
Tiga hari kemudian.
Bastian telah menyiapkan makanan
untuk Bella.
“Pulanglah, aku yang akan menjaga
dia.” Kata Bastian kepada Vania.
“Kamu yakin? Sepertinya dia masih
sangat marah denganmu. Semalam saja Bella tidak ingin menemuimu bahkan tidak
menolak panggilan darimu.” Kata Vania.
“Tidak apa-apa, aku akan menerima
semua tamparan, pukulan dan apapun darinya.” Kata Bastian.
“Baiklah, aku kembali pulang dulu
kalau begitu.” Kata Vania.
Tidak lama kemudian, Bella
terbangun.
“Sayang kamu sudah bangun.” Kata Bastian.
“Kenapa kamu masih disini? Bukankah
aku sudah bilang padamu bahwa aku tidak mau melihatmu. Pergilah dari sini.” Kata
Bella.
“Hari ini kamu sudah boleh pulang
sayang, aku datang kesini untuk menjemputmu dan kita akan pulang ke rumah.” Kata
Bastian.
“Aku tidak mau kembali pulang ke
rumah. Aku akan tinggal terpisah dan aku tidak mau bertemu denganmu.” Kata Bella.
“Maafkan aku sayang, aku mohon
maafkan aku.” Kata Bastian memohon maaf kepada istrinya.
“Aku benar-benar sangat
membencimu. Keluar dan pergi dari sini, aku bisa pulang sendiri. Aku bahkan
tidak butuh bantuanmu.” Kata Bella.
“Maafkan aku sayang, aku memang
bersalah padamu tapi ini semua juga bukan sepenuhnya salahku. Jika saja kamu
memberitahuku bahwa kamu sedang hamil maka aku juga tidak akan seperti itu
padamu.” Kata Bastian. Bella pun menampar dan menjambak Bastian.
“Aku benci denganmu aku kesal
denganmu huhuhu. Seharusnya kamu mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu tapi
__ADS_1
kamu justru marah padaku.” Bentak Bella sambil menangis.
“Maafkan aku sayang, aku minta
maaf padamu.” Kata Bastian sambil memeluk istrinya dan menangis di pelukan
istrinya.
“Lepaskan aku huhuhu.” Kata Bella.
“Aku akan membawa barangmu dan
kita kembali pulang ke rumah ya.” Kata Bastian.
“Lepaskan tanganku. Jaga jarak
dariku dan jangan berani mendekatiku karena aku masih sakit hati denganmu.” Kata
Bella.
“Baiklah.” Kata Bastian.
Kemudian Bastian membawa istrinya
kembali pulang ke rumah namun Bella sama sekali tidak merespon suaminya, Bella
hanya terdiam tanpa memperdulikan ucapan Bastian.
“Istirahatlah, aku akan
mengambilkan minum untukmu.” Kata Bastian. Tidak lama kemudian, Bastian datang
membawa air minum untuk istrinya.
“Minumlah, kamu harus banyak
membuatkanmu makanan.” Kata Bastian. Tanpa basa basi, Bella menumpahkan air
minum tersebut dan memjatuhkan gelasnya, setelah itu dia pergi keluar kamar.
“Kamu mau pergi kemana?” Tanya Bastian.
Namun Bella tidak menjawab pertanyaan suaminya. Lalu Bastian membersihkan
pecahan gelas tersebut.
“Tuhan tolong kembalikan istriku
seperti sebelumnya, aku tau ini bukan sepenuhnya salahku tapi aku rela jika dia
menyalahkanku. Tapi jujur aku tidak sanggup seperti ini bahkan aku tidak tega
melihat dia seperti itu.” Kata Bastian dalam hati.
**
Bella berdandan lalu pergi dari
rumah.
“Kamu mau pergi kemana
malam-malam begini? Biar aku yang mengantarmu ya.” Kata Bastian.
__ADS_1
“Lepaskan aku.” Kata Bella.
“Baiklah, memangnya kamu mau
pergi kemana? Kamu butuh apa? Apakah kamu mau membeli makanan? Biar aku yang membeli
ya, kamu tunggu dirumah saja ya sayang.” Kata Bastian. Namun Bella hanya
terdiam dan tetap pergi. Akhirnya Bastian menariknya dan memeluknya dari
belakang.
“Sayang, aku mengerti bagaimana
perasaanmu. Bukan hanya kamu yang kehilangan tapi aku juga kehilangan anak
kita. Kita sabar ya dan tetap terus berusaha, suatu saat pasti kita akan segera
diberi kepercayaan untuk memiliki seorang anak. Jika kamu seperti ini, aku
menjadi sangat khawatir denganmu. Aku mohon ikhlaskan semua ini ya, demi kita. Jika
kamu marah maka salahkan saja aku, kamu bisa menamparku atau mencaci maki aku
sepuasmu sampai kamu puas.” Kata Bastian. Lalu Bella menampar suaminya
berkali-kali sambil menangis histeris.
“Aku ibu yang buruk, aku ibu yang
tidak bisa menjaga anakku sendiri huhuhu. Maafkan ibu nak.” Kata Bella menangis
histeris. Bastian pun ikut menangis dan tak henti-hentinya memeluk istrinya
tersebut.
“Menangislah sepuasmu sayang,
jika marah maka lampiaskan padaku.” Kata Bastian. Tiba-tiba Bella kembali
pingsan, kemudian Bastian membawanya kedalam kamar dan segera menelfon dokter. Tidak
lama kemudian dokter pun datang.
“Bagaimana kondisi istri saya? Dia
menangis terus dan marah-marah juga dok.” Kata Bastian.
“Kondisi psikis dia belum stabil,
saran saya sering-seringlah mengajaknya berbicara dan ajak untuk melakukan
hal-hal yang dia sukai agar dia bisa melupakan dan mengikhlaskannya.” Kata dokter.
“Baik dok, terima kasih banyak
sebelumnya.” Kata Bastian.
“Kalau begitu saya permisi dulu
ya.” Kata dokter.
Bastian pun menjaga istrinya
disampingnya.
__ADS_1