Menua Bersamamu

Menua Bersamamu
bab 16


__ADS_3

Setelah selesai sarapan bubur ayam, mereka berdua pun melanjutkan perjalanan ke kampus. 15 menit kemudian, mereka berdua pun telah sampai di halte bis yang dekat dengan kampus. Ya... Mayra memang yang meminta Gus Habib untuk menurunkannya disana, sebenarnya, Gus Habib merasa keberatan, tapi mau bagaimana lagi, jika itu adalah keinginan sang istri? Apapun itu, akan dituruti, asalkan Mayra bahagia.


"Dinda serius diturunkan disini?"


"Ini kan tidak jauh dari kampus, Kang Mas? Dinda tidak mau, anak-anak melihat keberadaan kita disana! Fans Kang Mas pasti akan tambah liar pada Dinda, seperti yang dilakukan kakak kelas Dinda itu."


"Oh...?? Selena ya? Kang Mas baru tahu kalau dia yang mengunci pintu dari luar waktu itu??"


"Kang Mas kan sibuk mengejar Dinda... Jadi ketinggalan berita deh..."


"Ehm... iya deh, Dinda berhasil mencari tahu siapa pelakunya..." Mayra tidak tahu tentang Gus Habib mencari tahu diam-diam, siapa pelaku yang menguncinya dari luar. Jadi dia mengira kalau dosennya yang menemukan pelakunya.


"Kalau begitu, Dinda keluar dulu ya Kang


Mas...!"


"Iya Dinda... Hati-hati dijalan...!"


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam... Warahmatullahi wabarakatuh.." Mayra pun mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan sang suami, Gus Habib pun membalasnya dengan mengecup kening istrinya lama dan berakhir di bibir sang istri sebentar yang membuat gus Habib mencintainya.


Setelah berpamitan dengan Gus Habib, Mayra pun turun dari mobil, dan berjalan menuju kampus seorang diri, sementara Gus Habib menunggu Mayra masuk kawasan kampus baru dia melanjutkan perjalanan ke kampus dengan mobilnya.


"Mayra...!!!" Panggil Siena, sahabat Mayra.


"Sie... Ada apa?? Sampai teriak-teriak begitu?"


"Ada berita heboh... Bikin kampus geger."


"Apaan sih? Bikin penasaran deh?"


"Soalnya, aku dengar sendiri dari para dosen, kalau pak Habib sudah menikah. Banyak fansnya Pak Habib yang patah hati, duh ... Hari ini hari patah hati dikampus kita, karena itu."


"Termasuk kamu, Sie..."


"Nggak lah... Itu karena, yang aku tahu kamu adalah satu-satunya wanita yang dikejar-kejar oleh Pak Habib, baik terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi."


"Apa sih, sie..."


"Beneran loh... Makanya Bee, dari kemarin udah Aku bilang kan? Kalau Pak Habib itu, naksir sama kamu. Tapi kamu malah cuek. Dan sekarang, pasti kamu merasa patah hati kan? Karena kamu tidak diperjuangkan olehnya?"


"Nggak lah... Apapun itu keputusannya, aku terima kok... Karena... Emang aku sebenarnya nggak ada rasa sama dia! Jadi, fix... Kalau emang dia udah berpindah ke lain hati, it's okay... Mungkin... Emang bukan jodoh."


Dalam hati dia berkata 'karena kami berdua sudah resmi menikah, Sie... Aku dan Gus Habib.'


"Hah... Ya sudah lah, lagi pula, kamu juga sudah kalah lebih dulu. Keduluan dia yang sudah menikah, maksudnya."


"Hu'um... Kita langsung ke kelas aja yuk...!"


"Oke..."

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua pun bergegas ke kelas. Saat sampai di kelas, banyak mahasiswa yang sudah duduk di kelas. Setiap kursi mempunyai nama pemiliknya, jadi tinggal mencari nama, mereka bisa duduk dengan tenang, tanpa berebutan.


Mayra duduk di bagian tengah-tengah bersama dengan Siena. Dia tengah berbincang-bincang dengan Siena, sementara dua sahabatnya, Karin dan Syifa duduk di bagian depan. Setelah para mahasiswa dan mahasiswi berada di kelas masing-masing, bergantian dengan para dosen yang menuju kelas masing-masing.


Mereka semua, dikejutkan dengan kehadiran seorang dosen laki-laki, Pak Abror namanya. Beliau adalah wali kelas fakultas bahasa Arab 2.


"Assalamualaikum... anak-anak..!"


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh Pak....!"


"Hari ini, bapak membawa seorang mahasiswi baru. Sini Nak... Perkenalkan dirimu didepan mahasiswi-mahasiswa di kelas ini."


Betapa terkejutnya Mayra, bila ada mahasiswi baru disini, bukan hanya itu, karena dia adalah Zahra, sepupunya Gus Habib, suaminya, dan merupakan sahabatnya dulu.


Ya..., Fatimah Az-Zahra, sahabatnya di pondok. Mayra Belum tahu kalau Nurul sahabat pondoknya dulu juga berada di sana, tapi dia seorang mahasiswi baru, di semester pertama, jadi tidak akan sering berkumpul kecuali kalau ada acara dan saat istirahat. Kedua mata Mayra pun terbelalak saat melihat siapa mahasiswi baru


"Iya Pak... Terima kasih." Ujar Zahra membuat Mayra pun terkejut.


'Zahra??' Ucap batin Mayra. 'Bagaimana bisa dia berada disini?' Ucap batin Mayra. Mayra pun mengirim pesan singkat ponsel Gus Habib, suaminya.


