Menua Bersamamu

Menua Bersamamu
Kumpul Keluarga


__ADS_3

sore ini setelah berpamitan kepada Fitri dan juga kedua orang tuanya. Ahmad kembali pulang ke Bandung. dia pulang dengan mengendarai mobilnya sendiri. sebenarnya sangat berat berpisah dari sang kekasih, tapi apa daya, Ahmad tidak bisa membantah perintah ibunya. itu juga demi kebaikan mereka kedepannya. toh dua hari lagi mereka juga akan bertemu kembali. untuk melangsungkan acara pertunangan sekaligus lamaran.


Ahmad sudah pergi. mobilnya pun sudah tidak nampak lagi dari jalan setapak di depan rumah Fitri. kini giliran Fitri dan kedua orang tuanya masuk kembali ke dalam rumah. Fitri akan membantu Bu Sundari memasak makanan untuk makan malam.


kali ini, menu makan malam mereka adalah pecel lele yang lelenya Pak Sumarno tangkap sendiri di kolam belakang rumah. selain itu juga ada sambel terasi, tempe goreng, tahu goreng, lalapan serta yang tak boleh ketinggalan adalah pete goreng kesukaan Pak Sumarno.


Fitri membantu Bu Sundari untuk menyiangi lele yang akan di goreng tersebut sekaligus membuat bumbu tumbuk yang akan di balurkan ke lele agar rasanya gurih dan tidak amis. sementara Pak Sumarno hanya melihat kedua wanita kesayangannya di meja makan sembari minum kopi dan membaca koran.


sambil memasak mereka sembari ngobrol santai.


"nak, kamu sudah yakin dengan pilihan kamu kan." tanya Pak Sumarno.


"insyaallah sudah pak. kenapa emangnya??" jawab Fitri.


"gak papa. bapak hanya mau memastikan saja. karena bapak gak mau kamu salah pilih dalam memilih pasangan hidup."


"iya nak. kan bapak kamu juga takut kalo kamu mengalami trauma yang belum juga sembuh." timpal Bu Sundari.


"insya Allah enggak buk. selama aku kenal sama mas Ahmad, dia orang yang baik."


"ya kita juga gak tau kedepannya gimana. tapi bapak berharap kalian segera melangsungkan pernikahan setelah acara lamaran besok."


"tapi pak, Fitri gak mau terburu-buru."


"iya bapak tahu nak. bapak paham. mungkin kamu belum siap untuk menikah. tapi coba pikirkan kembali. kalian itu di Jakarta berangkat dan pulang kerja itu selalu bersama. apa lagi kan biasanya Ahmad suka sarapan di kontrakan kamu. bapak takut kalo ada seseorang yang tidak suka dengan kamu lalu kalian di grebek dan disuruh untuk melangsungkan pernikahan dadakan. apa kalian tidak malu??"


"iya nak. bener kata bapakmu itu. kita memikirkan resiko kedepannya. iya Ahmad memang baik. tapi kalo nafsu seseorang kita juga tidak tahu kan. tahu-tahu kamu mau diperkosa atau di lecehkan gimana???"


"ih ibu malah nakut-nakutin Fitri sih."


"bukan nakut-nakutin nak. ibu hanya ingin kamu selalu waspada saja. kamu ini perempuan dan tinggal di kota orang sendirian. kamu harus pandai jaga diri kamu baik-baik nak."


"iya buk, pak. Fitri ngerti. nanti coba Fitri pikiran ulang lagi. dan rundingkan masalah ini dengan mas Ahmad."

__ADS_1


"nah gitu dong. pasti ada jalan keluar dari masalah ini.''


"eh iya pak, buk. Fitri mau tanya sama kalian."


" tanya apa nak?? coba katakan saja." kata Pak Sumarno.


"gini loh, kan Fitri belum begitu siap untuk segera menikah dalam waktu dekat. nah sekalian menunggu waktu, Bu Halimah menyuruh Fitri sama mas Ahmad untuk melakukan sekolah pra nikah. menurut bapak sama ibu gimana??."


