumahnya. Saat ini pukul 4 pagi, sebangun dari tidurnya yang indah, Mayra pun bergegas mandi wajib sebelum sholat shubuh di laksanakan. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, dilihatnya Gus Habib yang masih terlelap dalam tidurnya.


Sebenarnya Mayra ingin menyentuh kulit wajah tampan suaminya, tapi karena teringat mau Sholat shubuh, Mayra pun membatalkan niatnya untuk melakukan hal itu. Tapi dia malah memandang wajah suaminya dan teringat akan kejadian semalam, menjadi memerah mukanya.


"Apakah sudah puas sayang, memandang suamimu yang tampan ini?"


"A... Apa sih, Kang Mas? Dinda tidak memandang Kang Mas kok? Kang Mas saja yang kepedean."


"Oh ya? Bagus itu, kalau orang lain ada yang memandang kang Mas berarti bukan Kang Mas yang kepedean tapi karena Kang Mas memang tampan." Ucap Gus Habib kepedean.


Bukan karena tingkat kepedeannya yang tinggi, tapi karena dia memang benar benar tampan. Jadi membuat orang yang memandang pun terpana. Tidak berapa lama, adzan subuh pun berkumandang. Karena hotel sedikit jauh dari masjid, mereka berdua pun memutuskan untuk Sholat shubuh berjamaah terlebih dahulu.


Mayra yang masih memakai mukena, akhirnya menyuruh sang suami untuk segera mandi wajib. Sebelumnya, Gus Habib mengajak Mayra untuk mandi bersama, tapi Mayra menolaknya secara halus. Akhirnya Gus Habib pun memutuskan untuk mandi sendiri.


Setelah memastikan sang suami masuk ke kamar mandi, Mayra pun mengambilkan pakaian yang akan dipakai oleh suaminya ke kampus. Kemeja biru muda


Setelah selesai menyiapkan perlengkapan pakaian untuk dipakai sang suami ke kampus, Mayra pun memasukkan pakaiannya yang sudah dipakai semalam ke dalam koper sedang yang dibawanya dari rumah, karena hari ini juga mereka berdua harus kembali pada aktivitas semula, yaitu kuliah dan bekerja. Sesuai janji Gus Habib, Mayra pun bebas menentukan keinginannya untuk kembali bekerja setelah pulang dari kuliahnya.


Begitu sang suami selesai mandi dan berganti pakaian untuk sholat shubuh, mereka berdua pun bergegas menunaikan ibadah sholat shubuh dengan berjamaah. Dengan suara merdu yang dimiliki oleh suaminya, membuat kekhusukan Mayra buyar. Karena rasa kagumnya pada sang suami. Setelah beberapa menit berlalu, sholat shubuh pun selesai. Dan mereka berdua duduk di ranjang kamar hotel.


"Kang Mas beneran, Dinda boleh kembali bekerja di restoran?" Tanya Mayra tidak percaya.


"Iya Dinda... Kang Mas izinkan, asalkan saat waktu pulang dari bekerja, harus Kang Mas yang jemput."


"Iya Kang Mas... Tidak apa-apa, yang terpenting masih boleh bekerja."


"Asalkan Dinda senang... Kang Mas tidak akan keberatan."


"Terima kasih kang Mas... "

__ADS_1


"Sama-sama Dinda. Ayo kita ke lobby hotel...!"


"Iya Kang Mas. ayo...!"


Akhirnya... Mereka berdua pun berjalan menuju lobby hotel di sekitar pantai kejora. Karena ada kelas pagi di kampus mereka berdua. Tidak berapa lama, mobil yang ditumpangi oleh keduanya pun telah berada di depan mereka berdua. Gus Habib mengulurkan tangannya untuk membuka pintu mobil belakang untuk sang istri, setelah sang istri masuk Gus Habib pun ikut masuk mobil dan menutup pintu, sementara koper sedang pun dimasukkan ke bagasi oleh sang sopir.


***


Perjalanan satu jam berlalu, Kini keduanya pun telah sampai di rumah dengan selamat pada pukul setengah 6 pagi. Gus Habib pun mengambil koper yang ada di ruang tamu, karena sang sopir pribadinya membawa kopernya ke ruang tamu.


