My Ex Secretary

My Ex Secretary
Bab 101 : Dia Tunanganku


__ADS_3

Mereka berdua menyelesaikan penandatanganan kontrak kerja. Memberikan sebuah tatapan dingin ke arah kamera lalu pergi kembali. Mengakhiri pertemuan hari ini dan keluar dari gedung yang mulai menyorot mereka.


"Nona mobil sudah si..."


"Tidak perlu dia akan ikut aku" dingin Leon yang menyentuh pucuk kepala Luna lembut.


"Siapa bilang aku akan ikut kamu?" dingin Luna tidak terima sambil membersihkan sentuhan Leon dengan tisu yang dibawanya.


"Tentu saja aku" ucap Leon percaya diri.


Hingga tidak terlalu lama suara teriakan memotong pembicaraan mereka. Sebuah teriakan yang dibawa langsung oleh wanita yang tadi mereka lihat. Bahkan langkah kaki wanita itu sudah mendekat ke arah mereka.


"Leon!!!" teriak Lina dari kejauhan sambil berlari ke arah Leon yang berada di depan pintu keluar.


"Hmmm, sepertinya pasanganmu sudah datang" sindir Luna sambil melihat Lina yang sedang berlari ke arah mereka.


"Merepot..."


Bruk**


"Sudah lama tidak bertemu, Leon" manis Lina yang menabrakan tubuhnya secara sengaja. Memeluk tubuh Leon erat dan mengeluskan pipinya di jas mahal milik Leon. Membuat Leon memegang kepala Lina dan mendorongnya kasar.


"Awch..." ringis Lina saat merasakan tubuhnya tertabrak pintu yang ada di belakangnya.


"Jangan pernah mengotori jas yang bahkan lebih mahal daripada dirimu" dingin Leon yang membuka jas miliknya dan membuangnya ke tempat sampah. Ia seakan jijik dengan semua yang diberikan oleh Lina kepada dirinya. Sehingga membuat Leon langsung membuang jas hitam yang merupakan keluaran channel dan termasuk barang limited edition.


"Nona, apa itu tidak terlalu kasar?" tanya Kevin yang meraeakan bahwa tindakan yang diberikan oleh orang ternama itu agak kasar. Namun sayangnya Luna hanya menggeleng sebagai jawaban singkatnya.


'Itu bukan hanya kasar tetapi terlalu lembut, kenapa tidak didorong sampai jatuh saja?' pikir Luna yang tidak suka dengan sikap lemah lembut yang diberikan Leon.


"Leon, apa kau benar-benar tidak kangen denganku? padahal kita sudah sering melakukan nya" sedih Lina yang sedang memegang bahu akibat Leon mendorongnya.


"Melakukan? bukannya kamu terlalu bodoh" sindir Leon secara terang-terangan. Bukannya Leon ingin mengatakan kalimat kasar secara langsung. Tetapi mata Leon melihat tatapan rendah dari Luna untuknya dan dirinya sangat mengetahui arti kalimat dari tatapannya tersebut.


'Luna jika bukan karena kamera yang ada di dekat sinipun sudah ku pastikan wanita ini tidak akan pulang dengan tubuh utuh' pikir Leon yang melihat tatapan dingin dan tajam milik Luna.

__ADS_1


"Nona mobil sudah menunggu" bisik Kevin yang di angguki oleh Luna.


"Permisi jika saya mengganggu kisah romantis kalian, karena saya harus pergi dan tidak ingin ikut andil di sini" ucap Luna yang ingin kembali ke mobilnya.


"Siapa yang mengatakan kamu boleh pergi?" dingin Leon sambil menggenggam erat tangan kanan milik Luna.


"Tuan Leon" dingin Luna.


"Leon! biarkan dia pergi, bukannya kamu sudah ada aku" kesal Lina yang tidak dipedulikan dari tadi..


"Leon!" panggil Lina kembali.


"Sudah ku katakan kepada kedua orang tuamu terutama ayahmu itu bahwa kita tidak akan memiliki hubungan lagi baik itu masa kini maupun masa sekarang" tegas Leon dan mengeluarkan tatapan tajam milik nya.


"Tapi aku kan..." gugup Lina yang takut dengan tatapan tajam milik Leon.



