
"aduh ternyata capek juga ya bang." kata Aurel.
"nah itu tau. sekarang kamu pengen jajan apa lagi??" tanya Ahmad.
saat mereka tengah bercakap-cakap, ada seorang tukang ronde yang berjalan mendorong gerobaknya dari arah selatan.
"eh bang itu ada ronde. beli yuk." kata Aurel.
"iya tuh. dingin-dingin gini enak kalo makan yang anget-anget." kata Ahmad menyetujui ucapan adiknya.
"ya udah sana berentiin dong mas." kata Fitri.
"oke sayang."
"idih, disuruh calon istri langsung aja mau." kata Aurel.
"biarin, wekkkkk." kata Ahmad mengejek.
dia langsung beranjak untuk menghampiri tukang ronde keliling yang mau lewat di depannya.
"pak berhenti pak," kata Ahmad.
tukang ronde pun berhenti dan menepikan gerobaknya di dekat trotoar alun-alun.
"pak, mau ronde tiga porsi ya." kata Ahmad.
"baik den. bentar ya. tak buatin dulu. mau porsi komplit atau ada yang cuma ronde aja??" tanya tukang ronde.
"yang komplit aja pak."
"oke." tukang ronde pun membuat pesanan Ahmad. tak sampai sepuluh menit, pesanan sudah siap dinikmati.
tukang ronde mengantarkan pesanan menggunakan baki menuju tempat dimana Ahmad dan yang lainnya duduk. setelah itu tukang ronde tersebut kembali melayani pembeli karena ada seorang pria muda yang membeli wedang ronde.
sambil menunggu pesanannya selesai di buat, dia melihat tiga orang tadi.
"perasaan kaya kenal tuh cewek . siapa ya??" batin Fahri.
dia lalu mendekati tiga orang yang sedang menikmati wedang ronde untuk memastikan apakah benar itu gadis yang dikenalnya atau bukan.
"eh kita pernah ketemu sebelumnya deh kayaknya. tapi siapa ya??" tanya Fahri kepada ketiga orang itu.
"kamu ngomong sama siapa?? jangan sok kenal deh sama kita." kata Ahmad.
"sama mbak yang ini. yang pake sweater warna biru." kata Fahri.
Aurel yang merasa memakai sweater warna biru langsung menengok. karena dari tadi dia sibuk menikmati wedang ronde tanpa memperhatikan orang disekitarnya.
"kamu kenal aku??" tanya Aurel kepada Fahri.
"iya, kamu Aurel bukan sih.anak SMApi N XY Bandung??" tanya Fahri.
"heem.. emang kenapa?? kamu kenal aku dari mana??" tanya Aurel.
Ahmad yang mengira laki-laki tersebut pura-pura mengenal adiknya pun mulai geram.
"gak usah pura-pura sok kenal deh kamu. kamu pasti ada niat jahat kan sama kita. udahlah pergi aja deh kamu." kata Ahmad berburuk sangka.
__ADS_1
"enggak kok. kebetulan aku juga lagi beli wedang ronde di sini. kamu gak kenal sama aku rel?? aku kan temen sekelas kamu di kelas IPA 1 . Aku Fahri. masak kamu lupa sih." kata Fahri.
Aurel mencoba mengingat-ingat apakah ada teman sekelasnya yang bernama Fahri apa tidak. karena seingat dia Fahri teman sekelasnya itu laki-laki yang culun dan cupu serta kutu buku. bukan seperti yang sekarang. macho, cool dan tampan.
"ah masak kamu Fahri Hamzah sih. kan dia cupu banget. gak kaya kamu." kata Aurel.
"iya bener, nih kalo gak percaya aku punya KTP dan kartu pelajar dulu pas masih SMA." Fahri pun mengeluarkan KTP dan kartu pelajarnya agar Aurel percaya. di kartu pelajar memang tertulis nama sekolah dan juga ada petunjuk nama kelas.
Aurel pun melihat KTP dan kartu pelajar Fahri. "eh bener lho kamu ternyata Fahri Hamzah. kok sekarang beda banget sih. gak kaya dulu." kata Aurel.
"iya, waktu yang mengubah segalanya. katanya kamu kuliah di Universitas Airlangga fakultas kedokteran ya. hebat banget bisa sekolah disana."
"hehe iya. kalo kamu kuliah di mana sekarang??"
"aku mah di deket-deket sini aja."
"dimana??"
"di ITB."
"wah kamu juga hebat banget bisa kuliah di ITB. fakultas apa??"
"fakultas teknik pertambangan dan perminyakan."
"wah gak nyangka, kamu bisa kuliah di sana." kata Aurel penuh kekaguman.
saat mereka sedang asyik berbincang-bincang, tiba-tiba tukang ronde memanggil.
