
Di dalam kereta api, Aurel begitu menikmati pemandangan yang terhampar di depannya. sawah menguning, sungai mengalir indah, Pegunungan berjajar rapi, hingga rumah-rumah penduduk yang berjejer di dekat rel kereta api.
pemandangan semacam itu sangat jarang dia temui. dan mungkin malah hampir tidak pernah dia temui. Ini pengalaman pertama Aurel naik kereta api jarak jauh.
Bagaimana tidak, Aurel harus duduk hampir 12 jam di dalam kereta. ya karena jarak yang di tempuh antara Surabaya menuju Bandung itu sangat jauh. lain ceritanya jika menggunakan bus, bisa melewati tol dan mempersingkat perjalanan. tanpa berhenti di terminal atau lainnya. sedangkan kereta api selalu berhenti di stasiun tertentu untuk mengangkut dan menurunkan penumpang.
Pengalaman pertama bagi Aurel yang mungkin tak akan pernah dia lupakan. ya sebenarnya mudah bagi Aurel untuk pulang ke Bandung menaiki pesawat terbang, toh biasanya dia juga begitu. tapi kali ini dia benar-benar terpukau akan keindahan alam di negeri tercinta Indonesia ini.
"wah besok-besok aku bakal pulang ke Bandung naik kereta lagi ah." kata Aurel.
"iya dong sekali-kali. gak usah naik pesawat terus. di atas pesawat cuma satu jam aja. terus yang di lihat cuma Awan aja. ya kan." kata Anjani.
"heem bener banget kamu. kecuali kalo emergency ya baru naik pesawat."
"heem. kalo naik kereta kita kan bisa sambil refreshing. tahu sendiri kita mahasiswi kedokteran kan jarang refreshing selalu berurusan dengan tugas dan praktek. sampe bosen ngejalaninnya." kata Anjani.
"ya jangan gitu dong. kita ini kan bentar lagi mau wisuda. harapan kedua orang tua kita besar banget. kita harus bisa banggain mereka."
"ya kalo itu sih pasti. apalagi aku kan kuliah karena beasiswa. masih banyak orang di luar sana yang pengen di posisi kita. tapi kalo kita sia-siain kesempatan ini kan sayang banget."
"yes, right."
"eh Jani, biasanya kalo di kereta ada kan yang jual makanan kaya di pesawat."
"ada kok. nanti kan juga lewat petugasnya buat nawarin makanan."
"emang biasanya menunya apa kalo di kereta."
"kalo gak salah sih biasanya nasi goreng, sama apa ya aku lupa. tapi pokoknya ada beberapa varian makanan berat. yang lain cuma snack dan minuman."
"oh gitu."
"heem. kamu nanti gak papa kan kalo seumpama aku turun di Cirebon." tanya Anjani.
__ADS_1
"ya gak papa. emangnya kenapa sih??"
"enggak, aku takutnya sih kalo kamu gak berani sendirian. nyantai aja nanti kalo aku udah turun. pasti ada orang lain yang gantiin tempat duduk aku ini."
"emang biasanya gitu??" tanya Aurel heran.
"iya biasanya sistematikanya kaya gitu. setiap ada penumpang turun di stasiun x nanti di stasiun berikutnya pasti ada lagi penumpang yang ngisi tempat duduk itu."
"oh gitu. biar sekali jalan mungkin ya. KAI juga gak mau rugi. memanfaatkan semua peluang yang ada."
"iya dong."
kemudian setelah percakapan itu, mereka membuka camilan yang tadi di beli oleh Anjani di minimarket di dalam stasiun. Aurel yang memang porsi makannya biasanya banyak masih merasa kelaparan karena dari tadi pagi dia belum memakan nasi.
tadi pagi mereka hanya memakan roti sandwich dan juga minum air teh dalam kemasan.
kereta melaju menyusuri rel kira-kira sudah empat jam. sekarang jam sudah menunjukkan pukul dua belas tengah hari. saatnya jam makan siang.
para petugas restorasi pun mulai menawarkan makanan kepada setiap penumpang kereta. tak terkecuali Aurel dan Anjani.
