
Jam sudah menunjukkan pukul 3 pagi ketika Salsa membuka matanya.Dia begitu terkejut ketika disampingnya ada laki-laki yang tengah tertidur.
Dan ternyata laki-laki itu adalah Rendi kekasihnya. Dengan setengah kesadarannya dia membuka selimut yang menyelimutinya, tambah terkejut lagi karena dia tidak memakai sehelai pakaian pun. dia melihat pakaiannya dan pakaian Rendi berserakan di lantai.
Salsa langsung menangis tersedu-sedu.
"apa yang terjadi?? apa yang aku lakukan??" tanyanya sambil memegang kepalanya.
Salsa lalu membangunkan Rendi yang ada di sampingnya.
"Rendi, bangun.... bangun..." sambil terus menangis.
"apa yang kamu lakukan padaku??" bangun Rendi." terus menggoyangkan badan Rendi.
Rendi yang terusik langsung bangun.
"ada apa sayang??"
"tenanglah sayang. kita baru bersenang-senang malam ini??"
"apa katamu?? bersenang-senang?? jangan gila." Salsa masih terus menangis.
Rendi pun tertawa.
"kau baru mabuk sayang, dan kau mengajakku untuk melakukan hubungan **** di sini."
"tidak...tidak mungkin...kau pasti memperkosaku ketika aku pingsan kan."
"hahaha...ternyata kamu sadar juga sayang. jika aku meminta punyamu tapi kau malah selalu menolaknya. maka aku akan melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan apa yang aku inginkan."
"dasar licik... aku menyesal kenal padamu."
"haha terserah saja. yang penting, aku sudah merasakan punyamu. ternyata kamu masih perawan ya sayang. hahaha"
"dasar gila."
"ayo kita lakukan sekali lagi. aku jamin kali ini kau merasakan nikmat yang luar biasa bagai di surga dunia."
"tidak. tidak akan." sambil menarik selimut untuk pergi mengambil baju yang berserakan di lantai.
"hai sayang. kamu lupa aku juga telanjang." sambil menunjuk badannya.
Salsa menoleh sekilas, ternyata benar Rendi juga telanjang. bahkan dengan percaya dirinya Rendi bangkit dari tempat tidurnya dan menghampiri Salsa yang masih menangis.
"Sudahlah sayang, jangan menangis.. aku akan menuruti apapun yang kamu mau asalkan kamu mau selalu tidur denganku."
__ADS_1
"heh, pakai bajumu. jangan berdiri tanpa menggunakan baju." salsa menyerahkan baju Rendi dengan mata terpejam dengan air mata masih membasahi pipi mulusnya.
"hahaha, tak usah malu-malu. kamu baru menikmatinya tadi."
"aku tidak merasa menikmatinya."
"mari ikut aku, kita lakukan sekali lagi."
Salsa tak memperdulikan omongan Rendi dan dia berjalan menuju kamar mandi sambil membawa pakaian yang berserakan tadi.
dengan santainya, Rendi memakai baju langsung di sana. memperhatikan Salsa yang berlari ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Salsa menutup pintunya keras-keras. dia menyalakan keran air dan mengisi bath tub dengan air panas. dia ingin berendam untuk menenangkan otaknya agar bisa berfikir jernih.
Sebenarnya sejak melangkah tadi, Salsa merasakan sakit yang luar biasa di bawah sana dan dia juga melihat ada bercak darah di sprei putih tempat tidurnya.
"tidak...tidak... ini tidak mungkin terjadi..aku...aku... perempuan hina..aku sudah tidak suci lagi.. Aku sudah tidak perawan..Tuhan, maafkan aku." masih terus menangis.
Salsa terlebih dahulu menyiram kepalanya dengan air dingin, agar otaknya segar kembali. tapi yang ada dia malah menggigil kedinginan karena jam masih menunjukkan pukul setengah empat pagi.
Salsa kemudian masuk ke dalam bath tub untuk berendam.."aku harus berendam untuk menghilangkan kuman dan bau alkohol dari badanku. seingatku tadi aku minum banyak. itu pasti jebakan Rendi agar dia bisa menikmati tubuhku. aku benci diriku sendiri...aku benci hidupku.." masih terus menangis di dalam kamar mandi.
Rendi yang menunggu hampir satu jam di luar dibuat heran karena Salsa belum juga keluar dari kamar mandi. karena curiga, Rendi mengetuk pintu kamar mandi. tapi tidak ada jawaban dari dalam.