"mas ,ini pesanannya udah siap."
"oke bang. bentar ya."
"oke. eh boleh minta nomor wa kamu gak?? mana tau kita bisa ketemu lagi pas aku lagi pulang ke Bandung."
"oke. boleh." Fahri pun mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memberikan nomor hapenya kepada Aurel. sedangkan Aurel sibuk mencatat nomor ponsel yang diberikan oleh Fahri.
setelah Fahri membayar wedang ronde pesanannya, kemudian dia pamit pulang kepada Aurel dan yang lainnya.
Aurel masih terpana dengan ketampanan Fahri. bagaimana tidak, Fahri yang sekarang sudah berubah seratus delapan puluh derajat dari yang dulu dia kenal.
"eh jangan di lihatin terus dek. orang dianya juga udah pergi kok." kata Ahmad membuyarkan lamunan Aurel.
"eh...iya kak."
"emang laki-laki yang tadi itu bener temen sekolah kamu??" tanya Fitri.
"iya mbak. dia dulu cupu banget. tapi sekarang dia ganteng banget. aku gak nyangka dia bis berubah begitu." kata Aurel.
"jangan-jangan kamu naksir dia lagi." kata Fitri.
"enggak kok mbak. mbak mah sok tahu. sama kaya Abang." kata Aurel.
"ya udah sekarang kita mau kemana lagi?? mau makan apa lagi??" kata Ahmad setelah membayar wedang ronde yang tadi mereka makan.
"aku masih laper bang. kita makan nasi goreng kambing yang enak di sekitar sini yuk. kata temenku enakk banget."
"yang mana dek??"
__ADS_1
"katanya yang mangkal deket pohon mahoni bang, yang tulisannya nasi goreng pak gondrong."
"ya udah yuk kita cari sambil jalan-jalan."
mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan menuju lapak nasi goreng kambing pak gondrong yang belum pernah mereka coba sebelumnya.
sepuluh menit berjalan, mereka akhirnya menemukan lapak nasi goreng yang di maksud oleh Aurel. mereka kemudian memesan nasi goreng kambing tiga porsi.
"bang nasi gorengnya tiga porsi ya. telornya di campur masing-masing satu yang di juga masing-masing dadar satu." kata Aurel.
"terus minumnya apa neng??"
"es jeruk aja tiga gelas ya."
"oke. ditunggu ya neng pesanannya."
Aurel kemudian duduk di meja dimana Ahmad dan Fitri sudah duduk terlebih dahulu.
"dek emang perut kamu gak meledak tuh?? kayaknya dari tadi kita makan terus." tanya Ahmad.
"enggak dong bang, kan tadi aku sengaja makan sedikit di rumah. terus tadi juga udah bab juga. jadi perut aku kosong. makannya sekarang muat kalo di isi banyak."
"ya Tuhan. kamu kalo di kos makannya juga banyak banget kaya gini ya dek??" tanya Fitri.
"hehe iya kak. makanya papa sama Mama sering transfer aku agak banyakan. buat makan disana." kata Aurel sambil menggaruk kepalanya.
"tapi kok kamu gak gemuk-gemuk sih." tanya Fitri.
"iya entah gak tahu juga mbak. aku juga makannya banyak tapi gak gemuk-gemuk. mungkin makanan yang aku makan kekuras buat mikir kali ya. kan asdos. hehehe.."
"iya juga mungkin."
lima belas menit berlalu, akhirnya makanan yang mereka pesan sudah sampai di depan mata. Dri harum masakannya saja sudah tercium bahwa rasanya memang sangat lezat.
Aurel saja langsung melahap makanannya tanpa sisa membuat sang kakak dan calon kakak iparnya geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya...
"pelan-pelan dek. nanti keselek loh.'' kata Fitri.
"enggak mbak. sumpah ini beneran enak banget nasi gorengnya. papah sama mama juga harus nyoba ini. nanti aku pesen lagi deh." kata Aurel.
"papa sama Mama kan udah tidur dek."
"ya buat sarapan besok pagi. gampang kan."
mereka akhirnya membungkus nasi goreng lagi 8 porsi untuk di bawa pulang ke rumah.
"udah kan. mau makan apa lagi sekarang dek??" tanya Ahmad.
"Udah bang. udah kenyang nih. besok lagi kapan-kapan deh. yuk sekarang pulang."
"oke bentar, Abang bayar dulu nasi gorengnya ya."
"oke."
setelah Ahmad membayar semua makanan yang tadi mereka pesan. kemudian mereka kembali berjalan menuju mobil yang terparkir di dekat alun-alun untuk pulang.
jam sudah menunjukkan pukul dua belas tengah malam saat mereka sudah sampai di rumah keluarga Ahmad.
__ADS_1
bersambung..