"Kang Mas..." Centang biru dua pun terlihat, dan berpindah menjadi mengetik...


"Ada apa Dinda...??"


"Kang Mas sudah tahu belum?"


"Sepertinya iya... Zahra memang kuliah di kampus ini, Umi yang menyuruh agar kuliah di Jakarta, dari pada dia di Turki kan nggak ada yang jagain kalau ada apa-apa."


"Oh... gitu ya Kang Mas!"


"Iya kang Mas."


***


"Mayra....???"


Setelah berkirim pesan singkat dengan sang suami, Mayra pun dikejutkan dengan suara Zahra yang duduk di depan Mayra. Karena Mayra tidak fokus dengan keberadaan Zahra, saat sedang berkirim pesan singkat dengan suaminya.


"Hai Zahra... "


"Hai juga...


"0h iya May... Sebentar lagi, suamimu akan menjadi milikku!" ucap lirih Zahra tepat ditelinga Mayra.


"Ada apa Ra?" Tanya Mayra heran, padahal sikap Mayra seolah-olah dirinya tidak mendengar suara lirih Zahra.


"Nggak ada kok..." Sikap Zahra berganti cuek.


Kemudian mereka berdua pun kembali mendengarkan pembelajaran yang diajarkan oleh dosen kelas, hingga tibalah waktunya untuk istirahat di kantin. Saat ini, Mayra sedang mengemasi buku yang berada di atas mejanya, setelah itu, barulah dia menuju ruangan sang suami untuk makan siang bersama di kantin kampus.


Saat akan sampai di depan ruangan sang suami, Mayra melihat Zahra masuk ke dalam ruangan Gus Habib.

__ADS_1


'sedang apa ya, Zahra disana?' tanya Mayra dalam hati.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk..."


"Hai Za... Ada yang bisa aku bantu?"


"Iya kak... Aku lapar, tapi tidak tahu dimana letaknya kantin!"


"Kenapa tidak minta diantarkan oleh Mayra saja?"


"Ya sih... Tadinya aku memang meminta Mayra untuk membawaku ke kantin, tapi... Dia bilang ada urusan sih... Dan... Aku lihat tadi... Dia sama cowok gitu loh..." Adu Zahra, agar Gus Habib memarahi Mayra.


""tidak mungkin... lagian, dikampus ini laki-laki sama laki-laki kok tugasnya, kalau perempuan ya dengan perempuan, kamu jangan mengada-ada ya Zahra... Aku percaya dengan istriku."


"Ya... Terserah kakak saja lah kalau nggak percaya. tapi aku lagi lapar nih.. Antarin ke kantin ya, kak?"


"Ya sudah... Kalau begitu, kakak mau menyelesaikan pekerjaan dulu, kamu tunggu saja di sofa."


"Ya... Kak."


'Akan aku pastikan... Kalau suatu saat nanti, kak Habib akan menjadi milikku, Mayra!' Ucap Zahra dalam hatinya.


Sementara Mayra sedang gelisah menunggu sang suami yang belum beranjak dari ruangannya. 'Kenapa belum keluar sih? Apa yang dilakukan oleh kang mas dan Zahra didalam ya?' Tanyanya dalam hati.


"Zahra... Kakak sudah selesai, ayo kita ke kantin sekarang...! Kakak sedang lapar saat ini."


"Iya kak ... Ayo..!"


Mereka berdua pun bergegas keluar dari ruangan Gus Habib. Sementara Mayra sudah berada di kantin kampus. Dia memang sudah memesan makanan di tempat duduknya, tapi hanya diaduk-aduk saja tanpa menyantapnya. Seketika, dia pun terkejut melihat keberadaan sang suami dengan Zahra didepan kursinya.


'Apa-apaan ini... Kenapa mereka berdua malah duduk di depanku? Tidak bisakah mereka berdua duduk di kursi lain saja. membuat moodku buruk saja.'


POV Mayra.


wanita mana yang tidak sakit hati, sang suami malah asyik menyantap makanan tanpa memikirkan perasaan istrinya dengan wanita lain. Jujur saja... Saat ini, aku ingin menghilang dari belahan dunia saja... Bagaimana tidak, dia benar-benar cuek saat berhadapan denganku.


"Aisha Khumaira... Tunggu diruanganku. Aku ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu tentang tugas kemarin."


"Baik, Pak..." Aku pun melanjutkan perjalanan menuju ruangan Kang Mas Habib, suamiku setelah dari kantin.. Sebenarnya aku juga keberatan dengan panggilan sayang yang diinginkan olehnya. Tapi aku hanya berhak menerima apa yang diberikan olehnya tanpa bisa menolaknya.


Sebenarnya... Aku sangat lapar saat ini. karena dari tadi aku dalam keadaan overprotektif terhadapnya. Bagaimana tidak... Dia tidak mengabari aku apapun waktu dia berada di dalam ruangannya. Jadi... Aku hanya curiga padanya.


ceklek...


aku baru saja sampai di ruangan dosen bucinku, Pak Habib AlBaihaqi. tapi dia tidak kunjung selesai makan siang di kantin bersama adik sepupunya itu setelah beberapa lama kemudian, suamiku akhirnya muncul juga.


"Kang Mas, dari mana saja.. ?" Tanyaku pada suamiku


"Makanlah Dinda... Kang Mas tahu, tadi Dinda belum makan di kantin."

__ADS_1


"Iya Kang Mas..." Setelah berkata demikian, Aku pun bergegas untuk memakan makanan yang dibawa olehnya.


POV Mayra end


__ADS_2