"Dia pasti syok berat setelah apa yang aku lakukan padanya." batin Rendi.
Rendi lalu membopong tubuh Salsa ke atas tempat tidurnya. dia memakaikan baju Salsa, dia juga menyelimuti Salsa yang dia ambil dari lemari.
Rendi bergegas menelpon dokter kepercayaan keluarganya. dia bernama dokter Revan usianya sebaya dengan Rendi.
dokter Revan akhirnya mengangkat telponnya setelah beberapa kali ponselnya berdering.
"siapa sih yang mengganggu tidurku??." sambil melihat jam..
Dia lalu mengambil ponsel yang ada di tepi tempat tidurnya. "huh, ternyata Rendi. ada apa dia meneleponku pagi buta seperti ini." batinnya.
Dengan malas, dokter Revan mengangkat telponnya. "kenapa bro??"
"gawat, ini penting.. cepat datang ke apartemen xx di lantai 10. segera. ini menyangkut nyawa seseorang." kata Rendi dengan panik.
"kenapa?? kau membunuh seseorang??"
"sudahlah jangan banyak tanya, cepat pergi sekarang dan lakukan apa yang aku perintahkan."
dengan malas, akhirnya dokter Revan bersiap-siap pergi ke alamat yang Rendi berikan padanya tadi. tak lupa dia juga membawa perlengkapan dokternya.
__ADS_1
sepuluh menit berlalu, akhirnya dokter Revan sudah sampai di lobi apartemen. dia segera naik lift menuju lantai 10 tempat dimana Rendi berada.
saat sudah sampai di depan pintu apartemen, dokter Revan menelepon Rendi untuk membukakan pintu, setelah itu keduanya langsung masuk menuju tempat dimana Salsa berbaring.
Betapa kagetnya dokter Revan ketika yang terbaring sambil menggigil kedinginan adalah Salsa kekasih dari Rendi sendiri.
"kenapa cewek Lo??"
"ah panjang ceritanya, cepet periksa dia dulu. gue gak mau terjadi apa-apa sama dia."
Dokter Revan akhirnya memeriksa kondisi Salsa terlebih dahulu sebelum menanyakan tentang hal yang sebenarnya terjadi kepada Rendi.
"cewek Lo drop, dia kedinginan dan juga kurang vitamin. gue udah kasih suntikan vitamin buat dia. jadi biarin dia istirahat dulu. nanti juga sadar. dan ini obat yang harus Lo tebus di apotek deket sini." menyerahkan resep obat kepada Rendi.
Rendi menelpon Ujang anak buahnya yang tinggal si sekitar apartemen. dia menyuruh Ujang untuk membeli obat yang di resepkan oleh dokter Revan di apotek sekitar apartemen yang buka 24 jam. Tak lama kemudian, Ujang sudah sampai dengan membawa obat yang di pesan oleh sang bos.
setelah Ujang pergi, kini giliran dokter Revan yang meminta penjelasan kepada Rendi.
"apa yang sebenarnya terjadi??"
"dia pingsan di kamar mandi."
"kenapa bisa?? lalu kenapa Lo ada disini sepagi ini?? apa yang Lo lakuin sama dia??"
Akhirnya dengan terpaksa, Rendi menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada dokter Revan.
"sebenarnya gue udah merkosa dia. dan dia syok setelah tahu itu."
"hey, Lo gila ya.. kenapa Lo tega ngelakuin itu sama dia." ujar dokter Revan penuh amarah.
"Lo bisa dilaporin ke kantor polisi dan dipenjara atas dasar pemerkosaan."
"ya tapi gue mabuk saat itu."
"hukuman Lo tambah berat karena minum miras juga."
"ya tapi cewek gue juga mabuk."
"itu alasan Lo aja, gue udah kenal Lo lama. jadi gue tahu apa yang Lo lakuin. kenapa Lo lakuin itu ke cewek Lo sendiri??"
"karena gue penasaran. cuma dia aja cewek yang gak mau gue ajak ngamar. jadi gue ngelakuin segala cara buat bisa ngamar sama dia."
"hey bro. bukan begitu caranya. kalo Lo mau, Lo bisa nikah sama dia. sekarang dia syok berat itu karena Lo."
"iya gue tahu, tapi gue kan gak pernah percaya dengan yang namanya pernikahan. gue juga nyesel ngebuat dia jadi kaya gini." kata Rendi dengan penuh penyesalan
__ADS_1