Menua Bersamamu

Menua Bersamamu
bab 18


__ADS_3

POV Mayra


"Dinda..." Panggil lirih Gus Habib setelah makan malam romantis kami selesai.


"Iya Kang Mas... ada apa?"


"apakah Dinda bosan dirumah terus?"


"kenapa Kang Mas bertanya seperti itu? tentu saja tidak, mana ada begitu." ucapku mengalihkan pandangan ke arah lain. aku selalu malas untuk di ajak berdebat. malas banyak bicara tentunya.


"Mata Dinda tidak mungkin berbohong, Kang Mas tahu banyak tentang Dinda. setiap kali kita berdebat, Dinda akan selalu mengalah, tapi jika Dinda berbohong pasti tidak akan melihat langsung wajah pembicaranya. bukankah begitu Dinda?" tanya suamiku sambil menarik daguku kearahnya untuk bertatapan dengannya.


"i... iya kang Mas... maafkan Dinda. jujur saja, Dinda memang bosan hanya berdiam diri di dalam cluster." jawabku sambil dipeluk olehnya.


"kalau begitu, ajak teman-teman Dinda ke rumah kita, kalau Dinda sedang bosan. asal jangan membawa mereka ke dalam kamar pribadi kita, Dinda paham?" ujar suamiku dengan penuh kelembutan.


"bo... boleh Kang Mas?" tanyaku tergagap. bagaimana tidak, suamiku memperbolehkan teman-temanku mengunjungiku di rumah.


"iya Dinda... apapun yang ingin Dinda lakukan dirumah, lakukan saja. asal Dinda tidak kelelahan."


"terima kasih Kang Mas...!"


"iya Dinda... tapi ada 1 hal yang membuat Kang Mas bimbang..."


"apa itu, Kang Mas?"


"siapa laki-laki yang bersama dengan Dinda di foto itu?" tanya Gus Habib sambil menyodorkan handphonenya yang memperlihatkan foto Mayra dan seorang laki-laki bersalaman


"Oh... dia kak Affandi. kakak kelasku, sekarang dia semester 6 fakultas bahasa Inggris. dia memang menyukai dinda, tapi Dinda tidak pernah membalasnya. dan foto itu, Dinda memang bersalaman dengannya. karena dia dipilih sebagai ketua BEM, Dinda memberinya ucapan selamat padanya."


"foto itu diambil kapan?"


"pada waktu semester 3, Kang Mas... sepertinya, ada yang sengaja memfotonya."


"jadi seperti itu? kang Mas pikir, ..."


"Dinda tidak pernah mengkhianati cinta kang Mas pada Dinda... percayalah pada Dinda Kang Mas... Dinda tidak berbohong!" ucapku meyakinkannya. karena aku memang tidak pernah menghianatinya, baik setelah ijab qobul diucapkan olehnya, maupun sebelumnya.


"ya Dinda... kang Mas percaya pada Dinda... " ucapnya sambil menggenggam jemari tanganku dengan lembut.


setelah selesai berbicara, aku dan suamiku pun menikmati makan malam disertai dengan candaan seru., selepas itu, aku pun izin keluar dari ruangan VVIP room. aku ingin menemui teman-temanku di restoran. sejak menikah, aku tidak diizinkan untuk kembali bekerja. sebenarnya, bosan dirumah terus, tapi mau bagaimana lagi, sebagai seorang istri, bukankah kita harus patuh dan taat kepada perintah suami kan?


"Kang mas... Dinda boleh minta izin keluar dari ruangan ini? Dinda ingin menemui teman-teman Dinda... "


"ya sudah... boleh! soalnya, Kang Mas juga mau kembali ke ruangan Kang Mas dulu. hati-hati ya Dinda...!"


"Iya Kang Mas... assalamualaikum..."


POV Mayra end


setelah berpamitan dengan suaminya, Mayra pun keluar dari kamar VVIP menuju ke ruang makan belakang tempat teman-temannya biasanya meluangkan waktu untuk istirahat. apalagi ini waktu menunjukkan pukul 8 Malam, tentu mereka semua bersiap-siap untuk menutup restoran.


belum juga sampai di ruang makan belakang, Mayra mendapati tamparan keras dari sang ibu mertua.


plakk...


