Menua Bersamamu

Menua Bersamamu
Kabar Baik


__ADS_3

setelah kejadian itu, Fitri pulang ke rumahnya dan istirahat sejenak. lalu mencari buku yang dia pinjam di perpustakaan kota satu bulan yang lalu.


Fitei harus mengembalikan buku itu secepatnya dan juga harus membayar denda. karena sudah telat mengembalikan. Fitri tidak mau sampai Bu Dina marah besar dan dia tidak diperbolehkan lagi meminjam buku di perpustakaan tersebut.


Buku yang dia cari ketemu, kemudian dia meletakkan buku tersebut di dalam paper bag yang akan dia bawa ke kantor besok. bersamaan dengan berkas-berkas kantor.


Fitri lalu mengganti bajunya dengan baju santai dan berjalan menuju dapur untuk memasak makan malam.


Fitri mengeluarkan ikan bawal dan sayuran yang akan dia masak. tak sampai satu jam, makanan sudah siap semuanya. dia langsung pergi mandi.


jam sudah menunjukkan pukul 7 malam dan Fitri sudah bersiap akan makan malam. tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu dari luar. karena penasaran, dia langsung membuka pintu. ternyata yang datang adalah sahabatnya. siapa lagi kalau bukan Vina.


Fitri yang kaget melihat Vina ada di depan pintu langsung mempersilahkan Vina masuk.


"sini masuk dulu Vin. tumben kesini gak ngabari aku dulu."


"iya nih, soalnya aku jenuh di kosan sendirian. bosen banget gak tau mau ngapain.''


"kamu udah makan belum??."


"belum nih,."


"ya udah makan sama-sama yuk."


"wah kebetulan banget, bisa numpang makan disini. hehehe.." seloroh Vina.


"ye..maunya yang gratisan nih anak."


"maklum, tanggal tua say.. hehe..."


mereka berdua pun makan malam bersama. Vina makan dengan lahap karena masakan Fitri menggugah seleranya.


setelah keduanya selesai makan, Fitri langsung membersihkan semua peralatan yang tadi mereka gunakan agar tidak mengundang kecoa dan tikus berdatangan.


Saat itu Vina yang sedang bersantai di depan tv melihat cincin yang dikenakan Fitri di jari manisnya. Vina tahu kalau itu cincin dari Ahmad. Dia sudah mengira jika Fitri pasti sudah menerima lamaran pria itu.


"kenapa dia belum cerita sama aku ya?? apa aku tanya dia aja kali ya dari pada penasaran." batin Vina.


setelah Fitri menyelesaikan semua pekerjaannya, dia bergabung dengan Vina di depan tv sambil bermain ponsel.


Vina yang dari tadi penasaran langsung memberanikan diri untuk bertanya.


"Fit, Lo udah nerima lamaran dari dia??."


Fitri yang sedang bermain ponsel langsung mendongakkan kepalanya menatap lawan bicaranya. Dia sampai lupa memberi tahu sahabatnya yang satu ini.


"heem Vin." jawab Fitri malu-malu.


"kenapa Lo gak cerita sama gue??."

__ADS_1


"ya karena gue belum sempet cerita, lagian pekerjaan di kantor kan juga numpuk. mana ada waktu buat cerita."


"ya kan Lo bisa cerita pas di rumah gitu."


"ya maaf aku lupa mau ngabarin kamu. ini aja aku mau nelpon bapak sama ibu buat ngabarin mereka."


"ya udah gitu sana. kabarin mereka dulu. mereka pasti seneng dengernya."


"iya Vin.."


"tapi inget, Lo harus jelasin ke gue nanti."


''siap bos."


Fitri pun menelpon kedua orang tuanya. dia melakukan panggilan video call supaya bisa melihat jelas wajah bahagia kedua orang tuanya.


beberapa saat kemudian, panggilan diangkat oleh sang ayah. ayahnya nampak sedang bersantai menikmati segelas kopi dan sepiring pisang goreng di teras rumah.


"hallo nak, assalamualaikum."