"sekolah pra nikah dimana nak??" tanya Bu Sundari.


"di Bandung buk. kalo Fitri mau, nanti kita tiap hari Minggu pulang ke Bandung buat dateng ke sekolah pra nikah tersebut."


"tapi apa gak capek nak?? kalo tiap satu Minggu sekali bolak-balik Jakarta Bandung. apalagi kalo seumpama ada lembur kan. seharusnya hari Minggu buat istirahat." kata Bu Sundari.


"itu yang masih Fitri pikirin buk."


"emang di Jakarta gak ada sekolah pra nikah?? atau sekolah pra nikah on-line. sekarang kan zaman on-line." tanya Pak Sumarno.


"Fitri juga gak tau pak. nanti coba Fitri tanya-tanya dulu sama temen Fitri."


"kalo Ahmad gimana nak?? apa dia setuju buat sekolah pra nikah??." tanya Bu Sundari.


"kalo kata mas Ahmad sih terserah Fitri aja gimana."


"ya udah sekarang gimana kamunya saja."


"iya pak, buk."


tak terasa adzan magrib berkumandang dan mereka segera menyudahi perbincangan kali ini. sekarang mereka bersiap-siap untuk melaksanakan shalat magrib berjamaah di rumah karena di luar hujan.


---------


sementara itu di Bandung.

__ADS_1


Ahmad baru saja sampai ke rumah. selepas perjalanan dari Cimahi. dia langsung masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya di lantai atas sambil menyeret koper kecil yang berisi baju ganti. dia tidak melihat ada orang tuanya atau adiknya di dalam rumah.


"mungkin mereka semua sedang keluar rumah." batin Ahmad.


sesampainya di dalam kamar, Ahmad langsung mandi dan membersihkan dirinya. dua puluh menit kemudian, Ahmad kembali ke bawah untuk melihat suasana di dalam rumah. siapa tahu mereka semua sudah kembali. karena sebentar lagi adzan magrib berkumandang.


Ahmad kemudian berjalan menuju taman di samping rumah karena dia mendengar suara riuh dari sana.


"siapa sih yang ada di taman?? kok kayaknya berisik banget.'' batinnya lagi.


ternyata yang ada di taman banyak sanak saudaranya yang sudah lama tidak bertemu dengannya. seperti om dan tantenya, serta sepupunya dan juga ada Pak Hakim, Aurel, Bu Halimah, serta ada kakak dari Bu Halimah sekeluarga. semuanya memang tinggal di Bandung. tapi karena kesibukan masing-masing mereka jadi jarang bertemu. ini kesempatan langka bagi mereka sekaligus untuk menghadiri acara lamaran Ahmad dua hari lagi.


adzan Maghrib berkumandang, mereka segera masuk ke dalam rumah dan bersiap-siap untuk shalat magrib berjamaah.


setelah makan malam, mereka semua berkumpul di ruang keluarga sekaligus berbincang-bincang sekedar menanyakan kabar. sambil sesekali mereka semua bersenda gurau.


suasana di rumah keluarga Hakim malam ini sungguh sangat ramai dan hangat.


"Ahmad, beneran serius kamu mau lamar anak gadis orang??." tanya Om Andre yang notabene adalah adik dari Pak Hakim.


"iya dong om." jawab Ahmad.


"padahal baru kemarin kamu om gendong kesana kemari. eh sekarang dah mau nikah saja."


"ya kan Ahmad sekarang udah dewasa om. masa iya gak mau berumah tangga. mama papa aja udah ngebet pengen cucu."


"iya lah. usia kamu juga udah hampir kepala tiga masak iya gak mau nikah juga." kata Bu Halimah.


"eh iya. Doni kamu kapan mau nikah??" tanya Ahmad pada sepupunya.


"nanti dulu. nunggu kamu nikah dulu bang. baru nanti aku nyusul."


"tapi jangan kelamaan. nanti keburu tua." kata Pak Hakim.

__ADS_1


"iya pakdhe. secepatnya pokoknya." kata Doni.


bersambung...


__ADS_2