
saat mereka sedang berbincang-bincang, tak di sangka ternyata Fitri sudah tertidur di dalam kamarnya. mungkin karena dia merasakan nyaman dengan suasana di kamarnya hingga dia tertidur.
mereka bertiga sebenarnya sudah curiga kenapa setelah meletakkan barang-barang di dalam kamar, Fitri tidak lagi keluar bergabung bersama mereka.
"eh buk, Fitri kemana??" tanya pak Sumarno.
"eh iya pak. tadi setelah masukin koper di kamar dia gak keluar lagi dari kamar."
"apa jangan-jangan dia ketiduran di kamar ya buk??."
"gak tau juga pak."
"ya udah coba lihat di kamar sana buk."
Bu Sundari kemudian bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke kamar Fitri. ternyata pintu kamar Fitri tertutup. perlahan-lahan, Bu Sundari membuka pintu kamar anak perempuan kesayangannya itu. ternyata pintunya tidak di kunci. Bu Sundari melihat Fitri ternyata tertidur di atas kasur sambil memeluk guling. pelan-pelan Bu Sundari mendekati tempat tidur Fitri, melihat sesaat wajah Fitri yang terlihat damai.
membelai rambut Fitri yang tergerai.
"kamu pasti capek ya sayang." kata Bu Sundari pelan. "ya sudah tidur yang nyenyak ya nak." Bu Sundari kemudian bangun dan keluar dari kamar Fitri. dia menutup pintu pelan-pelan agar tak membangunkan Fitri.
Bu Sundari kemudian berjalan mendekati suaminya dan juga Ahmad.
"Fitri tidur pak." kata Bu Sundari.
"ya udah gak papa buk. dia mungkin kelelahan." ujar Pak Sumarno.
"iya mungkin pak. ya sudah itu nak Ahmad tehnya di minum dulu."
"iya buk, pak." kata Ahmad.
Ahmad kemudian meminum teh yang sudah di suguhkan oleh Bu Sundari. sementara itu Bu Sundari kembali dapur untuk memasak tomyam kesukaan anaknya.
"ya sudah kalo gitu, ibu mau ke belakang dulu. mau ngelanjutin masak." Bu Sundari.
"iya Bu." jawab Ahmad dan Pak Sumarno bersamaan.
Pak Sumarno lalu mengajak Ahmad untuk berkeliling sekitar rumah mereka.
"yuk mari bapak ajak berkeliling di sekitar sini."
"baik pak." kata Ahmad menuruti pak Sumarno.
mereka lalu keluar dari ruang tamu dan berkeliling di sekitar rumah.
__ADS_1
"siapa yang nanem sayur di halaman rumah pak??" tanya Ahmad.
"ini bapak sendiri yang nanem. dari pada halamannya kosong kan sayang."
"iya juga ya pak. selain buat penyejuk rumah, juga bisa buat sayuran juga kan Pak."
"iya lagian kalo yang di halaman ini bapak pake pupuk organik semua gak ada pestisidanya."
"pakenya pupuk apa pak??"
"pake pupuk kandang. dari limbah kotoran ayam. sama dari air bekas nguras kolam lele."
"bapak beli pupuknya??"
"enggak kok. kan bapak peliharaan ayam di belakang sama ada beberapa kolam lele juga."
"wah lengkap banget pak."
"iya buat usaha sampingan sama buat kesibukan."
"iya pak, udara disini juga enak banget ya pak. khas suasana pegunungan dan ada banyak kebun sayur juga."
"iya. ya beginilah adanya kalo di kampung mah."
"iya pak. pak dimana kandang ayamnya?? saya juga mau lihat dong."
Pak Sumarno berjalan di depan menunjukkan jalan kepada Ahmad. sementara Ahmad mengikutinya dari belakang.
hanya beberapa menit berjalan mereka sudah sampai di belakang rumah. tempat dimana kandang ayam berada dan ada beberapa kolam lele.
Ahmad terheran-heran dengan banyaknya ayam dan juga kolam lele yang ada di belakang rumah calon mertuanya itu.
"wah pak, banyak banget ayamnya."
"iya lumayan lah."
"berapa ekor semuanya??"
"ada lah sekitar seratus ekor."
" ini ayam kampung kan Pak."
"iya ini ayam kampung,"
__ADS_1
"bapak emang melihara ini dari kecil atau cuma pembesaran aja??"
"awalnya sih bapak gak niat buat pelihara ayam sebanyak ini. tapi karena permintaan pasar. ya bapak sedikit demi sedikit pelihara ayam dan sekarang tambah banyak begini."
"oh gitu. terus gimana ceritanya bisa punya ayam sebanyak ini"
"iya, awalnya dulu bapak cuma punya tiga ekor induk ayam dan juga dua ekor ayam jantan. tapi karena ayam bapak cepet banget berkembang biak. jadi tak sampai setengah tahun. bapak sudah punya puluhan ekor ayam. nah mulai dari situ bapak fokus ke peternakan ayam kampung."
"kok yang dipilih ayam kampung pak?? kenapa gak ayam pedaging aja yang lebih cepet masa panennya?? kan kalau pelihara ayam pedaging cuma sekitar 40 harian aja kan."
"bapak lebih suka ayam kampung dari pada ayam pedaging. selain dagingnya lebih enak ayam kampung, juga lebih sehat ayam kampung. kalo ayam pedaging kan makanannya hanya konsentrat dan pelet makanan ayam pada umumnya."
"iya juga ya pak. kalau ayam kampung makanannya apa pak??"
"mereka lebih suka makanan biasa seperti limbah sayuran, dedak, nasi aking, dan bapak juga kasih mereka vitamin biar tetep sehat. mengingat udara disini kan juga dingin."
"oh gitu pak. terus kalo lele disini makanannya apa pak??"
mereka berdua lalu bergeser sedikit menuju kolam lele yang di buat menggunakan terpal dan berbentuk kotak. ada beberapa kotak kolam lele disana."
"pak ini satu kolam lele biasanya diisi berapa ekor??" tanya Ahmad penasaran karena ada banyak lele di dalam kolam tersebut.
"biasanya sih kalo bapak ngisinya 5000 ekor per kolam."
"ini kan ada 5 kolam, jadi ada sekitar dua puluh lima ribu ekor ya pak lelenya."
"heem betul nak."
"biasanya kalo lele di panen pas berapa bulan??"
"biasanya sih bapak panennya sekitar tiga bulan sekali."
"kalo makanannya pelet atau ada yang lainnya pak??"
"selain bapak kasih pelet, juga tak kasih daun pepaya sama daun singkong dan ada juga beberapa limbah sayuran."
"oh iya..iya.. ini bapak jual sendiri di pasar kan??"
"iya bapak jual sendiri. kalo dijual ke tengkulak biasanya harganya jadi lebih murah dan bapak juga gak dapet untung. jadi bapak pasarkan sendiri."
"aku salut sama bapak, selalu ada peluang usaha dan bapak juga pantang menyerah walaupun usianya sudah tak muda lagi."
"iya dong. harus itu."
__ADS_1
hari sudah beranjak sore. mereka kemudian masuk ke dalam rumah karena udara mulai dingin dan menusuk tulang.....
bersambung...