"waalaikumsalam pak, bapak apa kabar??"


"Alhamdulillah bapak baik-baik saja nak. kamu sendiri gimana??."


"Alhamdulillah Fitri juga baik-baik saja pak, oh ya ibu dimana pak??."


"eh iya. ya udah Fitri mau ngomong penting sama bapak dan ibu. bapak boleh masuk sebentar gak?? biar bapak dan ibu bisa denger yang Fitri omongin. soalnya kalo di luar suara anginnya kencang banget pak. Fitri takut bapak dan ibu gak denger kalo Fitri ngomong."


"oke, bapak masuk deh kalo kaya gitu."


Pak Sumarno kemudian masuk ke dalam rumah menghampiri istrinya yang sedang fokus menonton sinetron favoritnya.


"buk ini Fitri nelpon katanya ada sesuatu hal penting yang mau dia omongin sama kita."


Bu Sundari pun langsung mengalihkan pandangannya dari hadapan tv.


"eh iya pak."


Fitri yang melihat ibunya dari depan layar hp hanya bisa tersenyum karena memang sang ibu hobi menonton sinetron.


"hallo buk, assalamualaikum.. ibu apa kabar??."


"Alhamdulillah kabar baik nak. kamu mau ngomong apa ?? katanya ada hal penting yang mau kamu omongin. emangnya mau ngomong apa sih nak??."


"gini loh pak, buk. Fitri mau ngomong tentang kabar baik buat kalian."


"kabar baik apa nak??" tanya ibunya tak sabar.


"kamu naik jabatan??" giliran ayahnya yang bertanya.

__ADS_1


"enggak pak, buk lebih dari itu."


"lalu apa?? jangan buat kami penasaran."


Fitri lalu menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya. tanda dia sudah menerima lamaran dari Ahmad.


Kedua orang tuanya menangis bahagia.


"hah, kamu serius nak udah terima lamaran dari Ahmad?." tanya ibu.


"iya buk, pak. kan janjinya satu bulan harus jawab lamarannya. jadi ya kemarin beberapa hari yang lalu baru Fitri jawab."


"tapi kamu serius kan sama dia. gak main-main."


"ya serius dong pak, buk. mana mungkin Fitri main-main."


"tapi, apa kamu udah kenal dengan keluarganya?? apa mereka juga menyukaiku??." tanya Pak Sumarno.


"iya, mereka orangnya baik kok. ya walaupun dari kalangan orang kaya tapi mereka tidak sombong dan angkuh. Fitri juga sering diajak main ke rumah mereka yang ada disini."


"syukurlah kalau begitu. lalu kapan rencana lamaran resminya??."


"Fitri juga belum tahu, nanti kami diskusikan dulu ya. soalnya mas Ahmad pengennya cepet."


"iya lebih cepat lebih baik nak. nanti terus kalian menikah. biar tidak terjadi zina."


"iya juga ya pak. aku capek di gosipin jadi simpanan orang kaya sama orang kantor. kaya aku ini perempuan gak bener aja."


"ya udah nanti kalian diskusikan berdua ya, kalo sudah yakin kapan tanggalnya, nanti kabarin bapak sama ibu."


"iya pak buk. ya udah Fitri tutup dulu telponnya ya. udah malem soalnya. disini juga ada Vina juga."


"baiklah. jaga diri baik-baik ya sayang. salam buat Vina dan calon mantu kami."


"iya buk ,nanti Fitri sampaikan."


Fitri langsung mengakhiri panggilan videonya. setelahnya dia harus menjelaskan pada Vina apa yang sebenarnya sudah terjadi antara dirinya dan juga Ahmad.


Fitri membuang nafas kasar. karena Vina sudah menunggu penjelasan darinya.


"huh... semangat Fitri.''


"gimana?? udah siap cerita apa belum nih??."


"udah."


"ya udah ceritain dong. udah gak sabar nih dengerinnya."


"jadi gini ceritanya, aku tuh nerima lamaran Ahmad beberapa hari yang lalu, di sebuah pantai di Ancol."

__ADS_1


__ADS_2