Aurel memilih untuk membeli Bistik Legend dan juga Nasi Goreng Jawa. dia membelikan Anjani juga. karena dia sudah sangat berterima kasih kepada sahabatnya itu bisa pulang bersama. awalnya Anjani menolak dengan alasan sudah kenyang.
tapi bukan Aurel namanya jika dia tak pandai merayu, akhirnya Anjani juga ikut makan makanan kereta api. untuk pertama kalinya. karena biasanya dia hanya membawa camilan dan roti untuk mengganjal perut.
Anjani berfikir bahwa makanan yang di jual di dalam kereta api itu mahal. jadi dari pada dia membeli sesuatu untuk hal yang kurang bermanfaat lebih baik dia menabungnya.
"em Jani ternyata makanannya enak banget ya." kata Aurel.
"em..menurutku sih lumayan enak. gak banget. sesuai standar resto pada umumnya."
"iya sih. maklum kan resto bergerak. jadi harganya juga agak mahal."
"bisa di bilang begitu. kata Anjani sambil menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.
__ADS_1
Tadi kebetulan Aurel memesan satu bistik Legend dan dua porsi nasi goreng Jawa. karena menurut Aurel jika hanya makan bistik perutnya tidak akan kenyang. alhasil Aurel memesan 3 porsi makanan. dan juga camilan kentang goreng.
Sebenarnya Anjani juga tidak heran jika melihat Aurel makan. karena sebagai seorang teman dekat, dia paham betul sifat dan perilaku Aurel.
walaupun Aurel makan sebanyak apapun, dia tidak merasa kekenyangan dan tubuhnya juga tidak bisa gemuk. mungkin karena makanan yang masuk dalam perutnya selalu diproses menjadi energi yang di gunakan untuk berfikir.
sehingga tidak ada lemak yang menumpuk di dalam tubuhnya.
"aduh, Alhamdulillah kenyang." kata Aurel.
"syukurlah kalo kamu kenyang. ngomong-ngomong makasih ya traktirannya. aku juga udah kenyang nih." kata Anjani.
"iya sama-sama. aku juga makasih banget sama kamu karena kita bisa pulang bareng."
"ah gak usah lebay deh. orang kita juga sahabat lama. pokoknya kalo ada apa-apa kamu harus bilang sama aku."
"oke, siap."
setelah selesai makan, Aurel kembali melihat pemandangan dari jendela kereta. dia masih terkagum-kagum dengan ciptaan Tuhan yang sempurna.
Beberapa saat kemudian dia tertidur karena kekenyangan. Anjani yang melihat sahabatnya tertidur hanya bisa geleng-geleng kepala.
''kamu pasti capek banget ya rel??" batin Anjani. Sungguh ini juga pengalaman pertama bagi Anjani saat pulang bersama dengan Aurel sahabatnya.
Anjani memang anak dari keluarga sederhana. Dia sekolah di fakultas kedokteran saja karena dia pandai dan mendapatkan beasiswa. bukan seperti Aurel yang anak orang kaya dan terpandang di Bandung.
Tapi Aurel pun tidak pernah membeda-bedakan teman. baginya sama saja asal berteman dengan tulus. Anjani sangat bersyukur mempunyai sahabat seperti Aurel yang ramah dan tidak sombong. dia tidak pernah menggunakan pangkat atau derajat orang tuanya untuk mencari ilmu.
dia juga kuliah di fakultas kedokteran karena memang dia pandai.
"terima kasih selalu menjadi sahabat ku yang tidak pernah mementingkan derajat dan harta . terima kasih karena kamu sudah tulus menjadi sahabatku." batin Anjani sambil memandangi wajah Aurel yang pulas tertidur....
bersambung....
__ADS_1
jangan lupa untuk selalu vote...like.. coment...dan follow me...
maaf update gak tentu, karena kesibukan...😊😊