Menua Bersamamu

Menua Bersamamu
bab 12


__ADS_3

"Mayra???" Sapa Zahra. begitu sampai di meja makan nomor 19, Mayra yang baru saja Duduk pun seketika berdiri. Dia terkejut karena ada yang memanggil namanya. Diamatinya dari atas sampai bawah wanita yang memanggilnya itu.


"Ning Zahra??? Subhanallah, lama tidak bertemu, eh... Sekalinya bertemu di tempat seperti ini. bagaimana kabarmu, Ning Zahra?"


"Alhamdulillah, aku sangat baik. Kamu sendiri bagaimana?"


"Seperti yang terlihat. Kamu kesini sama siapa?"


"Aku kesini sendiri, dan ada urusan penting dengan seseorang. Kamu sendiri kok bisa disini? Sama siapa?"


"Aku sama suamiku, dia mau ketemuan sama sepupunya."


"Kamu sudah menikah?? Kok nggak kasih undangan??..."


"Dinda...???" Panggil Gus Habib pada Mayra, Mayra yang merasa dipanggil pun seketika menoleh.


"Iya Kang Mas... Oh iya, perkenalkan... Ini suamiku, Habib Al-baihaqi, Kang Mas... Dia adalah sahabatku di pondok pesantren dulu, Ning Zahra."


"Fatimah... Dia sahabat Dinda?"


"Mayra... Kamu nggak salah? Dia suamimu?"


"Iya... Fatimah. Mayra, istriku. Dan kenyataan ini lah yang ingin aku sampaikan padamu."


"Maksudnya apa, Kang Mas? Kenapa Kang Mas manggilnya Fatimah? APA hubungannya antara kalian berdua?" Tanya Mayra beruntun.


"Dia adalah sepupuku, Fatimah. Itu sebabnya, kenapa Kang Mas ajak Dinda ketemuan sama Fatimah."


" Nggak... Nggak mungkin.... Kenapa kak Habib hianatin aku? Padahal aku itu udah tulus sama kakak! Kenapa kakak nggak mau menikah sama aku? Dan sekarang kalian malah sudah menikah!..."


"Fatimah... Dinda... Ayo kalian ikut aku sekarang!" Ajak Gus Habib, sementara Mayra dan Ning Zahra pun mengikuti Gus Habib menuju pintu lift. Setelah menekan tombol naik ke lantai dua, pintu lift pun terbuka, mereka bertiga pun masuk ke dalam dan menutup pintu lift nya..

__ADS_1


Thing...


Mereka bertiga pun sampai di lantai dua dan berjalan menuju ruangan VVIP. Setelah ketiganya sampai di depan ruang VVIP, Gus Habib pun membuka pintu dengan cara menempelkan kartu pelanggan VVIP di depan layar monitor yang membentuk kartu. Akhirnya, pintu masuk ruangan VVIP pun terbuka seperti pintu lift.


"Ayo masuk!..." Setelah mereka berdua mendapatkan perintah dari Gus Habib, Mayra dan Zahra pun segera masuk. Tidak lupa juga Gus Habib mempersilahkan mereka berdua untuk duduk. Selepas itu, Gus Habib pun mempersilahkan Zahra untuk memesan makanan. Sementara Mayra, dia heran, kenapa Gus Habib tidak memberinya kesempatan untuk memesan makanan.


Setelah selesai memesan makanan, akhirnya pesanan ketiganya pun telah sampai, Gus Habib pun mempersilahkan pelayannya untuk meletakkan hidangan pesanan mereka di meja makan. Setelah pelayan itu undur diri, Gus Habib pun menyuruh kedua wanita itu untuk makan terlebih dahulu. Setelah itu baru akan menjelaskan maksud mengajak mereka kesana.


"Dinda... Kenapa tidak makan?" Tanya Gus Habib heran. Pasalnya makanan pesanan Mayra ternyata sesuai dengan keinginannya tadi, sangat menggugah selera, hanya saja, kenapa harus sepupunya yang menjadi sahabatnya itu.


"Iya... Makanlah May! Aku tidak mau kamu sakit karena aku."


"hhh... iya. maaf karena aku sudah membuat kalian berdua jadi menjauh. "


"Dinda ngomong apa sih? kenapa jadi gara-gara Dinda kami menjauh?" jawab Gus Habib ketus. pasalnya dia memang sedikit menjauh sejak pulang dari luar negeri. itu karena, orang tuanya sering menjodoh-jodohkan Gus Habib dengan wanita pilihan orang tuanya.