"Umi...???, Zahra....???" teriak Mayra terkejut. semua mata menoleh karena teriakan Mayra tersebut. mereka bertiga menjadi tontonan oleh para pengunjung restoran dan para karyawan.


"belum puas kamu, menghancurkan hubungan anak dan ibu, sekarang kamu malah membuat malu keluargaku? kurang apa putraku, memberimu cinta yang seharusnya untukku? hah...??? jawab???"

__ADS_1


"tunggu... tunggu... maksudnya apa ummy? May tidak mengerti???"


"ini... " ummy menyodorkan handphonenya pada Mayra. "lihat apa yang terjadi di foto itu...?" tunjuk Umi Hafizah. ada adegan ciuman Mayra dengan Affandi. padahal bukan itu yang terjadi.


"i... ini tidak pernah terjadi Umi... Mayra tidak pernah melakukan hal itu...! Mayra tidak pernah mengkhianati Mas Habib... Umi. tolong percaya pada May,...!"


"May... apa yang terlihat, terkadang itu yang terjadi... dan kamu menyangkalnya... wow... hebat ya, kamu Mayra...!!! "


"Zahra... kamu jangan menambahkan hal yang tidak benar ya,... lagipula, aku tidak pernah melakukan hal itu... Aku bukanlah seorang wanita yang pandai bergaul, seperti itu." ucap Mayra sambil mengusap-usap pipinya yang ditampar oleh ibu mertuanya.


"ini, nih...kalau terlalu banyak dipuji, oleh Bibi... dulu, Bibi sering kali memujinya, pinter masak lah, anak yang paling rajin lah, dan sebagainya. lihat kenyataannya, Bi... penghianat, wajah sok polos...!"


plakk...


Zahra pun menambahkan tamparan yang lebih kuat lagi hingga Mayra jatuh terduduk di lantai. Mayra pun tergugu sambil menahan air matanya, sementara Umi Hafizah, hanya tersenyum sinis.


"pantas saja, keluargaku membencimu... karena mereka merasa, kamu memang tidak pantas untuk disandingkan dengan putraku, Mayra!!!... laki-laki kaya, tampan dengan sejuta pesona. o... pantas saja kamu mau menjadi istrinya...! karena kamu sudah tahu kalau Habib itu laki-laki kaya, kan... !!"


"bukan seperti itu, Umi... justru Mayra baru tahu setelah menikah dengan Mas Habib. Mayra bukan wanita materialistis, Umi... percayalah pada Mayra ..."


"sudah cukup kamu, wanita rendahan yang tidak akan pernah pantas untuk disandingkan dengan putraku... sebaiknya, secepatnya kamu segera urus surat perceraian dengan Habib, saya tidak mau melihat putra kecil ku bersedih hati karena kegagalannya dalam berumah tangga. dan ingatlah satu hal, jangan pernah mengatakan bahwa saya lah yang menyuruhmu untuk meninggalkan putraku. paham..." gertak Umi Hafizah dengan penuh penekanan.


"Umi.... Zahra...!!!" panggil Gus Habib terkejut.


pasalnya, dia menunggu Mayra yang tidak kunjung kembali setelah berpamitan keluar dari ruangan VVIP room. karena lelah, lelaki itu pun hendak menghampiri Mayra. tapi sebelumnya, dia memutar video di CCTV restoran. begitu terkejutnya dia melihat sang istri dihina sedemikian rupa, hingga akhirnya, Gus Habib pun memilih untuk menghampiri Mayra yang sedang berdebat dengan Umi dan sepupunya itu.


"kang Mas...!!" teriak Mayra terkejut, begitu juga Umi Hafizah dan Zahra. "Habib... kak Habib..." teriak Umi Hafizah dan Zahra secara bersamaan.


"Dinda... apa yang terjadi??" tanyanya pada Mayra. "kenapa wajahmu memar, Dinda...? tanya Gus Habib terdiam sejenak, sambil menunggu jawaban dari keduanya. dia juga memapah Mayra untuk berdiri.


