
sejak pertemuan mereka yang pertama. Bu Halimah jadi semakin dekat dengan Fitri. setiap akhir pekan Bu Halimah selalu pergi ke Jakarta mengunjungi anak laki-laki kesayangannya dan juga calon menantunya.
Semakin dekat dengan Fitri, semakin Bu Halimah tau kalau Fitri memang benar-benar gadis yang baik dan sopan santun.
Setiap akhir pekan selama hampir sebulan ini Fitri selalu berkunjung ke rumah Ahmad.
Pada suatu hari, saat mereka sedang asyik mengobrol di taman samping rumah, Bu Halimah menanyakan tentang hubungan Ahmad dan Fitri akan sejauh mana.
"Tante mau tanya sama kamu boleh??"
"boleh dong Tante. silahkan mau tanya apa??"
"kan hampir sebulan lamanya kamu kenal sama anak Tante, Ahmad. setelah kenal sama dia, bagaimana perasaan kamu ke dia?!"
"kalau itu Tante...emmm.emmm."
"sudahlah, sesuai isi hati mu saja. Tante akan terima semua keputusan yang akan kamu berikan."
"sebenarnya aku masih takut Tante."
"takut kenapa sayang??"
"aku takut, keluarga Tante tidak menerima aku dengan baik. kan derajat kita berbeda tante. keluarga Tante merupakan keluarga orang berada. sedangkan keluarga ku hanya keluarga dari seorang petani sayur."
"jangan berkata seperti itu nak, Tante dan om tidak pernah membeda-bedakan status sosial seseorang. kita semua sama saja. sudahlah jujur saja nak. meskipun mungkin kamu tidak bisa bersanding dengan Ahmad, rumah ini tetap terbuka untuk mu."
"Tante jangan sedih gitu dong. bukan maksud Fitri membuat Tante bersedih."
"iya sayang, Tante paham kok."
"tapi tante, sebenarnya Fitri juga sudah mulai membuka hati untuk Ahmad. meskipun masih perlahan-lahan. semoga kedepannya akan semakin dalam perasaan Fitri ke Ahmad."
"itu artinya kamu mau menerima lamaran Ahmad sayang."
"iya Tante." kata Fitri sambil menggenggam tangan Bu Halimah dan mengangguk.
"makasih ya sayang." jawab Bu Halimah sambil memeluk Fitri.
"sama-sama Tante, tapi Fitri mohon sama tante biarlah ini menjadi rahasia kita berdua dulu, jangan beritahu ini semua kepada mas Ahmad ya Tante. biar ini menjadi kejutan."
"baiklah sayang. oh ,ya kapan kamu memberikan jawaban kepada Ahmad??"
"mungkin Minggu depan Tante."
"kenapa lama sekali nak, Tante sudah tidak sabar."
__ADS_1
"yah tante, satu Minggu itu gak lama kok. percaya deh sama Fitri."
"ya udah yuk ikut Tante."
"kemana Tante.??"
"ke butik langganan Tante di sini."
"buat apa sih Tante??."
"rahasia, pokoknya sekarang kamu ikut Tante ya."
"oke deh,"
"mending ikut lah dari pada disini berduaan sama Ahmad. aku kan takut." batin Fitri
"Tante mau manggil Ahmad dulu bentar ya di ruang kerjanya."
"oke tante."
"wahai jantung, bersikaplah biasa saja ya kalo di depan Ahmad. aku takut kalo kamu berdebar terlalu kuat, nanti bisa lompat keluar." batin Fitri sambil mengelus dadanya
Bu Halimah langsung berjalan menuju lantai atas dimana ruang kerja Ahmad berada.
"Ahmad sayang, boleh mama masuk nak??" kata Bu Halimah di depan pintu.
Bu Halimah kemudian masuk ke dalam ruang kerja sang putra.
Dia lalu duduk di sofa yang ada di ruang kerja sang putra.
Ahmad yang melihat sang mama duduk di sofa langsung menutup laptopnya dan berjalan ke sofa. mengikuti sang mama duduk disana.
Dia tahu, pasti kali ini mamanya akan membicarakan hal penting.
"ada apa mah?? apa ada yang penting??"
"sudah pasti penting dong nak. kalau tidak penting mama tidak akan seserius ini bicara padamu."