Sementara Mayra sedang mempersiapkan diri untuk ke kampusnya, saat ini dia sedang memakai pakaian, setelah itu, dia akan bersolek di depan cermin meja riasnya. Gus Habib yang membawa kopernya masuk ke kamar pribadinya yang kini ditempati bersama sang istri..


Saat masuk ke kamarnya, dia pun melihat Mayra yang bersolek di depan cermin meja riasnya, seketika itu pula ia menegurnya.


"Dandan ke kampus tidak usah cantik-cantik, Dinda. Ala kadarnya saja!"


"Syukurlah kalau begitu, cantiknya wajah Dinda hanya untuk kang Mas saja."


"Iya, Kang Mas. Dinda masak dulu ya, untuk sarapannya."


"Tidak usah... Dinda. Biarlah suamimu saja yang memasak, Dinda duduk saja di ruang makan."


"Tapi Kang Mas..."


"Tolong Dinda, jangan membantah pada kang mas mu ini, karena Dinda tidak tahu apa akibatnya."


"Memangnya apa akibatnya, Kang Mas?" Tanyanya sambil menantang omongan suaminya..


"Dinda yang mau lo ya? Jangan salahkan kang Mas nanti."

__ADS_1


"Apa sih? A.... Mmm... " Akhirnya Mayra pun pasrah dengan keinginan Gus Habib melakukan ritual pengantin. Padahal mereka sudah memakai pakaian dengan rapi, eh... Malah Gus Habib menyerangnya dengan lembut dan penuh cinta, membuat Mayra pun menikmatinya. setengah jam kemudian mereka berdua menyelesaikan malam pertama kedua kalinya dengan bahagia, setelahnya mereka berdua mandi bersama lalu mengganti pakaian dengan warna putih. Mayra mencari kan pakaian sang suami yang berwarna putih, dan untuk dirinya juga warna yang sama, atau couple. sehingga mereka berdua pun tidak sempat untuk membuat sarapan terlebih dahulu, lalu mereka berdua pun memutuskan untuk sarapan di luar saja.


***


begitu keluar dari rumah, Gus Habib pun memutuskan untuk mengikuti keinginan istrinya untuk berhenti di depan angkringan pinggir jalan yang menjual bubur ayam. kedua pasangan ini pun keluar dari mobil, sementara Mayra berjalan menuju penjual bubur ayam untuk memesan bubur ayam keduanya.


"bubur ayamnya 2 Pak, pedasnya sedang."


"oh... baik Ning..."


tidak lama kemudian, buburnya pun sudah jadi, dan siap dihidangkan pada pelanggan.


"terima kasih, Pak!" ucapan terima kasih terlontar dari bibir Gus Habib.


"sama-sama, Pak! selamat menikmati."


"Oh... iya." setelah mengantarkan pesanan pelanggan, penjual pun kembali meracik bumbu untuk membuat pesanan pembeli lain. sementara Gus Habib dan Mayra pun menikmati makanan yang ada di depannya mengawalinya dengan membaca basmalah, setelah itu, baru menyantapnya.


"Alhamdulillah... Dinda, bayarkan makanan kita menggunakan kartu ini...!"


"ini kan... penghasilan..." belum selesai bicara, Gus Habib pun menyela pembicaraan.


"sebagai seorang lelaki, memang sudah sepantasnya bila seluruh keuangan diberikan kepada sang istri untuk dikelola. pakailah untuk semua keperluan Dinda seperlunya saja. jika dirasa cukup, tetap ditabung untuk masa depan keluarga kita kelak." Mayra pun terharu dengan ucapan sang suami.


"terima kasih Kang Mas... Dinda akan selalu ingat pesan Kang Mas."


"iya Dinda... " jawab Gus Habib sambil tersenyum.


Mayra pun membayar pesanannya tadi menggunakan uang cash, karena dia tahu kalau penjual pinggir jalan pasti tidak menggunakan kartu ATM, sementara Gus Habib masih setia berada tempatnya semula.

__ADS_1


__ADS_2