"tidak apa-apa Kang Mas... Dinda hanya terbentur tadi."


"tidak ada Nak... ayo kita ke ruanganmu... Umi sudah kangen sama kamu, le."


" iya umi... ayo Dinda... kita ke ruangan Kang Mas." ujarnya sambil menuntun Mayra untuk dibawa ke ruangan Gus Habib.


"iya Kang Mas."


"sebelumnya, saya, Habib AlBaihaqi selaku pemilik restoran ini, meminta maaf kepada para pengunjung atas kesalahpahaman ini. saya juga akan mengklarifikasi siapa mereka bertiga." dengan menghela nafas panjang, Gus Habib memberi tahukan identitasnya selama ini. "wanita cantik yang bersama dengan saya ini adalah Mayra, kekasih halal saya, sementara mereka berdua adalah sepupu saya, Zahra... dan Umi Hafizah, adalah ibu saya yang datang dari pondok pesantren, ibu yang melahirkan saya dengan susah payah. baiklah hanya itu yang ingin saya sampaikan... dan sekaligus ingin mengucapkan ribuan terima kasih atas kunjungan kalian... permisi...!" setelah itu, mereka berempat pun beranjak dari tempatnya menuju ruangan Gus Habib. begitu tiba di ruangan Gus Habib, dia pun mengintrogasi mereka bertiga.


Gus Habib melayangkan tatapan matanya yang tajam, seakan menghunus relung hati yang paling dalam, setelah berada di dalam ruangan kerjanya. mereka bertiga seakan seperti hendak dikuliti.


"katakan padaku, apa yang terjadi di sana tadi?" tanya gus Habib sambil berjalan mencari kotak p3k. begitu menemukannya, Gus Habib pun kembali duduk di sebelah


"tidak ada, Kang Mas..."


"Dinda tidak perlu menutupi kesalahan keluargaku. sekarang, lihatlah ke belakang kalian..." ujar Gus Habib sambil menunjuk layar besar, ternyata itu adalah CCTV. ketiganya sangat gugup.


"itu... a... anu, kang Mas..."


"seperti ini, kan yang kalian lakukan?"


plakk...


Zahra pun terkejut dengan yang dilakukan oleh Gus Habib. Zahra pun memegangi pipinya yang ditampar oleh Gus Habib.


"apa-apaan ini kak? kakak menamparku demi wanita rendahan seperti dia?" ujar Zahra


"sudah cukup, Kang Mas... jangan dilanjutkan lagi hanya karena Dinda."

__ADS_1


"tidak Dinda... ini saja masih kurang. ini juga hal yang dilakukan umi kan...?"


plakk...


hampir kedua kalinya yang diterima oleh Zahra, kalau saja sang Umi tidak segera menahan tamparan Gus Habib, hingga tangannya mengambang di atas.


"kamu menampar Zahra hanya karena membela wanita hina itu, Habib..."


"wanita yang Umi sebut hina itu punya nama, Umi... namanya Aisya Khumaira. dan dia adalah istri Habib. apakah, Umi berpikir Habib tidak tahu yang kalian berdua lakukan pada istriku? Habib tahu semuanya, karena memang habib yang meminta pegawai untuk memasang CCTV disetiap penjuru. kalau tidak, Habib tidak akan pernah tahu apa yang dilakukan oleh ibu kandungku sendiri terhadap menantu yang bukan pilihannya." ucapnya penuh dengan kekecewaan.


"itu karena dia berciuman dengan seorang laki-laki di sebuah foto! kalau tidak, Umi tidak akan pernah tahu apa yang dilakukannya di belakangmu... ini semua demi kebahagiaanmu, sayang...!" sang Umi pun pandai memutar balikkan fakta. padahal dia tahu kalau Zahra lah yang membuat foto itu diedit agar seperti nyata mereka berdua berciuman.


"kebahagiaan yang mana, Umi? sejak kapan, Umi merasa Habib tidak bahagia jika tidak bersama dengan Umi?" tanya gus Habib dengan menatap wajah cantik ibu yang melahirkannya.


