
Langit itu bewarna merah kekuningan, membuktikan bahwa waktu sudah berjalan ke arah jam setengah tujuh sore. Dengan udara musim dingin yang berhembus terlihat seorang wanita yang berdiri di tengah-tengah lapangan. Wanita itu sangat cantik ditambah rambut hitamnya yang panjang, membuat aura cantik, elegan namun dingin itu terlihat dari kejauhan.
Dimana dinginnya musim dingin menyapu kulit putih bersihnya. Kulit yang terlihat tidak pernah ternodai itu menutupi dosa-dosa dan kejahatan nya. Sebuah kejahatan yang sudah dia sembunyikan dengan limpahan darah maupun bau mesiu yang berasal dari senjata yang sering dia gunakan.
Wanita itu adalah Luna Nypole, seorang wanita yang menyembunyikan jati diri dan juga identitasnya di balik kabut hitam. Dia yang dulunya merupakan seorang sekretaris kantor kini berubah menjadi seorang mata-mata, tentara dan juga pemimpin sebuah klan mafia.
8 tahun terlah berlalu dan semuanya kini mulai berubah. Bahkan tubuhnya yang dulu kekurangan gizi terlihat lebih berisi. Membuat tinggi badan dan wajahnya kini berubah. Apalagi dengan kedua malaikat kecil yang dia lahirkan di saat masalah mengenainya.
"Huh" hembus Luna yang melihat ke arah langit yang mulai menggelap.
Kegelapan yang menandakan bahwa waktu kepergiannya akan dimulai. Kepergian yang akan mempergikan sebuah nyawa melalui tangan kanan dan tangan kirinya. Matanya menggelap mengikuti cahaya yang mulai memudar, hingga suara kakak laki-lakinya terdengar mendekat.
"Luna.." panggil Rangga sambil membawa sebuah mantel musim dingin. Memasangkan mantel tersebut ke tubuh adiknya lalu menatap tajam.
"Bukankah sudah kukatakan untuk menggunakan mantelmu, ini musim dingin bukan musim panas maupun musim semi Luna" ucap Rangga memperingati adiknya yang selalu lupa menggunakan mantel musim dinginnya.
"Tidak perlu kak, mantel ini nantinya juga akan kotor dengan darah" dingin Luna yang masih menatap ke arah langit.
"Hah, baiklah tapi apa kau benar-benar tidak akan pulang ke rumah?"
"Tidak aku akan pulang ke tempat pelantihan dan esoknya aku akan menjemput kedua anakku dari tempat test mereka" jelas Luna yang kemudian memandangi kedua tangan miliknya.
"Ada apa Luna?" tanya Rangga curiga.
"Tidak apa-apa, seperti nya aku harus pergi sekarang jadi jaga kedua anakku kak" ucap Luna yang menyadari waktu untuk melakukan hal tersebut telah tiba.
"Kau ingin kemana memangnya jadi pergi secepat itu dan pulang terlambat?" tanya Rangga yang tidak mengetahui apa yang akan dilakukan oleh adik perempuan nya.
"Aku hanya pergi membasmi serangga saja, jadi jangan khawatir dan katakan kepada mereka jika mereka lulus mereka boleh meminta apapun" ucap Luna sambil melambaikan tangannya. Pergi meninggalkan kakak laki-lakinya yang hanya bisa pasrah menatap dirinya.
__ADS_1
Luna pergi dari tempat latihan kemiliteran milik klan Ular. Membawa semua perlengkapan yang ada di dalam tas ransel hitam miliknya. Mengambil kunci mobil dan memasuki mobil bekas yang biasa digunakan sebagai penyamaran orang-orang kemiliteran. Membawa mobil bewarna merah kecoklatan itu menuju tempat yang sudah ia tandai.
Dimana tanda itu merupakan tempat lokasi milik sang supir yang pernah mencelakai Qarin delapan setengah tahun lalu. Hingga tidak berapa lama kemudian mobil itu berhenti tepat di depan bangunan kosong.
"Sama seperti yang ada di gambar" dingin Luna yang mengingat gambar yang pernah dia ambil. Ia menutup pintu mobil dan menguncinya, berjalan masuk ke dalam bangunan kosong yang dipenuhi lumut itu.
Bahkan lampu jalan saja tidak ada di daerah bangunan ini, membuat Luna yang sedang berjalan masuk mengeluarkan senyum dinginnya.
'Tempat yang bagus untuk meninggalkan mayat orang' smirk Luna yang akhirnya sampai di sebuah tangga ruangan.
