
"Katakan ada apa?" dingin Leon yang sama sekali tidak menghilangkan suara tegas dan mengancamnya.
"Ada panggilan dari pihak kepolisian, tuan" jelas seseorang yang ada di sebrang sana.
"Tunggu apa maksudmu?"
"Maksud saya pihak kepolisian membutuhkan verifikasi anda mengenai detail kecelakaan ibu anda, karena pihak kepolisian mendapatkan sebuah rekaman yang berisi dalang di balik kecelakaan ibu anda 8,5 tahun yang lalu" jelas orang tersebut yang saat ini berada di kantor kepolisian.
"Ini....."
mata Leon menoleh dengan cepat ke arah Luna dan menyadari bahwa rencana yang dimaksud itu merupakan rencana yang menyangkut kedua buah pihak. Dimana kedua buah pihak ini akan membuah musuh menjadi hancur secara perlahan namun menyakitkan.
Luna yang merasakan tatapan milik Leon hanya bisa tersenyum dingin. Tenaganya sudah berjalan sesuai yang dia inginkan. Bahkan kecelakaan yang datang tidak membuatnya putus aja untuk tetap menjalankan rencananya.
'Sepertinya rekaman itu sudah sampai ke tangan mereka' smirk Luna.
"Tuan, tuan? apa anda mendengar saya?" tanya orang tersebut dari telpon Leon, membuat Leon yang mendengarnya langsung memfokuskan perhatian nya ke telpon yang ada.
"Aku mendengar nya dan bawa rekaman itu ke markas II secepatnya" dingin Leon yang membuat orang tersebut mematuhi permainan permintaan atasannya secepatnya.
"Baik, 30-60 menit akan saya selesaikan" jawab orang tersebut yang membuat Leon langsung mematikan telponnya.
Leon memasukkan telpon tersebut ke dalam kantung celananya dan mengarahkan pandangannya kembali ke arah Luna. Dimana saat ini wanita itu sedang menatap butiran salju yang ada tanah dengan dingin dan tenangnya. Matanya tidak mengeluarkan tatapan permusuhan maupun dendam, hanya ada tatapan tenang seperti air dan dingin seperti salju.
Namun sayang hanya orang-orang biasa yang menganggap tatapan mata itu merupakan tatapan mata biasa, karena bagi ketiga orang yang ada di dekatnya mengetahui makna sebenarnya dari tatapan itu. Tatapan dingin nan tenang yang menyembunyikan sebuah hasrat kejam nan kental dengan aura pembunuhan darah.
Mata itulah yang mereka liat dari tatapan milik ibu mereka maupun orang tersayang mereka. Dialah Luna Nypole, seorang wanita yang menyembunyikan semua hasrat yang dimiliknya di balik wajahnya yang tenang dan dingin. Bahkan jika ada hewan buas di depannya saat ini, mata itu tidak akan pernah menunjukkan getaran ketakutan sama sekali.
"Mom, jangan bilang..."
"Sssttt, bukankah sudah mom katakan apapun yang terjadi semuanya akan baik-baik saja" ucap Luna yang membuat Laura yang melihatnya hanya bisa menelan salivanya pelan sedangkan Leon yang ada di dekatnya hanya bisa kagum dengan sikap hebat milik Luna.
Sebuah perubahan yang sangat jauh antara dulu dan sekarang. Perubahan yang cukup membuatnya terpesona oleh kecantikan dan sikap sadisnya. Bahkan anak-anak yang ada di dekatnya saja mengetahui apa yang dilakukan ibunya.
'Pesona apa lagi yang akan kau perlihatkan kepadaku untuk kedepannya, Luna' pikir Leon yang sama sekali tidak peduli bahwa Luna akan memperlibatkan dirinya dalam masalah ini.
"Mom.. apa yang akan mom lakukan jika rekaman itu tersebar?" tanya Navin sambil menyentuh baju milik ibunya.
__ADS_1
"Tentu saja menyiarkan nya dan membiarkan mereka melihatnya secara langsung" senyum Luna lalu menatap ke arah Leon berada. Memandangi wajah laki-laki itu sejenak dan mengeluarkan senyum tipisnya.
"Tapi kita butuh bantuan orang bukan untuk menyelesaikan yang lainnya" lanjut Luna yang membuat Leon menyadarinya dan mengambil handphone nya kembali.
Menelpon salah satu orang yang merupakan orang kepercayaan nya. Dimana setiap kerahasian selalu dipegang oleh orang tersebut.