"tentu saja... memangnya kalau bukan Umi, siapa yang bisa memahamimu? Umi adalah seorang ibu yang melahirkanmu, le... tentu saja Umi sangat menyayangimu..."


"yang memahamiku adalah Abi dan istriku, Umi... yang menyayangiku juga Abi dan istriku. aku juga bahagia jika bersama dengan istriku, Umi..." Gus Habib pun menunggu jawaban dari sang Bunda.


"maksud kamu apa le? ini Umi yang melahirkan kamu, kenapa kamu berubah setelah menikah dengan Mayra, Gus? apakah Mayra yang membuatmu membenci Umi seperti ini?" tanya Umi Hafizah sambil mengalihkan pertanyaannya.


"bagaimana rasanya dibenci Habib seperti ini, Umi? mengingat perlakuan Umi terhadap Habib saat Habib masih berusia 7 tahun?" seketika Umi Hafizah pun mendongak menatap wajah sang putra mahkota.


"ka... kamu masih ingat, le? maafkan Umi yang tidak peduli terhadapmu waktu itu, le... Umi menyesal, dulu tidak menahanmu..."


"maaf... Umi. sadar atau tidak, didalam pikiran habib yang masih berusia 7 tahun dulu, Habib sudah bisa menyimpan kejadian itu sebagai rasa trauma karena Umi meninggalkan Habib. untuk itu, jika Umi masih membenci Mayra, Habib pun akan membenci Umi. tapi tunggu sebentar lagi, Umi akan pulang dan Zahra juga akan kembali ke apartemennya ,"


"tapi Gus..."


"assalamu'alaikum.." sebelum zahra membalas ucapan Gus habib, Abi furqon terlebih dahulu datang disaat yang tepat.


"waalaikum salam warohmatulloh wabarokatuh..." jawaban salam serentak oleh ketiganya.


"Abi...??" ujar Umi yang tidak percaya akan kehadiran sang suami. begitupun juga dengan Mayra.


"mari Umi, kita pulang... zahra..., segeralah kembali ke tempatmu bersama dengan paman, sebelum orang tuamu paman beritahu."


"iya paman, zahra mau ikut pulang diantar paman."


sambil menarik tangan istrinya, beliau pun berpamitan dengan sang putra. "kami pulang dulu Gus...., Nak May... assalamu'alaikum warohmatulloh wabarokatuh..."


"waalaikum salam warohmatulloh wabarokatuh..." setelah kepergian Abi, Umi dan zahra. Gus habib pun terduduk sambil menangis dihadapan Mayra.


"hiks... hiks... hiks... kenapa Umi membenciku, dinda...?? salahku apa??"


"sabar, kang mas... mungkin Umi belum siap memiliki Anak lagi... jadinya pikirannya hanya negatif terus setelah melahirkan kang mas... kang mas tidak boleh seperti ini. kang mas tidak boleh membenci Umi, karena sekarang ada dinda disamping kang mas, jadi kang mas harus bahagia saat bersama dengan dinda." jawab Mayra panjang lebar


Gus habib yang masih sedih pun menimpali ucapan istrinya. "jadi kang mas tidak boleh membenci Umi, dinda? Walaupun Umi pernah memberikan kang mas trauma di waktu kecil?"


"iya, kang mas... tidak boleh membenci Umi, Walaupun Umi pernah memberikan kang mas trauma. karena Umi, kang mas ada disini. "


""kang mas perhatikan, sekarang dinda tambah cerewet deh..."


"tapi kan benar kang mas, karena jika tidak ada Umi, mana mungkin ada lelaki terbaik yang dikirimkan Allah pada dinda!,"


ekhm... Gus habib yang sedih pun beralih ke mode cool


"pandai menggombal, dinda ternyata!!"


"ish... apaan sih kang mas ini?"

__ADS_1


Gus habib dan Mayra pun akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah, pada saat itu juga. tapi sebelum itu, Gus habib mengobati luka bekas tamparan terlebih dahulu.


__ADS_2