
Bu Halimah merasa sangat marah sekali sekarang. kenapa tidak, suaminya lebih memilih meetting dengan client dari pada harus segera pergi ke Jakarta.
dengan susah payah Pak Hakim membujuknya.
"mah, kenapa sih akhir-akhir ini mamah sensitif banget. sukanya marah-marah gak jelas sama papah."
"gimana gak marah coba, suami sendiri lebih mentingin orang lain dari pada keluarganya sendiri." bentak Bu Halimah
"bukan begitu mah, mamah harus paham posisi papah dong. gak mungkin papah ngelakuin ini semua tanpa sebab." ujar Pak Hakim
"ya tapi kan. mamah juga pengen cepet-cepet ketemu sama anak kita dan sama calon mantu pah. mamah pengen tahu bagaimana wanita yang di ceritakan anak kita itu."
"iya papah tahu. client papah ini client sangat penting bagi keberlangsungan hotel kita kedepannya."
"itu kan cuma alasan papah aja."
"enggak mah, hari ini papah akan bertemu dengan Mr. Yamamoto dari Jepang, beliau tertarik dengan konsep hotel kita yang seperti berada di negeri sakura. makanya itu Mr. Yamamoto ingin meninjau langsung hotel papah. dan akan menanamkan sahamnya disana. ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali mah. mohon mengertilah." mohon Pak Hakim
"ok, baiklah. tapi setelah pertemuan kalian selesai. Kita segera berangkat ke Jakarta. mamah sudah rindu dengan Ahmad."
"nah gitu kan lebih baik . oke.. siap nyonya besar." kata Pak Hakim.
Mereka berdua pun berbaikan lagi. dan setelahnya Pak Hakim pergi ke hotel untuk menemui rekan kerjanya yang akan tiba sebentar lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore saat Pak Hakim sampai di rumah.
"Pah, ayo berangkat sekarang."
"nanti dulu mah, papah kan capek . baru pulang juga. biarkan papah istirahat dulu." ujar Pak Hakim
"gak ada, pokoknya berangkat sekarang. kalo gak mau biar mamah berangkat sendiri sama supir." kata Bu Halimah sambil berjalan meninggalkan suaminya yang sedang duduk di sofa.
"huh, dasar wanita. maunya selalu di mengerti tapi gak mau ngertiin kondisi suaminya." kata Pak Hakim.
Akhirnya Pak Hakim mengalah dan mengikuti istrinya dari pada harus mendengarkan omelan istrinya yang tiada henti.
"ya sudah, ayo mah. berangkat sekarang. apa barang-barang sudah di bawa semua?!"
"oke. sudah pah. tinggal nunggu papah aja."
"ayo sekarang masuk mobil, nanti papah mandinya kalo sudah di Jakarta."
"ih papah jorok."
"terus yang ngambek minta cepet-cepet berangkat siapa?? orang papah juga baru pulang dari hotel kok."
"ya udah. semprot nih bajunya pake parfum mama." kata Bu Halimah sambil menyodorkan parfum kepada suaminya.
Pak Anto masih ada di depan kemudi. menunggu perintah dari sang majikan akan diantar ke mana.
"Pak Anto, udah cepetan jalan. gak pake lama." perintah Bu Halimah.
__ADS_1
b
"baik nyonya." jawab Pak Anto.
Pak Anto kemudian menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobil sang majikan keluar dari rumah mewah tersebut.
Jarak yang mereka tempuh memakan waktu hanya dua jam lebih. karena sekarang sudah ada jalan tol. berbanding terbalik dengan dulu, dulu saat ingin mengunjungi anaknya di Jakarta, mereka bisa sampai empat jam lebih di jalan.
memang sekarang, akses jalan jadi semakin mudah. membuat mereka tidak perlu berlama-lama ada di dalam mobil.
mereka berhenti di rest area karena adzan magrib sudah berkumandang. setelah melaksanakan kewajiban kepada Allah, dan sudah makan malam. mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Mereka tiba di sana pukul 7.30 malam.
Pak Maman membukakan gerbang. mempersilahkan tuan dan nyonya besarnya masuk.
setelah menutup kembali gerbangnya, dia membukakan pintu kedua majikannya.
"silahkan masuk tuan dan nyonya. tuan muda sudah menunggu di dalam." kata Pak Maman
"terima kasih Pak Maman. baiklah, kami masuk dulu ya. dan buat Pak Anto tolong barang-barangnya di masukin ke dalam ya." kata Pak Hakim
"siap tuan dan nyonya."
