
Keesokan paginya...
setelah mereka semua sarapan, Fitri dan Ahmad kembali berkeliling di sekitar perkebunan sayur milik warga. mereka kembali menikmati pemandangan yang indah. yang sangat jarang mereka temui di ibu kota.
mereka berdua kembali berswafoto bersama sekedar mengabadikan momen-momen yang indah yang sangat jarang mereka lakukan berdua.
hari sudah menjelang siang. Fitri dan Ahmad pun kembali ke rumah orang tua Fitri. mereka berdua duduk di kursi yang ada teras depan rumah.
Sementara itu, Pak Sumarno dan juga Bu Sundari sedang asyik di belakang rumah. Bu Sundari membantu menyiapkan pakan ayam. sedangkan Pak Sumarno masih asyik memberi makan lele di kolam.
jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, Fitri dan Ahmad sudah bersiap-siap mengemasi barang-barang mereka untuk di masukkan ke dalam mobil milik Ahmad. tak terkecuali tiga buah kardus yang berisikan oleh-oleh dari Cimahi.
Bu Sundari juga memberikan oleh-oleh untuk calon besannya itu berupa sayuran segar dan juga beberapa ekor ayam kampung yang sudah mereka sembelih dan bersihkan.
tak lupa juga Bu Sundari memberikan sayuran untuk di bawa Fitri sampai Jakarta. dan dua kg ikan lele yang sudah di siangi.
Bu Sundari juga memasukkan abon lele buatan sendiri untuk anak perempuannya itu.
setelah semua barang-barang masuk ke dalam mobil, kini giliran mereka berdua bersiap-siap untuk berangkat ke Bandung dulu.
--
jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.
Fitri dan Ahmad berpamitan kepada kedua orang tua Fitri.
"pak, buk kita pamit ya. bapak sama ibu jaga diri baik-baik di sini. besok-besok Fitri pulang lagi kalo ada cuti." kata Fitri.
"iya nak. kamu juga jaga diri baik-baik ya di sana. Ahmad, bapak titip Fitri ke kamu ya. jaga Fitri baik-baik."
"iya pak, buk. Ahmad pasti akan menjaga Fitri sebaik mungkin .Ahmad juga mau pamit sama kalian. maaf selama disini Ahmad udah ngrepotin kalian." kata Ahmad.
"enggak. kamu gak ngrepotin kami kok. " kata Bu Sundari.
"makasih ya buk. pak." kata Ahmad sambil menyalami tangan kedua orang tua Fitri.
"iya sama-sama nak." kata Pak Sumarno dan Bu Sundari bersamaan.
"salam ya , buat Pak Hakim dan Bu Halimah." kata Pak Sumarno.
"iya Pak, nanti pasti akan saya sampaikan salam dari bapak ke papa dan mama saya." ujar Ahmad.
__ADS_1
mereka berdua akhirnya pamit meninggalkan kampung halaman Fitri. kembali ke Bandung untuk meminta izin kepada ayah dan ibu Ahmad. tapi sebelum itu, mereka akan mampir dulu di warung bakso langganan Fitri dulu. warung bakso Pak Mamat namanya.
selama di dalam mobil, Ahmad memandangi wajah sedih Fitri. Fitri pun hanya memandang ke arah samping jendela.
"kamu kenapa sayang?? kok mukanya ditekuk kaya gitu??"
"gak papa kok mas. cuma sedih aja."
"emang sedih kenapa??? kamu gak seneng ketemu sama papa dan mama ku??"
"bukan gitu mas, aku sedih kalo harus ninggalin bapak sama ibu sendirian di kampung."
"iya tapi jangan nangis dong sayang." kata Ahmad sembari memegang tangan Fitri.
"enggak mas."
"ibu sama bapak kan di kampung juga punya kesibukan masing-masing. mereka juga punya kebun yang harus di urus dan juga punya beberapa karyawan. selama mereka saling menjaga. mereka pasti tidak akan kenapa-napa. percaya deh sama mas." ujar Ahmad membelai rambut Fitri.
"iya mas."
"pokoknya besok kalo ada waktu kita sering-sering jengukin mereka di kampung ya sayang."
Fitri pun hanya mengangguk tanda setuju.
jam menunjukkan pukul 12 siang saat mereka sampai di depan pintu gerbang rumah.
pak satpam segera membukakan pintu untuk mobil anak majikannya itu.
Ahmad dan Fitri sudah sampai di depan rumah dan langsung keluar dari mobil menuju dalam rumah.
di dalam rumah nampak sepi. entah kemana semua penghuni rumah. mungkin mereka sedang istirahat siang di kamarnya masing-masing.
yang terlihat hanya ada Bi Inah yang sedang masak di dapur.
Fitri mencuci tangan di wastafel dekat dengan dapur kemudian menawarkan bantuan kepada Bi Inah untuk membantu menyiapkan makan siang.
"assalamualaikum bi Inah."
"waalaikumsalam." kata bi Inah sambil menoleh ke sumber suara.
"eh non Fitri, kapan sampainya?? kok bibi gak tahu non??"
__ADS_1
"baru aja bik. bi Inah apa kabar??"
"Alhamdulillah kabar baik non."
"bibi masak apa?? biar Fitri bantuin."
"masak udang asam manis, capcay sayur, sama ayam goreng non." kata bi Inah sembari memotong sayuran.
"ya udah sini biar aku bantuin bi."
"gak usah non. non kan baru sampai pasti capek."
"gak capek lah bi. orang cuma duduk aja di dalam mobil. eh iya, mama sama papa kemana bi??"
"kayaknya tuan sama nona lagi keluar non, tapi paling bentar lagi juga pulang. orang katanya mau makan siang di rumah sekalian nunggu non sama aden pulang."
"oh ya sudah kalo begitu. bentar bi. saya kedepan bentar ya."
"iya non."
Fitri lalu berjalan ke ruang keluarga mencari keberadaan pujaan hatinya. ternyata Ahmad tengah bermain ponsel di sofa yang berada di ruang keluarga.
"mas tolong dong bawain oleh-oleh yang dari bapak sama ibu. yang pake kardus mie instan itu."
"iya sayang. bentar aku ambilin."
"makasih mas. nanti di taruh di dapur ya. aku mau bantuin bi Inah masak."
"oke sayang."
"ya udah cepetan ya. aku tunggu lho."
"oke."
Ahmad lalu mengambil kardus yang tadi sudah diberi tahu oleh Fitri untuk di bawa masuk ke dalam rumah.
---
beberapa saat kemudian, Bu Halimah dan Pak Hakim baru saja pulang. mereka masuk ke dalam rumah dan mendapati meja makan sudah penuh dengan aneka makanan.
mereka juga tahu kalo anaknya sudah sampai duluan di dalam rumah. setelah mencuci tangan, mereka kemudian mengajak semuanya untuk makan siang bersama-sama.
tak lupa Fitri juga menyampaikan salam dari kedua orang tuanya kepada Pak Hakim dan istrinya. dan juga menitipkan oleh-oleh untuk Pak Hakim sekeluarga...
__ADS_1
Pak Hakim merasa sangat senang karena calon besannya itu baik sekali. bahkan mereka membawakan sayuran segar yang baru di panen untuk keluarganya di Bandung.
bersambung....