"lalu, Fitri dimana sekarang mah??"
"ada tuh di luar, lagi di taman lihat-lihat bunga dulu."
"terus mama mau ngomong apa?? lama gak?? nanti kasihan Fitri kalau kelamaan nungguin."
"penting nak. tentang nasib kamu. gak papa. mama juga udah bilang kok sama Fitri."
__ADS_1
Bu Halimah menghembuskan nafas pelan.
"nak, mama mau tanya sama kamu, apa kamu beneran serius tentang lamaran tempo hari yang belum dijawab oleh Fitri??"
"ya serius dong mah, buat apa coba aku gak serius sama omongan aku."
"gini loh, maksud mama. apa kamu beneran udah jatuh cinta sama Fitri apa cuma buat pelarian biar gak dijodohin sama anak temen papa??."
deg, tiba-tiba jantung Ahmad seakan berhenti berdetak mendengar ucapan mamanya.
"bener juga ucapan mama, sebenarnya apa yang ada di dalam pikiran ku ini. aku benar-benar jatuh cinta atau hanya pelarian agar gak dijodohin sama anak temen papa." batin Ahmad.
Ahmad berfikir sejenak. menata kata agar tak salah ucap di depan mamanya. apalagi menyakiti hati sang mama. karena dia tahu, mamanya sudah terlanjur suka dengan Fitri. mereka berdua sangat akrab seperti anak dan ibu.
"coba pikirkan baik-baik nak. jika memang kamu benar mencintainya. mantapkan hatimu. tanggung semua resiko yang mungkin akan terjadi kedepannya. jangan menyakiti hati perempuan lain. karena mama tahu, Fitri itu gadis yang baik. dia pasti akan kecewa jika kamu mempermainkan perasaannya. pernikahan itu suatu hal yang sakral dan kalau bisa sekali seumur hidup."
Ahmad yang mendengar wejangan Bu Halimah hanya mengangguk. dia akan memastikan hatinya. bahwa cintanya hanya untuk Fitri seorang. terlepas Fitri mencintainya apa tidak. karena dia harus menerima semua konsekuensi yang akan terjadi kedepannya. jika Fitri tidak menerima lamaran Ahmad, maka dengan besar hati dia harus mencari perempuan lain yang benar-benar mencintainya.
Tapi jika Fitri menerima lamaran Ahmad, maka dengan lapang dada Ahmad harus menghapus semua nama wanita yang pernah singgah dihatinya. memberikan sepenuh hatinya untuk Fitri. tanpa menduakannya.
"iya mah, Ahmad tahu. Ahmad akan siap dengan semua konsekuensinya."
"kamu juga pernah disakiti oleh seorang perempuan yang benar-benar kamu cintai kan, jadikan itu sebagai kenangan. jangan pernah menyakiti hati wanita. karena rasanya di tinggalkan pas lagi sayang-sayangnya itu sakit banget kan. terlebih dia hanya memanfaatkan hartamu saja nak. "
"iya mah."
"papa dan mama sudah cocok dengan Fitri, mama juga sudah menyelidiki seluk beluk keluarganya. mereka dari keluarga baik-baik. bukan dari keluarga orang yang bermasalah. jadi, jika benar kamu mencintainya, semangat nak. kamu harus mendapatkan hatinya. papa dan mama memberikan restu untukmu."
"hah?? beneran ma?? aku gak salah denger kan."
"tidak sayang, mama dan papa bener-bener merestui langkahmu untuk mempersunting Fitri. jangan mainkan kepercayaan papa dan mama."
"iya mah, terima kasih banyak ya mah." Ahmad bangkit dan langsung memeluk erat sang mama.
"Ahmad sayang mama. selama satu Minggu ini Ahmad janji, akan selalu menarik perhatian Fitri. agar dia juga membalas cinta Ahmad dan menerima lamaran Ahmad."
"ya sudah, ayo sekarang ikut mama ke butik langganan mama. mama mau pesen baju."
"hah baju???"
bersambung....
jangan lupa untuk selalu like,.vote...dan coment ya...
jangan lupa juga follow author...
__ADS_1
doain author biar selalu sehat.. kalo sehat kan muncul ide baru buat nulis kelanjutan ceritanya...dan biar bisa update tiap hari...☺️☺️☺️🤗🤗🤗