Menua Bersamamu

Menua Bersamamu
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

setelah menunggu agak lama, akhirnya Aurel mendapatkan taxi online. sebenarnya dari tadi Bu Halimah juga menelpon Aurel. tapi karena ponselnya di matikan jadi Aurel tidak mendengar mamanya menelpon.


Aurel sebenarnya juga sengaja mematikan ponsel karena mamanya terlalu khawatir jika dia naik kereta api jarak jauh. ini pengalaman pertama baginya.


setelah taxi online datang, Aurel segera memasukkan barang-barang bawaannya ke dalam taxi tersebut dibantu oleh sang sopir.


kemudian Aurel masuk ke dalam mobil. dan mobil pun melaju menuju lokasi yang di tunjukkan Aurel.


Perjalanan menuju ke rumah Aurel memakan waktu 45 menit dari stasiun. selama di perjalanan dia berbincang-bincang dengan sopir taxi online tersebut.


"neng, mohon maaf ya. itu kan alamat rumah yang neng tuju bukannya perumahan elit yang ada di atas bukit itu kan."


"iya pak. kok bapak bisa tahu."


"iya soalnya saya juga beberapa kali mengantarkan orang , ke sana."


"oh gitu ya pak."


"iya neng. neng pulang gak di jemput sama sopir?? kok malah milih naik taxi online sih."


"iya pak. lagi pengen mandiri aja. masa apa-apa tergantung sama sopir."


"biasanya anak orang kaya itu sombong lho neng. sok jual mahal. gak mau kalo suruh naik taxi online. dia milih naik mobil pribadi atau di anter supir."


"ya kan saya beda pak."


"iya saya tahu neng, dilihat dari wajah aja udah keliatan kalo neng orangnya ramah dan supel. kalo dari penampilannya sih kelihatan juga kalo neng anak orang kaya. emang neng habis liburan dari mana sih kok naik kereta api??" tanya Pak supir yang ternyata namanya adalah Iwan.


"saya gak liburan pak. saya habis pulang dari kuliah."


"emang kuliah di mana neng??"


"di Surabaya."


"wah kok jauh banget sih neng."


"hehe iya pak. kebetulan keterimanya di sana."


"punya sodara di sana neng??"


"enggak pak. kebetulan saya ngekos disana."


"berani neng sendirian di kota orang??"


"ya berani dong Pak. ngapain juga gak berani. orang niatnya juga belajar menuntut ilmu."


"iya neng."


"bapak rumahnya mana?? punya anak berapa??" tanya Aurel mencoba mengakrabkan diri.


"rumah bapak gak jauh dari stasiun tadi kok. kalo anak bapak dua neng. laki-laki semua. yang satu udah nikah kalo yang satu lagi masih seumuran sama kaya neng."


"kalo yang seumuran sama saya udah kerja pak??"


"belum kok neng, masih kuliah juga kaya Eneng. besok tahun depan wisuda."


"oh hampir sama kaya saya ya pak. kuliah di mana??"

__ADS_1


"di Bogor neng jurusan perhutan kalo gak salah."


"oh. di IPB ya pak."


"iya neng."


lama mereka mengobrol hingga beberapa saat kemudian mereka sampai di area depan pintu masuk perumahan tempat tinggal Aurel.


"rumah non yang nomor berapa?? masuk gang apa??"


"rumah saya yang nomor 2 masuk gang Sakura."


"kalo dari depan gerbang sini ke mana arahnya neng?? kan perumahannya besar."


"ke timur pak, lurus terus masuk gang Sakura pak. rumah nomor dua dari atas."


"oke baiklah neng." pak supir pun langsung menuju tempat yang di tunjukkan oleh Aurel.


Tak seberapa lama, mobil pun tiba di depan sebuah rumah megah dengan pagar yang menjulang tinggi.


"yang ini bukan neng rumahnya??"


"iya Pak, ya udah pak tolong bantuin turunin barang-barangnya ya."


"oke neng."


Pak Iwan lalu keluar dari mobil dan langsung membantu mengeluarkan barang-barang Aurel yang ada di bagasi. sedangkan Aurel maju ke depan gerbang untuk memanggil pak satpam yang berjaga di rumahnya untuk membantu membawakan barang-barang bawaannya masuk ke dalam rumah.


Pak satpam yang kaget jika nona mudanya pulang langsung saja membuka pintu gerbang. setelah semua barang diturunkan, Aurel kemudian membayar ongkos taxi tersebut.


"berapa pak ongkosnya??" tanya Aurel.


"oke. bentar pak." kata Aurel lalu mengambil dua lembar uang pecahan seratus ribuan dari dalam ranselnya dan menyerahkannya kepada pak Iwan.


