Menua Bersamamu

Menua Bersamamu
Pulang ke Cimahi part 3


__ADS_3

setelah menempuh perjalanan satu jam, mobil mereka sudah sampai di halaman depan rumah orang tua Fitri.


Rumah sederhana yang asri dan sejuk di pandang mata. karena ada banyak tanaman sayuran di sekitar rumah yang di tanam oleh Pak Sumarno menggunakan polibag.


rumah warna biru dengan halaman yang luas di dekat perkebunan serta ada beberapa mobil bak terbuka yang terparkir di halaman rumah yang biasa di gunakan untuk mengangkut sayuran ke pasar. dan ada mobil pribadi pak Sumarno yang waktu itu di bawa ke Jakarta untuk menjenguk Fitri di rumah sakit.


saat Fitri sampai ke rumah, suasana rumah masih sepi. mungkin karena bapak dan ibunya sedang di belakang rumah atau di kebun. karena tadi Fitri mengatakan bahwa akan sampai ke Cimahi nanti sore sekitar pukul 5. dia memang sengaja berbohong kepada kedua orang tuanya agar menjadi kejutan.


Ahmad yang baru pertama kali ke rumah orang tua Fitri merasa takjub dengan keindahan alam dan rumah sederhana tersebut. rumah yang sederhana tapi asri dan indah di pandang mata.


Fitri menyuruh Ahmad untuk duduk di teras terlebih dahulu sementara dia akan masuk lewat pintu belakang. setelah Ahmad mengeluarkan semua barang-barang mereka dari bagasi dan meletakkannya di teras rumah. Ahmad kemudian duduk di kursi yang ada di teras.


Fitri masuk melalui pintu belakang yang memang terbuka. dia melihat ibunya sedang mengaduk masakan yang ada di dalam wajan. sementara ayahnya sedang memberi makan ayam di kandang.


selain memiliki perkebunan, pak Sumarno juga memiliki peternakan kecil yang berisi sekitar seratus ekor ayam kampung. dan juga ada kolam lele di dekat kandang ayam.


Fitri masuk dengan mengendap - endap ke dapur mengagetkan ibunya yang sedang asyik mengaduk rendang di atas wajan.


"assalamualaikum ibu." kata Fitri mengagetkan ibunya.


Bu Sundari sangat terkejut dengan seseorang yang ada di belakangnya hingga sendok yang digunakan untuk mengaduk terjatuh. "astagfirullah haladzim." dia lalu menengok ke belakang.


"ih ibu, malah kaget." kata Fitri pura-pura sedih.


Bu Sundari yang terkejut dengan kedatangan Fitri langsung memeluk putrinya itu.


"ya Allah Fitri. kamu udah pulang nak. kapan sampai rumah??" kata Bu Sundari histeris.


"ibu, ayok sini duduk dulu. matiin kompornya nanti rendang kesukaanku gosong."


Bu Sundari segera mematikan kompornya dan mengambil sendok sayur yang terjatuh. lalu mengikuti anak perempuannya itu duduk di kursi yang berada di dekat dapur.


"kamu kapan pulangnya sayang???"


"barusan buk."


"oh iya bapak belum tahu kalo kamu pulang. bentar ibu panggilkan bapak dulu ya di belakang. kamu tunggu sini." kata Bu Sundari antusias.


Bu Sundari lalu segera keluar dari rumah dan memanggil suaminya di belakang rumah.

__ADS_1


"pak, bapak...bapak..."


Pak Sumarno yang mendengar panggilan istrinya segera mendekat menuju sumber suara.


"ada apa sih buk, kok teriak-teriak??"


"itu pak.. itu." kata Bu Sundari terbata-bata.


"kenapa buk??''


"Fitri pak .. Fitri..."


"kenapa Fitri??"


"Fitri pulang pak."


"hah??? pulang?? kapan pulangnya?? katanya nanti sore baru sampai ke sini." kata Pak Sumarno.


"enggak. dia baru aja sampai. yuk samperin." kata Bu Sundari.