Kring**** Kring***
"Ya ada apa?"
"Febri, aku ingin kamu mengerjakan beberapa hal yang baru ku kirim di email"
"Hah?! Leon kau gila? tugas untuk memeriksa tes orang saja aku belum menyelesaikan nya dan sekarang kau minta aku untuk menyelesaikan yang lain? kau gila Le..."
"2× lipat dari biasanya"
"Baiklah aku akan kerjakan" ucap Febri yang dengan cepat menyetujui permintaan atasannya yang sangat tidak masuk akal.
Leon yang mendengar suara Febri langsung mengakhiri telpon nya dan tersenyum ke arah Luna.
"Tuan putri? heh apa tidak ada godaan yang lain tuan Martin?" tanya Navin sambil mengeluarkan tatapan menjijikkannya.
"Kenapa memangnya? apa kamu juga ingin ku panggil seperti itu?" senyum Leon yang tidak ingin membuat perkelahian dengan anak milik Luna, wanita kesayangannya.
"Aku?! cih kau mengada-ada tuan" dingin Navin yang tidak suka sama sekali dengan Leon. Berbeda dengan adiknya yang saat ini terpesona dan mengeluarkan tatapan manisnya.
"Aku, aku ingin dipanggil tuan put-"
"Laura seperti nya kau harus makan banyak makanan pedas kedepannya" senyum Leon yang menutup mulut adiknya dengan tangan kanannya. Memberikan senyum dinginnya dan tatapan tajamnya yang mampu membuat Laura hanya bisa mendengus kesal.
'Cih, kakak sangat-sangat tidak seru' dengus Laura yang berniat untuk menarik perhatian milik ayahnya.
Namun sayangnya selalu gagal oleh kakak laki-laki yang memiliki reflek tinggi dan insting seperti hewan buas liar. Membuat Laura hanya bisa mendengus kesal dan kembali memainkan laptop putihnya.
Tangannya membuka sebuah akun lainnya dan dengan cepatnya login ke website miliknya. Sebuah website yang pernah ia gunakan untuk menghancurkan keluarga Luxury tepatnya Lina Luxury saat mansion yaitu kejadian kafe yang memperlihatkan antara ayah dan musuhnya.
__ADS_1
"Apa kamu memulai pekerjaan mu?" tanya Navin yang melihat adiknya
"Jelas saja aku memulainya, daripada aku menjadi hantu di sini"
"Hantu?"
"Ya hantu yang tidak dianggap sama sekali" cibir Laura yang selama pembicaraan ini dipenuhi dengan Ayah, ibu dan juga kakaknya.
"Apa kamu kesal?"
"Kesal? tidak aku sama sekali tidak kesa-"
"Kalau begitu tetaplah tersenyum dan juga bisakah paman bertanya?" jelas Leon yang menyentuh lembut pucuk kepala milik Laura dan tidak menyadari bahwa anak perempuan itu tersipu malu.
"I..itu silahkan" gugup Laura yang merasakan tangan besar milik ayahnya di atas kepalanya.
"Apa akun itu milikmu?" tanya Leon sambil menatap akun yang baru dibuka oleh Laura.
"Ya tentu saja milikku, memangnya kenapa?" bingung Laura sambil menatap ayahnya aneh.
"akun itu..."
"Ya akun itu merupakan akun kami dan jelas saja semua hal yang terjadi bersangkutan dengan kami" sela Luna yang tau akan pertanyaan milik Leon.
"Jadi kalian semua yang melaksanakan semua hal itu?"
"Memangnya kau pikir siapa lagi yang bisa melakukan nya dan membuat banyak perusahaan hancur berantakan" dingin Luna yang sudah banyak merusak maupun menghancurkan banyak perusahaan dengan kedua tangannya sendiri.
Bahkan kedua anaknya juga ikut campur dalam melakukan hal-hal tersebut. Sehingga membuat banyak perusahaan bangkrut karena pekerjaan mereka.
🔫 Leon sepertinya terlalu terkejut dengan kemampuan milik Laura dan Navin dan tidak lupa dengan keterlibatan Luna dengan banyak hal yang ada di dunia. Apakah kedepannya banyak perusahaan atau orang-orang lain yang akan hancur di tangannya?
Hmm kita liat saja kedepannya, karena akan ada beberapa bab yang akan membuat Leon terkejut dan jelas kehancuran Keluarga Luxury di bab berikutnya.
Sekian terimakasih, Mata Ne~
__ADS_1
#JanganLupaTipNyaYaa