
Salsa diam saja tanpa menjawab pertanyaan dari Risa sepupunya. Sebenarnya dia malu jika menceritakan apa yang terjadi sesungguhnya.
Lama terdiam, Salsa bersuara.
"aku gak papa kok."
"kamu yakin gak papa?? soalnya menurut aku kamu berubah. kamu gak kaya Salsa yang dulu."
"apa bedanya, aku masih kaya yang dulu kok." jawab Salsa ketus.
"nah, itu yang beda. kamu sekarang suka marah-marah."
"bawaan hormon aja. aku kan lagi PMS. kamu tahu lah kalo cewek pms kaya gimana."
"terus aku mau tanya sama kamu."
"tanya apa??"
"kenapa kamu sekarang suka pergi ke club malam dan mabuk??"
"itu karena di kantor aku punya banyak pekerjaan dan bosku selalu menuntut ku untuk melakukan pekerjaan yang tidak seharusnya aku kerjain. jadi untuk melampiaskan emosi aku minum."
"tapi nggak kaya gitu juga caranya??"
"lalu harus dengan cara apa aku melampiaskannya?? marah-marah??"
"entahlah aku juga bingung. mungkin jika aku ada diposisi mu aku pasti akan melakukan hal yang sama seperti mu ca."
"coba kamu tahu tentang apa yang sebenarnya aku alami. pasti kamu akan menangis ris." batin Salsa.
Semenjak kejadian itu Salsa berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya.
Salsa yang sekarang bukanlah Salsa yang dulu. dia lebih suka main ke club malam dan pulang pagi.
Tidur hanya beberapa jam lalu berangkat ke kantor lagi. itu saja rutinitas yang dia lakukan. hingga apartemen yang dia tempati sekarang sangat berantakan.
Salsa yang dulu adalah orang yang perfeksionis dan suka kebersihan. tak seperti yang sekarang. bahkan sekarang semua bajunya dia laundry. makanan yang dia makan adalah junk food. bukan makanan sehat lagi.
Tapi dia tetap merawat tubuhnya sebulan sekali agar tetap sexy dan awet muda.
Di club malam Salsa bertemu dengan Alex pria tampan yang usianya hampir sepantara dengan dirinya.
Alex biasa di club malam. karena dia penggemar alkohol dan juga musik keras. DJ memainkan musik dengan sangat mendayu- dayu membuat siapa saja yang mendengarnya ingin berjoget.
__ADS_1
Alex mengajak Salsa untuk berjoget tapi Salsa tidak mau. dia memilih duduk di bar bersama seorang bartender yang bernama Ivan.. mereka sudah kenal lama sehingga Ivan juga sering menggoda Salsa.
"kenapa sih Lo kalo diajak joget pasti gak mau??" tanya ivan.
"gak ah, gue kesini cuma buat numpang minum bukan buat joget."
"ayolah, asyikin aja kalo disini. joget juga gak papa kali."
Ivan terus merayu Salsa. tapi dia tetap tidak mau untuk berjoget.
Alex masih memperhatikan Salsa dari kejauhan sambil terus berjoget. dia masih berfikir bagaimana caranya merayu gadis cantik tersebut.
jujur saja siapa yang tidak tertarik dengan pesona gadis cantik nan seksi seperti Salsa. hanya laki-laki yang tidak normal yang tidak tertarik dengannya.
semua laki-laki sudah berusaha mendekati Salsa untuk mendapatkan hatinya. tapi siapa sangka gadis itu ternyata sulit untuk ditaklukkan.
Alex sudah berbulan-bulan mendekati Salsa tapi selalu ditolak. dia sudah menggunakan berbagai macam cara tapi selalu gagal. akhirnya dia menyogok Ivan untuk mengulik bagaimana kriteria pria idaman Salsa.
Malam itu Salsa tengah kebingungan karena ban mobilnya bocor. dia tidak tahu harus pulang naik apa ke apartemennya.
dengan senang hati Alex datang menawarkan tumpangan kepada Salsa untuk pulang. Karena sudah larut malam.
Sebenarnya yang mengempeskan ban mobil Salsa merupakan orang suruhan Alex agar dia bisa mengantarkan Salsa pulang. dia menyusun rencana agar Salsa bisa pulang dengannya.