Pak Sumarno langsung buru-buru meletakkan pakan ayam yang di pegangnya. lalu dia mencuci tangan dan langsung berlari masuk ke dalam rumah.


Pak Sumarno tak menggubris panggilan istrinya. dia langsung masuk ke dalam rumah untuk mencari keberadaan Putri mereka.


Pak Sumarno masuk lewat pintu dapur dan melihat anaknya tidak ada disana. dia lalu menuju ruang depan dan mencari keberadaan anaknya.


ternyata sang anak berada di ruang tamu sedang ngobrol dengan Ahmad calon menantunya.


"Fitri." kata Pak Sumarno tak percaya melihat anak perempuannya ada di depan matanya.


"iya pak." kata Fitri lalu berdiri dan menyalami tangan ayahnya lalu di ikuti oleh Ahmad.


pak Sumarno mengangkat tangannya dan menyalami keduanya.


"kapan kalian sampai nak??"


"baru saja Pak. bapak apa kabar?? sehat kan." tanya Fitri.


"Alhamdulillah sehat nak. kamu kok udah sampai. katanya baru sampai nanti sore."

__ADS_1


"ini juga udah sore kok pak." kata Ahmad.


"ya kenapa kalian gak ngabarin dulu ke kita kalo berangkat lebih awal." kata Bu Sundari yang keluar dari dapur sambil membawa empat cangkir teh di atas nampan.


"ayok, nak di minum.." kata Pak Sumarno mempersilahkan Ahmad untuk minum.


"iya pak." jawab Ahmad.


"sebenarnya ini rencana Fitri buk. kita sengaja gak ngabarin kalian dulu biar jadi surprise." kata Fitri.


"ih. kamu jahat ah sayang." kata Pak Sumarno.


"gimana di perjalanan macet gak??"


"enggak kok pak. ramai lancar lah."


"eh iya Fitri, itu barang-barangnya di bawa masuk dulu dong ke kamar." kata Pak Sumarno saat melihat ada koper di dekat pintu.


"itu barang-barangnya Ahmad di masukin aja di kamarnya Dimas sayang. kan adik kamu gak pulang. jadi kamarnya bisa di pake Ahmad buat istirahat." ujar Bu Sundari.


"iya buk." kata Fitri lalu menyeret koper Ahmad ke dalam kamar sang adik. kemudian dia memasukkan kopernya ke dalam kamar tempat tidurnya.


Fitri begitu terkejut karena suasana kamar jadi berbeda akibat di cat ulang dan di tambah hiasan dinding yang artistik . dia malah merasa semakin nyaman berada di dalam kamarnya itu. kamar yang sudah lama tidak dia tempati karena harus bekerja di ibu kota.


Fitri meletakkan kopernya berada di dekat almari. kemudian dia merebahkan tubuhnya di atas kasur tempat tidurnya. terasa begitu nyaman dan damai sekali.


"siapa yang mendesain kamar aku ya??" batin Fitri. "sungguh ini sih orang yang paham akan diriku dan juga paham tentang desain interior." batinnya lagi.


sementara itu di ruang tamu, Ahmad sedang berbincang-bincang dengan kedua calon mertuanya itu.


"apa kamu bener-bener serius mau melamar anak saya??" tanya pak Sumarno.


"iya pak, saya sangat serius. mana mungkin saya main-main dengan anak bapak. kan sudah sejak awal saya katakan bahwa saya sangat mencintainya. saya berniat akan segera menikahinya. tapi dia tidak mau terkesan seperti terburu-buru." kata Ahmad.


"ya sudah. lamaran dulu saja. mungkin dia perlu menyiapkan mental untuk itu. karena kamu tahu sendiri kan dia pernah mengalami trauma."


"iya pak saya paham. saya akan berusaha untuk membantu menghilangkan trauma pada Fitri secara pelan-pelan. kalo perlu saya akan bawa Fitri ke psikiater untuk mengobati trauma yang di alaminya."


"kita lihat gimana baiknya nanti."

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2