Menua Bersamamu

Menua Bersamamu
Beruntung


__ADS_3

"wah hebat ya, padahal masakannya banyak macemnya loh." kata Bu Halimah.


"ah tidak Bu. biasa saja. kami memang selalu melakukannya berdua saja. terlebih lagi sudah lama kami gak masak bareng. jadi kami sangat bersemangat untuk memasak menghidangkan makanan untuk besan." ujar Bu Sundari.


"ah, ibu bisa aja. kami jadi merasa sangat terhormat datang kesini."


"kami yang merasa sangat senang karena keluarga Ahmad sangat baik sekali kepada Fitri. terutama ibu. keluarga ibu mau menerima kami yang berasal dari keluarga biasa di kampung yang terpencil ini." ujar Bu Sundari merendah.


"saya tidak pernah memandang orang dari hartanya Bu. yang penting ketulusan hati putri ibu yang saya nilai. dia terlihat begitu dewasa bisa mengimbangi anak saya." puji Bu Halimah.


"ah mama terlalu berlebihan. aku gak kaya gitu kok." kata Fitri.


"iya beneran sayang. mama gak bohong kok. terima kasih ya kamu mau menerima Ahmad dengan begitu banyak kekurangan dalam dirinya." kata Bu Halimah.


"ah gak gitu mah. mungkin karena memang kita sudah ditakdirkan untuk berjodoh. jadi harus bisa menerima kekurangan dan kelebihan pasangan masing-masing." kata Fitri.


"nah. betul apa yang kamu katakan nak."


"udah ayo di makan lagi Bu. kita keasyikan ngobrol malah jadi lupa mau makan makanannya kan." kata Bu Sundari.


"iya juga ya."


mereka bertiga kemudian kembali menikmati makanan yang sudah di ambil tadi. semua orang terlihat makan dengan lahap. sehingga makanan yang tersisa di atas meja hanya sedikit.


Fitri dan Bu Sundari merasa sangat bersyukur sekali karena keluarga Ahmad sangat ramah dan juga tidak sombong seperti yang Bu Sundari bayangkan sebelumnya.


----


jam sudah menunjukkan pukul dua siang. waktunya keluarga besar Ahmad untuk berpamitan pulang kembali ke Bandung.


sebenarnya berat bagi Ahmad meninggalkan pujaan hatinya untuk kembali ke Bandung. tapi mau bagaimana lagi dia juga tidak mungkin untuk menginap disana karena ini acara lamaran mereka.


mungkin besok Ahmad akan kembali lagi ke Cimahi untuk menginap disana satu hari lagi sebelum mereka berdua kembali ke Jakarta.


saat Ahmad akan berpamitan kepada Fitri, semua orang yang ada disana menggodanya.


"cie. yang udah mau pisah aja sama calon istri. bakal kangen nih." goda Aurel.

__ADS_1


"ih apa sih dek??." kata Ahmad.


"iya kan mas. yang aku omongin bener kan." kata Aurel lagi.


"hehe iya juga sih." kata Ahmad sambil garuk-garuk kepala.


semua yang ada disana ikut tertawa sementara Fitri hanya tersenyum malu-malu.


"udah kangen-kangenannya. mau pulang apa gak??." tanya Bu Halimah.


"iya mah. bentar lagi." jawab Ahmad.


"dari tadi ngomong bentar lagi tapi gak pulang-pulang." kata Pak Hakim.


"iya pah. ini juga mau pulang." kata Ahmad kepada papanya.


"sayang. aku pulang dulu ya. besok kesini lagi. buat jemput kamu pulang kembali ke Jakarta." kata Ahmad kepada Fitri.


"iya mas. ya udah sana pulang dulu. besok kan kesini lagi. tuh udah ditunggu sama semua keluarga kamu."


"ya udah ya sayang. bye..."


"oke sayang."


Ahmad beserta keluarganya akhirnya pulang kembali ke rumah mereka di Bandung.


setelah semua keluarga besar Ahmad pulang, kini giliran para laki-laki yang membereskan ruangan sedangkan para perempuan membereskan piring-piring kotor yang ada di atas meja. Fitri ingin membantu ibu dan bibinya untuk beres-beres tapi dicegah oleh bibinya.


"udah kamu jangan bantu-bantu. kamu duduk aja di kamar sana" kata bibinya.


"tapi aku juga mau bantuin bibi sama ibu."


"udah gak usah. biar bibi aja yang bantuin ibu kamu."


"tapi bi."


"udah gak usah tapi-tapian. sekarang nurut sama bibi ya."

__ADS_1


"ya udah deh kalo gitu. aku ke kamar aja bi."


"iya sana."


Fitri pun akhirnya kembali ke kamarnya. tadi semua barang hantaran yang di bawa oleh keluarga besar Ahmad sudah ada di dalam kamarnya. kini kamarnya penuh dengan kotak hantaran yang besar. dan isinya yang mewah sekali.


bahkan keluarga besarnya sampai terheran-heran melihat barang hantaran lamaran untuk dirinya. karena semuanya bermerek dan mahal. sampai-sampai bibinya bertanya pada dirinya apakah itu barang asli atau kw saking penasarannya.


Fitri merasa dirinya sangat beruntung karena keluarga besar Ahmad sangat baik padanya dan keluarganya. terlebih lagi mereka tidak memandang status sosial seseorang. mereka termasuk orang kaya yang low profile dan tidak sombong. sungguh sangat langka orang kaya seperti itu saat ini.


yang ada saat ini adalah orang yang sok kaya padahal aslinya biasa saja.


dia tidak pernah menyangka akan diterima di keluarga Ahmad. dan orang tuanya yang begitu welcome dengan dirinya. terlebih lagi Bu Halimah. dia sangat royal kepada Fitri.


membelanjakan barang-barang branded untuk Fitri. padahal Fitri tidak pernah meminta semua itu. saat dia mengadu pada Ahmad. Ahmad malah hanya tersenyum. karena dia tahu sifat dan perangai ibunya itu. dia tidak merasa terkejut.


"mama emang kaya gitu sayang. udah terima aja. dari pada nanti mama ngambek." kata Ahmad.


"tapi mas. aku kan gak minta. lagian barang-barang yang mama beli itu harganya mahal banget." kata Fitri.


"udah gak papa."


"nanti dikiranya aku matre mas."


"enggak. biarin orang mau ngomong apa. yang penting kan kenyataannya gak kaya gitu."


"tapi mas."


"udah. percaya deh sama mas. terima aja semua barang pemberian dari mama. jangan sampai kamu nolak ya. nanti malah mama berkecil hati. terus ngambek deh."


"ya udah iya mas."


---


kini Fitri sendiri di kamar sambil membayangkan semua itu dan menatap semua barang hantaran dari Ahmad.


lama kelamaan dia merasa ngantuk dan akhirnya tertidur di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2