Pak Iwan kemudian menerima uang pemberian dari Aurel. dia terkejut dengan nominal yang diberikan kepadanya.


"lho kok dua lembar neng?? kan ongkosnya seratus."


"udah gak papa pak, di terima aja. anggep aja itu bonus buat bapak karena udah nemenin saya ngobrol di mobil tadi."


"ya tapi neng ini kebanyakan."


"udah gak papa. terima aja pak."


"ya udah kalo gitu makasih banyak ya neng. saya permisi dulu."


"iya pak. hati-hati di jalan ya."


"oke neng."


Pak Iwan kemudian masuk ke dalam mobilnya dan langsung putar balik untuk kembali menarik penumpang. sementara pak satpam membawa barang-barang majikannya masuk menuju pos satpam terlebih dahulu.


"Pak jangan lupa nanti bawa masuk ya barang-barangnya.,"


"iya non. ini bapak mau nutup pintu gerbang dulu.," kata pak satpam.


"oke pak. kalo gitu aku masuk duluan ke dalam ya Pak."

__ADS_1


"siap non."


Pak satpam kemudian langsung menutup pintu gerbang dan menggemboknya kembali. setelah itu kemudian membawa barang-barang bawaan nona muda untuk di bawa masuk ke dalam rumah.


di dalam rumah, Bu Halimah yang sedang menonton TV langsung di buat terkejut dengan kedatangan anak perempuan satu-satunya itu.


"hallo mama, papa. aku pulang.," teriak Aurel dari pintu masuk.


" heh, kamu itu ya .. di telpon dari tadi malah gak di angkat. hape nya pake di matiin segala lagi.," kata Bu Halimah yang langsung marah-marah.


"hehe maafin aku mah.. lagian mamah berisik banget sih. telpon terus. aku ini udah besar mah. gak kaya anak kecil lagi. pulang cuma naik kereta aja khawatirnya gak ketulungan."


"ya namanya anak perempuan satu-satunya. wajar dong kalo mama khawatir. lagian ini kan pengalaman pertama kamu naik kereta. mama takut kamu nyasar malah gak sampai rumah."


"aku ini udah besar mama." kata Aurel merajuk.


"udah-udah. yang penting kan Aurel udah pulang sampe rumah. apalagi sih yang di ributin.?? anaknya pulang bukannya di sayang-sayang malah di marahin." kata Pak Hakim


"hooh tuh. dengerin kata papa mah. malah di marahin habis-habisan gini." kata Aurel.


saat mereka sedang berbincang-bincang, pak satpam kemudian masuk membawa barang-barang bawaan Aurel ke dalam rumah.


"permisi non, ini barang-barangnya mau di taruh mana??" tanya Pak Satpam.


"udah pak, taruh situ saja."


"iya non."


kemudian setelah pak satpam meletakkan barang-barang, dia kembali lagi ke depan untuk berjaga di pos satpam.


Bu Halimah heran kenapa barang bawaan anaknya banyak sekali. biasanya kalo dia pulang tidak membawa barang sebanyak itu.


"itu yang di dalam kardus sama paper bag apa aja sih sayang. kok tnem bawaan kamu banyak banget." tanya Bu Halimah.


"itu oleh-oleh mah."


"kok tumben sih kamu pulang bawa oleh-oleh."


"iya mah. kan tadi aku mampir ke Jogja sebentar."


"kamu, bukannya langsung pulang malah kelayapan di Jogja segala."


"bukan begitu mah. tadi tuh di Jogja keretanya berhenti setengah jam di stasiun. jadi aku nyempetin turun buat beli oleh-oleh di stasiun. kan di dalem stasiun banyak toko oleh-oleh. jadi aku beli di sana mah. bukannya kelayapan sampe pasar atau pergi ke Malioboro."


"tuh dengerin anaknya ngomong. jangan salah paham terus makanya." kata pak Hakim membela sang putri.


"tau tuh mama bawaannya curiga sama marah-marah terus."


"ya udah ah kamu mandi dulu sana. nanti baru makan malam. mama sama papa nungguin kamu buat makan malem."


"siap nyonya."


kemudian Aurel naik ke lantai atas menuju kamarnya dan langsung bersih-bersih. setelah itu dia turun untuk makan malam bersama keluarganya.


kalo oleh-oleh yang dibawanya tadi di taruh di dapur oleh bi Inah. sedangkan kaos dan paper bag besar sudah Aurel bawa ke kamarnya.


bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu vote...like... coment...dan follow author ya...😊😊😊


kemudian setelah


__ADS_2