
Hari Sabtu sore, Fitri meminta izin kepada orang tuanya akan pergi ke pasar membeli oleh-oleh untuk para sahabatnya di Jakarta. tapi tak semudah itu untuk mendapatkan izin dari Pak Sumarno.
Beliau tidak mengijinkan Fitri pergi sendiri ke pasar. apalagi pasar sekarang berbeda dengan beberapa bulan yang lalu. sekarang lebih berbahaya. banyak copet dan begal.
Dengan berbagai pertimbangan akhirnya Fitri mengikuti arahan ayahnya untuk mengijinkan beliau menemani Fitri pergi ke pasar.
Setelah disepakati, akhirnya keduanya akan pergi ke pasar untuk pergi ke pasar pukul 3 sore.
beberapa jam kemudian..
Pak Sumarno menunggu Fitri, tapi Fitri tidak nampak keluar dari kamarnya, Pak Sumarno lalu mengetuk pintu kamar putri kesayangannya itu. tapi masih tidak ada jawaban. akhirnya beliau masuk ke dalam kamar Fitri. ternyata Fitri masih tertidur pulas di ranjangnya.
"nak, bangun nak, ini udah jam setengah tiga sore. jadi gak beli oleh-oleh nya??" tanya Pak Sumarno.
Fitri masih juga belum bangun.
"nak... nak... Fitri sayang." ujar Pak Sumarno lembut membelai rambut Fitri yang terurai di atas bantalnya.
Fitri menggeliat perlahan.
"aduh Pak, Fitri masih ngantuk." ujar Fitri.
"ini sudah pukul setengah tiga sore sayang." ujar Pak Sumarno.
Fitri lalu terduduk di atas tempat tidurnya dengan wajah terkejut."hah, udah jam setengah tiga Pak??"
"iya nak."..
"ah masak pak??."
"ya coba lihat aja tuh jam di dinding."
Fitri lalu melihat jam dinding yang terpasang di kamarnya. "eh, iya pak , ya udah Fitri siap-siap dulu lah kalo gitu."
"ya udah, bapak tunggu di luar ya sayang."
"oke pak."
Pak Sumarno kemudian keluar dari kamar Fitri dan duduk di teras depan sambil membaca koran.
Bu Sundari yang keluar dari kamar mandi langsung menuju ke teras depan. siapa tahu Fitri dan suaminya akan segera berangkat ke pasar.
"lho kok bapak masih disini sih?? mana Fitri??"
" itu Fitri masih ada di dalam kamarnya."
"lha apa belum siap-siap??"
"itu dia lagi siap-siap dikamar, barusan ketiduran."
__ADS_1
"oh pantesan. kok jam segini baru siap-siap."
"iya tadi bapak ketuk-ketuk pintu kamarnya tapi gak ada jawaban. lha bapak masuk aja ke kamar. ternyata dia masih tidur nyenyak."
"terus bapak bangunin gitu??"
"iya dong."
sepasang suami istri itu lalu duduk di kursi teras sambil ngobrol berdua. lima belas menit berlalu, akhirnya Fitri keluar dari kamarnya dan menuju ke depan.
"ayok pak, berangkat sekarang. Fitri udah siap nih." kata Fitri sambil membawa tas selempangnya.
"bentar dong sayang, bapak ambil kunci mobilnya dulu ya di dalam."
"kita mau pake mobil pak??" tanya Fitri kaget.
"iya dong. masak pake motor."
"emang kenapa kalo kita naik motor??. kan lebih seru."
"ya nanti siapa tahu kamu belanjanya banyak banget. kan kita jadi gak repot bawanya. tinggal masukin aja di dalam bagasi mobil."
"eh, iya juga ya pak."
"siapa tahu juga nanti kehujanan di jalan kan pak." timpal Bu Sundari.
"iya buk, bener banget. apalagi cuaca saat ini kan gak jelas. kadang hujan. kadang panas."
"yuk."
"ibuk gak mau sekalian ikut ke pasar buat beli perlengkapan rumah??" tanya Pak Sumarno.