Flash back off
"tolong bantu saya."
"bantu apa bos??"
"kamu sekarang pergi ke club xx disana ada mobil warna merah dengan plat nomor B 4536 L nanti kamu kempiskan bannya ya."
"oke bos."
"dan pastikan tidak ada orang yang melihat perbuatanmu."
"beres bos. siap."
Flash back on
sekarang Salsa sudah ada di dalam mobil Alex. dengan sangat terpaksa dia menaiki mobil Alex kalau bukan karena tengah malam dan tak ada taxi dia tak akan mau.
Salsa sudah jengah dengan perlakuan Alex yang setiap hari selalu mengejar-ngejar dirinya. mengirimkan buket bunga ke kantor. bahkan kadang juga mengirimkan makan siang ke kantor. Alex memang tahu dimana Salsa bekerja karena perusahaan tempat mereka bekerja pernah menjalin kerja sama.
Alex bekerja sebagai seorang CEO di perusahaan tambang yang kantor pusatnya ada di Jakarta. dia bekerja di perusahaan milik keluarga besarnya tepatnya perusahaan yang didirikan oleh sang kakek Kusuma Permadi.
__ADS_1
Permadi Group merupakan perusahaan besar yang bergerak di bidang pertambangan batu bara.
banyak anak cabang dari perusahaan tersebut. salah satunya yang dipimpin oleh Alex.
Alex sangat tajir melintir. dia selalu menghabiskan uang untuk bersenang-senang. tapi satu yang berbeda darinya yaitu dia tidak mau main perempuan.
Ibunya yang seorang keturunan dari Permadi pun melarangnya untuk bermain perempuan. karena menurut sang ibu, perempuan itu bisa membunuhmu perlahan-lahan . membuatmu menjadi gila. Ingat jika kau suka dengan perempuan, hargailah dia seperti kau menghargai ibu dan adikmu.
Jangan sekali-kali kau menyakitinya dan jangan sekali-kali kau memanjakannya.
Ingat, keluarga kita hancur juga karena perempuan. karena ayahmu bermain perempuan. Coba lihat sekarang dia bahkan seperti gelandangan di pinggir jalan karena lebih memilih perempuan itu dari pada keluarganya sendiri. itulah pesan yang selalu ibunya tanamkan pada Alex.
Tapi kali ini dia dibutakan oleh cinta. dia sungguh sangat jatuh cinta pada Salsa.
Malam ini rencananya berhasil. di dalam mobil dia tersenyum sendiri..
"hih, ngapain sih senyum-senyum sendiri??" tanya Salsa kesal.
"gak papa..cuma gak nyangka aja kamu mau naik mobil aku."
"kalo bukan karena ban mobilku yang kempes mah aku juga ogah kali numpang mobil Lo."
"Halah jangan galak-galak gitu, nanti naksir loh."
"bodo amat". kata Salsa memalingkan wajahnya melihat pemandangan malam hari kota Jakarta.
"dasar.. cewek. oh iya alamat rumah kamu dimana??"
"ih kepo banget sih jadi orang."
"ya elah, ya kan aku mau nganterin kamu pulang. kalo gak tau alamat rumah kamu nanti aku turunin kamu dimana??" tanya Alex sambil fokus menyetir.
Salsa pun tersadar kalo dia ada di mobil Alex karena mobilnya kempes dan sekarang Alex yang mengantarkannya pulang. kalo dia tidak memberitahu alamat tempat tinggalnya, lalu dimana Alex akan menurunkannya. "dasar bodoh." batin Salsa.
Salsa lalu mengatakan dimana alamat tempat tinggalnya kepada Alex. Alex lalu melajukan mobilnya menuju tempat yang telah ditunjukkan Salsa.
"oh jadi kamu tinggal di apartemen xx ya. dilantai berapa??"
"ih kepo amat sih jadi orang."
"ya kan aku mau tahu. emangnya gak boleh??"
"gak. kamu anterin aku sampe di depan apartemen aja. aku bisa masuk sendiri."
"oke deh kalo gitu. oh ya masalah mobil kamu biar nanti aku beresin. mana kunci mobilnya?? besok siang kalo udah beres biar aku anter ke kantor kamu."
__ADS_1
"gak perlu. nanti aku telpon tukang bengkel langganan aku aja."