Tuan dan nyonya Hakim langsung masuk ke dalam rumah sang anak. Ada rasa rindu yang menyeruak saat memasuki rumah tersebut.
mungkin karena mereka sudah beberapa bulan ini tidak bertemu. karena kesibukan mereka sendiri. karena Ahmad jarang memiliki waktu untuk kedua orang tuanya. sedangkan kedua orangtuanya sibuk mengurus bisnis masing-masing.
Ahmad yang sedari tadi menunggu kedua orang tuanya di depan televisi pun terkejut saat pintu di buka dari luar.
Dia langsung bangun dari tempat duduknya.
"Papah, mamah." ucap Ahmad sambil mendekati mereka.
Ahmad mencium kedua punggung tangan orang tuanya itu. dan kemudian memeluk mereka satu persatu.
"Ahmad kangen sama kalian." kata Ahmad manja.
saat bersama kedua orang tuanya, Ahmad menjadi manja seperti anak kecil.
"yuk ah sini duduk pah, mah. bentar ya Ahmad buatin minum." ujar Ahmad lalu beranjak menuju dapur untuk membuatkan minum papa dan mamanya.
beberapa menit berselang Ahmad kembali dengan 3 cangkir teh dan beberapa toples kecil camilan yang dia beli di supermarket tadi sore.
"nih minumnya pah, mah. kalian pasti capek kan habis perjalanan jauh. mama sama papa udah makan belum?? kalo belum biar Ahmad pesenin makanan."
"udah kok nak, tadi kami berhenti sebentar di rest area buat ishoma. kamu sendiri udah makan belum?!"
"hehehe, belum." kata Ahmad sambil garuk-garuk kepala
"aduh kasian banget anak mama gak ke urus gini kan makannya. yuk mama buatin makanan. di dapur ada apa??"
__ADS_1
"ye asyik,, dimasakin sama mama.." katanya sambil memeluk sang ibu. "ada macem-macem mah. mama mau masak apa emangnya??."
"coba mama liat dulu sayurannya."
Bu Halimah langsung berjalan menuju lemari es, melihat persediaan makanan yang ada.
"wah kok lengkap gini sayurannya. kapan kamu belanjanya??."
"tadi sore sepulang dari kantor."
"kamu sendiri yang belanja ini?? sejak kapan kamu tahu aneka macem bumbu dapur??"
"enggak lah. Ahmad mana ngerti gituan. kan sama calon istri belanjanya."
"oh gitu. ya udah setelah mama pikir-pikir mending buat steak aja ya.. biar simpel dan gak pake lama."
"oke deh mah siap.. aku juga udah kangen sama steak buatan mama."
tiba-tiba pak Hakim menyusul istrinya pergi ke dapur.
"mamah mau masak steak?? papah mau dong. papa juga kangen steak buatan mama."
"ih papa, ikutan nimbrung aja. kan tadi udah makan pah."
"ya elah, barang cuma steak aja gak bakal bikin papa kekenyangan." sombong pak Hakim.
"ya udah mama masak dulu ya, Ahmad kamu bantuin kupas wortel, kacang panjang sama kentang. terus di rebus. jangan lupa kasih garam dikit.
"siap bos." ujar Ahmad memberi hormat.
Ahmad memang sering membantu ibunya di dapur. jadi sedikit-sedikit dia bisa masak. tapi karena di rumah ini hanya dia dan pak Maman, makanya dia malas masak.
tak sampai satu jam, steak sudah matang. harumnya tercium sampai ke luar rumah. Bu Halimah membuat lima porsi steak. karena di rumah itu ada lima orang termasuk Pak Maman dan juga Pak Anto.
Mereka berlima makan bersama di meja makan. tidak ada pangkat dan status yang membedakan mereka. semuanya sama saja.
"waduh nyonya, terima kasih ya makanannya enak." puji Pak Maman
"iya nyonya, saya jadi tidak enak hati. kan tadi di jalan saya sudah makan. eh sekarang disuruh makan lagi." kata Pak Anto.
"gak papa pak, jangan sungkan dengan kita." kata Bu Halimah
"ya sudah tuan, nyonya kami permisi dulu ya. mau jaga di luar."
" baik silahkan."
kedua orang itu langsung keluar kembali menuju pos satpam. di sana mereka kembali bermain catur.
bersambung.....
Jangan lupa buat vote... like... dan coment ya...
__ADS_1
jangan lupa juga follow me..🤗🤗🤗☺️☺️