Kakinya bergetar ketakutan saat merasakan tatapan tajam dan aura mencekam yang dikeluarkan Leon untuk dirinya. Kepercayaan diri yang dia bangun tiba-tiba runtuh saat melihat sikap Leon yang mengerikan. Bahkan saat ini dirinya sedang menelan salivanya pelan untuk menghilangkan kegugupan yang hadir.


"Kau tau Lina mungkin ayahmu mengatakan bahwa aku tunangan mu tapi sayangnya aku sudah memutuskan pertunangan kita dan bertunangan dengan orang lain" bisik Leon yang mendekati Lina. Wajahnya yang dingin dan arrogant memberikan sebuah senyuman smirknya.


"Si..siapa tunangan mu?" tanya Luna yang terkejut.


Pertanyaan milik Lina memberikan sebuah senyuman tulus dari Leon. Dengan langkah yang pasti Leon kembali berjalan ke arah Luna. Mengambil tangan kanan itu kembali dan mengecup telapak tangan bagian luarnya lembut.


"Dia tunanganku dan tentunya hanya milikku seorang" jelas Leon penuh kepercayaan diri. Membuat para wartawan maupun kameraman yang melihat itu langsung mengambil foto sebagai berita utama nanti.


"Ti..tidak mungkin" ucap Luna yang tidak percaya dengan perkataan milik Leon.


"Sayangnya benar" dingin Leon.


"Luna, ayo kita pergi" ajak Leon yang berjalan di depan Luna. Luna yang mendengarnya hanya diam dan mengikuti karena tujuan mereka sama yaitu tempat parkir. Tetapi langkah kaki Luna harus berhenti di saat tangan orang lain lagi-lagi mencengkeram tangannya dengan kuat.


"Kamu, kamu harus membatalkan nya" tegas Lina yang mencengkeram erat tangan milik Luna.

__ADS_1


"Hmmm?" bingung Luna.


"Kamu perempuan j*lang harus meninggalkan Leon ku" jelas Lina dan menatap Luna bermusuhan. Membuat Luna yang melihatnya mengeluarkan tatapan tajam miliknya.


"J*lang katamu?" dingin Luna.


"Ya benar! kamu adalah seorang perempuan j*lang yang mengambil Leon ku dan mencurinya dariku" tegas Lina.


"Pfftt, hahaha" tawa Luna menggema di ruangan gedung tersebut. Menarik minat para pendengar maupun penonton yang ada di setiap ujungnya.


"Ke...kenapa tertawa?" bingung Lina yang mendengar suara tawa yang diberikan oleh Luna.


"Luna" panggil Leon yang merasakan rasa aneh dengan tawa Luna yang mengerikan. Begitu pula dengan Kevin yang merupakan sekretaris nya.


"Nona, apa anda benar tidak apa-apa?" tanya Kevin yang baru pertama kali mendengarkan tawa atasannya.


"Aku baik-baik saja tapi..."


"Tapi?" bingung merek berdua.


"Aku benar-benar ingin tertawa mendengar ucapan wanita dihadapan ku ini" lanjut Luna dan menghilangkan tawa maupun senyumnya.


Mata yang tadinya menatap ringan kini beralih menatap tajam Lina. Tawa dan senyuman yang diberikan berubah menjadi ekspresi dingin. Aura yang tadinya biasa dan santai berubah drastis menjadi aura dingin yang mencekam.


Sikap maupun ekspresi Luna berubah 180°, bahkan tangan yang tadinya sedang dicengkeram erat oleh Lina sudah dihempas kasar oleh Luna. Tubuhnya mendekat ke arah Lina dan memegang pindah Lina kuat.


"a...apa yang ingin kau la.. lakukan?" gugup Lina yang merasakan aura milik Luna lebih kuat dari aura milik Leon sebelumnya.


"Kau tau Lina, kamu itu sangat-sangat menggemaskan bahkan rasanya aku ingin menghancurkan wajah yang kah otak-atik itu" dingin Luna yang mencengkeram kuat bahu milik Lina.


"A...apa maksudmu?" bingung Lina.


"Jangan kau kira aku tidak tau bahwa kamu pernah masuk rumah sakit jiwa dan melakukan operasi plastik" bisik Luna yang membuat tubuh Lina bertambah bergetar.


__ADS_1


🔫500 Like lagi yuk supaya besok update^^ karena saya mencoba nulis di sela-sela tugas semester saya^^


__ADS_2