
Aurel yang sudah siap dengan setelan baju tidurnya langsung turun ke bawah untuk menemui kedua orang tuanya.
Bu Halimah dan Pak Hakim sudah menunggu di meja makan. di meja makan tersedia berbagai macam menu yang menjadi favorit Aurel. seperti udang saos tiram, ikan bakar, daging asam manis, dan juga sambal goreng ati ampela.
saat sampai di depan meja makan, perut Aurel langsung merasa keroncong dan air liur sudah mau menetes.
"udah, gak usah di lihatin aja, yuk makan sayang. papa udah keroncongan dari tadi." kata Pak Hakim.
"eh..iya..iya pah. aku juga laper banget lihat semua makanan ini." kata Aurel langsung menarik kursi dan duduk.
''ya udah ayo di makan. ini semua mama yang masak khusus buat kamu lho." kata Bu Halimah.
"beneran mah??"
"iya dong sayang, masa mama bohongin kamu sih. yuk buruan di makan."
tanpa basa-basi lagi Aurel langsung menyendokkan sedikit nasi ke dalam piringnya, setelah itu memasukkan semua menu yang ada di atas meja makan ke dalam piring lalu memakannya dengan sangat lahap.
Bu Halimah dan Pak Hakim yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat tingkah laku anak perempuan satu-satunya.
kedua pasangan suami istri itu memang heran, padahal anaknya selalu makan banyak, bisa di bilang lebih banyak dari porsi makan orang pada umumnya, tapi kenapa tubuh sang putri masih juga kurus tidak bisa gemuk. apa mungkin putrinya mengkonsumsi obat diet atau bagaimana.
"makannya jangan buru-buru gitu dong sayang. gak ada yang minta juga." kata Bu Halimah.
"habisnya masakan buatan mama enak banget sih. dan aku kan juga udah lama gak makan masakan buatan mama."
"iya deh, iya tapi pelan-pelan dong sayang. mama takutnya kamu keselek. tu kan ikannya juga ada durinya."
"iya mah.."
semua makanan yang di masak oleh Bu Halimah habis tak bersisa di makan Aurel. yang tersisa hanya piring kotor dan nasi dalam bakul. kalau untuk urusan makan nasi, Aurel memang hanya makan nasi sedikit tapi untuk sayuran atau yang lainnya dia makan lebih banyak. itu sebabnya Bu Halimah maupun Pak Hakim selalu mengirim uang lebih untuk biaya makan anaknya.
selesai makan, kemudian mereka pergi ke ruang keluarga untuk menonton TV dan berbincang-bincang sejenak. sementara itu di meja makan, bi Inah sedang sibuk membereskan piring kotor dan mencucinya.
--
di ruang keluarga
"sayang, kamu tadi bawa apa aja sih?? kok kayaknya banyak banget." tanya Bu Halimah penasaran.
"aku bawa oleh-oleh dong buat kalian." kata Aurel.
"buat papa ada gak dek??"
__ADS_1
"ada dong pah."
"eh, iya kuliah kamu disana gimana?? lancarkan sayang??" tanya Bu Halimah.
"lancar dong mah. kan aku ini anak pintar jadi gak akan ada masalah deh."
"alah sombong."
"bukan sombong. memang kenyataannya kaya gitu kan. emang mama atau papa pernah di panggil dosen gara-gara kelakuan aku di kampus??"
"iya sih memang. selama ini IPK kamu juga gak pernah jelek. selalu lebih dari 3,5."
"eh iya mah, pah. kapan mas Ahmad pulang kesini sama calon istrinya??"
"besok siang sampah sini kalo gak macet."
"lewat tol mana macet. mana mereka pulang juga bukan pas weekend jadi gak mungkin macet."
"iya juga ya."
"calon istrinya mas Ahmad itu baik gak ma?? apa kaya mbak salsa yang dulu pernah jadi pacar mas Ahmad??"
"baik kok, mana dia pinter masak lagi. pokoknya beda jauh dari si Salsa mantan pacar kakak kamu itu. dia itu perempuan apa adanya. gak suka belanja dan dandan."
"gendut gak mah??"
"emang dia pernah ke sini??"
"belum."
"lalu?? dia pake baju aku yang ada di mana??"
"ada di rumah kakak kamu, pas mama sama papa kesana."
"oh, gitu."
"kamu bawa oleh-oleh apa aja sayang??"
"banyak pah."
"iya papa juga tahu. kamu di Jogja beli makanan apa aja??"
"ada salak pondoh, bakpia pathok, yangko, pokoknya banyak deh pah."
__ADS_1
"mana sekarang kardus oleh-olehnya??"
"tadi sih di bawa bi Inah ke dapur pah. bentar deh aku lihat dulu."
Aurel lalu berjalan ke dapur untuk mengambil kardus oleh-olehnya. kebetulan sama Bu Inah kardusnya juga belum di buka.
Aurel lalu membawa kardus tersebut ke ruang keluarga dan membukanya di depan kedua orang tuanya. tak lupa juga dia membawa piring untuk meletakkan oleh-oleh tersebut.
di dalam kardus ada beberapa kotak bakpia pathok, dua kotak yangko, 3 kilo salak pondoh, dan banyak lainnya.
"dek oleh-oleh yang kamu bawa banyak amat sih. siapa nanti yang makan ini semua??"
"ya kita bagiin aja ke pak satpam, pak supir, bi Inah sama mas Ahmad besok."
"oh ya udah deh kalo gitu. kan jelas. dari pada nanti makanannya mubazir."
"ya sebelum aku beli, aku juga udah perkirakan siapa aja yang mau aku kasih.,"
"sipp kalo gitu."
Mereka pun memakan oleh-oleh yang di bawa Aurel dari Jogja. sambil sesekali berbincang-bincang dan mengomentari sinetron yang mereka tonton.
"tuh dek, lihat mama kamu sukanya nonton sinetron. pake minta di temenin papa segala lagi." kata Pak Hakim.
"emangnya kalo gak di temenin papah, mama minta di temenin siapa?? bi Inah?? pak sopir atau pak satpam gitu.??."
"ya jangan gitu mah. kan mama juga bisa nonton sinetron di kamar. di kamar kita kan juga ada tv."
"yah tapi gak seru pah. kalo mama nonton tv di dalam kamar. malah jadinya ketiduran."
"walah..dasar korban sinetron."
"iya tuh. kadang mama juga sering marah-marah sama nangis-nangis sendiri coba. kalo lagi gemes masak tangan papah yang di cubit." kata Pak Hakim.
"ya namanya mama lagi fokus nonton pah. jadi suka gak sadar."
lama mereka berbincang-bincang, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. mereka semua pun bersiap akan istirahat. terlebih lagi Aurel pasti lelah setelah seharian perjalanan jauh menggunakan kereta api.
"sana kamu istirahat dulu dek. udah malem juga kan ini. kamu juga pasti capek seharian naik kereta."
"iya juga pah. mah. aku juga udah ngantuk. ya udah aku pergi ke kamar duluan ya." kata Aurel.
"iya sayang. kita juga mau istirahat. besok kan Abang kamu datang sama calon istrinya. pah itu jangan lupa oleh-oleh Aurel di simpan di lemari es ya." kata Bu Halimah.
__ADS_1
"oke mah."
bersambung.....