Matanya menoleh ke arah kanan dan kiri, ia menyadari bahwa tempat yang ia pinjaki saat ini tidak sekotor luar bangunan. Membuat pikiran Luna bersemangat dan antusias untuk melihat wajah laki-laki itu.
"Jika memang tempat ini merupakan tempat tinggalnya, maka 10 menit 24 detik lagi laki-laki itu akan sampai" gumam Luna yang membawa banyak jebakan di dalam tas miliknya.
"Hachim..."
"Sekarang" teriak Luna yang membuat laki-laki yang bersin itu refleks melangkahkan kakinya ke lantai yang memiliki jebakan. Tali yang dipasang oleh Luna mengait kaki laki-laki itu, membuat suara teriakan menggema di bangunan kosong.
Luna yang sengaja mengeluarkan suara teriakan miliknya mengeluarkan senyum smirknya. Berjalan ke luar dari tempat persembunyiannya dan menatap dingin ke arah laki-laki yang kakinya tergantung ke atas.
"Jefri..." panggil Luna dingin, ia mengeluarkan aura membunuhnya yang tebal di sana. Membuat sesosok laki-laki yang kakinya bergantung itu bergetar ketakutan. Bahkan saat wajahnya menoleh ke arah belakang, kesadaran miliknya dengan cepat menghilang.
"ka..kamu...." ucap Jefri berakhir dengan matanya yang tertutup.
"Apa wajahku semenyeramkan itu? padahal aku belum memulai acara pembedahan ku, hah seperti nya malam ini tidak akan menyenangkan seperti saat di gang waktu itu" gumam Luna lalu mengenal nafasnya.
Memotong tali yang panjang tersebut dengan pisau yang ada di sakunya dan membiarkan kepala itu mengenai lantai.
__ADS_1
"Ah, sepertinya aku tidak bisa menahan diri" dingin Luna yang melihat darah mulai keluaran dari dahi milik Jefri karena tangan Luna memotong tali yang menggantung kaki milik Jefri.
Luna yang melihat ke adaan Jefri hanya mengangkat bahunya sebentar. Kemudian menarik tali yang ia potong, menyeret Jefri yang kakinya masih terikat tali untuk masuk ke dalam ruangan yang ada di dekatnya.
Mengambil kursi dan mengikat kembali Jefri di kursi yang ditemukannya. Kemudian menyiapkan kamera yang sudah disiapkannya untuk merekam semua perkataan milik Jefri.
"Hmm, kamera siap tinggal berarti tinggal mengeksekusi nya sebentar" smirk Luna yang merasakan bosan untuk menunggu orang yang terikat itu bangun.
Lengannya mengeluarkan pisau yang tadi ia simpan. Berjalan mendekat ke arah Jefri yang pingsan lalu menatap ke arah tangan hingga ke kaki milik Jefri.
"Tangan atau kaki, sepertinya wajah lebih bagus untuk dilukai" dingin Luna dan mulai menyayat wajah milik Jefri. Membawa pisau kecil khusus dan membawanya ke wajah milik Jefri, menyayat pelan wajah yang berbulu itu dan membiarkan darah merah segar mengalir.
Ada suara ringisan di setiap irisan wajah yang diberikan oleh Luna, membuat hati Luna semakin tenang dan semakin tenang. Hingga darah mulai mengenai tangannya yang mulus.
"Darahnya lebih banyak dari yang ku duga" dingin Luna dan melihat ke tangan kanan dan kiri milik Jefri.
"Tangan kanan atau tangan kiri? hmmm yang mana yang terlebih dahulu harus ku sayat dan berakhir dengan potongan?" tanya Luna yang melihat kedua tangan yang berisi. Menodongkan pisau kecilnya ke arah lengan kanan milik Jefri dan menyayat panjang kulit lengan tersebut.
Irisan demi irisan yang diberikan Luna membuat lengan yang tadinya berisi itu mengeluarkan darah segar bewarna merah terang. Bahkan dinginnya malam tidak membuat Luna mengehentikan gerakan sayatan demi sayatannya.
"Sangat cantik" smirk Luna memuji karya lukis yang ia buat dengan pisau kecilnya.
🔫 Sepertinya darahnya masih kurang hari ini °^° apa author harus menambahkan lagi dan lagi karena jiwa psycopat saya sedang bangkit nih ^^
Mari kita liat di bab berikutnya apa yang akan Luna perbuat untuk Jefri.
Sekian terimakasih, Mata Ne~
__ADS_1