"harusnya kamu tahu, May! laki-laki seperti apa yang sering aku ceritakan padamu."


"sudahlah May... kamu nggak mengerti pahitnya patah hati. pantas saja bibi Hafizah hanya ingin aku yang menjadi menantunya. itu karena kamu sebenarnya tidak layak untuk dijadikan sebagai istri, terutama seorang menantu di kalangan Kiai."


"cukup... Fatimah. sudah cukup kalian semua menghina istriku. pantas saja, dari dulu, kakak tidak pernah menganggap kamu seperti seorang wanita, itu karena kamu tidak punya etika saat bersama dengan orang lain. sehingga kamu bisa menghina dan merendahkan orang lain dengan sesuka hatimu." Gus Habib pun menarik tangan Mayra untuk diajak pergi dari tempat itu. "ayo Dinda... kita tinggalkan tempat ini!"


Mayra yang meremas tangannya sendiri dan menunduk itu pun seketika menoleh pada suaminya dan menjawab. "Iya, Kang Mas." Akhirnya, mereka berdua pun bergegas meninggalkan ruangan dan sesuai dengan janji Gus Habib padanya, maka Gus Habib pun mengajaknya ke pantai kejora, perjalanannya sampai setengah jam dari BS resto. tak ada yang membuka suara saat di perjalanan. mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Dinda..." akhirnya Gus Habib pun berusaha untuk mencairkan suasana yang semula hening.


"Iya... Kang Mas. ada apa?" tanya Mayra.


"maafkan kang Mas, ya?"


"maaf kenapa, Kang Mas? Kang Mas tidak salah apa-apa kok."

__ADS_1


"Kang Mas baru sadar, kalau ternyata keluarga Kang Mas tidak bisa menerima Dinda dengan sepenuh hati, seperti yang terlihat." jawab Gus Habib sambil fokus menyetir."


"mungkin inilah yang namanya takdir, Kang Mas. Dinda... tidak bisa berbuat apa-apa."


"Kang Mas mau, hari ini juga kita harus hapus surat perjanjian pranikah itu, Dinda. bagaimana menurut Dinda? apakah Dinda sudah siap, menjadi istri Kang Mas, sepenuhnya?"


"ehm... iya Kang Mas." jawab Mayra gugup.


"nanti, juga ada yang ingin Kang Mas beritahu."ucapnya kemudian sambil tersenyum dan mengusap lembut pucuk kepala Mayra


"masalah apa, Kang Mas?"


"nanti, Dinda juga tahu." Mayra tidak tahu, kalau Gus Habib sudah menyiapkan makan malam romantis untuk malam nanti, honeymoon dadakan, tentu saja atas bantuan Rayhan, sang asisten yang dibuat sibuk oleh Gus Habib. setelah percakapan itu, mereka diam seribu bahasa.


tidak terasa, perjalanan menuju pantai kejora pun telah sampai. Gus Habib segera membukakan pintu mobil untuk Mayra, setelah Mayra keluar dari mobilnya, Gus Habib pun menutup pintunya, dan berjalan menuju bagasi mobil untuk mengambil koper sedang yang berisi beberapa keperluan mereka, bahkan 2 laptop milik Mayra dan Gus Habib pun ada di dalam koper sedang Itu. tanpa sepengetahuan Gus Habib suaminya.


Mayra pun menggamit lengan suaminya, sementara sebelah tangannya menggeret sebuah koper.


Gus Habib dengan kacamata hitam membuatnya terlihat sangat dewasa dan keren. karena usianya baru 25 tahun. sementara Mayra 20 tahun.. mereka berdua terpaut 5 tahun lebih tua Gus Habib.


"Dinda... ternyata sudah cukup siang saat ini. enaknya ngapain ya?"


"Iya Kang Mas, cukup terik juga."


"ya sudah... nanti kita pikirkan lagi. sekarang kita check in dulu lah, biar bisa istirahat."


"Dinda ikut,Kang Mas saja lah."


"ya sudah kalau begitu... ayo! keburu panas nanti."


"iya Kang Mas."

__ADS_1


akhirnya, mereka berdua pun memutuskan untuk check in di hotel dan restoran dipinggir pantai yang sudah beroperasi beberapa bulan lalu, itu pun Gus Habib yang membangunnya.


__ADS_2