"gak ah. biar ibuk di rumah aja. semua perlengkapan rumah juga masih banyak kok. udah kalian berangkat aja. keburu sore nanti."
Pak Sumarno kemudian mengambil kunci mobil dan langsung menuju ke arah mobilnya yang terparkir di area halaman rumahnya. mobil jadul yang dulu pernah di pake untuk menjenguk anak perempuan satu-satunya ke Jakarta.
" ya udah kalo gitu, kita pergi sekarang ya buk. ibu di rumah hati-hati ya." kata Fitri.
"iya sayang. kalian juga hati-hati di jalan ya." kata Bu Sundari.
"oke."
setelah mereka berdua berpamitan kepada Bu Halimah, mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan halaman rumah.
mobil melaju perlahan menuju ke pasar tempat dimana tersedia banyak oleh-oleh khas Cimahi. perjalanan menuju ke pasar tidak memakan waktu yang lama. hanya tiga puluh menit. mereka sudah sampai di area pasar Cimahi.
mereka berdua kemudian menuju toko pusat oleh-oleh khas Cimahi berada. setelah mobil sampai di depan toko tersebut, Pak Sumarno memarkirkan mobilnya di depan toko.
mereka bergegas keluar dan masuk menuju ke dalam toko. Fitri mengambil keranjang belanja yang ada di samping pintu masuk toko.
mereka berdua kemudian berjalan mengelilingi toko mencari oleh-oleh yang dipesan oleh sahabatnya itu.
__ADS_1
setelah lama berkeliling, Fitri mengambil semua makanan yang di pesan sahabatnya itu seperti, sale pisang, keripik daun singkong, peuyeum, picnic roll, semprong, kue balok, gepuk dan dia juga membeli berbagai macam oleh-oleh seperti dodol, jenang, bakpia, bolu pandan, rempeyek udang, surabi, dan lainnya.
Fitri kalap, semua makanan di belinya hingga keranjang belanjaan yang di bawanya penuh. bahkan Pak Sumarno sampai mengambil dua buah keranjang belanja lagi untuk menampung semua barang belanjaan Fitri.
"masih ada lagi yang pengen di beli gak nak??" tanya Pak Sumarno.
"udah deh pak, kayaknya cukup. ini juga udah banyak banget barang belanjaannya."
"ya udah kalo gitu kita langsung ke kasir aja."
"oke pak."
mereka berdua membawa semua barang belanjaan ke meja kasir untuk membayar.
semua belanjaan yang Fitri beli totalnya 700 ribu rupiah. terbagi menjadi tiga buah kardus penuh.
mereka berdua kemudian keluar dari toko tersebut dan memasukkan semua barang-barang ke dalam mobil.
"sekarang kita mau kemana lagi nak???"
"aku pengen beli Bakso. bakso yang enak di sekitar sini dimana pak??"
"bapak juga gak tau nak, bakso yang enak yang mana. tapi kan biasanya kamu pasti tahu kalo kesini beli baksonya dimana."
"oh ya. aku inget sekarang pak. yuk kita kesana."
"kemana nak??"
"ke warung bakso langganan aku yang di deket pasar sini. aku mau beli bakso lava dan bakso beranak."
"mau makan disini??"
"gak ah pak, bawa pulang aja. kasian ibu di rumah dah nungguin kita. eh kitanya malah asyik makan disini."
"ya udah kalo gitu, yuk sekarang kita kesana."
sampai di warung bakso Pak Mamat, Fitri segera memesan makanan yang telah lama di inginkannya.
dia memesan aneka macam varian bakso, seperti bakso urat, bakso lava, bakso rusuk, bakso halus, bakso iga dan juga bakso beranak.
"kok banyak banget nak pesennya??" tanya sang ayah.
"ya gak papa pak. jarang-jarang kan Fitri pulang kampung dan makan bakso ini."
"terus siapa yang makan kalo sebanyak ini??"
"kita bertiga pak."
"ya udah lah kalo gitu. terserah kamu aja."
setelah pesanan bakso Fitri sudah jadi, mereka langsung membayar ke kasir dan langsung bergegas pulang. karena tak terasa hari sudah sore...
__ADS_1
bersambung....